Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 173


__ADS_3

Saat Mama Nirmala masih berbicara dengan Jimi dengan suasana tegang, Gian dan Akira menghampiri mereka dan bertanya apa yang terjadi, dan siapa orang yang bertamu itu.


Mamah Nirmala menjelaskan bahwa orang itu adalah Jimi, orang yang pernah mama Nirmala lihat keluar dari apartemen Mila sesaat sebelum Mila melahirkan.


Dan dia juga telah mengakui bahwa ia adalah Ayah dari anak itu, ia juga membawa bukti berupa hasil tes DNA nya dengan bayi itu.


"Oo jadi dia ayah dari bayi itu," gumam Gian.


"Pengecut sekali Anda, berani berbuat, tapi tidak berani bertanggung jawab, anda lari dari tanggung jawab, dan saya yang di jebak untuk bertanggung jawab atas perbuatan anda." Lanjut Gian penuh dendam.


Karena Gian di jadikan kambing hitam atas perbuatannya yang bejad, ya, orang itu adalah orang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.


Jimi hanya terdiam, karena ia memang merasa apa yang diucapkan oleh Gian itu benar.


"Tidak tau malu, mau apa datang kemari? cuma mau mengakui dosa?" Gian bicara penuh penekanan.


Jimi merasa sangat direndahkan oleh kata-kata Gian.


"Aku datang kemari, untuk mengambil kembali anakku." tegas Jimi menepis ucap Gian.


Gian tersenyum sinis, enak sekali dia, setelah mengacaukan hidupnya kini dia datang ingin mengambil anak itu, yang sudah diaku kan sebagai anak Gian dari sejak dalam kandungan, dan kini telah diberikan kepadanya, lalu kini Jimi dengan mudahnya ingin mengambilnya, pikir Gian.


Tentu saja Gian juga ingin mempertahankannya, bukan karena apapun, Gian hanya ingin memberi pelajaran kepada Jimi dan Mila karena telah berani mempermainkan dirinya.


"Kami tidak akan semudah itu memberikan anak itu kepada siapapun termasuk dirimu, karena anak itu sudah tersegel menjadi milik keluarga Mahendra." Tegas Gian .


"Tapi saya adalah ayah dari bayi itu, saya lebih berhak atas anak itu." 


Mama Nirmala melihat gelagat tidak beres, maka dari itu Mama segera memanggil security untuk mengusir Jimi dari kediamannya.


Tidak lama dua security datang lalu menyeret Jimi keluar dari sana.


Jimi benar-benar kesal diperlakukan seperti itu, dengan penuh amarah Jimi melajukan mobilnya menuju apartemen Mila.


Selang beberapa menit ia sampai di depan gedung apartemen Mila, ia segera turun dari mobilnya dan menuju unit apartemen Mila.


Ternyata di sana Mila sudah menunggu sedari tadi, ia sudah tidak sabar lagi ingin tahu apakah Jimi berhasil membawa putranya, yang sangat ia rindukan, ia sangat kehilangan putranya itu.

__ADS_1


Maka Mila sengaja mempengaruhi Jimi agar ia mau mengambil kembali putranya dari tangan keluarga Mahendra.


Di depan keluarga Mahendra Mila bersikap biasa saja, ia berusaha tegar padahal ia sangat terpukul karena harus kehilangan putranya.


Tanpa salam dan tanpa menekan tombol bel pintu, Jimi menggedor pintu apartemen mila dengan kasarnya.


Dor … dor … dor … suara pintu apartemen Mila di gedor dengan kasarnya oleh Jimi, membuat Mila yang berada didalamnya terhenyak karena terkejut mendengar suara gedoran pintu tersebut.


Mila segera berlari ke arah pintu untuk membukakan pintu itu, karena Mila sudah dapat menduga bahwa yang datang adalah Jimi.


Dengan penuh harapan Mila membukakan pintu, berharap Jimi pulang membawa putranya.


Tapi saat ia membuka pintu, ia hanya melihat Jimi seorang diri.


"Sayang … di mana putra kita?" tanya Mila dengan nada sendunya karena perasaan kecewanya.


Tapi Jimi tidak menjawab ia segera mendorong tubuh Mila untuk masuk ke dalam apartemennya secara kasar.


"Aah …!" Mila memekik karena terkejut dengan perlakuan Jimi.


"Kenapa kamu kasar sekali kepada ku?" Lanjut Mila.


"Aawww …!" teriak Mila, lalu memegangi pipinya yang terasa panas dan perih akibat tamparan dari Jimi.


Kemudian Mila menatap wajah Jimi dengan mata yang berkaca-kaca, di lihatnya wajah Jimi yang memerah menahan amarah.


Membuat Mila merinding ketakutan, sebab Mila sudah dapat menebak jika Jimi sudah tau tentang keburukannya, bahwa sesungguhnya keluarga Mahendra tidak merebut anaknya secara paksa, melainkan dirinyalah yang menyerahkannya sendiri.


Menyadari kesalahannya Mila segera bertekuk lutut di hadapan Jimi, ia memohon ampun dan mengakui kesalahannya.


Jimi sudah dikuasai amarah, sehingga air mata Mila sekalipun tidak dapat meluluhkan amarah yang sudah memuncak.


Ia malah semakin emosi mendengar pengakuan langsung dari mulut Mila, Jimi mengepalkan tinjunya, mengeraskan rahangnya, matanya memerah menahan amarah.


Ia sangat membenci Mila ketika itu, meskipun Mila sudah bersimpuh memohon ampun sambil menangis, Jimi masih sangat kesal kepadanya.


Karena Mila sudah membohonginya dan memanfaatkannya, bahkan telah menjadikan dirinya alat untuk mengambil putranya yang telah ia jual kepada keluarga Mahendra.

__ADS_1


"Kenapa kamu lakukan ini semua Mila, apa kurang uang yang aku berikan selama ini kepadamu, hah!" teriak Jimi penuh emosi.


"Kenapa kamu  jual anakku kepada mereka!" lanjut Jimi penuh emosi.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu, hiks, hiks, hiks!" sangkal Mila.


"Tapi kenyataannya memang seperti itu!" Jimi melihat kenyataan yang ada.


"Aku memang salah, tolong maafkan aku." 


Jimi malah merobek pakaian yang  Mila kenakan dengan tangannya sendiri, ia juga membuka ikat pinggangnya, lalu mencambuk tubuh Mila dengan itu.


Mila menjerit kesakitan, Jimi memang sudah dikuasai amarah, sehingga hati nuraninya sudah tidak ada lagi.


Tubuh Mila sampai melemas seluruh tubuhnya penuh luka cambukan, tapi gila nya Jimi, setelah itu ia malah menikmati tubuh Mila yang telah ia siksa.


Mila sudah tidak berdaya, ia lemah dan pasrah, sedangkan Jimi menggagahinya dengan kasarnya, karena dirinya masih dikuasai oleh Amarah.


"Ini hukum untukmu, karena telah berani mempermainkan ku, menjual putraku hanya demi untuk dan kepuasanmu saja, dasar kau wanita j a l * * g!"


Setelah mengumbar amarah, melampiaskan semua kekesalan dan kekecewaannya kepada Mila Jimi pergi begitu saja meninggalkan Mila yang tidak berdaya seorang diri.


Tubuhnya terasa sakit sekujur tubuh, tulang-tulangnya pun terasa remuk, Mila hampir kehilangan kesadarannya.


Namun Mila berusaha meraih headphonenya lalu menghubungi dokter pribadinya untuk meminta tolong.


Ya, selang beberapa waktu Dokter datang bersama tim medisnya dengan membawa mobil ambulans. Namun ketika Dokter menemui Mila, ia mendapati kondisi Mila yang sangat mengenaskan, 


Tanpa busana dengan banyak luka di seluruh tubuhnya, bahkan di wajahnya terlihat memar bekas tamparan.


"Astaga, Mila … apa yang terjadi kepadamu?" gumam Dokter terkejut melihatnya.


Sedangkan Mila sendiri sudah tidak sadarkan diri, karena kondisinya semakin melemah.


Dokter mengecek pernapasan dan denyut nadinya, memang sudah sangat lemah pergerakannya.


Dokter segera memerintahkan tim medis untuk segera mengangkut Mila untuk dibawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Di dalam ambulans dokter sampai harus memasang oksigen karena pernapasan dan denyut nadinya Mila semakin melemah.


"Ya Tuhan, Mila bertahanlah." gumam Dokter pribadi Mila yang sudah seperti saudara bagi Mila, karena Dokter itu yang selalu ada di saat Mila mendapatkan masalah, ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi Mila.


__ADS_2