
Gian, Akira dan juga Shafira saat ini sudah berada di tempat makan dengan suasana alam terbuka, tempat cukup sepi cocok untuk berbicara hal yang private.
Sedari di perjalanan sampai di tempat itu, hanya ada keheningan di antara mereka bertiga.
Shafira hanya tertunduk dengan raut wajah yang sendu seakan penuh penyesalan.
Gian sendiri begitu cuek dengan keadaan, ia seakan tidak ingin menatap Shafira apalagi berbasa-basi kepadanya.
Sedangkan Akira berada di tengah-tengah antara kakak dan suaminya.
Sesungguhnya Akira ingin sekali meminta keadilan kepada kakaknya.
Tapi Gian sendiri lebih membenci Shafira ketimbang dirinya.
Begitu sampai di sana mereka langsung duduk, di meja yang sama pelayanan segera menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu kepada mereka bertiga.
Gian dan Shafira hanya memesan minuman, tapi karena merasa tidak enak hati kepada pelayan akhirnya Akira memesan satu menu cemilan berupa kentang goreng.
Setelah duduk bersama pun mereka tetap saling diam, sampai akhirnya pesanan mereka tiba dan di suguhkan di meja.
Akira menatap wajah suami dan kakaknya secara bergantian, tapi hanya nampak ekspresi wajah acuh tak acuh dari keduanya.
Akira berpikir mungkin mereka berdua tidak leluasa untuk berbicara karena ada dirinya di sana.
Akhirnya Akira berinisiatif untuk pergi dari sana, dengan niat memberi kesempatan ruangan dan waktu untuk mereka berdua berbicara.
"Oke silahkan kalian bicarakan berdua dulu, nanti aku akan kembali setelah itu." ucap Akira berniat pamit.
Gian langsung bereaksi menatap wajah Akira yang bangkit dari duduknya.
Dan segera mencekal pergelangan tangannya, "Kamu mau ke mana?" tanya Gian.
"Silahkan kalian bicara berdua aku akan kembali setelah itu." Tegas Akira, mengulang perkataan nya.
"Tidak, kamu tidak boleh pergi kemanapun tetaplah duduk di sini." Cegah Gian.
Shafira melihat kejadian itu tepat di depan matanya, Gian yang ia kenal selalu cuek kepada wanita manapun kecuali kepadanya.
Kini di depan matanya, Gian malah bersikap sebaliknya.
Akira berbalik melihat ke arah kakaknya yang sedang menatapnya.
__ADS_1
Shafira langsung menunduk mengalihkan pandangannya ketika Akira melihat ke arahnya sambil berucap "Tetaplah duduk disini Akira." ucap Shafira basa-basi.
Akira yang sudah mengangkat bokong nya dari tempat duduk, kembali meletakkan bokongnya, "Baiklah, tapi aku pikir aku hanya akan menjadi pengganggu di sini."
"Siapa bilang, kamu bukan pengganggu justru kamu penyelamat bagi ku, kamu istri ku," tegas Gian.
Dan kata - kata itu sungguh sangat melukai hati Shafira, karena ia pikir Gian tidak akan pernah bisa berpaling dari nya, Shafira pikir Gian akan tetap memujanya.
Tapi pada kenyataannya Gian malah tidak mempedulikan nya .
Shafira merasa kecewa dengan keadaan, ia merasa tidak terima Akira bisa menggantikan posisinya dengan sangat mudah, padahal dari fisik dan penampilan Shafira lebih menarik daripada Akira.
'Tenang Shafira, kamu harus tenang Gian hanya sedang bersandiwara di depan mu, karena dia merasa kecewa dengan apa yang telah kamu lakukan kepadanya.' Shafira bicara dalam hati, seakan sedang bicara pada dirinya sendiri.
'Aku yakin pernikahan mereka tidak bahagia, Gian hanya pura-pura perhatian kepada Akira di depan ku, sengaja untuk melukai ku, aku harus ikuti permainannya.' lanjut Shafira masih bicara dalam hati.
Shafira mulai menarik nafas panjang, dan menghembuskan nya secara perlahan.
"Hhhmm…. Aaaa!" Menarik nafas dan menghembuskannya.
Shafira berusaha mengontrol dirinya bersikap sebaik mungkin dan setenang mungkin.
"Uhm…" Shafira berdehem memecahkan kesunyian kala itu.
"Gian maafkan aku telah lari di hari pernikahan kita saat itu."
Gian sungguh benci jika mengingat kejadian itu. Sampai Gian tidak Sudi melihat ke arah Shafira, kebencian yang diakibatkan rasa kecewa dan sakit hati karena merasa tidak dihargai dan dikhianati oleh wanita yang sangat ia cintai, sehingga membuat luka begitu dalam di hatinya Gian.
Jadi jangan harap ada maaf dari Gian untuk Shafira kala itu.
"Akira aku juga minta maaf kepada mu, bukan maksudku untuk menjerumuskan mu dalam pernikahan tanpa cinta."
"Sungguh aku punya alasan untuk itu, aku ter~." Terhenti.
"Cukup!" seru Gian memotong ucapan Shfira.
Seketika itu Shafira pun berhenti berbicara.
"Tidak ada alasan apapun, dan penjelasan apapun, nasi sudah menjadi bubur." Kemudian lanjut Gian.
"Iya aku tau, tapi tolong dengarlah dulu penjelasan dari ku!" Shafira tetap ingin memberi penjelasan.
__ADS_1
"Sayang, biarkan kakak ku menjelaskannya." Pinta Akira, sengaja mengucapkan kata sayang untuk meredam emosi Gian.
"Baiklah." Gian mematuhi ucapan istrinya, karena jika mendengar Akira memanggilnya sayang Gian langsung bisa luluh hatinya.
Shafira sungguh takjub melihat sikap Akira memperlakukan Gian seperti itu, memanggilnya sayang di depan umum.
Tapi Shafira menyunggingkan salah satu bibirnya ketika mendengar itu. Ia tersenyum licik seakan mencibir Akira.
Akira menatap kakak nya, "Silahkan jelaskan kak, mengapa kamu pergi ketika itu."Akira meminta Shafira untuk kembali melanjutkan penjelasannya.
"Iya, ketika itu Aku terpaksa pergi karena aku mendapatkan panggilan untuk bertugas di negara ini, sebab ini adalah impian ku sejak kecil maka aku rela untuk meninggalkan cinta ku."
"Saat itu aku sengaja pergi diam-diam karena aku yakin jika aku memberitahu kalian semua, kalian akan melarang ku untuk pergi, jadi aku sungguh terpaksa hiks… hiks…" Shafira bersandiwara seakan menyesali perbuatannya.
"Tapi Gian, cinta ku padamu tidak pernah berkunjung sedikit pun, malah semakin hari semakin bertambah, aku masih sangat mencintai dan menyayangimu hiks… hiks…." Shafira mendramatisir keadaan.
"Jujur saja aku merasa kecewa melihat hubungan mu dengan Akira ternyata sudah begitu dekat, semudah itu kamu melupakan ku, padahal aku sendiri tersiksa jauh dari mu Gian." Shafira makin berakting seperti orang yang terzalimi.
Gian dan Akira saling menatap, kini malah mereka yang merasa bersalah, karena telah salah paham kenapa Shafira.
"Jika benar begitu, seharusnya kamu tidak melukai perasaan ku, dengan perginya diri mu secara diam - diam itu sama halnya dengan kamu mengkhianati ku " sahut Gian tapi kali ini dengan nada yang lebih lembut.
Sepertinya Shafira berhasil mempengaruhi Akira dan Gian.
Melihat perubahan sikap Gian Shafira tersenyum dalam hati, ia merasa puas dengan aktingnya.
"Tapi kak, karena perbuatan kakak aku yang jadi korban dari semua ini, aku kehilangan semuanya, kehilangan cinta, karier, dan kesucian ku." Akira menyesali perbuatan Shafira sekaligus perbuatan Gian kepadanya.
"Kenapa Akira, bukannya kamu hidup bahagia dengan Gian, aku lihat Gian sangat perhatian kepadamu, kamu juga memanggilnya sayang, tapi kenapa kamu berucap seperti itu?" Shafira sengaja ingin memancing jawab Akira, dengan pertanyaannya agar Akira dan Gian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan mereka.
'Hhhmmm…' Shafira kembali tersenyum licik dalam diamnya.
'Benar dugaan ku, kalian hanya bersandiwara, pura-pura romantis di hadapan ku, hanya untuk membalas ku, aku tau Gian tidak akan semudah itu mencintai wanita lain karena akulah cinta mati untuk Gian.' Shafira makin Pede saja dengan pemikirannya.
….
Othor : wah makin jahat saja ni si pengacau (Shafira) othor kok kesel ya…!
Abang Gian : Lagian ngapain sih Thor dia pake balik lagi segala?
Othor: sengaja biar seru ceritanya 😝
__ADS_1
Abang Gian: Hhmm… serah lu deh Thor.
Othor: Emang iya serah aku… 😂😂😂 ✌️✌️✌️