
Sesuai rencana Mama Nirmala mengelar resepsi pernikahan Erwin dan Rima akan segera digelar, memang semua persiapan sudah Mama Nirmala atur semuanya dengan sedemikian rupa.
Namun Mama Nirmala meminta bantuan dari tim wedding organizer (WO) untuk mengurus semua persiapannya, mulai dari tempat, kostum, MUA, konsumsi dan sebagainya.
Wedding organizer atau coordinator adalah seseorang yang bertanggung jawab mengelola seluruh aspek dalam sebuah acara pernikahan. Mereka punya tanggung jawab utama memastikan semua agenda hari-H pernikahan mulai dari resepsi hingga acara makan-makan dapat berlangsung secara mulus.
Jadi saat tiba acara semua persiapan sudah siap sempurna.
Tempat acara digelar di daerah kelahiran Rima di hotel bintang lima, semua anggota keluarga sudah hadir di sana satu hari sebelum acara, Akira dan keluarganya turut hadir dan menginap di hotel di mana acara akan di gelar.
Banyak juga tamu undangan mereka yang datang dari luar daerah yang sudah terlihat hadir dan menginap di hotel yang sama, sebab selain akan menghadiri acara pesta pernikahan Erwin dan Rima, mereka juga bisa sekalian berwisata di daerah tersebut, sebab banyaknya tempat-tempat wisata di daerah sana.
Seperti Akira dan juga keluarganya, mereka sengaja pergi ketempat wisata di sana untuk menghabiskan waktu bersama, sebelum acara resepsi di gelar.
Namun Mama Nirmala dan keluarga juga turut serta dalam acara besama keluarga Akira.
Sisil dan Cika juga tidak ketinggalan ikut dalam acara, suasana begitu hangat bersama beberapa keluarga berkumpul bersilaturahmi, saling mengenal antar keluarga, sebab keluarga Rima juga turut hadir ikut berkumpul di momen yang jarang terjadi.
Sampai pada saat acara akan di gelar, Erwin dan keluarga sibuk melakukan persiapan untuk acara nanti malam, pada pukul tujuh malam sampai dengan selesai.
…
Saat semua orang sedang sibuk dengan persiapan mereka masing-masing, Akira malah terlihat masih santai rebahan di tempat tidur hotel.
Saat itu Gian masuk ke kamar hotelnya setelah berbincang bersama Erwin, papa Arga dan para lelaki dewasa lainnya.
Di dalam kamarnya ia mendapati istrinya tengah santai tiduran di atas tempat tidurnya. Sementara para winta yang lain sudah sibuk ber-make up.
Gian merasa aneh dengan kelakuan istrinya yang tidak seperti wanita pada umumnya.
"Sayang! Kamu kenapa kok kamu masih di sini?" Gian menegur istrinya dan ikut naik ke atas tempat tidur menghampiri istrinya, ia menempelkan telapak tangannya di atas kening Akira, dengan maksud mengecek suhu tubuhnya.
Karena Gian khawatir Akira sedang merasa tidak enak badan, tapi sudah tubuhnya normal.
"Kamu, kenapa sih?" Akira menepis tangan suaminya, karena merasa risih.
"Kamu, tidak sedang sakit kan, Sayang? Apa ada yang dirasa sakit?" Gian bertanya untuk memastikan kondisi Akira benar-benar sehat.
"Aku tidak apa-apa, aku sehat kok," jawab Akira datar, ia seakan tidak antusias untuk menghadiri acara resepsi.
"Tapi yang lain sudah bersiap, Sayang," Gian mengingatkan istrinya, tapi ia sendiri malah ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Akira menatap suaminya dengan tatapan malas.
__ADS_1
Gian tau Akira sedang tidak mood, tapi dibalik itu pasti ada alasannya dan itu lah yang membuat Gian penasaran, bukankah Akira mendukung hubungan Erwin dan Rima, tapi mengapa Akira tidak bersemangat untuk hadir di pesta pernikahan mereka.
Gian menanyakan hal itu, kepadanya dengan cara yang sangat hati-hati, Gian takut menyinggung perasaannya, karena semenjak Akira hamil ia menjadi lebih sensitif, karena itu Gian selalu berusaha untuk menjaga moodnya.
"Ya, aku memang mendukung hubungan mereka, tapi dengan kondisi ku seperti ini rasanya aku, malu bertemu dengan banyak orang, mereka semua terlihat cantik dan menawan, lah, aku apa bagusnya. Di pandang dari depan, belakang, samping kanan dan kiri gak ada bagus-bagusnya." Ternyata Akira merasa minder dengan keadaannya yang sedang berbadan dua.
Ditambah lagi ukuran besar kandungan Akira melebihi perut ibu hamil pada umumnya, karena ia mengandung bayi kembar.
Gian mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Akira, Gian yang awalnya tidur dengan posisi terlentang menatap langit-langit hotel, mendengar ucapan Akira yang terdengar sendu, ia segera merubah posisi tidurnya.
Ia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Akira, Gian mengelus perut buncit istrinya, "Sayang, aku mengerti apa yang kamu rasakan, tapi menurutku kamu tidak seburuk yang kamu pikirkan, di mataku kamu malah terlihat sangat seksi, sampai-sampai aku selalu t e r a n g s*ng jika sedang bersamamu." Gian berusaha menggoda istrinya.
Akira melirik Gian dengan tatapan tajam, ia menepis tangan suaminya yang awalnya mengelus perutnya, namun, kini telah berpindah m e n g g e r a y a n g i nya di bagian sensitifnya. "Apaan sih kamu." Ketus Akira kesal.
Gian malah tertawa merasa tergoda karena Akira dapat menebak siasatnya, yang menginginkan sesuatu darinya.
"Ini sungguhan, Sayang, rasakan deh, jika tidak percaya, setiap aku bersamamu pasti juniorku bangun." Gian meraih tangan Akira dan mengarahkannya ke area juniornya.
Ya, Akira memang bisa merasakannya, junior Gian sudah terasa keras dan membulat panjang,
"Mmmm, kamu tuh ya, aku lagi gak mood." Cetus Akira yang memang sedari tadi tidak ingin melakukan aktivitas apapun.
Tapi gian tidak menyerah begitu saja, seperti wataknya yang keras kepala dan pantang menyerah, Gian tetap berusaha tapi tidak memaksa, ia tetap melakukan rayuan dan r a n g s a n g a n, sehingga akhirnya Akira kalah dan menikmati sentuhan-sentuhan Suaminya.
Semetara yang lain tengah sibuk dengan segala persiapan, Akira dan Gian malah sibuk bermesraan.
…
Setelah lelah bercinta Akira dan Gian terlelap dalam kelelahan, dan tidak terasa hari sudah menjelang sore, tinggal menunggu beberapa waktu lagi acara akan segera dimulai, semua sudah terlihat cantik dan gagah dengan penampilan masing-masing.
Namun Mama Nirmala baru menyadari, tidak melihat putra bungsunya beserta istrinya. Kostum mereka berdua pun masih terlihat di ruang makeup. Belum mereka kenakan.
Sontak Mama Nirmala menjadi heboh karena kedua orang yang di anggap penting belum bersiap bahkan tidak terlihat.
Mamah Nirmala, segera meraih dua setelah kostum untuk mereka (Akira dan Gian) lalu membawanya, mama Nirmala berjalan menyusuri lorong hotel menuju kamar Akira dan Gian.
Di depan pintu kamar bernomor 101, mama Nirmala terhenti lalu berdiri di sana, ia menekan bel pintu cukup lama, karena tidak mendapat respon dari penghuni kamar tersebut.
Mama Nirmala, sungguh geram di buatnya. Berulang kali Mama Nirmala menekan tombol bel pintu dan cukup lama.
"Sial, pada kemana ini anak." gerutu mama Nirmala, tidak cukup sampai di situ mama Nirmala juga berulang kali menghubungi ponsel keduanya namun tetap tidak mendapat respon.
Rasa kesal Mama Nirmala berubah menjadi panik karena khawatir. Papa Arga yang sedari tadi mencari istrinya menemukannya sedang kebingungan di depan pintu kamar 101.
__ADS_1
Papa Arga segera menghampirinya , dan bertanya mengapa ia berada di sana dan terlihat resah dan gelisah, Mama Nirmala menceritakan apa yang membuatnya seperti itu.
"Bagaimana Mama tidak resah Pah, Gian dan Akira belum terlihat batang hidungnya, sedangkan yang lain sudah siap semua, bahkan keluarga Akira juga sudah terlihat bersiap." keluh Mama Nirmala.
"Mama, tidak usah berlebihan, Mah! Mereka sudah dewasa, sudah tau apa yang harus mereka lakukan, mungkin mereka bersiap di tempat lain, Mah," papa Arga mencoba menenangkan istrinya.
"Pah, Mama tidak akan sepanik ini jika ada konfirmasi dari mereka berdua, lihat ini pakaian mereka masih di tangan mama, pintu kamar mereka terkunci, di ketuk dan di pencet belnya tidak ada respon dari mereka, mama mencoba menghubungi mereka tapi tetap tidak ada balasan dari keduanya." Mama Nirmala menjelaskan, dengan nada prustasi.
Dan akhirnya papa Arga mengerti ia pun ikut khawatir. "Lalu bagaimana mah?" Papa Arga bukannya memberikan solusi ia malah bertanya.
"Itu yang sedang mama pikirkan, Pah!" ketus Mama Nirmala.
Lalu timbul sebuah ide di benak papa Arga, ia segera menghubungi pihak hotel dia lalu meminta mereka untuk membukakan pintu kamar 101, dan memberikan alasan tentang kecurigaan mereka, agar pihak hotel mau membantu mereka untuk membukakan pintu tersebut.
Setelah itu, pihak hotel barulah menyetujui permintaan papa Arga, dan Mama Nirmala. Mereka segera membuka pintu kamar itu, setelah terbuka, Mama Nirmala dan papa Arga masuk berlebihan dahulu.
Keadaan kamar begitu gelap, perasaan Mama Nirmala tidak karuan, ia khawatir telah terjadi sesuatu pada putra dan menantunya.
Mama Nirmala, tidak tahu letak stop kontak kamar tersebut, sehingga tangan papa Arga merayap di dinding untuk menemukan stop kontak tersebut. Mama Nirmala segera menyalakan senter di ponselnya lalu menyoroti pergerakan tangan papa Arga, agar bisa cepat menemukan apa yang mereka cari.
Dan tidak lama mereka bisa menemukannya, saat lampu dinyalakan alangkah terkejutnya mama Nirmala menyaksikan apa yang terjadi.
"Astaga, Gian, Akira …!" seru mama Nirmala terkejut melihatnya.
Beda halnya dengan Papa Arga, ia segera berbalik badan dan menghampiri petugas hotel yang tadi membantu mereka.
Papa Arga bermaksud untuk menghalau petugas hotel agar jangan masuk, karena pemandangan di dalam tidak layak merek lihat.
Mama Nirmala, masih syok, melihat keadaan Gian dan juga Akira ia terpaku dengan Nafasnya tersengal-sengal menahan emosi, matanya membulat sempurna dengan mulut menganga.
Karena keadaan Gian dan Akira sedang tertidur berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menyelimuti tubuh mereka berdua. Mereka tertidur pulas sampai tidak menyadari kehadiran mama Nirmala di sana.
Setelah beberapa saat Mama Nirmala tersadar, lalu ia mendekat ke arah tempat tidur, ia menarik selimut dan menutupi tubuh polos putra dan menantunya, lalu Mama Nirmala membangunkan keduanya, dengan menyentuh dan mengoyak betis mereka bergantianan.
"Gian … Akira ….!" Seru Mama Nirmala membangunkan putra dan menantunya.
Merasa ada pergerakan Akira dan Gian akhirnya terbangun.
"Ssst … aaah …!" Akira menggeliat
"Hoooaaam …" Gian menguap,
Keduanya belum menyadari ada sepasang sorot mata yang tengah memandang mereka.
__ADS_1
"Astaga …!" gumam Mama Nirmala, tidak habis pikir dengan kelakuan putra dan menantunya.