Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 78


__ADS_3

Kehidupan memang tidak ada yang tau akan seperti apa kedepannya.


Seperti Shafira saat ini setelah drama perselingkuhannya terbongkar.


Penyakitnya semakin parah, ia seperti sudah tidak punya harapan untuk hidup, hari-harinya ia habiskan dengan mengurung diri di kamarnya.


Ia tidak pernah bersosialisasi dengan orang-orang, karena rasa malunya untuk bertemu Ibu dan ayahnya saja ia seperti tidak sanggup, semua keperluan dan kebutuhannya di urus oleh suaminya - Lucky.


Sebab Lucky, sekarang telah jadi pengangguran, semua rumah sakit di kota itu, telah memblacklist namanya atas kekuasaan Vera.


Ayah Ayus, yang membiayai kehidupan Shafira dan Lucky.


Menanggung biaya pengobatan Shafira membeli obat-obatan yang tidak murah harganya, meskipun mereka kecewa dengan apa yang telah di lakukan oleh putri sulungnya, tapi ia tetap putrinya.


Di saat seperti apapun mereka tetap menyayanginya, memberi support untuknya agar bisa sembuh.


Saat ini tubuh Shafira sudah tidak menerima asupan makanan berupa apapun, termasuk bubur dan air sekalipun.


Karena walaupun dipaksakan akan dimuntahkan.


Setelah kejadian di malam pernikahannya bersama, Lucky. Shafira benar-benar menghindari bertemu dengan siapapun.


Ia tidak pernah bicara dengan siapapun, bahkan dengan Lucky sekalipun.


Ia seperti mayat hidup, membisu dan kadang menangis sendiri, ia menjadi sangat depresi.


Rasa malu yang ia rasakan menjadikan dirinya seperti itu.


Ibu Yulia mengetuk pintu kamar Shafira, tok … tok … tok ….


Muncul Lucky membukakan pintu, "Eeh, Ibu" Lucky basa-basi ketika melihat Ibu mertuanya yang ada di balik pintu.


Ibu Yulia membawa nampan di tangannya, yang berisikan semangkuk bubur dan segelas air putih hangat untuk putrinya sarapan.


"Boleh Ibu masuk?" Ibu Yulia ingin melihat kondisi putrinya.


"Silahkan, Bu." Lucky mempersilahkannya mertuanya masuk.


"Astaghfirullah … Shafira!"  Pekik ibu Yulia ketika melihat kondisi Shafira.


Kondisi Shafira saat itu tinggal kuliah dan tulang kurus kerempeng, sebab sudah tidak bisa menerima asupan makanan, ia tinggal menunggu waktu ajal tiba.


Akira dan Ayahnya serta Gian yang hendak sarapan langsung berhamburan mendengar ibu Yulia berteriak histeris.


Semua masuk kedalam kamar Shafira, dan ikut tercengang melihat kondisi Shafira.


Ibu Yulia sudah menangis tiada henti melihat kondisi putrinya.

__ADS_1


Mereka memang jarang melihat kondisi Shafira, sebab Shafira sendiri yang menolak untuk bertemu dengan mereka, hanya Lucky yang keluar masuk kamar itu, merawat istrinya.


"Minggu kemarin aku bertemu kak Fira, kondisinya belum separah ini," Akira tidak menyangka kondisi kakaknya bisa separah itu.


"Iya, seminggu ini dia tidak mau makan sama sekali, makanya aku bantu dengan cairan infus." Lucky memang memasakkan infusan, agar tetap ada cairan yang masuk ke dalam tubuh Shafira.


Cairan yang diberikan melalui infus dapat berfungsi sebagai cairan pemeliharaan ataupun cairan resusitasi.


"Jadi sebaiknya kita harus mengambil tindakan seperti apa agar Shafira bisa kembali seperti sedia kala?" Ayah Ayus meminta pendapat dari Lucky.


Lucky menghela nafas panjang, "Ya kita tidak dapat melakukan, hal apapun karena kondisinya memang sudah separah ini, kita hanya bisa mengandalkan keajaiban dan berdoalah agar~ Atau mungkin doa salah satu di antara kita dikabulkan tuhan." dari ucapan lucky sepertinya tipis harapan untuk Shafira bisa kembali sehat.


"Kak lucky … jodoh, rezeki dan maut hanya Tuhan yang tau kapan waktunya akan tiba, kita tidak boleh mendahului ketentuannya." Akira.


"Iya, saya tau itu." tegas Lucky.


"Jadi jangan pernah pesimis, selagi masih ada harapan teruslah saja berdoa untuk kesembuhan kak Fira." 


"Iya, tentu saja." Lucky mengiyakan ucapan Akira.


"Kak, apa kita boleh merawat kak Fira bersama-sama." Akira ingin mendekatkan diri kepada kakaknya sebelum waktu terakhirnya.


"Ini memang kewajiban kita Semua, merawatnya sama-sama, memberikan support kepadanya, tapi kalian tau sendirikan bahwa dia yang menolak untuk bertemu dengan kalian." tegas Lucky lagi.


"Iya kami mengerti, tapi mulai detik ini biarkan kami ikut merawatnya."


Setelah pagi itu, Akira, ibu Yuli, dan ayah Ayus selalu bergantian mengontrol kondisi shafira.


Setelah itu juga kondisi Shafira berangsur membaik, karena ayah Ayus punya tidak tinggal diam, ia membawa Shafira berobat tidak di jalur medis, ia juga membawa Shafira berobat kejalur alternatif, mereka selalu ikhtiar demi kesembuhan Shafira.


Meskipun semua itu memerlukan uang yang tidak sedikit, tapi setidaknya mereka telah berusaha, melakukan yang terbaik untuk Shafira.


Gian juga ikut membantu dalam biaya pengobatan Shafira, karena Gian tau kondisi ekonomi mertuanya makin hari makin buruk, untuk  sementara lucky belum kunjung mendapatkan pekerjaan.


Ditambah ia sibuk mengurus dan merawat istrinya, sehingga ia tidak punya waktu banyak untuk berkeliaran mencari pekerjaan.


Dalam pikirannya yang utama tugasnya menjaga dan merawat istrinya, karena Shafira tidak ingin orang lain yang melakukan.


Pagi ini Akira datang ke kamar Shafira untuk membersihkan tubuh kakaknya, ia membawa bak kecil berisikan air hangat yang sudah di beri sabun antiseptik.


Untuk mengompres tubuh kakaknya.


"Selamat pagi … kakakku sayang …!" sapa Akira dengan penuh keceriaan, Shafira langsung membuka matanya ketika mendengar suara adiknya datang.


"Aku sudah bawa ini semua, biar aku kompres dulu ya kak tubuhmu, agar terasa segar." 


"Boleh ya …" Akira memastikan kakaknya memberi izin.

__ADS_1


Terlihat Shafira mengangguk perlahan.


"Oke kalau begitu." Akira selalu antusias penuh semangat ketika melakukan sesuatu untuk kakaknya.


Setelah mengompres seluruh tubuh Shafira, Akira menggantikan pakaiannya, menyisir rambutnya.


Lalu meminta Lucky untuk membawanya ke teras agar Shafira berjemur di matahari pagi, karena itu sangat baik untuk kesehatan.


Ketika di teras rumah Shafira duduk di bangku yang telah Akira siapakan khusus untuk kakaknya berjemur.


Akira tetap menemaninya, saat Shafira berjemur.


Gian datang menghampirinya dan memanggil Akira, "Yang …. " Gian telah siap akan pergi bekerja.


Ekspresi wajah Shafira langsung berubah, seperti tidak nyaman dengan kehadiran Gian di sana.


"Eeh, kamu dah siap berangkat bekerja?" Akira basa-basi saat melihat suaminya sudah dalam keadaan rapi.


"Aku langsung berangkat ya, aku juga sudah pamit sama Ayah dan ibu." Gian izin untuk berangkat.


"Apa tidak sarapan dulu, aku buatkan sarapan dulu." Akira merasa tidak enak hati suaminya berangkat bekerja tapi belum sarapan.


"Tidak usah, aku bisa pesan makanan nanti di tempat kerja, aku tidak mau merepotkan, kamu kan sedang hamil." Ucap Gian seakan sebuah sindiran bagi Shafira. Karena telah merepotkan Akira.


"Yang … itu bukan masalah bagiku, meskipun sedang hamil tapi aku masih bisa aktif."


"Iya, tapi ingat kamu tetap harus jaga kondisi, jangan terlalu lelah." Pesan Gian.


"Iya, iya bawel." Akira mengalah, Dengan bersikap pasrah dan patuh atas pesanan suaminya.


Gian langsung bergegas pergi setelah itu, tanpa menyapa Shafira yang ada di sana.


Setelah tahu dirinya dikhianati oleh Shafira, entah mengapa Gian bersikap sangat dingin kepada Shafira beda dari sebelumnya.


Mungkin karena telah terbukti di khianati jadi Gian merasa sangat kecewa.


Padahal ketika itu, Gian sangat memujanya, melakukan apapun yang Shafira inginkan asalkan ia bahagia.


Tapi pada kenyataannya ia ternyata diduakan, dan memilih lari di hari pernikahan mereka, hanya demi kekasih gelapnya.


Meskipun pada akhirnya Gian sangat bersyukur atas apa yang terjadi.


Tapi tetap saja rasa kecewa itu tidak bisa hilang dari hati Gian, dan kini sikapnya sangat dingin kepada Shafira.


....


Akankah Shafira membalas sikap Gian kepadanya dengan menyalahkan Akira?

__ADS_1


Semak kelanjutan di cerita berikutnya 🫰


__ADS_2