
Sore hari Juna menyudahi jam tugasnya lebih awal, ia sudah stay di depan ruangan dokter Yuri, menunggunya untuk mengantarkannya pulang ke rumah konteraknya, dan akan membawanya pulang bersamanya ke rumah orang tua angkatnya untuk menghadiri acara syukuran yang akan di gelar oleh keluarga angkatannya.
Sebagai rasa syukur mereka atas selamatnya Putra dari kecelakaan yang hampir meregang nyawanya.
Saat Yuri keluar dari ruangannya ternyata sedang duduk di bangku penunggu pasien di depan ruangannya, Dokter Yuri sangat terkejut ketika mengetahui hal itu.
"Dokter Juna!" gumam Dokter Yuri.
Juna segera bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Dokter Yuri, "Dokter Yuri! apa anda sudah siap untuk pulang?" tanya Dokter Juna, karena dokter Juna melihat dia sudah menenteng tasnya, itu tandanya dokter Yuri memang akan segera pulang.
"Iya, apa anda menunggu saya?" Dokter Yuri malah tidak tahu jikalau Dokter Juna menunggunya.
"Iya, saya diperintahkan untuk mengantarkan anda pulang dan membawa anda pulang ke rumah kami," terang dokter Juna.
Mendengar itu, Dokter Yuri merasa tidak enak hati, ia malah bersantai sedari tadi di ruangannya.
"Ya tuhan dokter Juna, kenapa harus menungguku! Aku bisa pulang sendiri dan aku pasti datang memenuhi undangan tidak perlu seperti ini, aku jadi merasa merepotkan, dok!" ucap dokter Yuri merasa tidak enak hati.
"Ah tidak apa-apa, ini juga sekalian kok dok!" Juna menepis ucapan dokter Yuri agar tidak usah merasa tidak enak hati.
"Ya, sudah mari!" Kemudian ajak Juna sambil melangkah memulai perjalanan keluar dari rumah sakit.
Karena Juna orang yang sangat humble, begitu juga dengan Yuri, jadi mereka menjadi lebih cepat akrab, sepanjang perjalanan pulang menuju rumah kontrakkan Yuri, suasana di antara keduanya terasa ramai karena penuh canda tawa dari obrolan mereka yang ringan dan santai terkesan saling menghibur.
Juna, sangat senang dan bahagia ketika dirinya berhasil mengundang tawa dokter Yuri yang sangat renyah di dengar.
"Ternyata seasik ini bicara dengan dokter Yuri!" batin Juna yang sebelumnya belum pernah seakrab seperti sekarang ini dengan dokter Yuri.
Dan tidak terasa ternyata mereka sudah sampai di teras rumah dokter Yuri, keduanya turun dari dalam mobil.
Namun, Juna tidak hanya menunggu di depan teras rumah, sedangkan dokter Yuri masuk kedalam rumah, untuk membersihkan diri dan bersiap terlebih dahulu.
"Dokter Juna, anda tidak apa-apa pulang saja dulu, biar nanti saya naik taksi online saja!" ucap dokter Yuri merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, saya tunggu di sini saja!" Juna lebih memilih untuk tetap menunggunya.
Kemudian dokter Yuri masuk dan tidak lama ia kembali keluar dengan membawa nampan berisikan secangkir teh dan cemilannya.
__ADS_1
"Ya ampun, Dok! tidak usah repot-repot seperti ini," Juna terkejut ternyata dokter Yuri membuatkan nya minum.
"Ah … Malah saya yang merepotkan Anda, membuat anda menunggu lama, silahkan diminum, saya bersiap dulu." Dokter Yuri menepis ucapan dokter Juna, lalu mempersilahkan dokter Juna meminum teh hangat buatannya, kemudian ia pamit untuk kembali ke dalam rumah.
"Iya silahkan!" Dokter Juna mempersilahkan.
Yuri segera masuk dan langsung memulai tujuannya dengan cepat.
Sedangkan Juna begitu menikmati suasana santainya, ia tidak merasa jenuh sama sekali ketika menunggu Yuri bersiap.
Juna menikmati secangkir teh hangat yang disuguhkan oleh Yuri, ia merasakan teh itu begitu nikmat ketika ia menyeruputnya seteguk teh itu melewati mulut dan tenggorokannya, luar biasa kenikmatan yang ia rasakan dari sensasinya.
Baru pertama kalinya Juna merasakan teh senikmat itu, entah memang Yuri punya tehnik khusus dalam membuat nya, atau teh itu memang teh spesial sehingga rasanya beda dari teh biasanya, atau juga karena memang yang membuatnya Yuri gadis yang sangat ia cintai sehingga meskipun rasanya biasa saja menjadi nikmat tak terkira.
Dan ketika Yuri sudah bersiap dengan pakaian syar'i nya karena akan menghadiri pengajian jadi Yuri menyesuaikan penampilan nya.
Saat Yuri membuka pintu untuk menemui Juna, alangkah terkejutnya Juna melihat penampilan Yuri, yang begitu cantiknya dengan pakaian syar'i nya, begitu menawan, anggun mempesona.
Juna sampai lupa untuk berkedip, dan lupa menutup mulutnya, karena Juna sampai tidak sadar membiarkan mulutnya menganga begitu saja, untung saja ia tidak mengeluarkan air liurnya.
Dan akhirnya Yuri memberanikan diri menyentuh pergelangan tangan Juna yang masih terhipnotis oleh kecantikannya.
"Dokter … anda tidak apa-apa kan?" tanya Yuri sambil mengoyak pergelangan tangan Juna.
Dan itu berhasil membuat Juna tersadar, dan sedikit tersentak, "E-eh! Iya saya tidak apa-apa kok!" Juna sangat gugup.
"Sorry, saya terkesima melihat ciptaan tuhan yang begitu sempurna seperti Anda ini." Juna berterus terang.
Dan ucapan Juna membuat Yuri malu, wajahnya langsung menyemburkan rona merah, Yuri menjadi salah tingkah.
Suasana seketika menjadi canggung, "Sekarang bagaimana?" tanya Yuri gugup.
"Ya, sangat cantik!" jawab Juna, masih fokus dengan penampilan Yuri, sedangkan maksud pertanyaan Yuri bukan itu.
"Eeh bukan itu maksudnya!"
"Apa?"
__ADS_1
"Sekarang aku sudah siap, apa bisa kita berangkat sekarang," Yuri memperjelas.
"Oo iya mari!" Juna baru mengerti, kemudian ia segera mengajak Yuri untuk segera pergi, tapi Yuri menaruh cangkir dan cemilannya kedalam rumahnya terlebih dahulu,
Kemudian ia mengikuti langkah Juna dari belakang, Juna membukakan pintu mobilnya untuk dokter Yuri.
Yuri merasa sangat tersanjung dengan perlakuan Juna terhadapnya.
"Terima kasih …" ucap Yuri sambil masuk ke dalam mobil.
"Iya." jawab Juna sebelum menutup pintu mobilnya.
Perjalanan menuju rumah kedua orang tua angkat Juna pun di mulai.
Namun dalam perjalanan hanya ada keheningan, suasana terasa begitu canggung akibat tingkah Juna yang terasa aneh bagi Yuri.
Setelah beberapa waktu akhirnya mereka sampai di rumah Gian dan Akira.
Keduanya turun dari mobil, seperti sebelumnya Juna membukakan pintu mobil untuk Yuri, sebelum Yuri turun.
Kemudian mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah, acara memang belum dimulai, tapi suasana rumah sudah ramai.
Dan ketika Putra melihat Yuri, ia seperti diterpa angin surgawi, pandangannya begitu menyejukkan mata ketika melihat gadis itu datang, hatinya yang sedari tadi merasa gelisah, seketika itu juga terasa damai.
Tanpa sadar, sebuah senyuman terbit dari bibirnya, menambah plus ketampanannya.
Akira segera menyambut kedatangannya Yuri, lalu menggiringnya agar Yuri menghampiri Putra.
"Hay, Dokter Yuri!" tiba-tiba Putra menyapanya.
Yuri merasa heran, ia merasa tidak percaya Putra bisa menyapanya, Sebab biasanya Putra selalu ketus kepadanya.
Tapi Yuri tetap berusaha biasa saja, ia membalas dengan tersenyum kepada Putra.
Juna merasa curiga melihat gelagat Putra dan juga ibunya, Yuri seperti jadi tamu istimewa di dalam acara itu.
"Seperti ada udang di balik batu!" batin Juna.
__ADS_1