Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 122


__ADS_3

Sang fajar telah menyingsing, keberadaannya sudah hampir di atas kepala, sinarnya tak lagi menghangatkan, melainkan bisa membuat kulit gosong terbakar karena panas dari pancaran sinarnya.


Hari ini, mama Nirmala mengajak Rima untuk melakukan perawatan, dan merubah tampilannya agar lebih fresh. Mama Nirmala juga mengajak Rima berbelanja pakaian di butik ternama langganan dirinya.


Rima juga di ajak berkenan dan konsultasi dengan kawan Mama Nirmala yang mengerti tentang bahasa tubuh agar Rima bisa bersikap lebih elegan dan tidak kampungan.


Mama Nirmala sengaja melakukan ini semua untuk menarik perhatian Erwin terhadap istrinya, agar Rima memiliki daya pikat bagi sang suami, Rima diajarkan tata cara berjalan, tata cara makan, berpakaian, Busan yang seperti apa yang harus dikenakan dalam setiap acara.


Rima harus paham betul tema acara tersebut, karena itu akan menentukan kostum seperti apa yang harus dikenakannya, agar tidak terjadi insiden salah kostum yang bisa membuat malu si pemakainya.


Rima menyimak dengan antusias setiap arahan-arahan yang diberikan kepadanya, agar ia dapat menerapkan semua ilmunya di kehidupannya.


Mama Nirmala melakukan hal ini untuk mengantisipasi jika suatu saat Erwin mendapat undangan makan malam di acara penting dan mengharuskan mengajak pasangannya, seperti Papa Arga, yang sering mengajaknya untuk menghadiri acara semacam itu.


Memang butuh waktu untuk menguasai semua yang diajarkan, tapi untuk seterusnya Rima bisa bertanya kepadanya jika ada yang tidak Rima mengerti nantinya.


Hampir seharian Rima bersama mama Nirmala, melakukan kegiatan untuk merubah diri Rima agar dirasa cukup pantas mendampingi Erwin putranya.


Mamah Nirmala juga sudah mendaftarkan Rima di salah satu universitas perguruan tinggi, agar Rima melanjutkan pendidikannya, supaya ia bisa mengimbangi Erwin dalam pendidikannya.


"Mah, apa semua ini tidak berlebihan?" ucap Rima yang merasa tidak enak hati.


"Rima, saya melakukan ini semua untuk kebaikanmu, agar tidak ada orang yang merendahkanmu, jika begitu bukan hanya kamu yang merasa malu, Erwin juga sebagai suamimu akan merasa malu, jika semua itu terjadi." Terang Mama Nirmala, agar Rima mengerti dengan apa yang dia lakukan, agar Rima tidak salah paham kepadanya.


Rima mengangguk, Rima memang sadar betul dirinya berasal dari kasta bahwa maka dari itu ia mengikuti semua arahan yang diajarkan kepadanya.


"Setelah ini kita ke kantor dulu ya, Mama mendapat chat dari papa diminta untuk ke kantor ada urusan pekerjaan penting," Mama Nirmala memberi tau Rima rencana selanjutnya.


Rima mengangguk patuh, "Iya, mah." 


Iya, saat ini mereka sedang berada di restoran, mereka baru sempat untuk makan siang.


Tiba-tiba ada teman-teman sosialita mama Nirmala yang menghampiri mereka berdua ( Mama Nirmala dan Rima)


"Hay, jeng …," sapa salah satu dari mereka.


Sontak Mama Nirmala langsung melihat ke arah mereka semua, mama Nirmala segera memasang senyum ramahnya.


"Sedang makan siang jeng?" 


"Iya, mari gabung." sahut Mama Nirmala.


Mereka malah saling menoleh antara satu sama lain, karena mereka terdiri dari tiga orang. Lalu mereka saling mengangguk sebagai isyarat setuju menerima tawaran Mama Nirmala untuk ikut bergabung dengannya.


Kemudian ketiganya segera duduk di bangku kosong satu meja dengan mama Nirmala.


Rima menjadi pusat perhatian mereka bertiga, "Ini siapa jeng?" tanyanya Kepo.


"Ini menantu saya." Jawab tegas mama Nirmala memperkenalkan Rima.


Rima melempar pandangan dan melempar senyuman kepada mereka satu persatu sambil menunduk hormat.


"Cantik sekali," mereka berbasa-basi memuji kecantikan Rima. Ya, Rima memang sangat cantik.

__ADS_1


"Terima kasih." Sahut Rima , sambil tersenyum ramah.


"Eeh, jeng bukannya menantimu sedang hamil, memangnya sudah lahiran?" yang ia maksud adalah Akira.


"Oo …  itu Akira istrinya Gian, dia blm melahirkan," jawab mama Nirmala.


"Lalu ini istrinya siapa, apa istri keduanya?" tanya-nya lagi.


"Astaga, pikiran kalian tuh ya," mama Nirmala merasa terkejut dengan sangkaan mereka.


"Rima, istri Erwin putra pertama Saya." terang Mama Nirmala.


"Oo yang DUREN (duda keren ) itu ya?"


"Iya, "  jawab singkat mama Nirmala.


"Kapan dia menikah? kok kita gak di undang sih jeng," 


"Mereka ( Erwin dan Rima) baru melangsungkan akad nikah aja, nanti resepsinya akan digelar dalam waktu dekat ini, tenang saja nanti kalian akan mendapat undangannya." terang Mama Nirmala lagi.


"Oke, kita tunggu ya jeng undangannya." 


Tapi percakapan tidak hanya sampai di situ, mereka memang bermulut lemes, dan sangat kepo, mereka ingin mengorek informasi sedetail mungkin. Mereka juga menanyakan dari kasta mana Rima berasal.


Saat salah satu dari ketiga teman sosialita Mama Nirmala menyinggung hal itu, ekspresi wajah Rima langsung menegang.


Ia takut kastanya dapat mempermalukan mertuanya, Rima menundukkan kepalanya, di bawah meja mama Nirmala menggenggam tangan Rima, sebagai isyarat bahwa Rima jangan merasa minder, "Jangan tundukkan kepalamu, Nak!" suar hati  mama Nirmala.


Tapi Mama Nirmala hanya bisa bicara dalam hatinya, takut para temannya curiga dan mencibirnya.


"Menantu saya, berasal dari luar kota, dari keluarga sederhana, background keluarganya hanya seorang petani, tapi bisa mencukupi kebutuhan mereka." Mama Nirmala menjawab pertanyaan temannya, yang bertanya tentang latar belakang menantunya.


"Oo, Erwin kan pengusaha hebat, mengapa tidak mencari istri dari kalangan pengusaha juga." Mereka malah memojokkan Rima.


Mama Nirmala tersenyum mendengarnya, sebab Mama Nirmala sudah tau sifat teman-temannya seperti apa, pasti mereka akan bertanya tentang itu, maka dari itu mama Nirmala sudah mengantisipasinya dengan mengajarkan banyak hal kepada Rima, meskipun Rima terlihat belum siap untuk menghadapinya.


"Kenapa memangnya, jika anak saya menikahi anak petani, bukannya petani juga termasuk pengusaha, bisa menghasilkan hasil bumi, cukup untuk mereka makan, bisa mereka jual sisanya, merek bisa beli mobil, bisa naik haji, dari hasil taninya, petani juga banyak yang jadi sarjana, seperti menantu saya ini sudah terdaftar namanya di salah satu universitas perguruan tinggi di kota ini, sebagai mahasiswa pertanian."


"Lagi pula ya, maaf bukannya sombong, anak saya pengusaha sukses, bisnisnya sudah merambah keluar negeri, ke negri jepang, soal ekonomi tidak perlu mengandalkan istrinya, ia hanya butuh pendamping hidup untuk dia bahagiakan, bukan untuk dia pekerjaankan." tegas mama Nirmala. Menerangkan penuh tekanan.


Dan jawaban Mama Nirmala membuat mereka semua tercengang, karena semua ucapan Mama Nirmala ada benarnya.


Rima saja sampai bersorak Sorai dalam hatinya, betapa bangganya Rima kepada mama mertuanya, Tapi ia juga merasa terharu atas pembelaannya.


Tapi Rima sengaja merendah, "Ah, Mama tidak usah berlebihan seperti itu." 


"Loh, siapa yang berlebihan, Sayang. Mama lihat sendiri kok di pekarangan rumah orang tuamu, terparkir dua mobil milik ayahmu, satu mobil mobil pick up untuk transportasi dalam usaha pertaniannya, dan satu lagi mobil Pajero sport, untuk keperluan pribadi, atau untuk bepergian." 


"Iya, tapi itu tidak seberapa, Mah dibandingkan dengan kalian." Rima terus menimpali dengan merendah.


"Sayang, yang penting berkah, meskipun hanya seorang petani, orang tuamu sudah jadi haji, Mama aja baru sempet umroh."


Mama Nirmala dan Rima sengaja berbincang seperti itu, untuk meyakinkan mereka.

__ADS_1


Ya, uang yang sempat diberikan oleh Erwin tempo hari, sengaja dibelikan mobil oleh orang tua Rima, mereka juga sudah menunaikan ibadah haji, dari tabungan mereka hasil dari bertani mereka tabungkan sedikit demi sedikit, sebab gaji Rima sebagai babysitter pun lumayan besar tiap bulan Rima kirimkan kepada kedua orang tuanya.


Sehingga kehidupan mereka sejahtera dan  bisa dibilang cukup berada di kampungnya.


Setelah mendengar tentang latar belakang Rima, ketiga teman mama Nirmala merasa kepanasan dan memilih untuk pindah dari sana.


"Eeh, Jeng. Seperti terlalu sempit makan bersama di meja ini, lebih baik kamu cari meja lain saja ya,."


"Oo, silakan, Jeng, saya dan menantu saya juga memang sudah harus pergi ada urusan lain." Mama Nirmala mempersilahkan dengan senang hati.


Ketiganya segera pergi dari sana, dengan suasana hati yang kepanasan.


Rima menggenggam tangan mama Nirmala, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Terima kasih ya, Mah!" Rima merasa terharu atas pembelaan mertuanya.


"Jangan khawatir, Rima, jangan pernah tundukkan kepala untuk melawan mereka." Ucap Mama Nirmala, memberi support kepada Rima, untuk membangun rasa percaya dirinya.


Rima menatap mama mertuanya, dengan tatapan sendu, ia benar-benar terharu atas sikap mama mertuanya.


"Mah, kenapa Mama baik sekali kepadaku?" 


"Rima, aku tidak akan terima jika ada orang yang merendahkanmu, sebab jika mereka merendahkanmu sama saja mereka merendahkan putraku, dan tidak ada haknya bagi mereka merendahkan orang lain, mereka juga bukan orang yang sempurna," tegas mama Nirmala.


"Iya, Mah," Rima dapat banyak pelajaran hari ini dari mama mertuanya, ia bisa tau betapa baik dan tulusnya mama mertuanya.


"Ya, sudah Ayo kita pergi." Mama Nirmala menyudahi percakapan mereka dan makan siangnya.


Rima tetap setia mengikuti setiap instruksi dari mama mertuanya.


Sesuai rencana Mama Nirmala mampir ke perusahaannya untuk menemui suaminya, karena ada pekerjaan atau lebih tepatnya ada berkas yang membutuhkan tanda tangannya.


Rima berjalan berdampingan dengan mama mertuanya, semua pekerja yang berpapasan dengan mereka berdua melempar senyum dan menunduk hormat, mama Nirmala sebagai orang yang baik dan juga ramah, ia membalas sapaan hormat para pekerjanya dengan kembali tersenyum dan mengangguk kan kepalanya. Sebagai isyarat bahwa dirinya menerima penghormatan mereka.


Itu lah mengapa para pekerja begitu menyukai mama Nirmala, beliau tidak pernah sombong,  tapi selalu tegas dalam setiap mengambil keputusan.


Setelah sampai di ruangan Papa Arga, ternyata Papa Arga sedang bersama para putranya.


Mereka semua menoleh ke arah pintu saat mama Nirmala masuk, Erwin sedikit terkejut melihat Rima bersama Mamanya.


"Selamat siang!" Mama Nirmala menyapa para putranya dan juga suaminya.


"Siang …." Jawab mereka serentak.


Seperti biasa sesuai adab Rima tersenyum dan mengangguk hormat kepada semuanya.


"Rima, kamu ikut?" tanya Erwin.


"Iya, Mas." Jawab Rima, terlihat lebih santai.


Karena sudah diajarkan atau diperingati oleh Mama Nirmala untuk dirinya lebih percaya diri.


Mama Nirmala sengaja diam, tidak membantu Rima menjelaskan mengapa Rima bisa ikut bersamanya.

__ADS_1


Mama Nirmala ingin Rima sendiri yang berkata-kata, menjelaskan kepada suaminya mengapa dirinya bisa ikut bersamanya. Sebab mama Nirmala ingin Rima lebih sering berinteraksi dengan suaminya, agar terbiasa dan tidak canggung lagi.


__ADS_2