Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 102


__ADS_3

"Waw … istri yang baik, mengizinkan suaminya berdekatan atau menjalin hubungan dengan wanita lain?" Lisa malah membuat hati Rima memanas.


"Apa itu artinya kamu tidak mencintai atau tidak menginginkan mas Erwin? tapi menurutku itu mustahil, kamu munafik kalau kamu bicara seperti itu, lihat mas Erwin ini! dia tampan, ber-uang, baik hati pokoknya dia lelaki sempurna dipandang wanita dari arah manapun, jadi mustahil kamu tidak menyukainya." Lisa bicara seakan merendahkan Rima yang hanya seorang babysitter bisa menjadi pasangan Erwin.



Sebenarnya Rima merasa terpojokkan atas ucapan Lisa, tapi Rima berpikir bukan hanya Lisa saja yang akan menjadi saingannya, masih banyak wanita lain, yang lebih cantik dan lebih segalanya dari Lisa yang menyukai Erwin, bahkan mungkin mereka akan lebih membenci Rima karena ia hanya sebagai babysitter putri Erwin tapi bisa menjadi istri Erwin pria sempurna.


Rima sadar betul dengan akan hal itu, tapi ia harus menjadi wanita tangguh untuk bisa menghadapi mereka yang merendahkannya.


"Iya, nona Lisa, anda betul sekali, perempuan mana yang bisa menolak pesona tuan Erwin, apalagi hanya perempuan seperti saya, hanya seorang babysitter," Rima mulai menjawab 


"Saya sadar diri, merasa tidak pantas untuk menjadi istri Tuan Erwin, saya hanya seorang babysitter, wanita kampung tidak punya kelebihan apapun, saya tidak pernah berharap tinggi, saya kembali dan menyanggupi pernikahan saya dengan Tuan Erwin, niat saya terbesarnya hanya demi Sisil, saya sudah menganggapnya seperti putri saya sendiri, saat mendengar kondisinya kritis karena saya, saya merasa bersalah dan akan melakukan apapun demi menebus kesalahan saya." Sambung Rima 


"Saat itu memang tidak ada pilihan untuk saya kembali merawat dan mengasuh Sisil, selain menikah dengan Tuan Ewin, jadi saya hanya bisa menerimanya." Masih Rima yang bicara.


"Karena itu jika kalian saling mencintai dan ingin bersama silahkan saja, tidak usah memikirkan saya, tapi tolong jangan gantung status saya Tuan Erwin." Rima hanya bisa pasrah, namun Rima ingin kejelasan jika Erwin tetap ingin bersama Lisa, dengan kata lain Rima minta diceraikan terlebih dahulu.


Erwin merasa terenyuh mendengar kata-kata Rima, jadi sangkaannya tentang Rima itu salah, Erwin beranggapan Rima jual mahal dan belenggu ternyata semua itu tidak benar, karena itu Erwin merasa ilfil kepada Rima.


"Mbak Rima, kamu tenang saja saya tidak sejahat itu, saya tidak ingin merebut milik orang, berjodoh atau tidak saya dengan mas Erwin, tapi saya tidak ingin jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain, saya masih bisa bahagia meskipun harus hidup sendiri, buat apa memiliki pasangan jika hasil rampasan, itu prinsip hidup saya, karena tidak akan tenang dan saya pasti akan mendapatkan ganjaran dari perbuatan-perbuatan saya di kemudian hari, itu yang saya takutkan." Lisa menjelaskan tentang dirinya, agar Rima tidak beranggapan buruk tentangnya.


"Ya syukurlah jika seperti itu, tapi saya permisi ke dalam dulu, Sisil takut mencari saya." Rima langsung pergi meninggalkan mereka semua.


"Tuh kak Erwin, Mbak Rima sebenarnya merasa minder, sekarang mau seperti apa hubungan kalian tergantung kak erwin." ucap Akira.


Erwin melihat ke arah Lisa, karena Erwin Merasa tidak enak hati kepadanya, baru saja pedekate, Lisa harus kecewa lagi.


"Tidak usah melihatku seperti itu," Lisa menyadari tatapan Erwin.


"Dosa tau, menatap wanita yang bukan pasangannya," sambung Lisa yang biasa bicara ceplas ceplos.

__ADS_1


Erwin yang awalnya merasa sedih, melihat Lisa, karena rasa bersalahnya, tertawa kecil mendengar ucapan Lisa.


"Dih, malah ketawa! Hibur noh istrimu yang sedang merana!" masih Lisa yang berbicara.


"Jangan khawatir, nanti akan aku urus dia," jawab Erwin seakan tidak peduli kepada Rima.


"Ya, aku permisi pulang dulu ya." Lisa pamit lalu segera pergi.


Lisa terlihat biasa saja, tetap kocak dan lucu, menurut Akira dan Erwin.


Namun hatinya siapa tau? tapi Akira tau hati Lisa pasti sangat kecewa, saat mendengar kenyataan Erwin telah menikahi Rima.


Ya benar saja saat di tengah jalan, Rima yang mengendarai motor maticnya, menepikan motornya, di tempat yang lumayan sepi.


Ia sudah tidak tahan lagi menahan gejolak dalam dadanya, rasa sakit yang membuatnya sesak dan sulit bernafas.


Setelah motor matic ia matikan mesinnya, Rima menubruk bagian depan motornya dengan kedua tangannya, Lisa membenamkan wajahnya di sana dengan dirinya yang masih dalam posisi duduk seperti saat mengendarai motor itu.


Lisa cukup lama dalam posisi itu, tapi tubuhnya terlihat turun naik, dengan kasarnya, ternyata Lisa menangis sesenggukan.


"Ya Tuhanku, kenapa aku harus kecewa lagi, aku sangat menghindari semua ini, tapi kenapa? pada kenyataannya aku kembali harus menelan pil pahit." batin Lisa menjerit.


"Jodoh yang seperti apa yang sebenarnya yang engkau telah persiapkan untuk, Tuhan? sehingga proses yang aku jalani harus sesakit ini." Rima benar-benar merasa sangat kesal dengan hidupnya itu.


Tapi saat ia seperti itu, tiba-tiba ada sebuah motor polisi berhenti di samping motornya.


"Lisa …!" sapa polisi itu.


Lisa segera menoleh kepada orang tersebut.


"Riza …" gumam Erwin ketika melihat orang tersebut.

__ADS_1


"Kamu kenapa, ada apa denganmu, apa kamu baik-baik saja?" Riza mencecar Lisa dengan pertanyaannya.


Lisa segera membersihkan wajahnya dari air mata yang telah membasahi wajahnya.


Lisa merogoh-rogoh tasnya untuk mencari tisu, tapi ia tidak dapat menemukannya.


"Aah, sial, kemana lagi tuh tisu!" Lisa terlihat sangat prustasi, karena ia sangat membutuhkan tisu itu.


Sebab tidak hanya air mata yang keluar saat Lisa menangis, melainkan cairan dari hidungnya juga ikut keluar.


Jika air mata masih bisa dibersihkan hanya dengan mengusapnya dengan telapak tangannya, tapi untuk cairan yang di hidung aga sulit, ia butuh tisu untuk membersihkannya.


Riza tau apa yang Lisa cari di dalam tasnya, dan dengan sigap Risa memberikan slayer miliknya.


"Kamu butuh ini?" ucap Riza sambil menyodorkan slayer itu.


Tapi Rima ragu untuk mengambilnya.


"Ini pakai saja tidak apa-apa!" Riza terus saja menyodorkannya.


Karena Rima memang sangat membutuhkannya, akhirnya Rima mengambil slayer itu dari tangan Riza.


"Kamu kenapa?" Riza bertanya kembali, setelah melihat Rima sudah lebih baik.


Rima tidak dapat menjawabnya, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Rima enggan bercerita.


"Oke, tapi kamu tidak akan seperti ini menangis di tengah jalan jika kamu baik-baik saja." Riza mengutarakan ketidak percayaan atas jawaban Rima.


"Ya, kamu memang benar, dan aku tidak dapat berbohong lagi kepadamu," jawab Rima.

__ADS_1


Riza, mengenal Lisa, sebab dulu saat Riza masih berpacaran dengan Akira, Riza dan Akira sering makan di cafe dimana Lisa bekerja. 


__ADS_2