
Perhatian ...!
Hay para readers 🤗 salam hangat untuk kalian semua ...
al-del cuma mau mengingatkan, jika kalian sudah membaca bab sebelumnya dan merasa alur ceritanya tidak nyambung antara bab sebelumnya dengan bab berikutnya, mohon di baca ulang ya! Soalnya, al-del telah melakukan revisi di beberapa bab sebelumnya ( lebih tepatnya dari bab 170-174), dan itu sudah pasti terjadi perubahan alur cerita dari bab sebelumnya dengan bab berikutnya.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya 🙏, sesungguhnya al-del ingin memberikan yang terbaik untuk kalian ...
Terimakasih sebelumnya, atas dukungannya 🙏🙏🙏
...****************...
Hari demi hari berlalu begitu saja, Akira telah menjalani hidupnya dengan normal, ia mengasuh dan merawat dua balitanya yang sangat tampan dan menawan.
Meskipun Arjuna putra dari mila dan Jimi. Namun, ketampanannya tidak kalah tampan dari putra, anak Akira dan juga Gian.
Dua anak itu tumbuh secara bersamaan, Akira memperlakukan mereka secara adil tidak membeda-bedakan keduanya, meskipun Juna bukan anak kandungnya.
Beda halnya dengan Gian, ia selalu terlihat berat sebelah, ia hanya menyayangi putranya, padahal Akira sudah sering menegur dan mengingatkannya.
Namun Gian tetap saja tidak bisa tulus menyayangi Juna.
Kini usia dua anak laki-laki itu sudah lima tahun, karena usia mereka hampir seumuran hanya selisih beberapa bulan saja.
Hari itu kebetulan hari libur keluarga Gian sedang menikmati quality time bersama keluarga kecilnya.
Karena semenjak mereka merawat Juna, tidak lama setelah meninggalnya Mila, Gian memutuskan untuk pindah dari rumah orang tuanya, ia memboyong anak dan istrinya pindah ke rumah barunya, dengan alasan mereka ingin mandiri.
Dan saat mereka berkumpul bersama menikmati suasana santai.
Putra dan Juna berebut mainan, Akira dan Gian sebenarnya sedang bersama mereka, awalnya kedua anak itu bermain bersama dengan anteng, karena setiap barang yang Akira dan Gian belikan selalu sama, walaupun Gian tidak pernah tulus kepada Juna tapi Gian pun selalu berusaha berlaku adil kepada keduanya.
Namun, meskipun sudah di perlakukan secara adil, antara putra dan Juna selalu saja ada pertikaian, seperti anak pada umumnya selalu saja ada yang jadi rebutan di antara keduanya. Namun Akira selalu bisa mengatasinya.
Seperti saat ini, putra meminjam mainan milik Juna dan tanpa sengaja putra merusak mainan itu, sehingga Juna menjadi kesal kepada putra, dan ingin mengambil mainan putra yang serupa dengan mainannya yang telah di rusak oleh putra.
Tapi putra bersi keras mempertahankan miliknya, sehingga terjadi perebutan antara keduanya, karena Juna memang sudah kesal dari awal kepada putra, karena mainan miliknya sudah di rusak oleh putra, maka Juna mendorong putra sampai ia terjatuh dan kebetulan posisi mereka sedang berada di tepi tangga.
Sehingga menyebabkan putra terjatuh dan terpelanting berguling-guling di atas anak tangga sampai ke dasar tangga.
"Putra …!" pekik Akira sambil berlari berniat untuk menyelamatkan putranya, tapi kejadian itu sangat cepat sehingga baik Gian maupun Akira tidak dapat mencegah hal itu terjadi.
Melihat putranya terjatuh dan berguling-guling di atas anak tangga, Gian sangat syok dan sangat murka kepada Juna.
Karena ia melihat sendiri dengan mata kepalanya, Juna mendorong putra dengan sangat kuat sampai putra terjatuh.
Karena meskipun Akira berada di tempat yang sama dengan anak-anaknya, tapi posisi mereka lumayan aga jauh sehingga mereka terlambat untuk melerai pertikaian kedua anak itu.
Gian dan Akira segera berlari mengejar putra dan membangunkan putra yang sudah tergeletak di bawah tangga, putra menangis histeris, kepalanya benjol di bagian keningnya sebesar bola kasti, mungkin sempat terbentur, tapi untungnya putra hanya mengalami cedera ringan saja, karena tangga itu tidak terlalu tinggi.
__ADS_1
Hanya tangga penghubung dari antar ruangan bukan tanggung dari lantai dasar ke lantai atas.
Gian memangku putra lalu membawanya ke tempat yang lebih aman, Akira berlari mengambil es batu untuk mengompres benjolan di kening putra, lalu segera mengompres kening putra, sambil menenangkan putra agar lebih tenang.
Juna sendiri merasa bersalah dan ketakutan, awalnya ia tetap berdiam diri di ruangan yang tadi, tapi ia juga merasa penasaran ia ingin tau bagaimana kondisi putra.
Maka dengan langkah perlahan, bahkan seperti sedang mengendap-endap ia menghampiri kedua orang tua angkatnya dan saudara angkatnya.
Saat di hadapan semuanya, Juna berdiri sambil menundukkan kepalanya dan *******-***** jemarinya, ia berniat meminta maaf. Namun, ia tidak tahu cara mengucapkan kata-katanya.
Belum juga Juna berhasil berucap, Gian yang sudah dikuasai oleh amarah menatap Juna dengan tatapan berapi-api.
"Dasar anak tidak tau diuntung … kamu tau yang kamu lakukan itu mencelakai orang lain, hah," bentak Gian.
"Apa kamu mau meniru ayah kandungmu, yang menganiaya dan membunuh ibu kandungmu, hah …!" bentak gian lagi kepada Juna.
Bahkan saking emosinya Gian, ia hampir saja menempeleng anak itu, tapi Akira mencegahnya dengan menarik tangan Gian yang sudah sempat Gian angkat.
Akira menatap tangan Gian dengan cepat lalu menghempaskannya dengan kasar.
"Hentikan!" Akira tidak kalah emosinya melihat apa yang akan Gian lakukan, terlebih Akira merasa tidak terima dengan apa yang baru saja Gian katakan kepada Juna.
Kemudian Akira menarik Gian untuk menjauh dari putra-putrinya. Ia ingin meluapkan emosinya kepada suaminya, karena tidak pantas bertengkar di depan anak-anaknya.
Gian mengikuti kemana Akira menariknya, dan di ruangan lain, Akira mulai berbicara,
"Cukup, dia memang salah, tapi ini tidak ada sangkut pautnya dengan kedua orang tuanya, tolong jangan jadikan kesalahan orang tuanya untuk membebaninya, dia anakku, dia besar atas didikan ku, tidak pantas kamu berucap seperti itu kepada nya," Akira membela Juna karena merasa tidak terima dengan perlakuan Gian terhadap Juna.
"Apa! Kamu membela anak itu?" Gian tidak habis pikir dengan cara berpikir Akira, sudah jelas-jelas anak kandungnya di celaka'i oleh anak itu, bukannya Akira memberi pelajaran agar anak itu tidak berbuat seperti itu lagi, tapi mengapa Akira malah membelanya.
"Aku, bukan membelanya atau membenarkan kelakuannya, tapi ada caranya, untuk menghukumnya, untuk memperingatinya, bukan dengan cara seperti yang kau lakukan tadi, itu tidak benar … !" Akira bicara dengan nada suara lemah, ia tau cara meredam emosi Gian tidak harus dilawan dengan emosi menggebu-gebu, karena jika dengan cara itu Gian akan semakin terbakar dan bukannya mereda pertikaian malah akan semakin memanas.
Akira pun menangis saat itu, membuat Gian tidak tega melihatnya, dan membuat Gian mengalah kepada istrinya.
"Oke, caraku memang salah, aku terbakar emosi, sekarang terserah dirimu mau memperlakukan anak itu seperti apa!" kemudian ucap Gian lalu pergi meninggalkan Akira lalu menghampiri kembali putra.
Gian melewati Juna begitu saja tanpa berkata apa-apa dan tanpa melihatnya, seakan anak itu tidak ada di sana, Gian menggendong putra lalu membawanya.
Akira yang mengekor di belakangnya merasa bingung Gian akan membawa putra kemana karena ia berjalan ke arah pintu utama, dengan begitu berarti Gian akan membawa putra pergi dari rumah.
Melihat itu Akira segera berjalan tergesa mengejar Gian untuk menghentikannya.
"Mas, Tunggu! Kalian mau kemana, putra mau di bawa kemana?" teriak Akira, mencecar Gian dengan pertanyaannya, Akira merasa panik.
Tapi Gian tidak menggubrisnya ia tetap berjalan dan akhirnya Akira dapat mengejarnya lalu menghentikannya, "Aku mohon jangan tinggalkan aku, jangan pergi apalah artinya hidupku tanpa kalian." Akira memohon.
Gian malah merangkul tubuh istrinya yang berdiri di depannya, dengan ekspresi wajah memelas sambil memohon karena menyangka Gian akan pergi dari rumah dan membawa putranya.
Gian juga menciumi pipi istrinya, "Tenang sayang, aku juga tidak bisa hidup tanpamu, aku hanya ingin membawa putra kita berobat, mengobati luka memarnya, akan membawanya ke tukang urut, aku takut ada uratnya yang keseleo akibat terjatuh tadi." Terang Gian menenangkan istrinya.
__ADS_1
Barulah akira merasa lega ketika mendengar keterangan dari suaminya, ia membalas rangkulan suaminya, ia juga menciumi kepada putra dengan penuh kasih sayang, ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi putrinya, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan Juna, yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
"Kita bagi tugas ya!" saran Gian.
Akira menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Aku bawa putra berobat, kamu tangani Juna, beri dia pengertian agar tidak mengulangi hal yang sama," lanjut Gian.
"Iya!" sahut Akira sambil menganggukkan kepalanya, padahal ia juga ingin menemani putra berobat, tapi ia tidak bisa meninggalkan Juna.
Jika Juna ikut, Gian tetap tidak akan mengizinkannya, karena Gian sedang tidak suka kepadanya, sudah dasar dari awal Gian tidak bisa tulus kepada anak itu, di tambah Juna malah membuat ulah disaksikan oleh mata kepalanya sendiri, Gian menjadi semakin tidak suka kepada Juna.
Bukan karena apa Gian tidak menyukai anak itu, karena ia tidak suka kepada kedua orang tuanya, maka Gian selalu teringat akan hal itu jika melihat Juna, meskipun Gian sudah berusaha untuk menerimanya dan menyayanginya. Namun, Gian tidak bisa setulus dirinya menyangi putranya sendiri.
…
Setelah kepergian Gian membawa putra, Akira menghampiri Juna di ruangan tadi, ia masih berdiri menunggu Akira, berharap Akira menghampirinya.
Ya, Akira memang menghampirinya Akira berlutut mensejajarkan tingginya dengan Juna.
"Juna!" Akira menyapa anak itu dengan nada tegas.
Juna yang sedang tertunduk segera mengarahkan pandangannya ke arah Akira, ia menatap ibu angkatnya dengan tatapan berkaca-kaca, tapi ia tidak mampu berkata-kata.
"Kamu tau, apa yang kamu lakukan itu salah?" tanya Akira, ingin tau apa Juna menyadari perbuatannya.
Juna mengangguk sambil mencibirkan bibirnya, menahan tangisnya.
"Jika begitu kamu tau apa yang harus Ibu lakukan kepada orang yang bersalah."
Juna kembali mengangguk tanpa berkata.
"Apa?" Akira bertanya untuk memastikan pemahaman anak itu.
"Orang yang bersalah harus dihukum, dan Juna siapa menerima hukum apapun dari Ibu, Juna juga minta maaf atas kesalahan Juna, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Juna sudah hafal betul cara didikan Akira.
Ia akan menghukum siapa saja yang telah berbuat salah, antara dirinya dan juga putra, tanpa terkecuali, Akira selalu bersikap adil kepada keduanya.
Jadi ketika mereka melakukan kesalahan-kesalahan mereka sadar betul atas kesalahan mereka, karena Akira selalu mengajarkan dan menanamkan mereka rasa saling menyayangi, menghormati antara sesama apabila antara keluarga.
Jadi ketika Juna menyakiti putra Juna sadar betul kesalahannya. Dan ia siap menerima hukuman dari ibunya.
"Juna, maafkan ibu karena ibu harus bersikap tegas kepada mu, ibu terpaksa harus menghukum mu, sekarang masuk ke kamarmu, jangan temui ibu dan yang lainnya sebelum ibu mengizinkannya, nanti makanan dan minumnya atau kebutuhanmu akan disiapkan oleh bibi (ATR)." Terang Akira.
Juna menangis ketika ia menerima hukum dipisahkan dari anggota keluarga yang lain.
Juna terisak-isak, "Bu … jangan lama-lama ya hukumannya, Juna kesepian kalau harus jauh dari ibu dan yang lainnya," Juna memelas.
Sesungguhnya perasaan Akira tersayat ketika mendengar ucapan Juna seperti itu.
__ADS_1
Namun ia tetap harus tegas, agar Juna tidak mengulangi kesalahannya lagi, agar ia juga bisa mengontrol emosinya dari sejak kecil, saat ia sedang kesal, agar tidak bertindak seenaknya dan merugikan orang lain. Sebab, bisa karena terbiasa.