Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 33


__ADS_3

Tidak ada yang lebih baik bagi seorang pria selain mendapatkan istri yang baik, dan tidak ada yang lebih buruk bagi pria selain mendapatkan istri yang buruk.


Jika dari awal Gian bisa memperlakukan Akira dengan baik mungkin Gian bisa termasuk pria beruntung, karena meskipun sering di pelukan buruk oleh Gian Akira tetap berusaha untuk mematuhinya, meskipun dengan terpaksa.



Awalnya Akira ragu untuk menuruti keinginan Gian.


Karena ia hanya berdiri, dengan ekspresi wajah bingungnya.


Gian menghampirinya dan meraih  tas yang Akira tenteng dari genggaman Akira.


Lalu Gian meletakkan tas tersebut di atas tempat tidurnya.


Kemudian Gian menggiring Akira untuk duduk di sofa bersamanya.


Akira makin bingung dengan sikap Gian yang semakin aneh saja.


Setelah duduk Gian terlihat begitu canggung untuk memulai pembicaraan.


Akira hanya diam sambil menatap wajah Gian, ia menunggu hal apa lagi yang ingin Gian sampaikan kepada nya.


Akira sudah menguatkan hati agar tetap tegar dan tenang untuk menerima apa yang ingin Gian sampaikan, karena Akira curiga Gian akan membuat perdebatan lagi dengannya.


"Ehm…" Gian berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya.


"A-akira…kenapa harus pindah ke kamar Sisil, aku suamimu dan sudah seharusnya kamu tinggal di sini bersama ku " ucap Gian menegaskan.


"Iya, aku tau itu!" jawab Akira singkat.


"Jadi tetaplah tinggal disini." Tegas Gian.


"Sekarang aku di sini hanya untuk Sisil, jadi kakak tidak bisa memaksaku untuk menuruti semua keinginan mu dan mengancam ku lagi, karena jika kak Gani melakukan hal itu, Sisil yang akan jadi korbannya." ucap Akira.


Gian mulai tersulut emosi mendengar ucapan Akira, yang sudah berani menantang nya, balik mengancamnya, Menjadikan Sisil sebagai senjatanya.


Tapi Gian sadar betul dia tidak boleh terbawa emosi, saat ini ia harus bisa mengambil hati Akira, agar Akira percaya kepadanya.


"Iya, tapi kamu harus memikirkan orang tua kita juga, bagaimana perasaan kedua orang tua kita jika tau hubungan pernikahan kita seperti ini." Gian mencoba untuk membujuk Akira.


"H'm…" Akira tersenyum sinis.


"Apa kamu bilang? Perasaan kedua orang tua kita?" Akira merasa tidak masuk akal mendengar ucapan Gian yang mengatakan memikirkan perasaan berdua orang tuanya.


"Kemana saja dirimu selama ini?"  Akira sengaja menyinggung Gian, atas sikap kasarnya selama ini kepada Akira.


"Oke… aku minta maaf  atas apa yang telah aku lakukan kepadamu, aku ingin memperbaiki semuanya." Ucap Gian.

__ADS_1


Akira tidak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh Gian.


"Semudah itu, kamu meminta maaf kak?" Akira tidak mengerti dengan pemikiran Gian.


"Aku tau ini tidak mudah untuk mu, tapi tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya."


Akira hanya diam, percuma ia berbicara menolak pun karena hanya akan menimbulkan perdebatan di antara mereka, sedang Akira sudah merasa lelah dengan semua permainan Gian.


"Demi Sisil, dan keluarga kita." Tegas Gian.


"Ya terserah pada mu." Akira hanya bisa pasrah.


Tapi sesungguhnya Akira sedang mencari cara untuk melepaskan diri dari Gian, Akira yakin tuhan akan menolongnya.


"Tapi aku harus menemani Sisil," ucap Akira sambil berdiri ingin pergi dari sana.


"Iya… tapi tetaplah tinggal di sini." Gian tidak rela ditinggalkan oleh Akira.


"Iya…!" Akira mulai melangkah, tapi ia sempat terhenti menatap tasnya yang berisi barang-barangnya.


Tapi karena Gian memintanya untuk tetap tinggal maka ia meninggal kan nya disana.


Hati Akira sudah beku, sehingga sikapnya dingin  kepada Gian.


Sedangkan Gian berharap ia bisa bahagia dengan perasaan yang ia miliki saat ini kenapa Akira, karena ia merasa tidak ingin Akira pergi dari kehidupannya.


Suasana rumah begitu hening dan dingin, tidak ada ke hangat seperti yang mama papa harapkan, tidak ada yang menyambut kedatangan mereka.


Sementara penghuni rumah sedang berada di rumah.


Gian seperti biasa berada di ruang kerjanya.


Akira sedang menemani Sisil yang tertidur, karena mama Nirmala, dan papa Arga tiba  di rumah sekitar pukul sepuluh malam.


Di jam segitu Sisil memang biasanya sudah tidur.


Para ART pun sedang beristirahat di kamar mereka masing-masing.


Hanya ada salah satu ART yang menyambut membukakan pintu untuk papa Arga dan mama Nirmala masuk ke dalam rumah.


"Nyonya, tuan besar anda sudah kembali?" ART berbasa-basi ketika membuka pintu dan ternyata Nyonya dan tuan besarnya yang datang.


"Iya Bi…" jawab Mama Nirmala singkat.


Tapi Mama Nirmala mengedarkan pandangannya seakan sedang mencari sesuatu.


Ya, ia memang mencari penghuni rumahnya (anak dan cucunya) tapi pandangan nya tidak dapat menemukan sosok yang ia cari di sekitar ruangan.

__ADS_1


Sehingga ia sampai harus bertanya kepada ART nya, " Bi orang-orang pada kemana?" 


Kemudian ART menjelaskan sedang berada di mana mereka.


Setelah tau Akira sedang berada di kamar Sisil, mama Nirmala segera menemuinya.


Ya bener saja, Akira terlihat sedang berbaring di kasur sisil bersebelahan dengan sisil sambil memain-mainkan hp nya.


"Akira…!" seru mama Nirmala dengan lembut, tapi cukup mengejutkan bagi Akira.


Sehingga Akira sedikit terperanjat karena kaget ada seseorang menyebutkan namanya.


Sebab kedatangan mama Nirmala tidak diketahui oleh Akira sebelumnya 


"Mama sudah pulang!" Akira tidak mengiranya.


Mama Nirmala tidak menjawab ia hanya tersenyum sambil menghampiri Akira.


Dan malah menanyakan kabar Akira, "Apa kabarmu, apa kamu sehat nak?" Mama Nirmala sambil mengelus kepala Akira 


Sikap mama begitu lembut berbanding terbalik dengan putra bungsunya Gian.


"I-iya mah, Alhamdulillah aku sehat mah, Mama dan papa sehat juga kan?" Akira menjawab sekaligus balik bertanya.


Mama Nirmala kembali tersenyum, "Iya mama dan papa sehat." Jawabnya.


Mama Nirmala mengajak Akira untuk ikut dengannya karena ada sesuatu yang ingin mama Nirmala berikan kepadanya.


Ia membawa Akira masuk kedalam kamarnya.


Padahal akira merasa risih dan tidak nyaman jika harus masuk ke kamar nyonya rumah, ia merasa segan karena merasa tidak sopan.


Tapi mama Nirmala memaksanya, "Tidak usah sungkan Akira anggap mama sebagai mama mu sendiri!" 


"Tapi di dalam ada papa mah!" Akira merasa tidak enak hati.


"Tenang saja, papa sedang berada di ruang kerja Gian." Terang Mama Nirmala agar Akira lebih rileks.


Ya akhirnya dengan terpaksa Akira masuk, dan di sana terlihat tumpukan beberapa paper bag di atas kasur, yang baru saja di bawa masuk oleh sopir pribadinya dari dalam mobilnya.


Isi dari paper bag itu adalah oleh-oleh untuk para penghuni rumah.


"Oya bagaimana kondisi eyang mah." Akira menanyakan kondisi ibu dari mama Nirmala yang baru saja mama Nirmala jenguk.


"Oo iya, beliau sudah sehat, biasalah sudah tua jadi sudah sering sakit-sakitan, tapi jangan khawatir ada sodara mama yang menjaganya di sana." Terang mama Nirmala.


Lalu ia menyerahkan beberapa paper bag kepada Akira.

__ADS_1


"Apa ini mah?" 


__ADS_2