Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 186


__ADS_3

Setelah kesepakatan yang dibuat antara Juna dan Putra, Juna lebih gencar mendekati dokter Yuri.


Karena ruang lingkup mereka sama, jadi lebih memudahkan untuk Juna melakukan PDKT, beda halnya dengan Putra yang belum punya kesempatan untuk melakukan pendekatan dengan dokter Yuri.


Setelah berhari-hari, akhirnya hari ini jadwal Putra kontrol kondisinya pasca kecelakaan.


Seperti pasien lain Putra mendaftar lalu mengantri, ia menjadi pasien yang terakhir karena jam tugas dokter Yuri akan segera berakhir.


Putra duduk santai menunggu gilirannya, ia kontrol diantar oleh ibunya.


Dan pada saat Ia mendapatkan gilirannya, asisten Dokter Yuri memanggil namanya.


Dokter Yuri sempat terkejut ketika susternya menyebutkan nama "Putra Mahendra!" Deg … entah mengapa jantung Yuri terasa berhenti ketika mendengar nama itu.


Ia merasakan perasaan aneh dalam diri, yang ia sendiri tidak mengerti perasaan apa itu.


Akira segera mengajak Putra untuk masuk, karena ini sudah gilirannya.


Saat masuk kedalam ruangan, sepasang mata saling bertemu, dalam beberapa waktu, tatapan mereka seperti terikat saling menatap dalam perasaan yang aneh, karen Putra juga merasakan apa yang dirasakan Dokter Yuri.


Mereka menjadi canggung dan salah tingkah, karena awalnya mereka hanya saling memaku beradu pandang, lalu kemudian Akira menegur keduanya.


"Putra, dokter Yuri!" tegur Akira, dan itu berhasil membuat keduanya terhenyak dan menyadari keadaan. Namun, suasana menjadi sangat kaku.


"Oo … silahkan duduk!" Dokter Yuri mempersilahkan ibu dan anaknya untuk duduk.


"Apa kabar dokter?" Putra yang bertanya untuk berbasa-basi.


Yuri tersenyum mendengarnya, padahal dia yang sedang bermasalah dengan kesehatannya, ia malah bertanya kabar sang Dokter.


"Alhamdulillah saya baik, ibu apa kabar, dan anda sendiri bagaimana?"Yuri menjawab lalu meneruskan sekaligus berbasa-basi kepada Akira.


"Alhamdulillah ibu baik kok!" Akira menjawab.


"Oo ya syukur Alhamdulillah jika seperti itu, anda bagaimana pak Putra." sahut dokter Yuri sekaligus bertanya lagi.


Putra tidak pernah suka Yuri memanggilnya dengan sebutan itu, ia segera protes "Anda bandel sekali ya Dok! Kalau anak kecil Anda harus dijewer." Ucap Putra.


Yuri mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan maksud Putra.


"Apa salah saya, pak?" Dokter Yuri bertanya.


"Sudah aku bilang jangan panggil aku pak atau bapak!" tegas Putra.


"Lalu saya harus panggil anda apa?" Dokter Yuri merasa serba salah.


"Panggil aku sayang, atau ayang, itu kan pilihan yang kamu katakan tempo hari!" Putra ingin Yuri memanggilnya dengan sebutan itu.


"Tapi itu kan panggilan untuk sepasang kekasih!" Protes Yuri.


"Ya anggap saja aku ini kekasihmu, apa susahnya, kamu suka kan sama aku, buktinya kamu pernah bilang aku ganteng!" Putra menunjukkan sifat narsisnya.


"Loh siapa bilang, kapan saya bicara seperti itu," dokter Yuri mengelak.


Mereka berdua malah berdebat namun perdebatan mereka terdengar seperti sebuah lelucon, sehingga Suster dan Akira hanya bisa tersenyum geli mendengarnya.


"Dokter pernah bilang katanya, iya kamu ganteng!" Putra masih tidak mau kalah dengan mengingatkan Yuri pernah bicara seperti itu.


"Ya itu karena kamu yang bertanya, aku jadi serba salah lalu aku berkata demikian," terang Dokter Yuri yang tetap tidak mau kalah juga.


"Jadi sekarang menurut mu bagaimana, aku ganteng apa tidak, kamu suka atau tidak kepadaku?" Putra menjebak dokter Yuri dengan pertanyaan tersebut.


Sehingga dokter Yuri menjadi mati kutu, salah tingkah, ia tidak dapat menjawab pertanyaan Putra dengan jujur.


"Jawab pertanyaanku Dokter!" Putra mendesak.


Sedangkan Akira memang sengaja tidak berkomentar, ia juga ingin tahu apa jawaban dari dokter Yuri.


Dokter Yuri menjadi serba salah, tapi Putra kukuh ingin mendengar jawaban jujur dari dokter Yuri, "Ayok jawab dokter, kalau memang kamu tidak menyukaiku, aku berjanji tidak akan menemuimu lagi, dan tidak akan mengganggumu lagi, sekali pun aku mengalami kecelakaan lagi, aku tidak akan memakai jasamu, aku tidak akan merepotkan mu lagi." ucap Putra 


Dan itu menjadi suatu ancaman bagi Dokter Yuri, ia bisa kehilangan pasiennya dan hal itu bisa merusak reputasi baik nya, yang selama ini dokter Yuri bangun dan ia banggakan.


"I-iya anda ganteng, aku juga menyukaimu!" Akhirnya jawaban itu keluar dari mulut dokter Yuri, meskipun terdengar sangat gugup tapi itu juga terdengar sangat jelas.


Ya memang dalam hati Yuri mengakui, Putra pria yang tampan rupawan, dan ia juga memang menyukainya, jadi tidak ada dusta dalam ucapannya. 


Putra, Akira dan suster tersenyum ketika mendengar ucapan dokter Yuri atas kejujurannya.

__ADS_1


Dokter Yuri sendiri tertunduk malu, sambil mengulum senyum, wajahnya memerah seperti kepiting rebus, menyiratkan sebuah rasa yang tidak dapat ia pungkiri.


Tapi disisi lain, Juna bagai di sabar petir di siang bolong, dimana tidak ada hujan tidak ada angin, suara petir menggelegar menghantam perasaannya dan jiwanya yang seketika itu hancur berantakan, ketika Juna mendengar pernyataan dokter Yuri.


 


Yang secara tidak langsung ia sedang menyatakan perasaan cintanya kepada Putra, dengan demikian Juna menilai dokter Yuri yang malah menyatakan cinta terlebih dahulu kepada Putra.


Karena Akira sempat menghubungi Juna dan memberitahunya bahwa ia dan Putra sedang berada di rumah sakit di mana Juna bertugas. Sebab mereka hendak kontrol kondisi Putra pasca kecelakaan.


Setelah mendapat kabar dari ibu angkatnya Juna berniat untuk menemui mereka, tapi saat ia di depan ruangan dokter Yuri keadaan sudah sangat sepi.


Dan ketika itu Juna berniat untuk masuk kedalam ruangan dokter Yuri untuk memastikan keberadaan keluarganya.


Namun, apa yang terjadi saat ini hendak masuk dan akan membuka pintu, ia mendengar apa yang di katakan dokter Yuri, dan itu membuat Juna syok, hatinya hancur luluh lantak, ucap Yuri mampu memporak porandakan keyakinannya bahwa ia dapat memiliki dokter Yuri dan mengalahkan Putra.


Tubuh Juna gemetar, terlihat jelas dari tangannya yang hendak menggapai handle pintu bergerak tak beraturan,


Juna menarik kembali tangannya, ia mengurungkan niatnya yang  hendak menemui ibu dan kakak angkatnya, ia merasa tidak sanggup untuk berhadapan dengan Semuanya, dengan perasaan kecewanya saat ini.


Ia memilih untuk kembali keruangnya, dengan langkah gontai, Juna berjalan perlahan tapi pasti menuju ruangannya, untuk menghindar.


Awalnya Juna sangat yakin bahwa ia yang akan memenangkan kesepakatannya dengan Putra, karena ia selangkah lebih maju dari Putra.


Dari semenjak kejadian itu, Juna sering menemui dokter Yuri, mengantar jemputnya meskipun dokter Yuri sudah menolaknya, karena merasa sangat merepotkan dokter Juna.


Yuri gadis mandiri, ia sudah biasa melakukan segala sesuatu sendiri maka ketika dokter Juna ingin membantunya, mengantar jemput dirinya, ia merasa keberatan karena ia tidak ingin menjadi beban bagi orang lain.


Dan saat Putra mendesak sebuah jawaban darinya ketika itu, dokter Yuri anggap semua itu hanya sebuah lelucon, meskipun jawaban yang ia berikan memang jujur dari dalam hatinya.


Tapi Putra memang serius dengan semua itu, dengan begitu Putra sudah menganggap dokter Yuri itu kekasihnya.


"Sekarang, kamu panggil aku ayang mu, begitu juga aku akan memanggilmu ayang ku!" tegas Putra.


"Loh … kok gitu sih!" Yuri protes.


"Kan ayang tadi udah ungkapkan perasaannya sama aku, ibu dan suster saksinya ya sudah kita jadian. Karena aku juga sangat menyukaimu dan ingin menikah denganmu, maukah kamu menjadi makmumku, menjadi ibu dari anak-anakku?" Putra malah melamar dokter Yuri saat itu juga.


Dokter Yuri serasa sedang bermimpi, ia sungguh tidak percaya mendernya.


"Maaf Pak, saya sedang bertugas jadi jangan bercanda seperti ini!" dokter Yuri menepis ucapan Putra.


Yuri tidak dapat menjawab, keren ini sebuah keputusan yang harus dipikirkan secara matang, membina rumah tangga untuk jangka panjang bahkan untuk seumur hidupnya, tidak bisa Yuri langsung menjawab iya atau bersedia, meskipun memang dalam hatinya ia merasa senang Putra pria tampan rupawan serta mapan, idaman para perempuan, ingin menikahinya.


Yuri tetap butuh waktu untuk mengenal dekat pria seperti apa Putra ini, karena pernikahan tidak butuh hanya memandang rupa dan harta.


"Maaf pak Putra aku tidak bisa menjawab." ucap Yuni dengan nada lesu karena ragu.


"Oke, aku tau kamu perlu waktu untuk mempertimbangkan semuanya, tapi aku mohon juga kasih aku waktu dan kesempatan untuk membuktikan keseriusanku kepadamu, untuk kita saling mengenal lebih dekat lagi." Putra mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Yuri, dan apa yang di katakan oleh Putra memang itu yang Yuri inginkan.


Yuri menganggukkan kepalanya, tanda ia mengiyakan ucapan Putra.


"Jadi sekarang kita pacaran?" tanya putra untuk menegaskan dan memperjelas hubungan mereka.


Dan itu berhasil membuat Dokter Yuri tersipu malu lagi, ia menundukkan wajahnya seakan tidak sanggup untuk menatap semua orang di sana, tapi Putra menuntut kejelasan dari hubungan mereka.


"Kita pacaran?" tanya Putra lagi, ia ikut menundukkan wajahnya melihat wajah Yuri ingin menelisik keseriusan di wajah Yuri gadis yang ia cintai dan sangat menggemaskan bagi Putra.


Namun tingkahnya sendiri terkesan sangat kekanakan dan membuat Yuri semakin merasa malu.


"Ayang jawab aku! Kita pacaran kan?" Putra belum menyerah sebelum mendapat jawaban dari Yuri.


Dan akhirnya dengan ragu dan malu-malu Yuri mengangguk.


"Yes, yes, yes!" seru Putra kegirangan dengan gerakan tangannya yang menandakan suatu keberhasilan.


Saking senangnya Putra dan dengan gerakan refleks ia memeluk dokter Yuri.


"Terima kasih, aku sangat bahagia." ucap Putra.


Tapi Dokter Yuri tidak menyambut pelukannya,  ia hanya memaku karena syok dengan pergerakan Putra.


Akira menarik Putra memisahkan nya dari dokter Yuri, karena putra sangat petakilan tingkahnya membuat Akira merasa tidak enak hati kepada dokter Yuri dan suster yang ikut menyaksikan sedari tadi.


"Hey ingat kalian belum muhrim …." ucap Akira mengingatkan Putra.


"Sorry, sorry … aku sangat bahagia Bu!" Putra menyadari tingkahnya.

__ADS_1


"Kamu memang nakal!" Akira menjerwer Putra.


"Iya, ampun Bu, sakit …!" Putra mengaduh kesakitan.


Yuri dan suster hanya tertawa melihat tingkah anak dan ibunya.


Kemudian dokter Yuri mempersilahkan Putra untuk stay di posisinya, karena ia akan memulai pemeriksaannya.


Tapi Putra menolak karena ia merasa sudah baik-baik saja.


"Tiap Pak, anda sudah terdaftar akan melakukan kontrol, lalu bagaimana kami akan membuat laporannya jika anda tidak jadi kami periksa," dokter Yuri membujuk Putra.


"Baiklah, tapi panggil aku ayang! baru aku mau melakukan pemeriksaan," Penawaran Putra.


Yuri menghela nafas dengan lesunya, ia sudah tau ia tidak akan bisa menang dalam menghadapi Putra.


"Oke … ayang ayo kita lakukan pemeriksaan dulu!" Yuri mengikuti apa yang Putra mau, memanggilnya dengan sebutan ayang dengan nada lemah lembutnya.


Putra tersenyum bahagia ketika mendengarnya, ia merasa semua itu seperti lelucon yang di buat-buat oleh Yuri, tapi hatinya merasa sangat senang ketika mendengarnya.


"Ayo, mau diajak buat anak juga aku siap!" Celetuk Putra.


Yuri membelalak matanya ketika mendengar celetukan Putra.


"Hey!" Pekik Akira tersentak.


"Eeeh! Sorry, sorry, aku bercanda, iih ibu pikirannya ngeres banget sih!" Putra malah menggoda ibunya yang mulai geregetan dengan tingkah putranya.


"Otakmu tuh yang kotor, harus di laundry!" ketus Akira yang sudah mulai geram.


Putra malah cengengesan melihat ibunya yang mulai marah, ia sengaja menggoda ibunya agar tetap rileks.


Yuri menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum ia merasa sangat lucu dengan kekasih dadakkan nya.


Ia tidak tahu akan seperti apa hubungannya dengan kekasihnya ini, apa semua akan berjalan lancar sampai ke pelaminan, atau semua ini hanya sebuah leluconnya saja.


"Oo Tuhan ku, ku pasrahkan segalanya kepada mu, aku yakin semua yang terjadi atas kehendakmu!" Yuri membatin, ia tidak begitu berharap dengan hubungannya dengan Putra yang terkesan hanya sebuah lelucon saja.


Dengan penuh candaan akhirnya pemeriksaan selesai dilakukan, memang kondisi Putra sudah baik-baik saja, lukanya pun sudah tidak perlu diperban lagi.


"Baik pak ~" ucapan Yuri terhenti, karena Putra menghentikannya dengan cara menaruh telunjuknya di bibir Yuri.


"Bukan Pak, tapi ayang," kemudian ucap Putra menegaskan agar Yuri terbiasa menyebutnya dengan sebutan itu.


"Iya, iya, maaf aku lupa, ayang," Yuri berusaha untuk mengimbangi Putra.


Akira hanya tersenyum melihat keduanya.


"Oke Putra, kamu pulang bersama Dokter Yuri ya, kalian kan sudah resmi jadi sepasang kekasih, kalian boleh merayakannya berdua dinner, atau nonton bioskop atau apalah, tapi tetap harus tau batasan." Ucap Akira tetap mengingatkan mereka.


"Alah Bu! Pegangan tangan mah boleh kali!" Putra masih saja ngeyel dengan maksud menggoda ibunya.


Akira mendelikkan matanya memberi isyarat agar Putra patuh kepadanya.


"Oke, Oke Bu, jangan khawatir! aku kan anak ibu yang paling baik," sambung Putra karena melihat sorot mata Ibunya yang mengerikan jika sudah marah.


"Lalu ibu mau kemana, apa sebaiknya ibu ikut pulang bersama dengan kami?" Yuri mengkhawatirkan Akira.


"Jangan khawatirkan ibu, ibu akan menemui Juna dan akan pulang bersamanya." terang Akira. Lalu ia segera pergi pamit dan melangkah pergi ke ruangan Juna.


Sedangkan Putra harus menunggu Yuri membuat beberapa laporan kegiatannya hari ini terlebih dahulu sebelum pulang.


Putra duduk di sofa yang tersedia di sana, sedangkan Yuri sibuk mencatat beberapa laporannya.


Putra tanpa berkedip menatap Yuri yang kini sudah berstatus sebagai kekasihnya, awalnya Yuri tidak menyadarinya jika Putra menatapnya sedemikian rupa.


Namun sekilas tatapannya melihat ke arah putra, lalu ia kembali menatapnya dan menajamkan pandangannya.


Yuri membalas tatapan Putra, beberapa detik mereka beradu pandang, tidak ada yang berkedip di antara keduanya, sampai ketika ada sister yang datang dan mengejutkan keduanya.


Yuri segera membuang pandangannya ke arah suster dengan sangat gugup, karena merasa terkejut dengan kedatangan suster itu.


Putra pun sama ia membuang pandangannya menundukkan wajahnya berpura-pura menatap layar handphonenya.


"Uhm … maaf Dok, saya ganggu!" suster pun merasa tidak enak hati.


"Iya, tidak apa-apa, mau ambil laporan saya?" Yuri bicara seperti itu untuk mengatasi rasa gugupnya.

__ADS_1


Suster mengiyakan pertanyaan dokter Yuri, kemudian dokter Yuri segera menyerahkan laporannya yang sudah selesai ia buat.


Lalu setelah  kepergian suster, Putra dan Yuri kembali saling menatap dan tertawa bersama, karena mereka merasa lucu dengan tingkah mereka masing-masing.


__ADS_2