Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 52


__ADS_3

Tiba-tiba ekspresi wajah shafira berubah seketika, menampilkan raut wajah antagonis dengan tatapan mata kosong namun penuh kebencian.


...


"Dasar kalian semua bodoh, bisa-bisanya kalian aku kelabui, Gian… Gian kamu mau bermain-main dengan ku, kamu lupa ya kekasihmu ini wanita yang cerdas." Shafira bermonolog sendiri.


Sebenarnya…


Awalnya Shafira memang panik ketika melihat kedatangan Erwin bersama dokter dan suster.


Ia takut sandiwaranya terbongkar, bahwa dirinya memang baik-baik saja.


Setelah beradu argumen dan dokter, terbersit sebuah ide, untuk dirinya berpura-pura depresi agar meyakinkan dokter dan semua orang.


Bahkan Shafira sengaja melakukan aksi nekat loncat dari balkon gedung untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya sedang depresi, dengan begitu semua orang percaya bahwa dirinya memang sedang sakit ganggu jiwa, bahkan dokter sendiri yang menyarankan agar Gian lah yang menenangkannya.


Dan apa yang ia lakukan berhasil mendarat simpati dari semua orang, dan akhirnya Gian mengakui bahwa dia tidak ingin menyakitinya, dengan begitu Gian masih menyayanginya.


Dari situlah kegilaannya akan ia jadikan senjata untuk mendapatkan Gian kembali menjadi miliknya seorang diri.


'Ternyata semua tidak sesulit yang kubayangkan, dengan mudahnya aku bisa mendapatkanmu kembali Gian ku sayang…' gumam Shafira seorang.


….


Di ruangan lain Gian menemui Erwin dan akira yang sedang duduk menunggu Gian.


Gian duduk di samping Akira, dan langsung merangkul pinggang ramping istrinya, lalu menautkan dagunya di pundak istrinya.


Perlakuan Gian membuka Akira tidak enak hati kepada Erwin.


Akira berusaha menghindar dan melepaskan pelukan Gian.


"Kamu kenapa?" tanya Gian karena merasa Akira ingin menghindari dari nya.


" Jangan seperti ini ada kak Erwin tidak enak." bisik Akira sambil melirik ke arah Erwin.


Tapi Erwin bisa mendengarnya lalu ikut menimpali, "Biasa saja akira, Aku tidak apa-apa kok, aku sudah biasa melihat orang bermesraan, bahkan lebih parah dari kalian juga aku pernah melihatnya, tapi tidak berpengaruh apapun kepada ku." Erwin bicara seperti itu agar Akira bersikap santai, tidak usah tidak enak hati kepadanya.


Akira sangat gugup mendengar ucapan Erwin, "Oo begitu ya." 


Sementara Gian tetap anteng dan Santai memeluk Akira.


Tapi Akira tertunduk sendu, dan mulai ingin berbicara serius kepada Gian.

__ADS_1


Melihat gelagat Akira Erwin lebih dulu meminta izin pamit pulang dari sana karena ia tidak ingin mengganggu obrolan suami istri yang bersifat pribadi.


Setelah kepergian Erwin, Gian malah makin menjadi memeluk dan mencium Akira bahkan ingin mencumbunya.


"Kak Gian tolong jangan seperti ini, ingat kita sedang dimana?" Akira mengingatkan.


"Loh kenapa, kitakan suami istri, di sini juga hanya ada kita berdua, lalu apa salahnya?" Gian bicara santai tidak memikirkan perasaan Akira yang masih sakit menerima kenyataan.


"Kak Gian kita sedang bertamu, dan posisi kita sedang di ruang tamu bagaimana jika nanti ka Shafira bangun lalu melihat kita, dia bisa histeris." Akira mengingatkan kemungkinan apa yang bisa terjadi jika mereka bercumbu di sana.


Lalu Gian pun melepas pelukannya, dan Akira kembali berbicara dengan raut wajah yang serius.


"Kak Gian…!" Seru Akira ingin memastikan bahwa Gian mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan.


"Hmm!" hanya itu respon  Gian.


"Sekarang Kakak harus tegas menentukan pilihan." Akira mulai bicara serius.


"Apa maksudmu?" tanya gimana tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Akira.


"Lepaskan aku kakak… hiduplah bahagia bersama kak Fira, apa yang membuatmu sakit hati kini telah kembali, jadi biarkan aku pergi." Akira memilih untuk mengalah


"Akira sayang, kamu marah kepada ku?"  Gian salah paham dan tidak mengerti dengan maksud Akira.


"Tapi ini tidak adil untuk mu Akira." Gian berat hati untuk melepaskan Akira.


"Lebih tidak adil lagi bagiku jika kakak tetap mempertahankan ku tapi juga ingin bersama kak Shafira." Akira akan merasa lebih sakit jika seperti itu.


"Tapi aku ingin tetap bersama mu." Pendirian Gian.


Akira melihat wajah Gian, dengan tatapan memelas, kemudian mereka saling beradu pandang.


Gian merasa tidak tega melihat sorot mata Akira, wajah yang awalnya terlihat santai berubah tegang saat Akira mulai membuka pembahasan.


Dan kini Gian pun berwajah sendu.


"Kak, Jika Kaka tetap ingin bersama ku, nyawa kak Fira yang akan menjadi taruhannya, dan kita tidak akan pernah bisa bahagia jika itu terjadi, karena kita akan diliputi rasa bersalah seumur hidup kita kak, jadi biarkan aku yang mengalah dan lepaskanlah aku." Pinta Akira sembari memberi pengertian kepada Gian.


Gian termenung mencerna ucapan Akira, sesungguhnya Gian tidak ingin melepaskan Akira.


Ia sudah merasa nyaman jika bersama Akira, karena ketulusan, kesabaran perhatian dan pengertian Akira kepadanya membuat dirinya merasa istimewa.


"Tapi Aku tidak bisa melepaskan mu Akira, karena aku juga menyayangimu." Tegas Gian.

__ADS_1


"Tidak kak, seiring waktu perasaan mu akan hilang dengan sendirinya." Akira tetap ingin Gian melepaskannya.


"Akira apa kamu tidak mencintai ku?" Tanya Gian ingin memastikan, karena Gian merasa kecewa Akira memintanya untuk melepaskannya.


Akira tidak mampu menjawab pertanyaan Gian, ia malah terisak.


Tapi dengan begitu Gian tahu bahwa hati kecil Akira pun tidak ingin berpisah dengan suaminya.


Tapi keputusan tetap harus diambil, sepanjang malam itu, Akira dan Gian berbicara diselingi derai air mata.


Karena keduanya memang sudah memiliki perasaan, rasa suka, dan rasa memiliki satu sama lain.


Gian dan Akira juga membahas rencana kepulangan besok, Akira, Sisil, dan juga pengasuhnya akan tetap pulang ke tanah air, sedangkan Gian akan menemani Shafira dulu di sana.


Mengurus kepulangan Shafira ke Tanah air, itu semua karena Akira yang memintanya.


Akira ingin Gian mengurus dan menemani Shafira, karena Akira takut terjadi sesuatu kepada Shafira.


Dan ternyata sesuai dengan yang diceritakan oleh Shafira dia memang bertugas di negara itu sebagai dokter.


Maka dari itu Shafira harus mengurus surat resign nya terlebih dahulu barulahia baru bisa pulang ke tanah air.


….


Pagi hari Akira terbangun, karena suara handphone Gian terus saja bergetar, dan suara getaran itu sangat mengganggu tidur mereka.


Akira dan Gian ternyata tidur di ruangan tamu di sofa, Gian tidur terduduk bersandar di sofa dan kakinya ia selonjor kan di atas meja di depannya.


Sedangkan Akira tidur dengan posisi berbaring dengan menjadikan paha Gian sebagai alas kepadanya.


Setelah terbangun, Akira langsung bangkit dan menatap Gian yang masih memejamkan matanya , Gian masih terlelap.


Akira menatapnya dengan sendu, 'Kenapa rasanya sakit sekali, akan berpisah denganmu, padahal dari awal dirimu hanya memberi luka di hati ku.' gumam Akira dalam hatinya, lalu Akira menundukkan kepalanya untuk menahan tangisnya.


Akira mencoba menenangkan dirinya, dengan menarik nafas panjang, lalu menghembuskan perlahan.


Kini perasaannya lebih tenang karena Akira bertekad untuk mengikhlaskan semua.


Karena sebuah rasa, yang mendorong keinginan di hatinya Akira mendekatkan wajahnya di wajah Gian lalu mengecup seluruh bagian wajah Gian dengan penuh kasih sayang.


Akira pikir itu untuk terakhir kalinya, sebelum mereka benar-benar bercerai.


.....

__ADS_1


__ADS_2