
Tapi tidak hanya itu yang membuat Riza sakit hati, karena Akira juga lebih memilih Gian daripada dirinya. Itu yang menyebabkan Riza depresi.
Inilah akibat yang dirasakan oleh Riza karena rasa dendamnya.
Menyimpan dendam dapat mengakibatkan masalah kesehatan mental. Beberapa di antaranya adalah depresi, gangguan kecemasan, gangguan stres pasca trauma, serta menurunkan imun tubuh.
…..
Riza brutal ketika security mengiringnya ke pos keamanan, Erwin sendiri segera kekantor polisi untuk melaporkan Riza.
Selama di pos keamanan Riza terus saja memberontak, ia memaksa ingin menemui Akira, ia ingin melihat kondisi Akira, tapi para security menahannya, sampai para polisi datang bersama Erwin untuk menangkap Riza dan membawanya ke kantor polisi.
Setelah Riza digiring ke kantor polisi, Erwin menemui Gian dan menanyakan bagaimana kondisi mereka.
Akira sendiri sudah siuman, Gian sedang menemaninya.
"Gian …!" seru Erwin memanggil Gian.
Gian segera menghampiri "Bagaimana keadaan kalian," tanya Erwin khawatir.
"Aku baik-baik saja, Akira juga sudah siuman, tapi Akira masih sangat syok atas kejadian ini," terang Gian.
Tapi Erwin menyarankan agar Akira dan Gian segera kekantor polisi membuat laporan dan segera melakukan pisum untuk nanti di jadikan bukti kekerasan yang dilakukan oleh Riza sebagai tuntutan mereka terhadap Riza.
Karena di wajah Gian juga terdapat luka lebam akibat tindikan dari Riza,
Iya, Gian menyetujuinya dan segera mengajak Akira untuk segera ke kantor polisi, Akira juga menyetujuinya.
Tapi Akira ingin menunggu orang tuanya terlebih dahulu, untuk menitipkan putranya kepada mereka.
Setelah mendengar kabar tentang Akira yang mendapat serangan dari Riza, kedua orang tua Gian dan kedua orang tua Akira segera bergegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi mereka.
Lalu barulah, Akira dan Gian ditemani oleh ayah Ayus dan Erwin mereka semua segera berangkat ke kantor polisi, untuk membuat laporan kemudian Tim dari kepolisian mengarahkan Akira dan Gian untuk melakukan visum.
Seperti biasa Riza mengamuk di dalam sel ia membentur-benturkan kepalanya, sambil berteriak minta maaf kepada Akira.
"Shilla sayang, maafkan aku, Shilla … aku tidak sengaja melakukan hal itu, aku khilaf, Shilla …!" sepertinya Riza menyesali perbuatannya karena telah menampar Akira sampai ia pingsan.
Riza sudah berulang kali, meminta kepada pihak kepolisian yang sedang berjaga untuk di izinkan dirinya bertemu dengan Akira,.
Namun, Akira sendiri yang menolak untuk bertemu dengan Riza karena ia masih merasa syok atas kejadian yang baru saja ia alami.
__ADS_1
Setelah melakukan visum mereka kembali ke rumah sakit dimana putranya dirawat.
"Bagaimana, keadaanmu nak?" tanya Bu Yuli ketika melihat Akira dan yang lainnya kembali.
"Aku sudah lebih baik, Bu!" jawab Akira.
Lalu ibu Yulia menyuruhnya untuk istirahat terlebih dahulu, Akira langsung bertanya tentang kakaknya (Shafira) .
"Bu, kak Shafira apa kabarnya?"
"Dia baik, dia dan suaminya kemarin berangkat tugas ke luar kota." Terang Bu Yuli.
"Apa Bu! Kemana perginya dia, apa dia juga membawa putri angkatnya?" Akira memberondong ibunya dengan pertanyaan, dengan perasaannya yang sangat terkejut ketika mendengar kabar dari ibunya jika Shafira telah pergi.
"Iya, nak! Dia membawa putrinya, dia bilang, dia akan pindah ke sana dan tidak tahu kapan dia akan kembali." Bu Yuli kembali menerangkan.
"Bu! kok ibu baru bilang sekarang sih Bu!" Akira menyesali kepergian Shafira.
Akira mulia panik dan ingin menangis, Gian segera menghampiri Akira untuk menenangkannya.
"Tenang sayang, nanti kita cari Sama-sama!" ucap Gian agar Akira tenang.
Dan ternyata Bu Yuli hanya tahu kotanya saja, dia tidak diberi tahu alamat lengkapnya.
Lalu Bu Yuli dan ayah Ayus mencoba untuk menghubungi nomor Shafira dan Lucky, tapi semua nomor tidak bisa dihubungi.
"Brengsek, ternyata mereka sudah curiga, dan sudah kabur duluan," Gian kalah cepat dalam bergerak.
Lalu Gian menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Shafira, mulai dilacak dari nomer terakhir yang meraka gunakan berada di daerah mana.
Erwin sebelumnya masih bingung mengapa Akira dan Gian mempermasalahkan tentang shafira.
"Sebenarnya, ada masalah apa lagi kalian sama Shafira?" Kemudian Erwin bertanya.
Gian mulai menjelaskan tentang anak yang Shafira adopsi, kemungkinan besar anak itu memang anak Akira dan Gian,
Gian juga menceritakan apa alasannya mengapa ia berkata demikian, dan kebetulan anak buah Gian juga sudah memberikan laporannya tentang kebenaran tentang putrinya,
Bahwa saat itu Akira memang melahirkan sepasang anak kembar, Riza membawa pulang anak itu dari rumah sakit bersama seorang baby sitter yang akan mengasuh anak-anak Akira.
Dan anak buah Gian juga sudah menemukan baby sitter yang pernah mengasuh putra Akira, dia juga membenarkan jika ia dan Anjai membawa dua bayi dari rumah sakit.
__ADS_1
Tapi sesampainya di rumah, Riza kembali pergi dengan membawa salah satu dari bayi itu, dan ia membawa anak yang berjenis kelamin perempuan.
Tapi saat ia kembali, bayi itu tidak lagi bersama Riza.
Baby sitter itu tidak tau Riza membawanya kemana, di hanya ditugaskan untuk fokus merawat Bayi laki-laki yang kini bersama Akira.
Semua keluarga mendengarkan kebenaran yang Gian sampaikan.
"Tapi Gian, belum tentu bayinya Shafira itu putri kalian," Mama Nirmala belum meyakini jika Shafira mengadopsi putri Akira dan Gian.
"Iya, mah buktinya, Shafira melarikan diri bersama anak itu." Gian sangat yakin.
"Gian, mungkin itu hanya kebetulan saja!" Ayah Ayus berusaha menyangkal.
"Ya, makanya kita harus cari mereka sampai dapat di mana keberadaan Shafira, untuk lebih jelas lagi aku ingin tes DNA dengan anak itu?" ucap Gian penuh penekanan.
Karena jujur saja Gian sangat kesal ia merasa sedang dipermainkan oleh Riza dan juga shafira, beserta komplotannya.
Akira, sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya diam, ia termenung mengingat saat-saat ia bersama putrinya, ia sempat curiga bayi itu mirip Gian, tapi ketika itu ia sangat membenci Gian.
Tapi ketika itu akira memang tidak fokus dengan putranya jangankan dengan anak orang lain dengan putranya sendiri ia kurang perhatian.
Ketika itu ia hanya memikirkan perasaannya sendiri, Akira sungguh menyesali apa yang telah ia lakukan.
Padahal tuhan sudah memberinya kesehatan, untuk ia dekat dengan putranya, tapi ia malah menyia-nyiakan kesempatan itu, padahal ia juga sudah menyadari bahwa anak itu mirip dengan ayahnya, tapi bodohnya Akira malah menepis kecurangannya.
Menyadari semua itu Akira yang sedang termenung tiba-tiba menangis, air mata mengalir deras di pipinya, ia menangis tanpa suara.
"Akira," Bu Yuli menggenggam tangannya lalu memeluknya.
"Tenang, Nak!"
"Aku sudah gak kuat lagi Bu, apa coba salah ku sama kak Shafira, aku menyayanginya, aku menghormatinya sebagai Kakak ku, tapi kenapa kamu jahat sekali kepada ku, kak!" keluh Akira.
Ya, hampir semua penderitaan yang Akira alami, bersumber dari shafira, kakak kandungnya sendiri.
Meskipun sedarah daging, diasuh dan dibesarkan oleh orang yang sama dan dengan cara yang sama, tetap saja beda kepala beda pemikiran, tentu saja beda isi hati.
Memang pada umumnya, sebagai sesama saudara harusnya saling menyayangi, mengasihi, dan saling membela, tapi tak jarang pula banyak saudara saling menjatuhkan dan saling menikam dari belakang, entah karena cemburu sosial, ataupun karena faktor keberuntungan dalam hal apapun dalam kehidupannya.
Karena meskipun satu kandung tetap beda cerita, beda pengalaman tentu beda kehidupan, Sebab itulah banyak saudara yang berselisih bahkan ada juga yang saling menyingkirkan.
__ADS_1