Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 57


__ADS_3

Keputusan sudah di buat jika, Akira bisa kukuh dengan pendiriannya.


Begitu juga dengan Gian yang kukuh ingin mempertahankan hubungannya dengan Akira.



Saat sedang menolong atau menyadarkan Shafira, pemberian Tahuan kepada seluruh penumpang bahwa pesawat akan segera take off terdengar di telinga mereka.


Erwin mengingat Akira untuk segera bersiap bergegas menuju pesawat karena pesawat yang akan di tumpangi oleh Akira lah yang akan segera lepas landas.


Sesungguhnya Akira sangat berat harus meninggalkan Shafira dalam keadaan seperti itu.


Tapi ia tetap harus pergi karena Sisil dan babysitternya sudah berada di pesawat sedari tadi.


"Kak Fira maaf kan aku, karena aku harus meninggalkan mu." 


"Ayo pergilah, jangan khawatir Shafira tidak apa-apa aku akan mengurus semuanya." Erwin meyakinkan Akira, supaya dirinya tidak usah mengkhawatirkan kakaknya.


Dengan berat hati Akira berjalan meninggalkan tempat itu menuju pesawat yang akan segera terbang.



Kini akira sudah berada di pesawat bersama Sisil dan juga babysitternya.


Tapi pikiran Akira sungguh tidak tenang, pikirannya berkecamuk, memikirkan tentang kondisi Shafira dan juga tentang Gian.


Tapi saat sedang termenung dengan tatapan kosongnya.


Tiba-tiba, ada seseorang yang duduk di sampingnya, di bangku yang seharusnya Gian lah yang mendudukinya.


Tapi tidak Akira sadari siapa orang itu, karena Akira terlalu fokus dengan lamunannya.


Sampai orang itu akhirnya menggenggam tangan Akira, dan menyadarkan Akira dari lamunannya.


Akira terhenyak, dan ingin marah karena ia berpikir mengapa ada orang yang berani-beraninya menggenggam tangannya.


Sebelum itu Akira memastikan dulu siapakah orang tersebut.


Akira menatap tangan yang menggenggam tangannya, lalu pandangannya beralih menengok ke sebelahnya dan melihat siapakah orang tersebut.


Dan alangkah terkejutnya ia melihat ternyata orang itu adalah Gian.


"Kak Gian ..!" gumam Akira tidak menyangka.


Gian malah tersenyum kepada Akira.


"Kakak ngapain di sini, lalu kak Fira bagaimana, apa yang akan terjadi padanya nanti kak?" Akira malah mengkhawatirkan Kakaknya, dan seakan tidak mengharapkan keberadaan Gian di sampingnya.


"Kamu tenang saja, Erwin yang akan menanganinya, Erwin juga yang akan mengantarkan dia pulang ke tanah air setelah urusan Shafira di sini selesai." jelas Gian agar Akira merasa tenang .

__ADS_1


"Tapi dia pasti sangat histeris saat kak Gian meninggalkannya." Akira masih sangat mengkhawatirkan kakaknya.


"Kamu tenang saja aku dan Erwin sudah memberinya pengertian, dan akhirnya dia mengerti dan membiarkan aku pulang bersamamu." Jelas Gian.


"Benarkah?" Akira merasa kurang yakin.


Gian mengangguk sambil kembali tersenyum agar suasana tidak terasa tegang karena khawatir Akira terhadap kondisi kakaknya.


Iya senyum itu mampu menenangkan hati Akira, ia begitu merasa damai setelah melihat senyuman Gian dan penuturannya akan kondisi Shafira.


Akira membalas senyuman Gian meskipun hanya terlihat seulas senyum di bibirnya.


Sesungguhnya Akira merasa bahagia pada akhirnya Gian ikut pulang bersamanya mendampinginya.


Akira menggenggam erat tangan Gian yang lebih dulu menggenggam tangannya.


Lalu Akira menyandarkan kepalanya di pundak Gian.


Mendapat respon positif dari akira hati Gian terasa berbunga-bunga.



Sementara Shafira masih merasa kecewa, karena ia merasa kalah, di tinggalkan oleh Gian.


Erwin mengantarkan Shafira kembali ke apartemennya.


Tapi Shafira tidak menanggapinya.


"Jika masih sakit, aku akan.membawamu ke rumah sakit agar dokter memeriksanya dan mengobatinya dengan tuntas." Lanjut Erwin.


Shafira menoleh setelah mendengar itu, "Tidak usah, aku hanya perlu waktu untuk istirahat."


"Oke…!" Jawab Erwin santai, bersikap acuh kepada Shafira.


Sementara Shafira masih menyimpan perasaan dendam di hatinya.


Perasaannya yang sungguh menyiksanya saat itu, ia tidak mengerti mengapa hatinya begitu panas sakit luar biasa ketika tau dan melihat Gian lebih memilih Akira dan lebih perduli kepada Akira ketimbang dirinya.


Padahal awalnya Shafira sendiri yang meninggalkan Gian dan mengkhianatinya, bahkan dirinya yang membuat pesan agar Gian menikahi Akira.


Setelah pergi melarikan diri dari kehidupan mereka Shafira memang memiliki rasa penyesalan yang mendalam dan rasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan.


Tapi perasaan nya tidak sekacau seperti kali ini, setelah melihat Gian dan Akira bahagia, Shafira merasa di campakkan.


Shafira merasa cemburu, hatinya otaknya menjadi panas sehingga ia seperti hilang akal.


Erwin merasakan apa yang dirasakan oleh Shafira, karena Shafira terlihat begitu gelisah.


Namun Erwin memilih untuk diam dan tidak memperdulikannya, karena sejujurnya Erwin sudah tau kalau selama ini Shafira hanya bersandiwara untuk mendapatkan Gian kembali menjadi miliknya.

__ADS_1


Maka dari itu Erwin berusaha agar Gian tetap memilih Akira, dan apa yang Erwin upayakan berhasil.


Saat sebelum pesawat lepas landas, tinggal tersisa beberapa menit lagi.


Erwin bersusah payah meyakinkan Gian untuk segera menyusul Akira, Sisil dan juga babysitternya.


"Pergilah Gian mumpung masih ada waktu beberapa menit lagi, kalau tidak kamu akan menyesal karena kamu akan kehilangan Akira selamanya."  Ucap Erwin kali ini membuat Gian berpikir keras.


Bahwa ia tidak akan sanggup kehilangan Akira selamanya.


Maka dari itu Gian segera bergegas menyusul Akira dan yang lainnya ia segera menaiki pesawat, tanpa sepengetahuan Akira.


Meskipun Shafira terus menangis meronta dan mengancam Gian.


Tapi Gian tetap berlalu meninggalkannya, karena Erwin berjanji akan mengatasi Shafira, Gian sepenuhnya mempercayakan Shafira kepada Erwin, karena Gian yakin Erwin bisa mengatasi Shafira.


Erwin berkata kepada Shafira, "Jika kamu terus bersandiwara seperti ini Gian akan tetap pergi dari mu, dia tidak akan bersimpati kepada mu."


"Apa kamu tidak menyadari Gian bukan Gian yang dulu yang hanya memiliki mu, kamu sendiri yang membuat luka di hatinya, dan Akira lah yang berusaha menyembuhkan luka itu dengan ketulusannya mengorbankan segala yang ia punya."


"Jadi jangan berharap Gian akan peduli seperti dulu kepada mu, karena sekarang Akira lah yang sudah menguasai hati Gian "


Panjang lebar Erwin mengingatkan Shafira tentang kebenaran yang terjadi.


Dan itu membuat Shafira menyadari semuanya.


Itu mengapa Shafira berhenti bersandiwara dan tidak lagi histeris.


Erwin tersenyum seakan mencemooh Shafira, karena melihat perubahannya yang tiba-tiba berubah drastis setelah Erwin mengingatkannya.


Itu jelas membuktikan kecurigaan Erwin tentang sandiwara yang Shafira lakukan benar hanya tipu daya untuk mencari simpati dari Gian untuk memiliki Gian kembali.



Setibanya di rumah mereka disambut bahagia oleh kedua orang tua Gian, tapi tidak hanya keluarga Gian  yang menyambut kedatangan mereka, tapi ternyata ayah dan ibu Akira pun sudah menunggu mereka di kediaman papa Arga.


Akira begitu bahagia melihat kedua orangtuanya.


"Ayah, Ibu…" gumam Akira segera memeluk keduanya.


"Akira kamu baik-baik saja kan nak?" Ibu Yulia bertanya ingin memastikan kabar anaknya.


Akira tersenyum namun terlihat ada kegetiran dari senyuman itu.


"Alhamdulillah aku baik Bu" kemudian jawab Akira.


"Ya syukurlah…" tapi entah mengapa mendengar jawaban Akira ibu Yuli merasa tidak yakin sebab ibu Yuli seakan bisa merasakan ada sesuatu yang Akira sembunyikan darinya.


Dan hal itu membuat Bu Yuli penasaran karena rasa itulah Bu Yuli terlihat gelisah.

__ADS_1


__ADS_2