
Di perjalanan menuju kota jakata, Gian duduk di sebelah sopir , Erwin dan Rima duduk di bangku penumpang.
Awalnya, Rima ingin duduk di samping sopir, namun Gian menyuruh Rima untuk duduk di belakang bersama suaminya.
Sebenarnya itu yang Rima hindari, ia merasa canggung dan salah tingkah jika berdekatan dengan Erwin.
Entah perasaan apa yang Rima rasakan harusnya ia merasa bahagia dengan pernikahan itu, bukankah ia mencintai Erwin?
Tapi mengapa baik Erwin maupun Rima, mereka merasa canggung dengan status baru mereka.
Sehingga hanya ada keheningan sepanjang perjalanan.
Di tengah perjalanan, Gian merasa sangat lapar. Karena sejak kemarin keadaan tidak tenang hingga ia kurang memperhatikan asupan makanannya.
Tapi saat ini Gian merasakan rasa lapar yang luar biasa tidak bisa ditahan lagi.
"Duh aku lapar sekali …." Gian mengelu
Tapi tidak satupun dari mereka yang menimpali ucapan Gian.
Rima dan sopir tidak akan berani menimpali, karena mereka merasa hanya seorang pegawai mana berani mengajak untuk berhenti makan terlebih dahulu.
Sedangkan Erwin juga hanya berdiam diri tidak merespon apapun sedari tadi, Erwin sibuk dengan pikirannya sendiri.
Erwin seperti sedang perang batin, karena bingung dengan pernikahan yang baru saja ia jalankan.
Terusterang saja, Erwin tidak ingin menyakiti Rima, bahwa ia tidak mencintainya dan tidak bisa menjalankan pernikahan seperti seharusnya.
Erwin juga memikirkan perasaan Lisa, bagaimana perasaannya ketika tau bahwa dirinya sudah menikah dengan Rima.
Lisa pasti akan merasa kecewa dan sakit hati. sebab meskipun belum ada ikatan antara Erwin dan Lisa.
Namun hubungan mereka sudah sangat dekat, sehingga Erwin memiliki keyakinan Lisa akan merasa kecewa dengan keputusannya menikahi Rima.
Itu lah mengapa Erwin terlihat sangat gelisah, tidak nyaman dengan keadaan.
…
Gian meminta sopir untuk berhenti di Rest area. Karena kini mereka sedang berada di jalur tol.
"Pak, tolong berhenti di Rest area, kita istirahat dulu sambil makan siang." Perintah Gian.
Sopir mengangguk tanda Bahwa ia setuju dengan ucapan Gian, "Baik tuan."
Lalu setelah beberapa meter, sopir memelankan laju mobilnya, memilih jalur kanan, lalu perlahan memasuki area rest area, kemudian memarkirkan mobilnya.
Gian turun dari mobil di ikut oleh Erwin, dan sopir. sedangkan Rima tetap duduk di dalam mobil.
Gian memberi isyarat kepada Erwin agar mengajak Rima untuk turun dari mobil, dengan maksud agar Erwin lebih peka.
Erwin baru menyadari, setelah Gian mengingatkannya, bahwa Rima tidak turun dari mobilnya.
Erwin kembali membuka pintu mobil lalu membungkukan badannya dan menegur Rima untuk ikut turun.
"Rima … ayo turun." ajak Erwin.
"Maaf Tuan, saya di sini saja." Rima menolak.
"Rima kamu juga pasti lapar, ayo kita makan dulu." Erwin membujuk istrinya.
Ya, sama halnya seperti Gian dan Erwin dari kemarin Rima juga kurang memperhatikan asupan makanannya, tapi entah mengapa Rima memang tidak merasakan lapar.
Tapi wajahnya terlihat layu seperti yang lainnya, terlihat sangat letih, sebab bukan saja kurang makan mereka juga kurang tidur, sehingga terlihat jelas dari raut wajah mereka jika mereka sangat kelelahan.
Rima ingin menolak ajakan Erwin, untuk makan bersama mereka, karena Rima merasa sangat canggung kepada Erwin, dan membuatnya tidak leluasa untuk bergerak atau beraktivitas, maka Rima ingin menghidarnya.
__ADS_1
Sikap Erwin juga sangat dingin kepadanya, sehingga ia merasa serba salah.
Tapi ia juga merasa tidak enak hati, jika tetap kukuh menolak.
"Ayo Rima … kenapa malah bengong begitu. Apa kamu ingin aku menggendongmu?" dari nada bicaranya Erwin mulai kesal dengan sikap Rima, yang menurutnya sok jual mahal.
Entah mengapa perasaan Erwin malah merasa ilfil kepada Rima, setelah Rima jadi istrinya.
Padahal sebelumnya perasaannya biasa saja, tapi mengapa perasaan itu muncul setelah pernikahan terjadi, mungkin karena Erwin terpaksa menikahinya dan harus berpura-pura menerima Rima sebagai istrinya.
Bukannya rasa suka atau rasa cinta yang muncul tanpa malah sebaliknya.
Saat Erwin berbicara seperti itu, Rima sedikit tersentak lalu segera meresponnya.
"Iya tuan, anda duluan saja." jawab Rima tidak ingin Erwin menunggunya.
Dengan rasa sedikit kesal Erwin segera pergi meninggalkan Rima.
Rima sendiri segera turun dari mobil, padahal ia sungguh malas sekali harus makan bersama para Tuannya.
Saat Rima masuk ke dalam restoran yang terdapat di Rest area tersebut, Rima sudah melihat Erwin dan Gian duduk dan seperti mereka sudah memesan makanan.
Tapi Rima masih celingukan mencari sopir, sebab ia berniat untuk makan bersama sopir itu lebih membuatnya nyaman.
Setelah menyapu pandang di sekitar restoran tersebut Rima melihat sopir duduk di meja lain di pojokan restoran.
Rima berekspresi senang ketika melihatnya.
Dia segera menghampiri sang sopir dan ikut duduk bersamanya, dan seperti biasa memang seperti itu.
Namun Erwin sangat kesal menantikan kedatangan Rima yang tidak kunjung datang menyusulnya.
"Kemana sih tuh orang, lama banget." Ketus Erwin karena makanan pesan dirinya dan juga Gian sudah di hidangkan.
Karena Gian juga tau Erwin ingin menyingkat waktu, ingin cepat sampai di rumah, mengingat kondisi putrinya yang belum stabil sampai detik ini.
Karena Gian sempat menghubungi Akira untuk menanyakan kabarnya dan kondisi Sisil, dan Akira memberi tau bahwa kabarnya baik-baik saja, tapi kondisi Sisil belum ada perubahan.
Namun Gian juga harus tetap memperhatikan kondisi mereka, agar mereka tetap vit, selamat sampai tujuan.
Dengan begitu Gian meminta untuk berhenti di Rest area, untuk beristirahat sejenak sambil mengisi perut.
Erwin menjawab kembali ucapan Gian, "Ya, tapi kalau ada apa-apa dengannya, aku tetap yang harus bertanggung jawab, mau tidak mau sekarang statusnya kan dia istriku." Erwin mengkhawatirkan Rima, tapi bukan karena ia perhatian kepadanya, melainkan hanya karena rasa tanggung jawabnya.
"Ya udah, mungkin dia beneran gak mau makan, sudah kita makan duluan, nanti bungkuskan saja untuknya." Gian mengambil jalan tengah, memberi usulan.
"Ya sudahlah, mungkin pengen aku rayu-rayu kali dia, males banget aku kalau harus kaya gitu " Erwin mengacuhkan Rima, dan malah mencibirnya.
Gian hanya tersenyum geli melihat sikap kakaknya seperti itu.
"Eeh, tidak boleh seperti itu, kita masih butuh dia, lagian kalau dirayu juga gak apa-apa ko, dia kan istrimu wajar saja kalau suami merayu istrinya." Gian menegur Erwin sekaligus mengingatkannya.
"CK, alah …" Erwin berdecak kesal dan mengabaikan ucapan Gian.
Selesai makan Erwin memanggil pelanggan dan memesan satu porsi makan untuk Rima, tapi di bungkus sesuai saran dari Gian.
Kemudian mereka beranjak dari sana, dan secara tidak sengaja sekilas Erwin melihat Rima sedang duduk berhadapan dengan sopirnya.
Erwin kembali menatapnya dan menajamkan pandangannya.
Ia mengetikan langkahnya setelah benar-benar yakin jika yang ia lihat adalah Rima sang istri sekaligus babysitter putrinya.
Gian sampai terbentur tubuh Erwin yang berjalan di depannya karena Erwin tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
"Wey, kenapa berhenti mendadak." tegur Gian.
__ADS_1
"Lihat itu …!" tunjuk Erwin ke arah Rima dan sopir mereka.
"Wah, ada yang gak beres rupanya, suaminya nunggu dia malah sama lelaki lain." Celetuk Gian malah mengejek Erwin.
Erwin sungguh kesal dibuatnya, tanpa berkata Erwin berlalu begitu saja, tapi sebelum itu Erwin menyerahkan plastik yang ia tenteng, plastik itu berisi makanan yang niatnya untuk Rima, Erwin menyerahkannya secara kasar kepada Gian.
Gian hanya berdiri menatap kepergian Erwin dengan ekspresi bingung, " Dia kenapa? ko jadi sensitif begitu." gumam Gian.
Kemudian Gian menghampiri sopir dan Rima, Gian juga menegur Rima.
Mereka (Rima dan sopir) langsung bangkit dari duduknya ketika Gian ada di hadapan mereka.
"Tuan … sudah selesai makannya?" sopir berbasa-basi.
"Iya udah, kalian berdua sudah selesai juga kan?" Gian balik bertanya.
Keduanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa mereka juga telah selesai.
"Ya udah kita balik sekarang." ajak Gian.
Kemudian Gian menyerahkan plastik yang ia tenteng kepada Rima, plastik yang Erwin serahkan kepadanya.
"Ini untukmu dari suamimu!"
Wajah Rima langsung bersemu mereka ketika mendengar ucapan Gian, ia merasa malu karena sekarang ia telah punya suami rasa tidak percaya tapi itu nyata, orang yang ia taksir kini benar-benar telah menjadi suaminya.
"Apa ini Tuan?" tanya Rima yang masih memanggil mereka dengan sebutan Tuan.
"Itu, makan untukmu, Erwin kira kamu masih berada di mobil tidak turun untuk makan, makanya dia berinisiatif untuk membawakan makanan untukmu." terang Gian
Wajah Rima semakin memerah, hatinya berbunga-bunga merasa suaminya perhatian kepadanya, padahal kenyataannya tidak begitu.
Melihat rona wajah Rima, Gian tau kalau Rima merasa senang dan kegeeran.
Gian tersenyum miris melihatnya, karena ia tahu yang sebenarnya, "Kasihan Rima, telah salah pengertian, dan terlalu berharap."
Sebenarnya Rima bukan terlalu berharap tapi wanita mama yang tidak senang jika merasa diperhatikan mendapat perhatian dari orang yang disukainya.
Di sini Gian yang merasa bersalah karena ia yang memancing perasaan senang di hati Rima, ia menjadi salah pengertian kepada suaminya.
"Tuhan, maafkan aku." batin Gian dalam hatinya.
Kemudian mereka segera keluar menuju mobil. Erwin sudah menunggu di sana dengan kesal.
"Ayo dong cepetan, kalian gak ingat kondisi Sisil sekarang ini seperti apa?" ketus Erwin meminta mereka untuk bergegas.
Tidak ada yang berkomentar, mereka segera masuk kedalam mobil, dan duduk di posisi mereka sebelumnya.
Sopir segera melajukan mobilnya dan kembali fokus membelah jalanan.
Rima melirik ke arah Erwin, yang tetap cuek kepadanya, tidak menegurnya sama sekali.
"Tuan Erwin …!" Rima memberanikan diri membuka suara. sedangkan yang lain tetap diam.
"Hm …." respon singkat Erwin.
"Terima Kasih, atas makanannya." kemudian ucap Rima.
Erwin langsung melihat ke arah Rima, "Rupanya Gian memberikannya atas namaku." Erwin membatin.
"Iya …." jawab singkatan Erwin kemudian.
"Padahal tidak usah repot-repot, Tuan." Rima ingin berbasa-basi.
"Tidak usah sungkan karena sudah kewajiban saya bertanggung jawab kepadamu." jawab Erwin dengan nada datar.
__ADS_1