
Ayah Ayus dan Bu Yuli membawa pulang Shilla ke rumah mereka, karena itu memang sudah tanggung jawab mereka sebagai orang tua Akira, karena Shilla sendiri bersikukuh menolak untuk kembali bersama Gian.
Bahkan ia sangat membenci Gian, Ajai sudah berhasil menanamkan kebencian di hati Shilla, sehingga ia memang sangat membenci Gian sebab asumsinya diperkuat dengan ingatnya tentang perlakuan kasar Gian kepadanya di masa lalu.
Anjas ikut serta bersama Shilla karena ia memang ibunya, tapi Shilla sudah tidak bisa fokus mengurus Anjas karena ia merasa tertekan dengan keadaan.
Sehingga keluarga lah yang membantu mengurus Anjas, sebenarnya Gian ingin Anjas selalu bersamanya, tapi ayah dan ibu Akira meminta untuk Anjas tetap ikut ibunya karena ia masih kecil, masih sangat membutuhkan ibunya.
"Jangan khawatir, Nak Gian, kami akan mengurus putramu dengan baik, dan kapanpun kamu ingin bertemu dan bermain dengannya lakukan saja, kami tidak akan membatasimu." Ayah Ayus.
Gian mencoba mengalah dan mengikuti semua yang Shilla dan orang tuanya mau, Gian juga ikut mengantar Shilla dan putranya pulang ke rumah Ayah Ayus.
Ketika sampai di rumah ayah Ayus, Shilla langsung di persilahkan untuk memasuki kamarnya agar ia bisa beristirahat.
Saat ini Shilla juga hanya bisa mengikuti setiap perkataan mereka karena Shilla juga tidak berdaya untuk melawan mereka semua.
Saat ia hendak memasuki kamarnya, ketika pintu kamar itu di buka, Shilla terdiam memaku di depan pintu, ia merasa tidak asing lagi dengan kamar itu, ia mencoba mengingat tentang kamarnya, awalnya dalam ingatannya ia melihat bayangan dirinya yang sedang beraktivitas di kamar itu.
Tapi di detik berikutnya, tiba-tiba bayangan yang ia tangkap dalam memory berganti, memorinya menangkap bayangan ketika Gian merenggut paksa kesuciannya.
Iya, Shilla mengingat hal itu, ekspresi wajahnya berubah menegang, matanya memerah keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Ibu Yuli yang sedang bersamanya menyadari perubahan Shilla, ia segera menegurnya, "Akira nak, kenapa, apa kamu baik-baik saja?"
Shilla tidak merespon ibunya, ia tetap fokus dengan ingatannya, tubuhnya melemas, Shilla berjongkok sambil menutup telinga dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya, keringat bertetesan dari dahinya, karena semakin banyaknya kering yang keluar seperti sedang mandi keringat.
Bu Yuli semakin panik melihat Shilla seperti itu, "Akira, kamu kenapa, apa yang kamu rasakan?" Bu Yuli kembali bertanya karena ia tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada Shilla.
Dan akhirnya Bu Yuli memanggil suaminya meminta bantuan untuk menangani Shilla, tapi yang menghampirinya tidak hanya ayah Ayus, melainkan Gian dan juga Lucky serta Shafira ikut menghampiri Bu Yuli dan Shilla untuk memastikan keadaan Shilla.
Mereka melihat Shilla masih dalam posisi berjongkok sambil menutup telinga dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya.
"Akira …!" Gian begitu panik melihatnya, karena ia ingat kata-kata dokter jika ia terus-menerus seperti itu Shilla bisa mengalami depresi dan bisa membuatnya gila.
Gian mencoba untuk menenangkannya dan membangunkannya, tapi apa yang terjadi, Shilla memberontak dan berteriak.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku, aku jijik kepada mu, kamu manusia rendah, perbuatanmu seperti s e t a n. Aku jijik …!" ucap Shilla sambil berteriak dan menangis ia juga mengusap-usap tubuhnya seakan ia sangat jijik telah disentuh oleh Gian.
Sikap dan ucapan Shilla sangat mengenai mental Gian, Gian merasa bersalah kepada Akira, dulu Akira sangat tangguh di perlakukan sekejam itu, ia mampu menahannya. Tapi saat ini Akira bukan lagi Akira yang dulu, sehingga saat ia mengingat hal itu, mentalnya tidak kuat tertekan dan terguncang.
Kedua orang tua Akira benar-benar panik melihat reaksi Shilla seperti itu, "Kenapa Nak, ada apa denganmu?" tanya ayah Ayus, sebab belum paham dengan kondisi putrinya.
"Ayah, ibu, dia telah mengambil kesucianku dengan paksa dia memperlakukanku seperti binatang, dia juga telah menghajar Anjai di kamar ini, dia memisahkan aku dengan Anjai." Shilla mengadu kepada Ayah dan Ibunya, sesuai ingatan yang ia tangkap saat itu.
Dan ternyata Shilla juga mengingat perkelahian Gian dan Riza saat Riza ingin menemui Akira saat itu,.
Saat ini bukan lagi rasa benci yang Shilla rasakan terhadap Gian, ia juga merasa jijik melihat Gian saat ini, karena asumsinya tentang Gian semakin buruk atas dasar ingat yang baru ia tangkap dalam memory barusan.
Shilla terus saja histeris meminta Gian pergi dari hadapannya. Itu membuat mental Gian terpukul, hatinya sangat sakit, wanita yang sudah sangat ia cintai mengungkit kesalahan yang pernah ia perbuat.
Padahal ia sudah berusaha untuk memperbaiki semua kesalahan itu, tapi imagenya sudah terlanjur buruk di mata Shilla dari cerita Anjai, sampai memori Shilla hanya bisa menangkap ingatan atau bayangan tentang kesalahan yang pernah Gian perbuat kepadanya.
"Tenang Akira, tenangkan dirimu, sudah berulangkali aku meminta maaf atas kesalahan ku itu, karena aku tau aku salah, baik aku akan pergi dari sini tapi tetaplah tenang, jangan takut, aku tidak akan menggusikmu jika itu yang kamu inginkan." Gian sungguh ingin mengalah, sebab Gian takut Akira akan benar-benar depresi bahkan ia bisa gila.
Gian pamit kepada kedua orang tua Akira, karena percuma ia berada di sana juga hanya akan membuat Akira semakin tertekan. Ayah dan ibu Akira mengerti dan mengizinkan Gian untuk pergi.
Ayah Ayus baru mengetahui tentang itu, jadi karena itu sikap Akira berubah seperti itu.
Dan ternyata ada orang yang tersenyum manis atas kemelut yang sedang dialami oleh Akira dan Gian, siapa lagi orangnya kalau bukan shafira lah orangnya.
Ternyata Shafira masih menyimpan dendam, terhadap Akira dan Gian, ia merasa tidak rela melihat kebahagiaan Akira dan juga Gian.
Sesungguhnya, Shafira sudah tau dari awal jika Akira memang masih hidup dan malah berumah tangga dengan Riza.
Riza dan Shafira ternyata sudah bersekongkol melakukan rencana itu, untuk memisahkan Gian dan Akira. Dan ternyata rencana mereka berdua berjalan lancar, mereka berdua banyak mengambil ke untung dari rencana yang mereka jalankan.
…
Seminggu berlalu, Akira tinggal bersama ayah dan ibunya, tapi ia lebih menutup diri mengurung dirinya di kamar ia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, putranya lebih sering bersama keluarga Mahendra ketimbang bersamanya, karena Shilla memang kurang fokus untuk mengurusi putranya sebab pikirannya sedang kacau.
Ia resah dan gelisah, tidak ada ketenangan dalam dirinya, apalagi jika dirinya mengingat tentang Gian yang memiliki image buruk dalam pikirannya, kebencian menguasai hatinya.
__ADS_1
Ayah Ayus dan Bu Yuli mendatangi Shilla di kamarnya untuk berbicara dan menasehati putri mereka.
"Akira, boleh ayah dan ibu berbicara," Ayah Ayus meminta sedikit waktu kepada Akira, karena ia memang kurang merespon orang-orang di sekitarnya.
Shilla sendiri tidak menjawab ia hanya melirik ke arah keduanya, tapi ia menganggukkan kepalanya sebagai isyarat ia memberikan mereka ruang dan waktu untuk berbicara dengannya.
Ayah Ayus mengelus kepalanya, membelai rambut panjangnya, Dengan lembut dan penuh kasih sayang, dan sentuhan tangan ayah Ayus mampu menggetarkan hati Shilla.
Shilla menatap wajah dua orang tua di hadapannya bergantian, wajah mereka begitu tenang penuh ke ikhlas, tidak ada ambisi ataupun marah seperti yang pernah Anjai ceritakan kepada.
Karena itu ia merasakan ketenangan, saat sedang berhadapan dengan dua orang tua di hadapannya.
"Akira sayang, terserah bagaimana pandanganmu terhadap kami, yang jelas disini kami adalah orang tuamu, ibumu yang mengandung dan melahirkanmu, kami membesarkanmu dengan kasih sayang, tangismu adalah tangis kami, senyumu adalah senyum kami, jadi selama kepergianmu kami cukup menderita Nak, percaya lah kami sangat menyangimu!"
"Lalu mengapa kalian memisahkan ku dengan orang yang aku cintai,"
"Ya Akira, ayah orang yang memintamu untuk menikah dengan Gian, tapi ayah terpaksa melakukan hal itu, tapi saat itu kamu sendiri bersedia melakukannya, kami tidak tau jika Gian memperlakukanmu seburuk itu saat awal pernikahanmu, tapi Nak, kami bersaksi pernikahan kalian bahagia, hubungan kalian membaik, kamu mampu menaklukkan kerasanya hati Gian dengan kesabaranmu, hati Gian yang dingin sedingin salju bisa kamu hangatkan nak, bahkan saat dirimu tiada dia salah satu orang yang paling menderita setelah kami."
"Kalian ada di pihaknya kalian akan selalu membelanya." Akira tetap dengan pendiriannya.
"Tidak-tidak, Nak! Kami hanya ingin mengatakan kebenarannya, kami tidak ingin kamu menyesal saat kamu nanti mengingat semuanya."
Ucapan ayah Ayus dan Bu Yuli mampu mempengaruhi pemikiran Shilla. Ia diam mencerna semua ucapan kedua orang tuanya.
"Ayo Nak, kita bangkit bersama, buka hatimu, beri kesempatan untuk kami membantumu mengingat semua memorimu untuk kembali kamu ingat." Bu Yuli berusaha memberi pengertian kepada putrinya.
"Kami tidak akan memaksamu untuk kembali bersama Gian, kamu hanya ingin dirimu mengingat masa lalu mu, jati dirimu, nak!" lanjut Bu Yuli.
Shilla terdiam memahami ucapan kedua orang tuanya, ia baru sadar ternyata selama ini ia memang terlalu egois, ia hanya memikirkan dirinya sendiri, bahkan ia melupakan putranya sendiri.
Dari semenjak percakapannya bersama ayah dan ibunya, semenjak itu pula Shilla mulai bisa membuka dirinya, ia keluar dari kamarnya untuk ikut beraktivitas bersama para anggota keluarganya, ia juga mulai memperhatikan lagi putranya, meskipun ia tidak dapat melarang saat mama Nirmala menjemput dan membawa Anjas bersamanya.
Gian sendiri tidak pernah menemui Akira lagi dari semenjak ia mengantarkan Shilla kerumah kedua orang tuanya.
Gian lebih memilih mengalah, ia tidak mau Akira akan depresi dan bisa gila jika Gian terus memaksakan diri untuk tetap bersamanya, sedangkan Shilla sangat membencinya saat ini, karena kebenciannya terhadap Gian kejiwaannya terguncang dan bisa mengakibatkan dia depresi berat bahkan ia bisa gila.
__ADS_1
Gian juga telah ikhlas dan rela melepas Akira karena Akira yang sekarang bukan lagi Akira yang dulu tidak ada yang dapat Gian pertahankan lagi dalam hubungannya bersama Akira yang sekarang.