Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 19


__ADS_3

Padahal sambil berjalan menuju kamarnya, dalam benak Gian dipenuhi tentang Akira, "Sepertinya gadis tomboy itu sangat membenci ku, padahal aku ingin sekali menanyakan kabarnya, tapi melihat responnya seperti itu kepada ku, aku jadi ragu." ucap Gian dalam hatinya.


….


Tak lama Gian segera kembali menemui Sisil dan Akira, karena ia hanya berganti pakaian.


Mengenakan kemeja lengan panjang warna hitam dan digulung bagian lengannya, tapi Gian tetap mengenakan celana bahan dan sepatu pantofel nya, ia masih mengenakan pakaian formal hanya saja Gian tidak mengenakan jasnya.


"Ayo kita berangkat sekarang…!" Seru Gian lalu mengambil Sisil dari pangkuan Akira, kemudian Gian menggendongnya.


Gian berjalan lebih dulu, sambil menggendong Sisil, sedangkan Akira tertinggal di belakangnya.


"Om…!"Seru Sisil.


"Iya,,,!" Sahut Gian.


"Tunggu dulu jangan cepat-cepat jalannya, anteu jadi ketinggalan kan." Sisil menghentikan langkah Gian.


Sehingga Gian pun berhenti dan menunggu Akira yang masih berjalan di belakangnya.


Padahal dalam hatinya Akira sangat malas sekali, jalan berdampingan bersama Gian.


Kini mereka berjalan berdampingan, tapi tidak ada kata dari keduanya, sampai masuk kedalam mobil pun mereka tetap diam.


Apa lagi Akira yang selalu membuang muka dan pandangannya.


Tentu saja Sisil merasakan ada kejanggalan antara Akira dan Gian.


Sebab keduanya pun terlihat dingin kepada Sisil.


"Anteu…!"Seru Sisil sambil menggenggam tangan Akira.


Akira yang sedang melamun dan membuang pandangannya keluar jendela mobil, merasa kaget.


Ia langsung menoleh, "Iya sayang ada apa?" tanya Akira dengan lembutnya.


"Apa anteu sakit?" Sisil malah balik bertanya.


Akira mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan Sisil.


"Kenapa? Kok Sisil nanyanya begitu."


"Anteu kok diem aja, apa anteu marah sama Sisil?"


"Oo tentu tidak sayang…!" Jawab Akira lalu merangkul Sisil mendekapnya.


Sedangkan Gian terus saja menatap Akira yang terlihat sangat cuek kepadanya.


Setibanya di tempat acara ternyata, di sana juga banyak rekan bisnis Gian, mereka pun mengantar putra, putri mereka yang ternyata bersekolah di sekolah yang sama dengan Sisil.


Ketika mereka memasuki tempat acara, para rekan bisnis Gian begitu antusias menyambut kedatangan Gian.

__ADS_1


Yang tidak lain, semuanya masih sahabat Gian.


"Wiih ada pengantin baru…" seru salah satu dari mereka mengalihkan pandangan mereka semua, dan fokus dengan kedatangan Akira dan Gian.


Mereka semua berbasa-basi menyapa Gian, Akira dan juga Sisil.


Untuk menghargai semua Akira terpaksa memasang senyuman kepada mereka semuanya.


"Waah, Nyonya Gian ternyata cantik sekali." Puji salah satu dari mereka.


Akira hanya tersenyum membalasnya sambil berucap, "Terimakasih." 


"Kalian berdua sungguh terlihat sangat serasi." ucap mereka lagi.


"Kapan nih kalian nyusul punya momongan, biar bisa seperti kita." Pertanyaan mulai menjurus ke hal yang lebih intim.


"Insyaallah secepatnya…!" Gian menjawabnya.


Sesungguhnya Gian tidak menyangka dengan respon Akira yang begitu baik, ternyata Akira tidak egois seperti dirinya.


Sebab Akira yang dari awal hanya diam dan bermuka masam, tapi ketika teman - teman Gian menyapanya, Akira mampu tersenyum untuk menghargai semuanya.


Gian bernafas lega, karena Akira tidak membuatnya malu di hadapan semua orang.


Sisil terlihat begitu bahagia, ia merasa punya keluarga yang utuh, seperti teman-teman nya yang lain.


Sisil menarik tangan Akira agar mengikuti dirinya, dan menjauhi dari Gian yang sedang asik ngobrol dengan rekan rekan nya.


Lalu Gian menghentikan Akira dengan menarik tangan Akira yang satunya lagi, Sabil berucap, "Yang… kamu mau kemana."


"Apa…!" Akira terkejut mendengar Gian memanggilnya dengan sebutan "yang"


Padahal Gian sengaja melakukan hal itu, agar terlihat romantis di depan rekan-rekan nya.


Karena Sisil terus menarik tangan Akira, membuat Akira tertarik untuk menjauh dari Gian dan para rekannya, sedangkan Gian pun menarik tangan Akira agar tetap di sampingnya untuk tetap terlihat serasi dan mesra.


Dan itu membuat Akira merasa bingung, akhirnya Akira lebih memilih untuk mengikuti Sisil tapi sebelum itu, Akira pamit dan meminta izin terlebih dahulu kepada Gian.


"Yang… aku permisi dulu ya bersama Sisil…!" ucap Akira membalas panggilan Gian yang memanggilnya dengan sebutan itu.


Sama seperti halnya Akira, Gian pun cukup terkejut mendengar Akira memanggilnya yang, Gian sungguh tidak menyangka Akira dapat mengerti dan memahami situasi.


"Oo… oke yang! Hati - hati dan jangan jauh-jauh nanti aku kehilangan kalian susah nyarinya." ucap Gian.


Gian terlihat begitu perhatian dan seakan tidak ingin jauh dari istrinya.


Akira hanya tersenyum manis, lalu memberi isyarat kepada rekan-rekan Gian untuk pamit meninggalkan mereka.


Iya, Sisil ternyata ingin memperkenalkan Akira kepada teman-teman nya dan kepada guru-gurunya 


Sisil menyapa mereka semua lalu memperhatikan Akira kepada semuanya.

__ADS_1


Seperti biasa Akira hanya tersenyum, menyambut sapaan dari para teman dan guru Sisil.


Panitia acara segera meminta para tamu undangan untuk duduk di tempat yang sudah disediakan karena acara akan segera di mulai.


Ya mereka semu langsung mengambil posisi untuk duduk.


Ketika itu Akira dan Sisil hanya duduk berdua tanpa Gian, karena Akira sengaja tidak ingin bersama-sama dengan Gian.


Untung di sana banyak rekan-rekannya Gian sehingga Akira punya ruang dan waktu untuk terlepas dari pengawasan Gian.


Sebab Gian sibuk berbincang dengan para rekannya.


Tapi tidak lama tiba-tiba Gian sudah ada duduk di samping Akira, tanpa Akira ketahui keberadaan nya sebelumnya.


Akira yang sedang duduk santai menyaksikan acara pembukaan-pembukaan persembahan dari anak-anak sekolah.


Tiba-tiba saja mendengar suara, "Uhm…!" Dan suara itu suara deheman Gian memberi isyarat bahwa Gian ada di sampingnya.


Seketika itu Akira menoleh dan benar saja Akira melihat Gian sudah duduk di samping nya, membuat Akira merasa risih dan tidak nyaman dengan kehadiran Gian.


Menyadari gerak gerik Akira yang merasa tidak nyaman, Gian berbisik di telinga Akira, "Bersikaplah biasa saja… karena mereka masih memperhatikan kita, dan jika mereka melihat kejanggalan di antara kita, mereka bisa menyebar gosip yang akan membuat kita malu, bahkan bisa merusak nama baik kita dan keluarga kita." Bisik Gian mengingatkan Akira.


Tapi tindakan Gian seperti itu malah terlihat mesra di mata para rekannya yang memang masih memperhatikannya.


Akira memahami apa yang Gian bisikan di telinganya.


Ia berusaha bersikap setenang mungkin, agar terlihat nyaman duduk di sebelah Gian. 


Gian malah menarik Akira merangkulnya, dan meminta Akira agar menyandarkan kepalanya di pundak Gian.


"Apa…!" Pekik Akira mendengar permintaan Gian.


"Sssst jangan protes lakukan!" Perintah Gian memaksa, agar tetap terlihat mesra.


Tapi mereka bicara dengan berbisik sehingga orang di sekitar mereka tidak dapat mendengarnya bahkan Sisil sekalipun tidak dapat mendengarnya.


Dengan terpaksa Akira mengikuti apa yang Gian perintahkan.


Dengan ragu-ragu Akira menyandarkan kepalanya di pundak Gian.


Bagaimana mau merasa nyaman, yang ada perasaan Akira tidak karuan, jantungnya berdetak kencang ketika melakukan hal itu.


Ditambah Gian malah makin merangkulnya, lalu mengelus-elus bahu Akira agar Akira merasa tenang dan nyaman.


.....


*Menurut kalian apakah Akira akan merasa nyaman atau sebaliknya atas perlakuan Gian kepadanya?.


Mohon komentarnya...!


Terimakasih 🙏*

__ADS_1


__ADS_2