
Akira mengangguk, sebagai isyarat mengizinkan dokter untuk melakukannya.
Dokter Eva melakuan apa yang harus ia lakukan saat mengecek kondisi ibu hamil, sedikit meraba dan menekan bagian di perut Akira.
Ya, dokter Eva seperti yakin Akira sedang hamil karena ia bisa merasakan ada janin di perut Akira kemudian dokter Eva mengukur jarak letak janin untuk mengetahui usia kandungan Akira menggunakan jarinya.
Dengan cara Pertama, tentukan dimana letak tulang ******** perempuan. Kemudian lakukan pengukuran menggunakan dua jari sebagai satuan ukurannya (jari telunjuk atau tengah), mulai dari tulang ******** sampai puncak rahim, maka bisa dipastikan usia kehamilannya makin tua.
Setelah melakukan pemeriksaan sedemikian rupa, dokter Eva, baru benar-benar yakin jika Akira benar sedang hamil dan usia kandungan nya sesuai perhitungan terakhir Akira mendapat tamu bulanannya.
Dan di malam pertama Gian melakukannya, dengan memaksa secara kasar tanpa cinta apalagi kasih sayang.
Hanya ada kebencian saat itu, di hati keduanya.
"Bagaimana Dok?" tanya semua orang pernapasan.
Dokter tersenyum lebar, dan mengatakan yang sebenarnya.
"Setelah melakukan pengecekan secara manual, Nyonya Akira memang sedang mengandung, dan usia kandungannya sesuai dengan perhitungan terakhir beliau mendapat tamu bulanannya." terang dokter Eva.
Semua para orang tua mengucap syukur atas apa yang dikatakan oleh dokter Eva.
Tapi Akira sendiri hanya termenung dengan wajah datar, ia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dokter katakan, sebab dirinya tidak pernah mengira apalagi berharap dengan kehamilannya itu.
Sebab Akira juga masih mengingat kejadian saat Gian melakukan hal tersebut di malam pengantin, dia memperlakukan Akira begitu ganas dan sangat menyakiti Akira baik secara pisik maupun secara mental, tanpa sadar Akira malah meringis dan menangis.
Sesungguh hati Gian sangat senang Akira hamil anak nya, tapi dia juga menyesal mengingat saat ia melakukannya.
Melihat Akira menangis, Gian tau Akira tidak menginginkan kehamilannya, karena perbuatannya saat itu sangat kasar kepada Akira.
Itu membuat Gian makin merasa bersalah.
Melihat Akira menangis Gian langsung memeluknya, "Akira maafkan aku karena dulu melakukan hal itu secara paksa dan tidak memanusiakan mu." Ucap Gian lirih penuh penyesalan.
Semua orang yang mendengar ucapan Gian sampai tercengang.
Mereka saling menatap satu sama lain, bertanya-tanya dengan apa yang Gian ucapkan.
Karena mereka pikir akira dan Gian sudah sering melakukan hubungan suami Istri seperti pada umumnya.
__ADS_1
"Kenapa Gian, ada apa dengan kalian, bukankah ini kabar gembira, kenapa kalian sepertinya malah menyesalnya?" Mama Nirmala bertanya.
Gian lupa ternyata di sana masih banyak orang, dan mereka tidak tau apa yang terjadi dalam hubungan pernikahan Akira dan juga Gian.
Gian melepaskan pelukannya, dan meminta semua orang untuk keluar dari kamarnya dengan alasan mereka ingin beristirahat.
Para orang tua mengerti dengan apa yang di inginkan oleh Gian, sehingga mereka punya segera hendak keluar dari sana.
Tapi mereka menunggu dokter Eva terlebih dahulu untuk melepaskan selang infus di tangan Akira yang memang botol infusnya telah kosong.
Dokter Eva juga menuliskan resep vitamin yang harus Akira minum.
Sebelum keluar dokter Eva juga menyarankan agar mereka pergi ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut dan lebih detail.
"Iya dok, nanti kami pasti akan melakukan sarapan dari dokter.," Sahut Gian mengiyakan perkataan dokter.
"Oke, baiklah saya permisi dulu." Dokter Eva pamit undur diri.
"Iya Terimakasih dok." Ucap Gian.
Para orang tua akhirnya keluar bersama dokter dan mengantar kepergian dokter Eva dari sana.
…
Apalagi Akira punya rencana untuk menjauh dari kehidupan Gian, sebab ia juga sudah terlanjur berjanji kepada kakak nya akan menyerahkan Gian kembali kepada Shafira.
Akira menangis bukan menyesali hadirnya seorang bayi di dalam perutnya, tapi ia menyesali keadaan.
Gian duduk di samping Akira mencoba menenangkan Akira.
"Akira sayang… sejujurnya aku sangat bahagia dengan kabar ini, tapi aku sungguh menyesali kejadiannya saat itu perbuatan ku saat itu sungguh terkutuk~" ucap Gian terpotong karena Akira menutup mulut Gian dengan telapak tangannya.
Gian langsung menatap wajah Akira, yang masih terlihat sendu dan bahkan masih menangis.
Akira menggelengkan kepalanya, "Jangan bicara seperti itu, jika kamu bicara seperti itu maka anak ini sama terkutuknya."Akira mengingatkan ucap Gian tidak baik untuk diucapkan.
"Ooh maafkan aku sayang, aku sungguh menyesali perbuatanku saat itu." Andai saja Gian bisa mengulang waktu akan ia berbalik semuanya.
"Semua sudah terjadi, dan ini sudah kehendak Tuhan." Menyadarkan Gian bahwa semua itu sudah kuasa Tuhan.
__ADS_1
"Tapi …" terhenti, Akira ingin mengucapkan sesuatu tapi ia merasa ragu.
"Tapi apa?" Gian yang malah penasaran dengan ucapan Akira yang terhenti.
"Kak Fira, bagaimana dengannya? bukankah kalian masih saling cinta?" itu yang membuat Akira sedih dan ingin mundur.
"Tidak , Akira saat ini dirimu dan bayi kita prioritas utamaku, tidak ada yang lebih penting dari itu, bersama mu aku bahagia dan merasa nyaman lalu apa yang aku cari dari perempuan lain." Gian mengutarakan perasaannya.
"Sikapku saat itu kepada Shafira hanya sekedar toleransi saja, untuk menolongnya agar dia lebih tenang, agar dia tidak melakukan tindakan yang merugikan dirinya dan juga orang lain." lanjut Gian.
"Percayalah aku akan tetap ingin bersamamu, aku mencintaimu perasaan ku kepadamu lebih spesial daripada perasaan ku kepada Shafira. Aku hanya mencintaimu…" Gian terus meyakinkan Akira.
Agar Akira benar-benar yakin kepadanya, bahwa Gian hanya menginginkan Akira.
Ya, mendengar semua kata-kata Gian perasaan Akira menjadi lebih tenang.
Gian mengusap wajah Akira membersihkan sisa-sisa air mata di wajahnya, lalu Gian mengecup kening, dan kedua pipinya, dan bibirnya sekilas.
Dan terbitlah seulas senyum di bibir Akira, Gian membalas senyum itu dengan tersenyum lebar lalu mendekap Akira dalam pelukannya.
Dan ketika itu terdengar pintu diketuk.
Tok… tok… tok…! Suara pintu membuat akira dan Gian yang sedang berpelukan terhenyak lalu keduanya melepaskan pelukannya.
Suara ketukan pintu terdengar kembali, Karena belum mendapat respon dari yang ada di dalam kamar.
"Siap?" Kemudian sahut Gian.
"Ini mama nak." Ternyata mama Nirmala orang yang mengetuk pintu.
"Iya mah Kenapa?" Gian kembali bertanya.
"Bisa buka pintu dulu nak." pinta mama Nirmala.
Gian segera bangkit untuk membukakan pintu.
"Iya ada apa mah?" tanya gimana lagi setelah membuka pintu.
Ternyata Mama Nirmala datang membawakan makanan untuk Akira dan Gian, serta vitamin yang diresepkan oleh dokter Eva untuk Akira.
__ADS_1
"Kalian makan dulu ya, lalu minum kan vitamin ini untuk Akira."perintah mama Nirmala.
Gian mengangguk patuh, "Terimakasih mah…!" Ucap Gian.