
Lisa juga meminta maaf kepada Erwin karena ia telah berbicara seakan mereka akan benar-benar akan menikah.
….
Padahal di antara mereka belum ada ikatan apapun.
"Hanya ingin akrab dengan Sisil jadi aku mengatakan seakan kita memang benar-benar punya hubungan."
"Iya, aku mengerti." balas Erwin.
….
Saat pagi hari di kediaman papa Arga, Erwin menghampiri putrinya, dan kebetulan hari ini mereka sedang libur setelah acara kemaren yang lumayan menguras tenaga.
Di kamar Sisil sudah terlihat Rima yang sedang membereskan kamar Sisil, sedangkan Sisil sendiri sedang bersama kakek dan neneknya di ruangan lain.
Rima terkejut melihat Erwin yang menemuinya.
Rima menghentikan aktivitas lalu menunduk hormat menyapa tuannya, jantungnya berdebar kencang ketika melihat Erwin, entah mengapa ia bisa seperti itu.
"Selamat pagi, Tuan."
Erwin berekspresi datar, "Iya." jawab singkat Erwin.
"Nona Sisil sedang bersama kakek dan neneknya tuan." Rima berniat memberi tahunya.
"Iya, saya tau." sahut Erwin ketus.
"Saya sengaja menemuimu, ingin berbicara denganmu." terang Erwin yang sengaja menemuimu Rima.
Hati Rima berdebar tidak karuan.
"Iya Tuan, ada apa ya?" Rima penasaran.
Kemudian Erwin mengutarakan apa yang ingin ia katakan kepada Rima, ia menghimbau agar Rima tidak mempengaruhi Sisil dengan pengaruh buruk, karena Sisil masih kecil dan masih sangat polos, jadi bisa dengan mudah di pengaruhi.
Sisil bisa menjadi pribadi yang jahat, atau pribadi yang kurang baik.
Rima sungguh tersinggung dengan ucapan Erwin, secara tidak langsung ia di tuduh sebagai orang yang berpengaruh buruk untuk Sisil.
Dan hati Rima terasa sangat sakit ketika itu, tapi ia berusaha untuk tetap tenang.
Karena Rima juga berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya.
"Tuan, maafkan saya jika saya di anggap seperti itu, tapi saya tidak pernah berniat seperti itu, saya hanya membacakan dongeng cinderella dan Rapunzel tuan, saya juga sudah menjelaskan jika ibu tiri jahat itu hanya ada dalam dongeng saja, sungguh tuan, silahkan anda tanyakan kepada Sisil jika tidak percaya." terang Rima.
Tapi semua itu tidak berpengaruh kepada Erwin, ia sudah terlanjur kecewa. Dan tidak ingin hal itu terulang kembali.
"Ya, terserahlah …." sahut Erwin ketika mendengar penjelasan Rima.
"Jika hal ini kembali terjadi, jangan salahkan kami jika kami tidak bisa mempercayakan Sisil kepadamu lagi." Secara tidak langsung Erwin mengancam Rima akan memecat Rima sebagai pengasuh Sisil.
"Iya Tuan, jika di anggap salah saya siap untuk mengundurkan diri saat ini juga."
Karena memang sebenarnya orang tuanya meminta Rima untuk pulang, untuk melaksanakan pernikahan atas perjodohan mereka, Rima sengaja tetap bertahan hanya demi Sisil, tapi jika begitu Rima siap untuk mengundurkan diri.
Rima merasa sudah tidak di perlukan lagi di sana, dan itu di jadikan alasan untuk Rima pergi.
Ia merasa sudah tidak nyaman bekerja di sana, meskipun Rima sudah sangat menyayangi Sisil seperti anaknya sendiri, tapi Sisil tetaplah anak orang lain lambat laun Rima akan tetap kehilangan Sisil.
…
Semetara Akira masih betah tidur di tempat tidurnya, karena semakin membesarnya kehamilannya, Akira merasa semakin malas untuk bergerak.
__ADS_1
Sebenarnya bukan malas, ia merasa sulit untuk bergerak, karena ukuran besarnya kandungan Akira berbeda dari wanita hamil pada umumnya, meskipun masih menginjak kandungan tujuh bulan tapi besar perut Akira seperti ukuran hamil sembilan bulan.
Namun meskipun begitu keluarga tidak merasa heran, karena menurut diagnosa Dokter melaluI pemeriksaan USG diketahui ternyata Akira mengandung bayi kembar.
Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan besarnya ukuran perut Akira pada usia kandungan tujuh bulan tapi sudah seperti usia kandungan Sembilan bulan, berbeda dari ibu hamil pada umumnya.
Karena itu keluarga sangat menjaga kehamilan Akira, dan memaklumi jika Akira merasa cepat lelah dan kesulitan untuk beraktivitas.
Seperti pagi ini, Akira sudah membersihkan diri, tapi ia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.
Gian sedikit khawatir melihatnya karena Akira tidak biasanya seperti itu, meskipun malas dan sulit untuk bergerak, tapi bisanya ia selalu menyempatkan diri untuk sekedar jalan santai di teras rumah.
Gian yang sedang duduk di sofa sambil memainkan laptopnya, fokus memperhatikan istrinya.
Karena rasa khawatirnya, ia meletakkan laptopnya di atas meja kemudian ia menghampiri istrinya.
Gian naik ke atas tempat tidur dan mengelus kepala istrinya yang sedang berbaring.
"Sayang … kamu kenapa ko aku perhatikan kamu seperti sedang merasakan sesuatu?" tanya Gian menyelidik.
Akira menganggukkan kepalanya, bawa memang benar dirinya sedang merasakan kontraksi di perutnya.
Wajah Gian panik mendengarnya. "Kenapa, apa kamu akan melahirkan?" Gian kembali bertanya.
Akira menggenggam tangan suaminya, "Kamu tidak usah khawatir, katanya Ibu hamil memang sering begini, merasakan kontraksi tapi bukan berarti akan melahirkan, karena mengingat usia kandungannya juga masih menginjak tujuh bulan masih jauh dari prediksi kelahiran." terang Akira menenangkan suaminya.
"Lalu apa yang harus dilakukan jika seperti ini?" Alih-alih menenangkannya, Gian malah semakin panik.
Akira tersenyum, melihat kekhawatiran suaminya. Ia merasa senang karena Gian telah menjadi suami siaga baginya.
Sebab Gian lebih sering menemani Akira ketimbang pergi bekerja, ia memilih mengerjakan pekerjaannya di rumah, dan jika harus pergi hanya untuk urusan penting saja, seperti meeting dengan klien penting yang tidak bisa ditunda atau tidak bisa diwakilkan kehadirannya.
Untuk itu barulah Gian pergi, dan itu pun pikirannya selalu mengkhawatirkan istrinya, jadi sebisa mungkin ia akan cepat-cepat untuk kembali.
Ya, Gian mengelus-elus perlahan perut Akira sambil berbicara seakan sedang berbincang dengan calon buah hatinya.
"Hay … anak-anak papa … sehat-sehat ya di dalam sana, jangan pada nakal ya, kasihan bunda kalian kesakitan ini, papa jadi tidak tega melihatnya." Gian berbicara sambil menulis perut Akira penuh kasih sayang dan penuh kelembutan.
Membuat Akira merasa begitu nyaman dan perlahan rasa sakit karena kram di perutnya pelan mengendur dan hilang.
Akhirnya Akira bisa tersenyum bahagia, setelah kondisinya sudah stabil kembali.
Gian duduk di atas tempat tidur menyandarkan kepalanya di kepala ranjang, kakinya ia selonjor kan tangan kanannya mengusap-usap perut istrinya, dan tangan kirinya memegang tangan Akira yang dilingkarkan di pinggang Gian.
Posisi Akira berbaring miring menghadap Gian, tangan kanannya melingkar di pinggang Gian yang dalam posisi duduk. Akira sangat nyaman dengan posisi seperti itu.
"Yang … maafkan aku, Aku sangat merepotkan mu." ucap Akira tiba-tiba, karena dalam hatinya ia merasa tidak enak hati.
"Tidak usah meminta maaf, ini sudah kewajibanku sebagai suamimu dan sebagai ayah dari anak-anakku." Gian tidak pernah keberadaan Akira bermanja-manja dengannya.
Karena pengorbanan Akira lebih berat dari pada dirinya, saat mengandung seperti sekarang ini.
Jadi sebisa mungkin Gian ingin membantu meringankan beban yang Akira rasakan.
…
Rima sudah mengemasi seluruh barang-barangnya ia sudah siap untuk pergi dari sana.
Setelah berbicara dengan Erwin, Rima sudah yakin dengan keputusannya untuk resign dari pekerjaannya.
Dengan langkah penuh keyakinan Rima menghampiri seluruh tuan rumahnya yang sedang berkumpul di ruang keluarga termasuk Sisil juga sedang berada di sana.
Rima tidak lagi memakai seragam babysitternya, ia mengenakan rok bermodel payung yang menutupi kakinya sampai tumitnya dan kaos t-shirt lengan panjang, dengan rambut yang di kepang satu ala-ala gadis desa, penampilan yang sangat sederhana.
__ADS_1
Namun Rima terlihat cantik alami dengan penampilannya seperti itu, karena jarang sekali Rima berpenampilan seperti itu.
Hari-harinya selama di sana memakai seragam khusus babysitter dengan berbagai warna namun dengan model yang sama, yang sengaja di berikan oleh majikannya, cirinya sebagai pengasuh Sisil.
Ketika Rima sudah di hadapan semuanya Rima menyapa semuanya, "Selamat pagi semuanya."
Kemudian semua mata tertuju padanya, mereka keheranan melihat penampilan Rima yang tidak biasa, di tambah Rima membawa tas besar di tangannya.
"Rima kamu mau kemana?" tanya Mama Nirmala.
Sisil langsung berlari ke arahnya, "Mbak mau jalan-jalan ya, ko aku gak tau sih, aku ko gak di ajak." ucap Sisil polos.
Rima berjongkok l untuk mensejajarkan dirinya dengan Sisil, Rima ingin berbicara kepada Sisil memberi pengertian kepadanya.
"Sisil sayang … Mbak Rima mau izin pulang dulu ya, Sisil jangan nakal disana, nanti jika umur panjang dan diberi kesempatan untuk kita bertemu, pasti kita akan bertemu lagi." Kata-kata Rima membuat Mama Nirmala, dan papa Arga serta Sisil curiga bahwa ia tidak akan pergi dan tidak akan kembali lagi.
"Rima … apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya mama Nirmala.
"Maafkan saya Nyonya, karena sebelumnya tidak memberi tahu dahulu, saya ingin izin pulang dan mengundurkan diri." terang Rima.
"Kenapa mendadak sekali?" Papa Arga angkat bicara.
"Sebenarnya sudah sejak lama orang tua saya meminta untuk saya segera pulang, karena saya sudah mereka jodohkan di kampung, jadi dalam waktu dekat ini mereka akan menggelar pernikahan saya dengan pemuda pilihan mereka." Rima menjelaskan,
"Jadi mau tidak mau saya harus pulang, dan mengundurkan diri, kalau tidak mereka akan menjemput saya secara paksa." Lanjut Rima.
Rima sengaja tidak menceritakan obrolannya dengan Erwin sebelumnya.
Karena jika majikannya ( Mama Nirmala dan Papa Arga) tau akan hal itu , sudah pasti majikannya akan menahannya untuk pergi dan tidak akan mengizinkannya untuk resign.
Erwin sendiri tetap diam tidak bereaksi apapun, padahal dia juga sedikit terkejut dengan tindakan Rima yang benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Dalam diam, hati Erwin merasa sangat bersalah, karena ucapannya Rima merasa tersinggung dan malah benar-benar mengundurkan diri.
Ya, alasan Rima tentang perjodohannya di kampung itu memang benar, dan di tambah Rima juga sudah punya rencana pergi untuk menepis perasaannya kepada Erwin, di tambah lagi tuduhan Erwin yang membuatnya tersinggung dan sakit hati, membuat Rima yakin untuk resign.
Dari pada berharap Erwin membalas perasaannya lebih baik Rima pergi dari sana,
Karena pada kenyataannya Erwin malah menuduhnya yang tidak-tidak, karena itu Rima memantapkan rencananya untuk benar-benar pergi.
Meskipun hati berat untuk meninggalkan Sisil yang sudah sangat ia sayangi.
"Rima, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya, ini zaman modern, kamu juga cantik, kenapa kamu mau dijodohkan." seru mama Nirmala, menyayangkan tindakan orang tua Rima.
"Meskipun sekarang zaman modern, saya tetap orang kampung Bu, di kampung saya gadis seusia saya sudah pada menikah dan malah sudah pada punya anak, jadi orang tua saya di olok-olok bahwa anak mereka adalah perawan tua, Bu."
"Karena itu saya dijodohkan, agar segera menikah." Terang Rima.
"Tapi tidak harus dijodohin juga dong Rima." Papa Arga kembali ikut menimpali karena merasa geregetan mendengar cerita Rima.
Rima tersenyum, tidak ada guratan kesedihan atau penyesalan di dalam diri Rima saat itu, sepertinya Rima memang sudah sangat siap untuk pergi dan dijodohkan.
"Ya, kalau tidak dijodohkan kapan saya menikahnya tuan, orang tua saya sudah tidak sabar lagi ingin melihat saya menikah, sedangkan saya sendiri sampai saat ini tidak punya teman lelaki apa lagi pacar he … he …" Rima malah cengengesan menutup perasaannya yang kacau balau saat itu, tapi ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Agar ia bisa pergi dengan mudah dari sana, ia ingin melupakan semua, perasaannya kepada Erwin yang semakin hari semakin membuatnya serba salah, dan pada akhirnya ia akan tetap sakit hati bahkan akan lebih parah rasa sakit hatinya.
Maka untuk itu Rima memilih untuk pergi dan menuruti keinginan kedua orang tuanya dinikahkan dengan pemuda pilihan mereka.
...
Bagaimana dengan Sisil, saat Rima benar-benar pergi?
Simak kisah selanjutnya di bab berikutnya ...
__ADS_1