Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 118


__ADS_3

Mama Nirmala menyambut kedatangan semua anggota keluarganya, ia segera menyapa semuanya, di awali dari Erwin, ia memeluk putra sulungnya mencium pipi kanan dan kirinya.


"Bagaimana kondisimu sekarang, Nak?" 


"Sudah mendingan,Mah."sahut Erwin.


Kemudian Mama Nirmala beralih menatap putra bungsunya, ia juga memperlakukannya sama seperti putra sulungnya.


Lalu beralih kepada cucu tercintanya, yang sangat ia rindukan, "Apa kabarmu, Sayang?" 


"Baik, Nek," jawab Sisil.


Kemudian barulah Mama Nirmala beralih menyambut para menantunya.


"Akira, bagaimana kondisimu dan bayi-bayi mu, Sayang?" 


"Alhamdulillah, Kami, baik dan sehat Mah," jawab Akira.


Terakhir Mama Nirmala menyapa Rima, yang diam mematung.


"Rima, Apa kabarmu?" 


Rima tersenyum kaku lalu menjawab, "Alhamdulillah saya baik, Bu."


"Riam, kamu cantik sekali dengan penampilanmu seperti ini, sederhana tapi terlihat elegan." Mama Nirmala memuji Rima.


Bukannya merasa senang dipuji oleh mama mertua, Rima malah merasa malu, ia lalu menunduk untuk menyembunyikan perasaan malunya dan raut wajah yang bersemu merah.


Seraya berucap, "Terima kasih Bu." 


Semua yang melihat ekspresi Rima yang malu-malu tersenyum dibuatnya, kecuali Gian dia segera berlalu menuju ruangan keluarga dikut oleh Erwin yang juga mengulum senyum bahagia karena istrinya dipuji.



Suma sudah duduk di ruang keluarga, seperti biasa, jika setelah berpergian Mama Nirmala selalu rajin membawakan oleh-oleh untuk para anggota keluarganya, sama halnya dengan kali ini.


Mama Nirmala meminta salah satu ART-nya untuk membawakan barang-barang bawaannya tadi subuh sebagai oleh-oleh untuk putara-putranya dan para menantunya, serta cucu tercintanya.


Semua tersenyum bahagia ketika menerima cedera mata dari mama Nirmala, terutama Sisil, yang selalu mendapatkan perlakuan istimewa dari nenek dan kakeknya.


Mama Nirmala meminta salah satu ART untuk membawa Sisil ke kamarnya dan memintanya untuk menemaninya, sementara mama Nirmala ingin berbincang dengan putra-putranya dan menantunya.


Mama Nirmala ingin membahas tentang sakitnya Erwin. Karena ia mendapat laporan tentang Erwin yang pulang dalam keadaan mabuk berat dan esok harinya ia jatuh sakit, dicurigai sakit Erwin karena hal itu.


Papa Arga yang awalnya masih tidur, saat ini sudah ikut berkumpul dengan keluarganya, menanyakan mengapa Erwin bisa mabuk berat, sebelumnya Erwin tidak pernah seperti itu, kedua orang tuanya yakin ada alasan di balik semua itu.


Mama Nirmala dan Papa Arga sudah punya rekaman saat Erwin pulang dalam keadaan mabuk, video itu copy dari rekaman CCTV yang terpasang di rumah itu.

__ADS_1


Mama Nirmala memperlihatkan video itu kepada putra-putranya dan menantunya.


Erwin tertunduk tidak dapat mengelak lagi. Ya, memang saat itu dia sedang mabuk berat.


Di video itu menampilkan Erwin yang berjalan sempoyongan, lalu masuk ke kamar Sisil dan keluar dibantu oleh Rima, dilihat dari durasinya sekitar jam 4 subuh Rima baru keluar dari kamar Erwin.


"Apa ini mah?" Erwin merasa tertangkap basah, malam itu ia telah menghabiskan waktu bersama Rima.


Erwin dan Rima tidak bisa menyangkal lagi, terlebih Rima yang merasa sangat malu akan hal itu, biasanya wajah Rima akan bersemu merah jika merasa malu, tapi kali ini, Rima terlihat pucat pasih dan bercucuran keringat mengalir di pelipisnya, ia beberapa kali menarik nafas panjang dan menghempaskannya secara kasa.


Rima berusaha mengatur gejolak dalam dirinya yang membuat dadanya berdebar kencang, tubuhnya terasa kaku iya hanya bisa menunduk tidak dapat mengangkat wajahnya menatap orang-orang disana, apa lagi menatap mama Nirmala dan Papa Arga.


Gian dan Akira merasa senang merek terlihat terus mengulum senyum. Karena menurut mereka itu satu kemajuan dalam hubungan Erwin dan Rima.


"Aku ingin tau, siapa orang yang melaporkan ini semua kepada mama dan papa, pasti orangnya bukan orang lain, dia pasti orang rumah."  Erwin melirik Gian karena Erwin pikir Gian lah orangnya.


Mendapat lirikan tajam dari Erwin, Gian sudah dapat mengira bahwa Erwin telah menyangka bahwa dialah pelakunya.


Gian langsung angka tangan "Bukan aku orangnya." Gian mematahkan kecurigaan Erwin.


"Lalu siapa kalau bukan dirimu?" 


Gian mengangkat kedua bahunya, "Mana ku tahu." Sambil mencibirkan bibirnya, sebagai jawaban bahwa ia memang tidak tahu menahu tentang itu semua.


"Aku hanya ingin tahu siapa orang yang mempermasalahkan hal ini?, Dan apa tujuannya? " Erwin mulai geram, dia bicara dengan nada emosi.


Ya, Mama Nirmala dan Papa Arga juga selalu rajin mengecek rekaman CCTV, apalagi jika mendapat laporan yang mencurigakan tentang keadaan rumah.


"Ya, lalu mengapa membahas aku dan Rima, dia istriku mau bagaimana aku dengannya apa harus di bahas seperti ini?" Erwin protes, dia dan Rima merasa aib mereka sedang di umbar.


"Ya, Erwin. Maafkan mama terpaksa melakukan hal ini, justru karena itu Mama ingin membahasnya, Mama ingin semua ini jelas, dan mama akan mengambil tindakan."


"Rima!" seru mama Nirmala mengejutkan Rima.


"I-iya!" jawab Rima gugup.


"Apa yang terjadi malam itu, apa Erwin memaksamu dan menyakitimu?" tanya mama Nirmala tegas.


Rima terlihat panik, resah dan gelisah, ia bingung harus menjawab seperti apa, apa harus ia membeberkan secara detail. saking gugupnya Rima, keringat makin deras bercucuran, tenggorokannya makin terasa kering, lidahnya Kelu tak mampu berkata-kata.


Rima diam seribu bahasa, ia hanya tertunduk dan memainkan dua kuku ibu jarinya. Erwin tau apa yang dirasakan oleh Rima, ia tidak mungkin akan bisa menjawabnya, karena itu masalah pribadi dan bersifat sangat sensitif.


Erwin merangkul pundak Rima, dan meminta ART untuk membawakan air minum untuk Rima, Erwin khawatir Rima bisa dehidrasi.


ART segera membawa segelas air putih, dan menyodorkannya kepada Rima, tapi Erwin yang meraihnya, kemudian Erwin membantunya untuk meminum.


Rima segera meneguk air itu, dengan satu tegukan tanpa jeda segelas air itu langsung habis tidak tersisa, Rima seperti orang yang sedang kehausan di tengah guru pasar, saking panasnya situasi yang ia hadapi menjadikan Rima seperti itu.

__ADS_1


Akira yang melihatnya sampai ikut menelan ludahnya karena merasakan kehausan seperti yang Rima rasakan, Gian melihat istrinya seperti itu langsung peka, "Kamu haus, Sayang?"


Akira menganggukkan kepalanya karena memang begitu adanya, Gian segera bangkit mengambilkan minum untuk istrinya.


Erwin meletakkan gelas kosong di meja Rima dan Erwin menjadi pusat perhatian saat ini.


"Rima, saya ulangi pertanyaan saya, apa yang terjadi pada malam itu, apa Erwin memaksamu dan menyakitimu?" Mama Nirmala menuntut jawaban dari Rima.


Erwin menggenggam tangan Rima yang terasa dingin, sedingin bongkahan es, Erwin merem*snya  secara lembut, seperti yang Rima lakukan kepadanya saat dirinya sedang sakit di rumah sakit.


"Jawab, Rima. tidak usah takut atau pun merasa malu, semu sudah dibongkar habis-habisan di sini." Tegas Erwin agar Rima menjawab pertanyaan mamanya.


Rima sangat gugup, jujur dia sangat malu, dan merasa di permalukan, 'Tuhan beginikah jika rakyat  jelata menikah dengan orang kaya, sampai di minta untuk membeberkan aib di depan umum." Rima membatin, meratapi nasibnya yang terjebak dalam situasi.


"Ma-malam itu, Tu-tuan Erwin, me-meng, se-sedang ma- mabuk." Rima gelagapan dengan Nafas yang terengah-engah saat akan menjelaskan, andai dia punya kemampuan untuk melarikan diri mungkin sudah ia lakukan sedari tadi, tapi ia tetap bertahan meskipun sesak menghimpit dadanya, demi untuk menghargai keluarga besar suaminya.


Satu tangan Erwin menggenggam tangan Rima, satu tangan lagi ia pakai untuk mengelus tangan  Rima yang ia genggam sedari tadi, saat Erwin melihat kegugupan istrinya, Erwin berusaha memberikan support untuk Rima agar ia bisa lebih tenang dan lebih tegas dalam berargumen.


Dengan gugup Rima melirik suaminya yang memberikan support kepadanya, Erwin mengangguk perlahan sambil memejamkan matanya, memberi isyarat agar Rima melanjutkan ucapannya.


Sedang yang lain masih sabar menunggu penuturan Rima, "Ayo Rima teruskan, secara garis besarnya saja tidak usah secara detail." Kali ini Papa Arga yang berbicara meminta Rima untuk melanjutkan penuturannya.


"I-iya." Sahut Rima.


Kemudian Rima mulai menceritakan kejadiannya, dari awal Rima terbangun karena Erwin menubruk tubuhnya yang sedang tertidur di kamar Sisil.


Lalu Rima membantu Erwin mengantarkan Erwin ke kamarnya, karena Erwin kesulitan untuk berdiri dan berjalan.


Semua percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Rima karena terlihat jelas dalam video keadaan Erwin seperti apa saat itu.


"Setelah di kamar tuan Erwin, beliau sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, saya juga sudah membantu melepaskan ikat pinggangnya dan juga kaus kakinya, saat saya akan pergi dari kamar itu, tuan Erwin~" terhenti karena Rima merasa ragu untuk berbicara.


"Katakan, Rima. Tidak usah ragu!" Erwin mengintruksi.


"Tuan Erwin, mencegah saya untuk keluar dengan menarik tangan saya, secara  tiba-tiba dan cukup kuat, sehingga saya terjatuh menubruk tubuh tuan Erwin, saat itu juga tuan Erwin mendekap saya dan beliau mengutarakan menginginkan hal ~ (terhenti) hal anu." Rima sungguh malu mengucapkannya.


Semua mengulum senyum ketika mendengar Rima mengucapkan "hal anu", karena mereka mengerti dengan maksud Rima, mereka juga mengerti mengapa Rima begitu gugup dan ragu-ragu saat akan mengucapkannya.


"Lalu apa, Rima?" Mama Nirmala tidak sabar lagi ingin mendengar kelanjutannya.


"Lalu ... lalu …" Rima kembali di serang nervous, wajahnya masih pucat pasih, keringat makin bercucuran padahal ruangan itu full AC, tenggorokannya kembali terasa kering, tangannya makin dingin, setelah sebelumnya sempat terasa hangat, lidahnya terasa kelu kembali.


Dengan nafas yang tersengal-sengal Rima berusaha mengatakannya karena semua orang masih menunggu apa yang terjadi selanjutnya, apa Erwin benar melakukan pemaksaan dan menyakiti Rima.


Sebab bukti yang didapatkan oleh nyonya Nirmala tidak hanya rekaman CCTV, melainkan ada bukti lain berupa foto dengan gambar sprei berwarna putih penuh bercak darah. 


Ternyata ART yang menemukan hal ini sempat memotretnya dengan kamera HP-nya untuk dijadikan bukti.

__ADS_1


Karena itu mama Nirmala ingin mengusut kebenaran untuk keadilan bagi Rima sendiri, Mama Nirmala ingin Erwin bertanggung jawab, atas perbuatannya.


__ADS_2