
Akira mencoba menghindar dari Riza, karena Akira pikir Riza bukan lagi Riza yang dulu dia kenal, Riza sekarang sangat menyeramkan dan membuat Akira takut.
…
Akira mencoba bangkit dari kursi rodanya, untuk meninggalkan Riza, karena saat itu mereka berada jauh dari keramaian pesta,
Gian sibuk bertegur sapa dengan para tamu yang ia kenal, begitu juga dengan yang lainnya, Gian bukan melupakan Akira, Gian tidak bersama Akira saat ini karena Gian taunya Akira bersama keluarganya ayah, ibu, dan kakaknya.
Jadi Gian percaya habis kepada mereka, Ya, awalnya Akira memang bersama keluarganya, sebelum datang Lisa, setelah kedatangan Lisa dan memperlihatkan Riza bersama nya, karena setelah itu Lisa malah sibuk dengan yang lain, ibu dan ayahnya serta Kakaknya pun melupakan keselamatan Akira.
Dan ketika itu Riza meminta untuk berbicara dengan Akira, awalnya Lisa masih ikut bergabung dengan Akira dan Riza, bahkan Lisa sendiri yang mendorong kursi roda Akira menjauh dari keluarganya.
Tapi saat itu Lisa merasa haus dan berniat untuk mengambil minum, saat itu tidak diduga ia bertemu dengan seseorang yang ia kenal di sana, akhirnya mereka berbincang lalu Lisa melupakan Akira yang sedang bersama Riza.
…
Ketika Akira berhasil bangkit dari duduknya, dan berbalik badan untuk meninggalkan Riza, dengan alasan ingin ke toilet .
"Maaf, Za, aku ke toilet dulu ya." Akira berniat pamit.
Tapi Riza tau itu hanyalah sebuah alasan saja. Tiba-tiba Riza mencekal tangan Akira, "Tunggu, Akira sayangku, kumohon jangan membuat kebencianku semakin bertambah kepadamu." Ucap Riza penuh penekanan.
Ucapan Riza berhasil membuat Akira menjadi panik, ia takut Riza akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya dan juga bayinya.
"Tolong lepaskan, Za, Aku mau ke toilet dulu." Akira berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Riza, karena Riza mengengamnya dengan sangat kuat.
"Kamu pikir , Aku b o d o h, bisa terus-terusan kamu kadalin," Riza tau siasat Akira.
"Lalu kamu mau apa, hah?" Akira mulai tersulut emosi.
"Aku ingin kamu pergi denganku, Akira hiduplah denganku."
"Riza jangan gila, aku sudah punya suami dan sedang mengandung."
"Persetan dengan itu semua aku tidak peduli Akira, aku mencintaimu, sudah cukup selama ini aku diam, mengalah dan memendam perasaanku, hingga membuat aku gila, kamu tau, Akira, aku sudah gila dan kamulah penyebabnya." tegas Riza, dan terus menggenggam tangan Akira.
Akira sungguh Panik dibuatnya, ia sangat ketakutan. Kalau saja dia tidak sedang berbadan dua mungkin Akira bisa melawannya tapi kali ini ia tidak dapat berkutik.
Saat Akira akan berteriak minta tolong saat itu kandungannya mengalami kontraksi, terasa sakit dan kram, Akira tidak dapat bergerak karena rasa sakit yang ia rasakan. Tubuhnya lemas lututnya tidak dapat menopang lagi berat badannya. Seketika Akira ambruk terkulai di lantai.
Melihat reaksi Akira yang sedang kesakitan Riza pun merasa Pani, ia berusaha menolongnya.
"Akira Sayang, apa yang terjadi kepadamu." Ucap Riza penuh perhatian dan kekawatira.
Riza mengangkat tubuh Akira membopongnya, dan membawanya pergi dari sana, karena kondisinya lemas Akira tidak dapat memberontak lagi ia pasrah tubuhnya di bawa oleh Riza.
Namun, dalam hatinya ia terus memanggil nama suaminya.
...
Ketika itu Gian sedang menggenggam segelas minuman di tangannya tiba-tiba ada seorang pelayan dari belakangnya tidak sengaja menyenggol Gian sehingga gelas yang dalam genggamannya terjatuh dan terpental jauh.
Praaang …! Suara gelas, Gian sungguh terkejut dibuatnya, semua mata memandang ke arah pecah gelas itu.
Si pelayan memohon maaf kepada Gian karena tidak sengaja menyenggolnya. "Tuan, maafkan saya, sungguh saya tidak sengaja, Tuan."
__ADS_1
Gian masih terperangah dengan kejadian itu, Gian merasa itu pertanda buruk baginya.
Menurut nenek moyang gelas pecah itu erat kaitannya dengan peristiwa yang kurang baik. Di mana barang yang pecah jadi pertanda bahwa akan ada kejadian buruk, kesialan, hingga musibah.
Gian langsung teringat istrinya yang sedang hamil besar, Tampa menghiraukan Pelayan yang memohon maaf, Gian bergegas mencari sang istri.
Gian melihat ayah dan ibu mertuanya, ia bertanya dimana istrinya, ayah dan ibunya mengatakan bahwa Akira sedang bersama shafira, Gian beralih mencari Safira, lalu ia menemukan shafira dan segera menghampirinya.
"Shafira, dimana akira?"
"Akira?" dia pun melupakannya.
"Oo, iya tadi dia bersama Lisa." Shafira baru mengingatnya.
"Dimana Lisa?" Gian mengedarkan pandangannya untuk melihat Lisa, Shafira juga melakukan hal yang sama seperti Gian, namun, keduanya tidak menemukan sosok Lisa maupun Akira disana.
"Mungkin, mereka pergi ke kamar, Gian," Shafira menduga - duga.
Gian berpikir, iya, bisa saja Akira pergi ke kamarnya sebab ia memang berniat untuk tidak berlama-lama di sana, mengingat kondisinya yang cepat merasa lelah.
Tanpa basa-basi lagi Gian segera bergegas pergi ke kamarnya.
Gian segera membuka pintu, lalu masuk, "Sayang … sayang …." Gian memanggil-manggil istrinya, berharap istrinya ada disana, tapi kenyataannya kamar itu kosong.
Tapi tidak sampai di situ, Gian beralih mencari Akira di kamar mandi, berharap Akira ada di sana, tapi perasaan Gian kembali kecewa sebab Akira memang tidak ada disana.
Gian menjadi sangat panik karena belum bisa menemukan Akira, ia mencoba menghubungi ponselnya, tetapi malah terdengar suara panggilan ponsel Akira bergema di ruangan itu.
"Sial, dia tidak membawa ponselnya." Gian makin frustasi dibuatnya.
Lisa seperti mendapatkan angin segar ketika melihat Gian, "Gian …!" seru Lisa menyapa Gian.
"Lisa …!" Gian membalas Lisa.
"Lisa dimana Akira?" Gian langsung menanyakan istrinya kepadanya.
"Justru aku juga ingin bertanya kepadamu,"
"Shafira, bilang dia terakhir melihat Akira bersama denganmu," ucap gian
"Iya tadi dia bersamaku, lalu aku meninggalkannya untuk mengambil minum, tapi saat aku kembali Akira sudah tidak ada, hanya ada kursi rodanya di sana." Lisa menerangkan.
Sontak semua cerita Lisa membuat Gian bertambah panik.
Ia menghubungiku pihak hotel dan mengumpulkan semua petugas keamanan yang bertugas di sana, dan mengecek rekaman CCTV yang terpasang di sekitar tempat acara.
Dari rekaman CCTV memang menangkap pergerakan seorang lelaki dan juga akira berbincang, dari awal mereka masih bersama Lisa dan saat Lisa meninggal mereka masih terlihat aman.
Namun di menit berikutnya, terlihat keadaan seperti menegang, lalu terlihat juga Akira bangkit dari kursi rodanya, dan terlihat lelaki itu mencela tangan Akira, dan terlihat Akira juga berusaha melepaskan diri.
Gian begitu marah ketika melihat rekaman CCTV itu, ia mengepalkan tangannya, mengeratkan giginya menahan emosi yang meluap-luap, "Beraninya dia mengusik keluargaku"
Dan ketika melihat Akira terjatuh, saat terkulai lemas menahan sakit yang diakibatkan karena kontraksi kehamilannya.
Gian begitu terkejut, refleks ia berteriak sembari menggapaikan tangannya dengan maksud ingin menangkap tubuh Akira yang terjatuh.
__ADS_1
Petugas yang mendampingi Gian juga ikut terkejut dengan reaksi spontan Gian.
"Tenang, pak, silahkan duduk kembali." Petugas menenangkan Gian. Kemudian Gian duduk kembali dan kembali fokus menyaksikan rekaman CCTV itu di menit berikutnya.
Yang menampilkan, pria itu membopong tubuh Akira yang terkulai lemas, Gian sungguh geram dibuatnya, Amarahnya, kekhawatirannya, penyesalannya bercampur jadi satu.
Ia memukul-mukul akan tangannya ke dinding untuk meluapkan perasaannya yang membuat sesak di dadanya.
"Sialan, brengsek, b a j i n g a n kau," umpat Gian
Semua hanya bisa diam menyaksikan, amarah Gian. Apa lagi Lisa yang merasa sangat bersalah atas hilangnya Akira, sebab dia yang telah membawa Riza ke tempat acara.
Gian menatap Lisa saat ia menyadari Lisa sempat bersama mereka, bahkan Lisa yang mendorong kursi roda yang Akira duduki dan menjauh dari tempat acara.
"Katakan Lisa siapa lelaki itu, mengapa ia melakukan hal ini?" tanya Gian dengan nada menuding Lisa.
Lisa sangat ketakutan melihat sorot mata Gian dipenuhi kobaran api amarah dan kebencian.
"Ma-maafkan saya Gi-giian ~" baru saja Lisa berucap, Gian langsung membentaknya.
"JAWAB …." karena Gian tidak ingin mendengar kata-kata basa-basi lagi.
"Iya, lelaki itu adalah Riza, dia datang bersama ku."
Gian baru mengingat tentang Riza mantan kekasih Akira, "Riza!" gumamnya lirih.
"Atas dasar apa kamu membawanya ke sini?" tanya Gian lagi.
Lisa bercerita tentang awalnya Lisa menjadi lebih akrab dengan Riza.
Dari awal Lisa memang mengenal Riza sebagai kekasih Akira, tapi mereka menjadi lebih akrab saat Lisa pulang dari rumah papa Arga, saat setelah menjenguk Sisil dan mendapatkan kebenaran tentang hubungan Erwin dan Rima.
Ketika itu Lisa pulang dengan rasa kecewa yang sangat teramat dalam, perasaannya benar-benar hancur, ia sampai menangis dalam perjalanan pulang, ia sampai menepikan kendaraannya, dan ada seseorang yang menegurnya.
Orang itu adalah Riza, dari semenjak itu, Riza sering menemuinya di tempat kerjanya,
"Aku pikir Riza orang baik, karena dari kata-katanya dan perilakunya tidak menunjukkan sikap buruknya selama ini, dia juga tidak pernah berbicara tentang Akira, bagaimana perasaannya kepada Akira, setiap bertemu kami berbicara tentang kami saat itu." Jelas Lisa.
"Dan saat aku bercerita mendapat undangan pernikahan Erwin, dia menawarkan diri ingin mengantarku, aku sungguh tidak memiliki perasaan curiga terhadapnya."
"Maka dari itu aku mengizinkannya untuk mengantarkan ku, dan saat bertemu dengan Akira aku membawanya ke tempat yang lebih sepi, dengan maksud ingin menceritakan tentang hubungan ku dengan Riza kepada Akira, hiks … hiks …." ucap terakhir Lisa penuh penyesalan.
"Cari informasi di mana dia berada sekarang." Perintah Gian kepada Lisa.
"Aku sudah mencoba menghubunginya sedari tadi tapi tidak tersambung." ucap Lisa .
Gian segera mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari di rumah sakit terdekat, karena ada kemungkinan Riza membawa Akira kerumah sakit terdekat.
Lisa juga mencoba menghubungi seluruh keluarga Riza dan menanyakan keberadaannya, tapi keluarga riza tidak ada yang mengetahuinya.
Gian sungguh prustasi menghadapi kenyataan, ia kehilangan istri dan calon anak-anaknya.
Ia segera kekantor polisi dan melaporkan tentang kejadian hilangnya istrinya. Sebenarnya laporan Gian belum bisa diproses karena belum dua puluh empat jam.
Tapi Gian meminta bantuan polisi agar memblokir seluruh akses jalan keluar dari kota itu menuju luar kota.
__ADS_1
Untuk mengantisipasi Riza melarikan Akira keluar kotak. Dengan bukti rekaman CCTV akhirnya polisi, mengabulkan permohonan Gian dan mengerahkan seluruh personelnya di tempatkan di beberapa titik untuk memblokir mobil yang hendak keluar dari kota tersebut.