
Setelah lama membujuk Gian agar ikut dengannya, dan akhirnya Gian turut serta bersama Erwin mendekat ke area lokasi kejadian.
Terlihat beberapa anak buah Erwin dan Gian tengah berada di sana. Namun, garis polisi membatasi mereka untuk tidak turut campur dalam proses evakuasi.
….
Salah satu dari anak buah Erwin dan Gian, segera menghadap ketika melihat bos mereka hadir di sana.
"Selamat pagi, Bos!" sapa sang anak buah.
"Pagi," sahut Erwin datar, Gian sendiri malah tidak menggubris sarapan itu, ia sedang fokus menahan gejolak dalam dirinya. Ia berusaha untuk kuat berharap keyakinannya menang setelah melihat kenyataan.
"Bagaimana perkembangannya." tanya Erwin menanyakan proses evakuasi.
"Ada dua korban dalam kecelakaan, Tuan, pria dan wanita, keduanya telah tewas dalam kondisi mengenaskan seluruh tubuhnya telah gosong terbakar bersama dengan terbakarnya kendaraan yang mereka tumpangi." laporan si anak buah.
"Sudah dapat dipastikan si korban wanita sedang mengandung, Tuan."
"Tapi itu bukan istriku." Sergah Gian penuh emosi, dengan tatapan tajam.
Si anak buah langsung menundukkan wajahnya, karena merasa takut tidak dibayar informasinya.
"Maaf, Tuan, saya hanya menyampaikan informasi yang saya dapatkan," jawab si anak buah .
"Oke, apa korban sudah bisa dievakuasi semua," Erwin yang bertanya.
"Baru yang korban pria yang dapat dievakuasi, karena kondisi kendaraan masih panas dan korban wanita dalam posisi terjepit jadi menyulitkan proses evakuasi tuan." Lanjut laporan si anak buah.
Tidak lama suara ricuh para polisi terdengar mereka berseru histeris setelah berhasil mengangkat jenazah berjenis kelamin perempuan tersebut.
Erwin, Gian dan si anak buah segera berfokus kepada kerumunan para polisi tersebut.
Erwin segera berbicara kepada polisi yang sedang bertugas berjaga, ia meminta izin untuk melihat jenazah perempuan itu Akira atau bukan, sang polisi segera mempersilahkan mereka masuk kedalam pagar pembatas, untuk mendekati jenazah yang baru saja berhasil dikeluarkan dari kerangka mobil yang sudah hangus terbakar.
Erwin mengajak Gian untuk segera mendekat, tapi langkah Gian tertahan.
"Ayo Gian, kita harus memastikannya, sekarang juga, Ingat banyak orang yang sedang cemas menantikan kebenaran akan keberadaan dari kabar ini."
Gian benar-benar gugup, dadanya benar-benar terasa sesak, langkahnya pun terasa berat, keringat mulai bercucuran keluar dari seluruh pori - pori kulitnya, membasahi seluruh permukaan tubuhnya.
Ia berkali-kali mengusap wajahnya sendiri untuk menenangkan dirinya, menghilangkan rasa gugupnya, ia mengumpulkan keberanian untuk menghadapi kenyataan yang mungkin akan membuatnya ikut mati.
Erwin menggandeng tangan Gian yang terasa beku, melihat gelagat adiknya Erwin bisa merasakan apa yang dirasakan oleh adiknya ia berusaha untuk menenangkannya, memberi support luar biasa agar Gian bisa yakin dengan kenyataan yang akan akan dihadapi baik atau buruk.
Gian melangkah dengan langkah robot karena Erwin menarik tangannya, wajah nya pucat pasih, nafasnya tersengal-sengal, karena rasa sesak semakin menghimpit jantungnya.
"Win, Win, aku gak sanggup Win!" Gian menghentikan langkahnya dan menarik tangannya,."
Seketika langkah Erwin Pun terhenti, ia langsung berbalik melihat ke arah Gian, "Ayolah Gian, jangan seperti anak kecil ini sudah tanggung dikit lagi kita hampir sampai.
__ADS_1
Ya, memang tinggal beberapa langkah lagi Gian dan Erwin bisa sampai untuk melihat jelas jenazah itu, hanya saja jenazah itu masih di kerumui oleh para polisi, maka belum bisa nampak di pandang mata Erwin dan gian.
Erwin terus memaksa Gian, dengan terus menarik tangannya dengan kuat.
Setelah tinggal satu langkah lagi, Erwin menyingkirkan pak polisi yang menghalangi mereka berdua (Erwin dan Gian) barulah nyata di pandang mata, sesosok m a y a t yang hitam legam karena gosong, kondisinya sangat mengerikan, karena tubuhnya hangus terpanggang bahkan saat itu masih mengeluarkan kepulangan asap dari seluruh jasad teseb.
Ketika Gian menyaksikan secara langsung sesosok m a y a t dengan rupa yang mengenaskan. Dunia terasa berhenti berputar baginya, detak jantungnya terasa berhenti berdenyut, pandangannya perlahan buram dan semakin buram sapi gelap menyelimuti seluruh alam.
Tubuhnya lunglai, lalu terjatuh di tanah, Gian tidak sadarkan diri sesat setelah menyaksikan sesosok m a y a t yang sudah tidak berupa itu.
Para polisi segera membantu mengangkat tubuh Gian dan membawanya ketempat yang lebih aman.
Sedang Erwin juga tak sanggup bertahan, tubuhnya pun terkulai limbung, ia terduduk di tanah, dengan mata yang membulat sempurna, dengan mulut yang di biarkan terbuka, ia sungguh syok menyaksikan kondisinya yang sangat mengerikan karena Erwin mengira itu Akira, tanpa berkedip tetesan air mata terjatuh begitu saja melewati pipanya.
Polisi juga membantu membangunkan Erwin, dan memapahnya untuk menjauh, setelah cukup lama terpaku dengan syok di hadapan sang m a y a t.
Polisi membawa Erwin ke tempat dimana Gian berada saat ini.
Beberapa polisi dan anak buahnya membantu menyadarkan Gian dari pingsannya.
Selang beberapa waktu Gian mulai tersadar, ia perlahan membuka matanya, dan mencoba mengingat di mana ia berada sekarang, dan apa yang telah terjadi kepadanya.
Tidak lama, ia mulai mengingat semuanya. Gian mencoba bangun, tapi tubuhnya sangat lemas tak bertenaga, kepalanya terasa berdenyut hebat.
Tapi ia cukup kencang berteriak, dan menangis sesenggukan, menyangkal bahwa m a y a t itu bukan Istrinya.
Kali itu Erwin sendiri tidak dapat berkata-kata lagi, ia membiarkan adiknya seperti itu, karena menurutnya percuma saja mencoba berbicara pun akan sia-sia, Gian tidak akan bisa ditenangkan dalam kondisi seperti itu.
Dan akhirnya Ewin juga memutuskan untuk menyusul kerumah sakit tersebut , sekalian untuk memeriksakan kondisi Gian saat ini, karena Gian kembali tidak sadarkan diri. Setelah polisi menghampirinya menanyakan sebuah cincin yang ditemukan di tempat kejadian.
Polisi menanyakan apakah mereka mengenali cincin tersebut, karena itu bisa jadi salah satu barang bukti untuk mengidentifikasi korban, karena tidak ada lagi yang dapat dijadikan barang bukti, untuk mengidentifikasi korban karena kondisi jenazah yang rusak tidak dapat di kenal, semua barang bukti identitas pun sudah hangus terbakar.
Saat polisi menyodorkan sebuah cincin tersebut hasil penemuan mereka, Gian bahkan Erwin sekalipun dapat mengenali cincin tersebut, karena memang cincin itu cincin pernikahan Gian dan Akira.
Tapi mengapa cincin itu masih utuh, bukankah emas akan meleleh ketika dipanaskan, ya, karena polisi menemukan cincin tersebut diluar dari kerangka mobil yang terbaik.
Gian kembali histeris ketika melihat cincin itu, ia tidak dapat menyangkal lagi kalau memang cincin itu milik istrinya.
Gian belum bisa menerima kenyataan ia kembali tidak sadarkan diri ketika.
Erwin memutuskan untuk membawa Gian ke rumah sakit, para anak buahnya membantu mengangkat tubuh tinggi besar Gian, dan memasukannya kedalam mobil Erwin.
Sepanjang perjalanan Gian mengigau, menyebutkankan kata-kata, "Sayang, itu tidak mungkin dirimu."
"Kamu tidak mungkin meninggalkanku, aku tidak sanggup hidup tanpamu, aku mencintaimu." Di bawah alam sadarnya Gian terus mengulang kata-kata itu.
Erwin ikut sakit mendengarnya, tapi tidak dapat berbuat apa-apa selain diam dan mendengarkan, meskipun hatinya ia ikut menangis.
…
__ADS_1
Selang beberapa waktu mereka sampai di rumah sakit jenazah Akira juga sudah berada di kamar mayat di rumah sakit yang sama
Anak buah Erwin segera turun memanggil tim medis untuk segera menangani Gian.
Para petugas medis segera berlari sambil membawa brankar, para anak buah Erwin membantu mengeluarkan Gian dari dalam mobil, lalu membaringkannya di atas brankar yang tadi di bawa oleh petugas medis.
Setelah ditangani di IGD, ternyata kondisi Gian dalam keadaan koma, jadi ia terpaksa dilarikan ke ruang ICU untuk penanganan khusus.
Erwin sudah menghubungi seluruh keluarga, dan tidak lama semua keluarga hadir di rumah sakit, termasuk Lisa yang selalu memantau perkembangan kasus hilangnya Akira, ia merasa bertanggung jawab atas hilangnya Akira, Ia terus bertanya kepada Shafira bagaimana kabar selanjutnya.
Sehingga ia bisa ikut berkumpul di rumah sakit karena ia juga ingin tahu tentang apa yang terjadi dengan sahabat.
Saat semua diminta untuk datang ke rumah sakit, mereka hanya tau Akira sudah di temukan dan kini berada di rumah sakit.
Sehingga seluruh keluarga termasuk Lisa dan hendri juga ikut berbondong-bondong datang ke sana.
Saat semua telah hadir Erwin menemui semuanya, dia diberondong pertanyaan dari seluruh keluarga bertanya tentang bagaimana kabar Akira.
Erwin diam seribu bahasa ia tidak mampu menjelaskan apapun, bahkan ia tidak mengatakan bagaimana kondisi Gian saat ini.
Erwin mengajak semua keluarga menuju kamar m a y a t, perasaan semua orang sudah tidak enak hati, melihat gelagat Erwin yang seperti itu, ditambah mereka melihat tulisan kamar m a y a t.
Meskipun belum jelas tentang kebenarannya, tapi mereka sudah merasakan firasat buruk sehingga tak henti-hentinya air mata kesedihan mengalir membasahi wajah mereka semua tanpa terkecuali.
Di depan kamar m a y a t ada beberapa polisi yang sedang bertugas sedang melakukan penyelidikan tentang kecelakaan yang menewaskan seorang lelaki dan wanita hamil tersebut, yang dari ciri-cirinya diduga seperti Akira, ditambah penemuan cincin di sekitar area kejadian menambah bukti kuat dugaan wanita hamil itu benar Akira.
Erwin membawa mereka semua untuk menghampiri pak polisi, dan meminta polisi untuk menjelaskan tentang korban kecelakaan itu.
Tapi saat ini semua orang masih berharap Akira tetap selamat.
Namun saat polisi menjelaskan tentang m a y a t perempuan itu, yang memiliki ciri-ciri seperti Akira, semua keluarga menangis histeris, mereka menyangkal Bahwa jenazah itu bukan Akira.
"Silahkan jika ingin melihat, tapi bergantianan, Saya ingatkan jenazah sudah tidak berupa, tidak bisa dikenali. Bagi yang tidak kuat melihatnya lebih baik jangan." Polisi mengingatkan.
Erwin juga menyarankan hal yang sama seperti saran polisi "Saya rasa benar kata pak polisi, sebaiknya kalian jangan melihatnya. Karena semua sudah cukup jelas dari sidik jari di cincin yang ditemukan di area kejadian itu memang sidik jari milik Akira." saran Erwin sambil menerangkan.
"Itu tidak mungkin … tidak mungkin, Akira!"
"Akira, pasti masih hidup …"
Teriak seperti itu terdengar bersahutan dari semua keluarga. Setelah mendengar penjelasan dari Erwin.
"Apapun yang terjadi, saya tetap ingin melihatnya, jika dia memang putri saya, mungkin ini untuk terakhir kalinya." ucap ayah Ayus berusaha untuk tegar.
"Hiks … hiks … ibu juga ingin melihatnya, Ayah." Ibu Yulia ingin ikut serta.
Erwin tidak dapat mencegah, karena itu memang hak mereka sebagai orang tua Akira.
Polisi segera mengantarkan keduanya untuk masuk melihat jenazah tersebut. Saat sudah di dalam ruangan. Polisi perlahan menyibakkan kain putih yang menutupi jenazah tersebut.
__ADS_1
Dan apa yang terjadi?