
Sesampainya di kediaman Erwin mereka turun dari mobil.
Merek bertiga langsung masuk ke dalam, seperti sebelumnya Gian berjalan berdampingan dengan Shafira sambil bergandengan tangan, sedangkan Akira berjalan di belakang mereka berdua.
Erwin mengerutkan keningnya ketika melihat pemandangan itu, Erwin merasa ada yang janggal dengan semua itu.
Mengapa Gian tidak menghargai perasaan Akira yang jelas-jelas adalah istrinya.
Erwin merasa kecewa dengan sikap Gian yang seperti itu.
Melihat kedatangan Gian Sisil segera berlari menghampirinya tapi bukan sebutan untuk Gian yang Sisil serukan melainkan seruan untuk Akira yang Sisil serukan.
"Anteu….!"
Tapi tiba-tiba Sisil berhenti seketika ketika melihat bukan Akira yang besama Gian melainkan Shafira.
Sisil tercengang ketika menyadari bahwa Shafira lah orang yang sedang bersama om nya.
"Anteu cantik…!"gumam Sisil seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Karena sudah lama Sisil tidak melihatnya, dan Gian pernah mengatakan bahwa Shafira telah tiada.
Shafira mengurai genggaman tangannya, lalu menghampiri Sisil, "Iya sayang… ini ante" ucap Shafira sambil tersenyum manis dan meyakinkan sisil.
"Tapi om pernah bilang kalau anteu cantik sudah tiada."
"Apa ..?" Seru Shafira tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Sisil.
Kemudian sahafia berbalik ke arah Gian untuk meminta penjelasan darinya.
"Iya, pada saat itu kamu memang sudah tidak ada jadi apa yang harus kukatakan padanya," terang Gian.
"Anteu cantik ada kok, cuma anteu cantik sibuk di sini sekarang, menyembuhkan orang-orang sakit di sini, tapi setelah semua urusan selesai anteu cantik akan kembali lagi ke tanah air, dan kita bisa bermain bersama lagi." Shafira memberi pengertian dan harapan kepada Sisil.
"Oo ya..!" Sahut Sisil, tapi dengan nada datar tanpa ekspresi senang saat mengucap kata itu.
Sedangkan Akira hanya berdiri di belakang Gian, seakan tidak ada yang menganggap keberadaannya.
Erwin yang memperhatikan keadaan merasa tidak sampai hati melihat Akira.
Lalu ia lah yang menegurnya lebih dulu.
"Akira… apa kabarmu?"
Akira yang tertunduk langsung mendongakkan wajah dan melihat ke arah Erwin yang menyapanya.
__ADS_1
"Saya?" Ucap Akira dengan menunjuk dirinya sendiri, Sebab Akira merasa tidak pernah terjadi sesuatu kepadanya.
Maka dari itu ia merasa heran mengapa Erwin menanyakan kabarnya.
"Ya…!" Sahut Erwin meyakinkan Akira.
"Ya, tentu aku baik-baik saja." jawab Akira dengan yakin.
'Fisikmu memang terlihat baik-baik saja, tapi hati mu terluka.' Erwin bicara dalam hati, karena bisa merasakan apa yang Akira rasakan.
"Anteu…!" panggilan Sisil Kenapa Akira, ia memang mencari Akira.
"Iya sayang…!" Sahut Akira, tapi ia tidak berani mendekat karena ada Shafira sedang bersama Sisil, Akira tidak ingin shafira salah paham kepadanya.
Akira tidak ingin shafira menganggap dirinya mengambil perhatian semua orang dari dirinya.
Namun Sisil sendiri yang berlari ke arah Akira dan memeluknya seraya menyerukan panggilannya dengan manja, "Anteeeeu…"
"Iya sayang kenapa?" Akira langsung berjongkok menyambut Sisil yang berlari ke arahnya.
Sisil bercerita bahwa ia mencari-cari Akira semalam "Anteu sebenarnya dari mana aku kangen banget sama anteu, aku takut anteu ninggalin Aku."
"Anteu bukan orang jahat jadi Ante tidak akan pernah meninggalkan kan mu, Sisil percaya kan sama Ante."
"Anak pintar." puji Akira karena Sisil memahami apa yang Akira maksud.
Tapi sepertinya shafira tersinggung ketika mendengar ucapan Akira yang mengatakan bahwa dirinya bukanlah orang jahat.
Seakan ucapan itu ditujukan untuk dirinya oleh Akira karena telah pergi meninggalkan Gian.
Erwin menyudahi obrolan mereka dan meminta semua orang untuk menuju meja makan untuk sarapan.
Sisil sudah lebih dulu menuju meja makan dengan digendong bebysitter nya.
Dan saat Akira akan berjalan mengikuti Sisil bersama babysitternya, shafira mencekal lengan Akira, "Tunggu dulu!" ucapnya menghentikan langkah Akira.
Seketika Akira pun terhenti, lalu bertanya, "Ada apa kak?"
Dengan wajah juteknya shafira balik bertanya, "Apa maksud dari perkataanmu?"
"Perkataan, (Akira bingung) perkataan yang mana?" Akira mengulang ucapan Shafira.
"Jangan pura-pura polos Akira, aku tau kamu ingin menjatuhkanku dengan mengucapkan dirimu bukan orang jahat, tentu ucapan itu sebuah sindiran untuk ku kan?" tuduhan shafira .
"Apa…?" Aku tidak mengerti, mengapa kakaknya berpikir seperti itu.
__ADS_1
"Dasar bermuka dua." Shafira malah menghujat Akira.
Akira malah tersenyum, "Ada apa dengan mu kak? aku sungguh tidak bermaksud seperti itu, tapi jika kak Fira merasa seperti itu tolong maafkan aku." Akira memilih untuk mengalah.
"Asal kamu tau ya, jika caramu seperti itu ingin mendapatkan Gian, kamu tidak akan berhasil karena Gian hanya mencintai ku." ucap Shafira dengan pedenya.
"Iya aku tau itu." sahut Akira.
"Jadi jangan pernah bermimpi." tegas shafira lalu berlalu meninggalkan Akira, dan menyusul Gian dan yang lainnya.
Erwin dan yang lain tidak merasa curiga melihat Akira dan shafira berbincang berdua karena mereka pikir itu hal yang wajar, adik dan kakak berbicara berdua.
Tapi pada kenyataannya shafira telah menekan Akira dengan sangkaannya.
Tapi Akira tidak Ambil pusing dengan semua itu, ia kemudian melangkah dengan Santai seakan tidak terjadi perdebatan antara dirinya dengan shafira.
Karena Akira sudah menyadari bahwa akan banyak terjadi salah paham antara mereka, sebab itu Akira ingin mengalah dan pergi.
Setelah di meja makan, mereka mulai sarapan dengan menu yang telah disediakan.
Setelah selesai Akira pamit untuk membereskan semua barang-barangnya yang akan dibawa pulang, Sisil dan babysitternya mengikuti Akira.
Sedangkan Gian dan Erwin juga shafira mereka berbincang di ruang tamu, Gian menjelaskan tentang rencananya yang mengurungkan kepulangannya ke tanah air.
Lalu Gian menyarankan shafira untuk menemui Sisil, karena Gian ini bicara leluasa dengan kakaknya, kemudian Gian juga mengatakan permintaan Akira yang ingin menyudahi pernikahan mereka dan malah meminta Gain untuk bersama shafira dengan menjadikan kejiwaan shafira sebagai alasan nya.
Erwin merasa semua itu tidak adil untuk Akira, ia pikir akira sengaja mengambil keputusan seperti itu hanya untuk kebahagiaan shafira, dan malah mengorbankan perasaannya.
Erwin juga merasa keberatan jika Akira pulang ke tanah air tanpa didampingi oleh Gian.
Erwin tetap meminta Gian untuk pulang bersama mereka, hanya untuk mengantarkan, Gian bisa kembali lagi ke negara itu, dan melakukan apapun sesuka hatinya, tapi bertanggung jawablah kepada istrinya.
"Win, Akira sendiri yang kukuh ingin seperti itu, bahkan tadi dia menolak ku dengan kasar, dia tidak menghargai perasaan ku, aku merasa dipermainkan oleh keduanya." terang Gian.
Erwin juga mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Gian .
"Gian ini hidupmu, kamu seorang lelaki kamu juga berhak menentukan pilihanmu, tanya hatimu ingin bersama siapa, jika hatimu memilih shafira, lepaskan Akira dengan baik jangan melukai hatinya."
"Tapi jika kamu memiliki Akira, pertahankan dia berjuang untuk meyakinkan dirinya, jangan malah bersikap menyakiti perasaanmu dan perasaannya juga."
"Aku melihat jelas raut kesedihan di wajah Akira meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya, jujur aku tidak tega melihatnya seperti itu, Gian aku memang baru mengenalnya tapi aku tau dan aku yakin Akira orang baik, ia tidak pantas untuk selalu kamu perlakuan buruk."
"Pulang lah Gian bersamanya, jika tidak ijinkan aku yang mengantar mereka pulang."
__ADS_1