Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 188


__ADS_3

Sesuai rencana Akira, ia ingin mengadakan acara makan malam bersama seluruh keluarga besar Mahendra dan keluarga dari Akira sendiri yaitu Ayah dan Ibunya.


Akira sudah menyiapkan semua persiapan mulai dari membooking restoran dan menu makanan apa saja yang ingin Akira pesan, ia juga sudah mengundang seluruh keluarganya untuk bisa hadir berkumpul di restoran xxx pada pukul 7 malam.


Namun Akira sudah lebih dahulu tiba di tempat acara untuk memeriksa segala sesuatunya, agar tidak ada yang kurang  suatu apapun.


Di Sore hari Putra pulang lebih awal dari kantornya ia, sengaja melakukan hal  untuk mempersiapkan diri untuk acara nanti malam.


Dari kantor Putra langsung menuju rumahnya untuk mandi lalu bersiap, menjemput Yuri ke rumah sakit di mana Yuri bertugas, karena Yuri sudah di beri tahu tentang acara itu, Yuri juga sengaja meminta izin untuk pulang lebih cepat, yang biasanya Yuri akan pulang di atas jam shalat magrib. Namun, kali ini Yuri sudah bersiap pulang dari jam lima sore.


Ketika Yuri sudah bersiap akan pulang, tiba-tiba Putra datang keruangannya.


"Selamat sore, bidadariku!" Putra langsung menyapa Yuri.


Sebenarnya Yuri sedikit terkejut dengan kedatangan Putra yang tiba-tiba.


"Eeh ayangku, waalaikumsalam …!" Yuri sengaja membalas salam untuk menyindir Putra yang masuk tanpa mengetuk pintu dan tanpa mengucapkan salam.


Tentu saja Putra merasakan sindiran itu, secara tidak langsung Yuri menegurnya, "He, he, he, sorry aku lupa!" Seperti biasa Putra selalu cengengesan jika merasa salah.


"Aku ulangi lagi ya!" Putra kembali keluar.


"Heh, tidak usah sudah terlanjur kali!" Yuri mencegah Putra, tapi Putra tetap berlalu keluar ruangan.


Kemudian Putra mengetuk pintu, tok, tok, tok, suara pintu di ketuk.


"Assalamu'alaikum …!" Lanjut Putra.


Yuri hanya mengulum senyum melihat tingkah Putra, "Waalaikumsalam …!" kemudian sahut Yuri.


"Nah, gitu dong!" seru Yuri sambil tersenyum.


"Iya, saking semangatnya aku akan bertemu denganmu, aku sampai lupa mengucap salam." Putra berkata seakan sedang menggombali Yuri.


"Aah, kamu bisa saja!" Yuri tidak percaya, ya memang sifat putra seperti itu.


 "Eeh! Aku serius loh!" 


" Iya, iya …!" 


"Apa kamu sudah siap?" tanya putra untuk memastikan.


"Siapa dong!" Sahut Yuri yang memang sudah bersiap sedari tadi.


"Let's go!" Seru putra sambil menaruh tangannya di pinggangnya, memberi isyarat agar Yuri menggandengnya.

__ADS_1


Yuri malah menatap wajah tampan putra dengan lekat.


Putra kembali menatap Yuri, dan sengaja bermain mata untuk menggoda Yuri, membuat Yuri malu, lalu menundukkan wajahnya.


"Kenapa? Aku ganteng ya?" sifat narsis putra keluar.


"Iya kamu ganteng banget, aku wanita beruntung bisa jadi kekasihmu!" Yuri sengaja mengimbangi Putra.


Dan ucapan Yuri berhasil membuat hati Putra berbunga-bunga dan membuatnya semakin percaya diri.


Putar menghadap ke arah Yuri, lalu merangkul pinggang rampingnya, kemudian ia menyentuh dagu Yuri lalu sedikit mengangkat wajah Yuri yang sedang tertunduk malu, namun Yuri tidak sanggup menatap wajah tampan Putra, apalagi beradu pandang dengannya.


"Tatap aku sayang! Aku juga beruntung bisa memiliki wanita secantik dirimu, di saat semua orang berlomba-lomba, mati-matian mengejar cintamu, tapi dengan mudahnya kamu membuka hatimu untukku, jadi aku pria yang sangat beruntung tanpa susah payah mengejar cintamu seperti pria lain!" entah apa maksud Putra bicara seperti itu, apa dia membanggakan dirinya sendiri, atau memuji Yuri, yang jelas Putra merasa sangat beruntung bisa memiliki Yuri.


"Aah, kamu gombal terus dan narsis terus dari tadi, sudah ayo kita pulang, nanti kita telat lagi." ucap Yuri menepis kata-kata Putra yang terkesan sedang menggombali,


Yuri segera berjalan kearah pintu sambil menarik tangan Putra agar mengikutinya keluar dari ruangannya.


"Dih kamu tidak sabaran banget sih, pengen cepat-cepat ketemu calon mertua ya!" Sambil berjalan putra tetap saja menggoda Yuri.


"Apa, pengen cepat makan, ketauan banget sih kalau kamu lagi lapar!" Sambung putra.


Tapi Yuri tidak menggubrisnya, "Au ah, berisik!" ketus Yuri.


Putra malah terkekeh, sambil berjalan diseret oleh Yuri yang berjalan di depannya sambil menarik tangan Putra.


"Eeh, sorry, sorry!" ucap orang yang menabrak Yuri.


"Heh, kalau jalan pake mata, kebiasaan kamu kalau jalan asal ngelangkah aja!" tegur Putra sambil menggerutu.


"Yaellah… aku dah minta maaf, soalnya aku buru-buru ini!" ucap orang yang menabrak Yuri, ia tidak terima mendengar gerutuan Putra.


"Aah, lu! alasan aja!" balas Putra lagi.


"Sudah-sudah, aku tidak apa-apa kok!" Yuri memisahkan perdebatan Putra dengan orang yang menabrak Yuri yang ternyata Juna lah orangnya.


"Kamu tidak apa-apakan dokter Yuri?" tanya Juna mengkhawatirkan Yuri.


"Pake nanya lagi! dah tau dia mau jatuh, untung ada aku di belakangnya jadi bisa sigap siaga aku menahan tubuhnya hingga tiba sampai terjatuh!" balas Putra lagi.


"Ya, sebagai kekasihnya lu emang harus sigap menjaganya," ketus Juna.


"Udah, aku gak apa-apa kok!" Yuri bicara dengan nada lembut sambil meraih tangan Putra dengan maksud menenangkannya.


"Anda beneran tidak apa-apa kan Dok?" Juna kembali bertanya untuk memastikan.

__ADS_1


Yuri tersenyum, "Beneran saya tidak apa-apa!" jawab Yuri.


"Oke, sorry aku tinggal dulu ada pasien kecelakaan yang akan di operasi karena kondisi darurat, jadi aku harus menanganinya sekarang juga!" terang Juna .


"Hey, emang Ibu tidak memberitahumu kalau ibu mengadakan acara makan malam keluarga malam ini?"  tanya Putra kepada Juna.


Juna mengiyakan kalau ibu mereka sudah memberi tahunya, tapi itu tidak penting bagi Juna, ia lebih memilih untuk tidak hadir, apa lagi ada pasien dadakan seperti sekarang ini, bisa Juna jadikan alasan untuk tidak hadir dalam acara makan malam yang di adakan oleh Akira.


"Ya nanti kalau sempat aku akan datang, tolong beri tahu Ibu, maaf aku harus pergi." Juna berlalu dari sana meninggal sepasang kekasih tersebut.


Tapi dalam hatinya, Juna berkata-kata, "Untuk apa aku hadir, lagian aku bukan bagian dari keluarga kalian, aku hanya orang lain, yang beruntung bisa hidup di tengah-tengah kalian, walaupun aku tak hadir, tidak akan berpengaruh apapun untuk kalian, bahkan seperti Papa Gian malah akan senang kalau aku tidak hadir." Juna bicara dalam hatinya, ia sadar betul siapa dirinya.


Tapi sebenarnya semua keluarga memang menyayanginya, baik seluruh keluarga Mahendra, maupun kedua orang tua Akira, mereka juga menganggap Juna sebagai cucu mereka, sama seperti Putra, bahkan kedua orang tua Akira ikut membantu mengasuh kedua cucunya itu, saat mereka masih kecil.



Putra dan Akira sudah sampai di depan rumah kontrakan Yuri, putra turun dari mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuk Yuri.


"Silahkan turun bidadariku …!" Putra mempersilahkan Yuri untuk keluar dari mobilnya.


Yuri tersenyum bahagia di perlakukan seperti itu oleh kekasih tampan rupawannya, "Terima kasih, tampanku!" balas Yuri.


Yuri mengajak Putra untuk berjalan ke rumahnya. tapi Putra merasa ragu, "Emang boleh aku ikut masuk?"  Putra bertanya untuk memastikan.


"Boleh, tapi tunggu di luar," tegas Yuri.


"Ya, sama aja bohong," Putra lesu mendengarnya.


"Iih, iya boleh masuk tapi mau di grebek pak RT atau para warga, mau di arak para warga?"


"Nggak ah, malu-maluin!"


"Ya, makanya tunggu di luar aja," 


"Cantik, ini aku juga dah di luar," Putra bicara penuh kelembutan, sambil mengelus rambut Yuri..


Yuri tersenyum malu, "Iya babang tampanku, tapi di teras nunggunya nanti aku buatkan teh hangat deh," Yuri tetap ingin Putra menggu di terasnya.


"Oke, Oke …!" Akhirnya Putra mengikuti apa yang Yuri inginkan.


Yuri masuk ke dalam rumah kontrakannya sedangkan Putra duduk di depan  terasnya.


Seperti yang pernah Yuri lakukan kepada Juna, Yuri juga melakukan hal yang sama kepada Putra, ia tidak membiarkan tamunya hanya duduk termenung.


Yuri membuatkan teh hangat dan cemilannya, agar Putra tidak merasa jenuh ketika menunggunya.

__ADS_1


Dan ketika Yuri menyuguhkan teh hangat nya Putra merasa Yuri sangatlah perhatian kepada nya. "Ya ampun! Bidadariku, sudah cantik, baik hati, perhatian pula, terima kasih banyak," Putra terus saja menyanjung Yuri.


Membuat Yuri merasa terlena dibuatnya, dan ia selalu merasa senang dan nyaman berada di samping Putra, atau karena mungkin ia sedang di mabuk cinta, dan sedang merasakan perasaan bucin, sehingga bersama Putra dunia terasa indah.


__ADS_2