Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 91


__ADS_3

Karena sudah mendarah daging, kasih sayang dan perhatian yang diberikan kepada Sisil, sehingga  saat kepergiannya Sisil merasa separuh jiwanya hilang.


Dalam tidurnya, Sisil mengigau, menyebutkan kata, "Mbak Rima … jangan tinggalkan Sisil." Kata itu yang selalu di ulang-ulang oleh Sisil.


Membuat hati terenyuh bagi orang yang mendengarnya.


Wajah Sisil terlihat merah padam, dan berkeringat, ketika Akira melihatnya, membuat Akira curiga terjadi sesuatu kepada Sisil.


Akira mengecek suhu tubuh Sisil, dengan menempelkan punggung telapak tangan di kening Sisil lalu beralih ke lehernya.


Ya, suhu tubuh Sisil demam tinggi, namun telapak tangan dan kakinya begitu dingin, Akira bagaikan sedang menyentuh balok es.


"Astaga … Sisil." pekik Akira ketika itu.


Dan pekikan Akira terdengar sampai keluar kamarnya, terdengar oleh seluruh keluarga.


Dan memancing reaksi dari mereka, semua berhamburan berlari ke kamar Sisil karena terkejut mendengar pekikan Akira yang membuat mereka curiga telah terjadi sesuatu kepada Sisil.


"Ada apa, yang …?" tanya Gian panik.


Akira lebih panik dari mereka semua, "Lihat kondisi Sisil, dia demam tinggi, tapi telapak tangan dan kakinya malah dingin sekali." Akira memberi tau.


"Ternyata apa yang kita khawatirkan benar yang …." ucap Gian.


"Ini seperti kejadian tempo hari." sahut Akira.


Semua penasaran apa maksud dari ucapan Akira.


"Kejadian apa, memang pernah terjadi apa?" Mama Nirmala ingin tau kejadian yang telah terjadi sebelumnya. 


Gian menceritakan kejadian dirinya yang pernah membiarkan Akira pergi, dan sisil bereaksi sama seperti sekarang.


Saat itu Mama Nirmala, dan Papa Arga sedang pergi keluar kota sehingga tidak mengetahui peristiwa tersebut.


"Dulu Sisil sampai masuk ruang ICU, karena tidak sadarkan diri, dan baru sadar setelah Akira datang menemuinya, dan kembali sampai detik ini ada bersama kita." Gian menjelaskan lebih jelas lagi.


"Lalu sekarang bagaimana" tanya Mama Nirmala meminta solusi dari semuanya.


"Kita harus bawa Sisil kerumah sakit, agar mendapatkan pertolongan medis." ucap Erwin, yang sangat mengkhawatirkan kondisi putrinya.


"Iya itu memang perlu kita lakukan, tapi tidak cukup hanya dengan itu saja." tegas Gian.


"Lalu harus bagaimana?" Mama Nirmala makin tidak mengerti.


Kali ini Akira yang menjawab, "Kak, Erwin yang tau solusinya harus bagaimana." karena Akira tau perkaranya.

__ADS_1


Erwin tidak menjawab ia hanya melihat Akira dengan tatapan tajam.


Tapi Mama Nirmala segera mengambil keputusan agar Sisil segera dibawa kerumah sakit.


Ya, Erwin segera mendengarkan interuksi dari Mamanya dan segera menggendong putrinya untuk di bawah kerumah sakit.


"Tunggu-tunggu …."  Gian menghentikan Erwin.


Karena Gian berpikir percuma di bawa kerumah sakit keadaan Sisil tidak akan membaik hanya dengan mendatangkan Rima baru kondisi Sisil akan membaik.


Erwin kesal kepada Gian karena telah menghalang-halanginya untuk membawa putrinya brobat.


"Apa sih mau mu, mengapa sok ngatur seperti ini." 


"Santai dulu bro …."


"Lihat kondisi Sisil, bagaimana aku bisa santai …!" Erwin sebelumnya sangat panik, ia trauma kejadian yang menimpali almarhumah istrinya kembali terjadi kepada Sisil.


"Tenang dulu, Win?" Papa Arga ikut menenangkan Erwin yang mulai cemas dan terlihat ketar-ketir.


"Pah …." Erwin ingin menyangkal Papanya.


Tapi dihentikan oleh Papa Arga, dengan menyetop mengangkat satu tangannya. Dan itu berhasil membuat Erwin diam.


"Papa sudah menghubungi Dokter eva-Dokter keluarga, dia akan segera kemari dan akan menangani Sisil." Papa Arga menjelaskan agar Erwin tenang.


Akira mengompres tubuh Sisil agar Demamnya turun, sambil menunggu kedatangan Dokter Eva.


Ternyata pikiran Papa Arga sama dengan pemikiran Gian, Papa Arga lebih memilih untuk memanggil Dokter Eva dan merawat Sisil dirumah untuk memudahkan semua keluarga bisa merawat dan menemani sisil.


Karena Sisil hanya menurut dengan Akira, sedangkan Akira sedang hamil, tidak di anjurkan untuknya berlama-lama di rumah sakit, dan ia juga harus banyak istirahat.


Itulah mengapa Gian mencegah Erwin untuk membawa Sisil ke rumah sakit, sedangkan faktor utamanya adalah kehadiran Rima yang bisa memulihkan kondisi Sisil.


Erwin begitu gelisah, memikirkan kondisi putrinya. Papanya menenangkannya, agar jangan khawatir.


Dan tidak lama Dokter Eva datang dengan membawa satu Suster untuk merawat Sisil.


Tanpa basa-basi Dokter Eva segera diminta untuk mengecek kondisi sisil.


Setelah melakukan pemeriksaan seperti biasanya, Dokter Eva memang mengatakan demam Sisil sangat tinggi dan kondisinya sangat lemah.


Dokter Eva segera melakukan tindakan yang seharusnya ia lakukan. 


"Jangan khawatir, saya sudah memberikannya obat untuk demamnya."  ucap Dokter Eva.

__ADS_1


Kemudian Dokter Eva bertanya, "Siapa, Mbak Rima … itu?" karena Dokter Eva mendengar Sisil berulang kali menyebutkan mama itu.


Mama Nirmala Menjelaskan, karena itulah pemicu Sisil demam tinggi.


"Oo … seperti itu." Dokter Eva baru memahaminya setelah mendengar cerita dari Mama Nirmala.


"Apa bisa didatangkan orang yang bernama Mbak Rima itu?" 


Semua tidak dapat menjawab mereka hanya saling memandang.


"Sebaiknya datangkan orang tersebut, karena jika demamnya turun itu hanya pengaruh obat, setelah itu demamnya akan kembali tinggi, karena  perasaannya yang terganggu, ia terlalu syok jadi berpengaruh pada pikiranya dan menyebabkan seperti ini." Panjang lebar dokter Eva memberi pengertian kepada keluarga.


Akira melihat ke arah Erwin, dan memohon kepadanya, "Kak Erwin tolong temui Mbak Rima, karena hanya dia yang bisa menolong Sisil."


"Sebenarnya ada apa antara kamu dan Rima, Win?" tanya Mama Nirmala penasaran.


"Sepertinya mereka telah terjadi salah paham antara mereka, mah." Gian ikut bicara.


"Aku kecewa kepadanya." akhirnya Erwin membuka mulutnya.


"Kecewa?" Mama Nirmala mengulang kata itu dengan nada menyelidik.


Erwin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban mengiyakan.


"Apa dia menolakmu?" tanya Mama Nirmala lagi.


Kali ini Erwin menggelengkan kepalanya.


"Lalu, apa Win?" Mama Nirmala Semakin penasaran.


"Erwin! tolong jelaskan yang sejelas-jelasnya!" Papa Arga yang begitu kesal melihat tingkah Erwin, ia geregetan dan menyuruhnya untuk menjelaskannya.


Ya, Erwina pun menjelaskannya, bahwa ia menegur Rima tentang sikap Sisil yang menolak didekati oleh Lisa, Erwin juga telah menuduhnya yang mempengaruhi Sisil, Erwin mengaku telah mengancam Rima akan memecatnya jika kejadian itu berulang kembali.


Dan itu semua sangat menyinggung perasaan Rima, sampai Rima mengajukan resign saat itu juga.


Mama Nirmala, Papa Arga menggelengkan kepalanya ketika mendengar penjelasan Erwin.


"Ya Tuhan, Erwin … apa yang kamu lakukan nak?" Mama Nirmala sangat menyayangkan atas sikap Erwin bersikap seperti itu.


Ya jelas, Rima tersinggung karena Erwin tidak hanya menegurnya dan  mengingatkannya, Erwin juga menuduhnya, bahkan Erwin telah mengancamnya.


Erwin mengaku salah telah bersikap seperti itu, sesungguhnya Erwin juga sangat terkejut dengan apa yang telah Rima lakukan, ia benar-benar mengundurkan diri pada saat itu juga.


Dan benar-benar pergi, padahal niat Erwin tidak seperti itu, ia hanya tidak ingin putrinya mempunyai pikiran jelek tentang pasangannya nanti.

__ADS_1


Sebab Erwin sudah ada rencana ingin mencari pengganti almarhumah istrinya.


__ADS_2