
Matahari sudah menyingsing, bersinar sempurna meskipun waktu masih cukup pagi.
Seperti biasa setiap pagi semangat Yuri selalu menyala tak kalah seperti terangnya sang mentari.
Yuri telah bersiap untuk pergi ke rumah sakit untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter.
Namun, ketika ia sedang sarapan menyantap omelette yang sempat ia buat sebelumnya, tiba-tiba Yuri teringat dengan pasiennya yaitu Putra yang harus ia hadapi pagi ini.
Jujur saja, sebenarnya Putra sangat menyebalkan, tapi entah mengapa Yuri merasa penasaran dan tertarik kepada keluarganya, mereka terlihat begitu akrab satu sama lain terasa hangat suasana yang tercipta berada di antara mereka.
Sebenarnya suasana yang seperti itu yang Yuri impikan dalam keluarganya, bukan cacian dan makian yang selalu ia dapatkan.
Dan karena rasa penasaran dan rasa ketertarikannya, Yuri kembali semangat mengalahkan rasa yang membuatnya menyebalkan ketika menghadapi Putra.
Ia segera menghabiskan sarapannya lalu bergegas untuk pergi bertugas.
…
Sedangkan di rumah sakit, di ruangan Putra, Gian dan Juna sudah terbangun, sementara Putra masih terlelap, semalam ia sulit untuk tidur, bukan hanya karena rasa sakit yang ia rasakan.
Namun, karena tempat dan suasananya yang membuat Putra tidak merasa nyaman sehingga Putra sulit untuk tidur.
Tapi menjelang subuh ia baru bisa terlelap karena saking ngantuk nya.
Gian dan Juna saling menatap ketika Sama-sama terbangun, dan melihat Putra masih terlelap. Kemudian mereka mengatur jadwal, papa Gian menyuruh Juna untuk pulang terlebih dahulu agar Juna bersiap untuk tugasnya sebagai seorang dokter,. lalu kembali lagi ke rumah sakit dengan membawa ibunya - Akira, yang nanti akan menemani Putra, dan barulah Gian yang akan pulang dan bersiap untuk berangkat ke kantor untuk bekerja.
Juna setuju dengan apa yang papa angkatnya utarakan, ia segera bergegas pergi meninggalkan rumah sakit untuk pulang terlebih dahulu.
…
Jam tugas Yuri sudah tiba, Yuri memulai pekerjaannya menemui Putra terlebih dahulu mengontrol kondisinya. Namun saat sang dokter masuk ke ruangannya ia melihat Putra masih terlelap.
Yuri hanya menyapa papa Gian yang memang sedang menunggu Putra, "Selamat pagi pak!" sapa Yuri.
Mata Gian tidak berkedip menatap Yuri dari pertama Yuri masuk kedalam ruangan tersebut.
Dan ketika Yuri menyapanya, Gian hanya terperangah seakan konsentrasinya hanya terfokus kepada nya, Ia tidak dapat membalas sapaan Yuri.
Yuri merasa risih dengan tatapan tuan Gian, ketika Yuri menyadari tingkah papa Gian.
__ADS_1
"Kenapa dia? Kenapa menatapku seperti itu, jangan-jangan dia naksir sama Aku, ganteng sih, tapi masa iya aku harus naksir sama bapak-bapak yang pantas jadi bapak ku! lagian dia kan laki orang mana boleh begitu!" Yuri membatin, ia juga seakan sedang menasehati dirinya sendiri.
Kemudian Yuri berdehem untuk menyadarkan papa Gian yang sepertinya sedang fokus memperhatikan dirinya.
"U'hum …!"
Iya, cara Yuri berhasil menyadarkan papa Gian, ia sampai terhenyak ketika menyadari Yuri tau bahwa dirinya sedang memperhatikannya.
"Maaf, Dok!" Kemudian ucap Gian gugup.
Yuri hanya bisa tersenyum kaku ketika mendengar Gian berbicara.
"Boleh saya bertanya?" Gian sengaja meneruskan ucapannya dengan beertanya untuk menghilangkan ke gugupnya.
"Iya silahkan, Pak!" Yuri mempersilahkan.
"Maaf apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya papa Gian karena rasa penasarannya.
"Hhmm, gombal nih!" gerutu Yuri dalam hatinya, ia menebak ada sebuah modus dalam gelagat Gian.
"Kita?" Yuri mempertegas kata itu.
"Maaf maksud saya, saya merasa tidak asing melihat anda, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Gian menjelaskan.
Yuri terlihat sedang berpikir mencoba mengingatnya, tapi Yuri merasa tidak pernah bertemu dengan Gian sebelumnya.
"Sepertinya kita belum pernah bertemu pak!" Kemudian terang Yuri.
"Perasaan saya seperti pernah melihat anda sebelum, tapi entah di mana!" ungkapan Gian.
Yuri tersenyum mendengarnya, "Mungkin itu hanya perasaan anda saja, Pak! Atau mungkin wajah saya yang pasaran!" Yuri menepisnya.
"Iya, mungkin saja." Sambung Gian menyudahi obrolannya.
Dan ketika itu Putra terbangun, karena mendengar obrolan Papanya dengan dokter Yuri.
Putra membuka matanya, "Pah!" sapa Putra, tapi Putra berucap dengan nada lirih.
"Kamu sudah bangun?" Papa Gian.
__ADS_1
Putra mengaduh, "Ssst … aah!" Sambil menggeliat dengan perlakuan.
Mendengarnya Papa Gian merasa khawatir, "Kamu kenapa, Nak?" tanyanya sambil menghampiri Putra.
Putra mengeluhkan seluruh tubuhnya terasa sakit semua, dan iya mengatakan bahwa dirinya tidak bisa tidur semalaman.
Dokter Yuri kemudian mendekat ke ranjang Putra lalu menjelaskan, semua butuh proses dan waktu untuk penyembuhannya.
"Lalu apa fungsinya obat yang kamu berikan kepadaku? jika tidak berpengaruh apapun." Putra meragukan pengobatan yang dilakukan oleh dokter Yuri.
"Pak Putra, yang terhormat, jangankan tubuh yang banyak luka yang seperti anda alami saat ini, sebuah jari saja jika tergores pisau akan tetap terasa sakit, meskipun sudah diberikan Betadine dan dibalut plester," terang dokter Yuri.
"Anda pikir saja! dengan luka yang anda alami ini jika tidak diobati sama sekali akan seperti apa? Anda akan lebih merasa kesakitan dari sekarang." Lanjut Dokter Yuri dengan santai namun penuh penekanan, ia merasa Putra merendahkannya.
Kemudian Yuri menjelaskan lagi maksud kedatangannya yang ingin memeriksa keadaannya dan lukanya, setelah melihatnya Dokter Yuri baru akan memutuskan menambah atau mengurangi dosis obat, atau mengganti jenis obat yang sesuai dengan keadaan pasiennya.
"Tapi sebaiknya Anda bersihkan diri anda terlebih dahulu," saran Dokter Yuri, lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.
Ya, Putra memang ingin membersihkan dirinya, ia tipe orang yang tidak betah berlama-lama tidak mandi di pagi hari dan sore hari. Tapi Putra merasa kesulitan dalam bergerak karena rasa sakit yang ia rasakan.
Papa Gian membantunya dengan memapahnya untuk turun dari tempat tidurnya, lalu mengantarkannya ke kamar mandi yang terdapat di ruangan itu.
"Aduh, Pah! perasaan kemarin tidak sesakit ini!" Putra kembali mengeluh.
"Iya, memang seperti itu nak, nanti juga akan berangsur kembali membaik." Papa Gian menenangkan Putra nya.
Setelah sampai di kamar mandi, Putra meminta Papa nya untuk keluar meninggalkannya.
"Kamu tidak apa-apa kalau Papa tinggal?" Papa Gian merasa khawatir untuk meninggalkan Putra di kamar mandi seorang diri, mengingat kondisinya yang sedang merasa kesakitan.
"Enggak apa-apa kok pah! Aku bisa sendiri!" Putra meyakinkan Papa nya.
Perlahan tapi pasti, Putra hanya mengelap bagian tubuhnya yang perlu di lap saja, karena ia merasa kesulitan jika harus mandi, ditambah di pergelangan tangannya tertancap selang infus dan itu sangat menyulitkan pergerakannya, menurut Putra.
Padahal sebenarnya Putra tidak usah repot-repot membersihkan diri atau mengelap tubuhnya, sesuai peraturan akan ada petugas yang akan melakukan hal itu, tapi seperti biasa Putra tidak ingin ada orang lain menyentuhnya apalagi seorang wanita, cukup Dokter Yuri saja yang melakukan nya, saat memeriksanya.
Setelah dirasa cukup Putra keluar dari kamar mandi, dan akan menuju ke tempat tidurnya kembali di sana juga sudah tersedia sarapan untuknya.
Putra kembali ke tempat tidurnya dengan dipapah kembali oleh Papa nya.
__ADS_1
Kemudian Papa Gian menyodorkan nampan berisi menu sarapan kepada Putra, tentunya sarapan ala-ala rumah sakit, Putra sudah bisa menebak rasanya seperti apa hambar seperti tanpa rasa. Putra sudah hapal betul akan hal itu, sebab ini bukan kali pertama baginya di rawat di rumah sakit.