
Setelah kedua balita itu sudah terlelap, Akira keluar dari kamar itu bersama Gian Suaminya menuju kamar tidur Mereka.
Sesampainya di kamar, Gian mencekal pergelangan tangan Akira ketika Akira hendak berlalu ke kamar mandi untuk bersiap segera tidur.
"Tunggu sayang!" Cegah Gian.
Seketika Akira menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah Gian.
"Iya, ada apa?" tanya Akira polos.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Akira tersenyum melihat dan mendengar suaminya berbicara.
"Apa yang mau dibicarakan?" tanya Akira sambil tersenyum dan mendekat ke arah Suaminya
"Tenang Mila dan putrinya." Tegas Gian.
"Tidak ada yang perlu kita bahas lagi, aku percaya sepenuhnya kepadamu, kamu tidak pernah mengkhianati ku." ucap Akira membanggakan Gian
.....
Sebab dalam hati Akira, ia berusaha untuk menerima semua kekurangan dan kesalahan Gian, seperti Gian menerimanya dengan tulus.
Akira mendekati Gian lebih dekat lagi bahkan tidak ada jarak di antaranya, sambil tersenyum Akira mengecup bibir Gian sekilas, lalu ia ingin berlalu, tapi Gian yang terperangah atas tindakan Akira, ia kembali mencekal tangan Akira, mencegah Akira untuk pergi.
"Hey mau kemana? jangan curang!" cegah Gian.
Wajah Akira memerah karena malu, dan semakin malu ketika Gian menahannya.
Kini Gian yang membalas Akira, ia mendekat lalu mengecup kening Akira dan kedua pipinya, lalu beralih mengecup bibirnya.
Dan Akira terlihat menikmati setiap kecupan bibir Gian, membuat Gian semakin ingin lebih dari pada itu, karena Gian lelaki normal, sesungguhnya ia sangat tersiksa setiap kali berdekatan dengan Akira, tapi ia juga tidak ingin egois memaksakan kehendaknya sendiri dan memaksa Akira untuk memuaskan hasratnya.
__ADS_1
Karena Gian berkaca kepada kejadian dulu, saat ia memaksa merenggut keperawanan Akira, karena itu menjadi satu penyesalan bagi Gian dan tidak ingin mengulangnya lagi.
Namun kali ini Akira tidak menolak saat Gian mencumbunya. Akira memang kembali teringat saat-saat ia sedang b e r s e t u b u h dengan Riza, tapi kali ini Akira berusaha untuk melawannya.
Akira tidak memejamkan matanya, ia membuka matanya saat bayangan saat-saat dirinya bersama Riza muncul. Akira menatap wajah tampan Gian, dan tersenyum manis sebagai isyarat bahwa ia siap untuk melakukan hubungan suami istri bersama Gian.
Mendapat respon positif dari Akira, Gian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu ia memulai aktivitasnya menautkan bibirnya di bibir Akira, mengecupnya lebih lama dan lebih dalam lagi, m e l u m a t nya dengan lembut, membuat Akira mulai bisa melewati rasa traumanya.
Apalagi saat tangan Gian bermain di di daerah sensitifnya sentuh demi sentuhan Gian mampu membuat Akira menikmati sensasi yang membuatnya melayang ke awang-awang.
Sehingga keduanya semakin menuntut lebih dari pada itu, karena sensasinya membuat mereka berdua semakin bergairah.
Dan pada akhirnya malam ini Gian mampu menunaikan malam pertama di pernikahan kedua mereka dengan sukses dan lancar.
Gian menjatuhkan tubuhnya di samping Akira setelah melakukan pelepasan, lalu ia memeluk Akira dari belakang tubuhnya yang masih polos tanpa busana, dan masih bernafas tersengal-sengal, akibat pertempuran yang baru saja selesai.
"Sayang … terima kasih banyak atas malam ini, I love you …." Bisik Gian di telinga Akira lalu mengecup tengkuk istrinya dengan lembut.
Akira segera berbalik badan menghadap ke arah Gian, ia kembali tersenyum.
Tapi tidak cukup sampai di situ, hampir sepanjang malam Gian mengulang pertempuran panasnya, sampai pada akhirnya keduanya benar-benar merasa kelelahan dan tertidur menjelang subuh.
Saat Akira terbangun dari tidurnya, matahari sudah terlihat terik, karena sudah bersinar hampir di atas kepala, Akira melirik jam dinding yang terdapat di kamar itu, dan ia melihat waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Akira membulatkan matanya untuk meyakinkan indera penglihatannya, dan memang benar indera penglihatannya tidak salah. Akira terperanjat ketika menyadari dirinya kesiangan.
Sebab baru kali ini ia bangun tidur se-siang itu, "Astaga aku kesiangan!" pekik Akira lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sambil menari selimut yang menutupi tubuh suaminya juga ketika itu.
Merasakan pergerakan Akira Gian pun ikut terbang, dan melihat istrinya sudah berlalu ke kamar mandi, dan alangkah terkejutnya dia saat menyadari tubuhnya tidak tertutup benang sehelai pun.
Gian segera menutup burungnya dengan kedua tangannya, "Astaga untung tidak terbang." ucap spontan Gian sambil celingukan, ia memasang ekspresi wajah waspada takut ada orang yang melihatnya sedang dalam keadaan seperti itu.
__ADS_1
Tapi memang tidak ada satu orang pun di kamar itu, bahkan Akira sendiri tidak menyadari jika Suaminya sedang merasakan kecemasan karena keadaannya yang tanpa busana.
Menyadari keadaanya aman Gian segera bergegas beranjak dari tempat tidurnya berniat menyusul istri.
Tapi sayangnya Akira mengunci pintu kamar mandinya, sehingga Gian tidak dapat masuk, meskipun Gian sudah mengetuknya berkali kali, tapi Akira tidak membukakan pintunya.
Karena Akira berpikir Gian hanya akan mengganggunya dan akan membuatnya semakin lama di dalam kamar mandi dan tentu saja ia akan semakin kesiangan untuk menghampiri putranya, untuk melakukan tugasnya sebagai seorang ibu.
Apalagi saat ini, ia harus mengurusi dua balita, meskipun ada baby sitter tidak mungkin baby sitter nya bisa mengurus dua balita sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Akira membersihkan diri secepat kilat, ia tergesa-gesa karena Gian juga tidak membuatnya tenang, dengan terus mengetuk pintu kamar mandi.
Gian tidak kehabisan akal agar Akira segera membukakan pintu kamar mandi untuknya, kemudian Gian berpura-pura sakit perut berteriak kesakitan agar mendapat respon dari istrinya.
"Sayang … tolong buka pintunya! perutku sakit sekali, aku pengen BAB udah di ujung ini!" teriak Gian.
Dan itu berhasil menarik perhatian Akira karena tidak menunggu waktu lama, Akira segera membukakan pintu kamar mandi untuk Gian tapi dirinya sudah dalam keadaan bersih, ia sudah membersihkan dirinya.
Tapi Akira sangat terkejut melihat kondisi Suaminya yang tidak berpakaian, "Hah! Apa-apaan ini?" pekik Akira dengan nada bertanya.
"Ini karena ulahmu, kamu curang meninggalkanku dalam keadaan seperti ini!" Gian mengadu.
"Iya kan?"
Tapi Akira memasang ekspresi wajah menahan tawa, karena merasa lucu melihat keadaan Suaminya dengan pengaduannya.
"Eeh, dosa ya kamu mentertawakan suami sendiri,"
Akira segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya, "Sorry, sudah sana bersihkan dirimu, katanya tadi sudah di ujung!" Akira bicara tapi masih dengan menahan tawanya.
Gian pun segera masuk untuk membersihkan dirinya.
…
__ADS_1
Setelah selesai berpakaian dengan rapi Akira keluar dari kamarnya untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Tapi sebelum menyuguhkannya, Akira menghampiri putra-putrinya terlebih dahulu.