
...Yang menunggu part Raka-Erina mari merapat. Jangan lupa ramein part ini ya....
... ...
...Happy reading...
***
Setelah sadar dari pingsannya dan sampai pagi ini Erina dibuat bingung dengan sikap Raka. Ia tak banyak bicara hanya saja banyak pertanyaan di benaknya apalagi ada kedua orang tuanya di sini. Nathan menatap tajam ke arah Raka yang tak mau menyingkir dari sisi Erina, membuat Nathan geram dengan sikap Raka yang seperti anak ayam yang takut akan kehilangan induknya.
"Apa mas Raka sudah mengatakan yang sejujurnya kepada ayah dan bunda jika kami menikah siri? Tatapan ayah kepada Mas Raka seperti ingin menelan hidup-hidup," ucap Erina di dalam hatinya.
"Jika benar mas Raka sudah jujur apa itu artinya kami akan berpisah? Kenapa rasanya aku sama sekali tidak ingin berpisah dengan mas Raka seperti ada magnet yang membuat aku ingin terus bersama mas Raka," gumam Erina di dalam hati.
Erina sama sekali belum tahu jika dirinya sedang mengandung karena sejak ia sadar suami dan ayahnya terlihat perang dingin dan tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir keduanya hanya sang bunda lah yang terus mengajaknya berbicara. Erina bahagia dengan perhatian Gladis saat ini karena ia ingin terus di manja oleh orang terdekatnya.
"Setelah kamu sehat kita akan pulang ke rumah," ucap Nathan dengan penuh penekanan apa kata rumah yang membuat Raka kembali kesal.
"Erina akan tetap pulang bersama saya Ayah!" ucap Raka dengan tegas. Ia tidak ingin mengalah dengan mertuanya saat ini. Enak saja Nathan akan membawa istrinya pulang, rumah Erina adalah rumah yang mereka tempati saat ini.
"A-ayah?" gumam Erina dengan terbata.
"Kenapa kamu kaget seperti itu. Tuan Nathan adalah ayah saya sekarang Erina karena saya sudah menikahi anaknya yaitu kamu," ucap Raka dengan tegas membuat Nathan mengepalkam tangannya.
"Kamu hanya menikahi anak saya secara siri dan itu juga belum mendapatkan restu dari saya jadi saya berhak membuat Erina pulang," ucap Nathan dengan dingin.
"Itu dulu Ayah dan saya akan menikahi Erina secara sah di mata hukum dan agama," ucap Raka tak kalah dinginnya.
"CUKUP!" ucap Gladis dengan mengangkat kedua tangannya. Kedua lelaki ini sejak kemarin selalu perang dingin hingga membuatnya pusing.
Nathan dan Raka terdiam setelah Gladis sudah berbicara tetapi tatapan keduanya masih sangat tajam seakan bisa membuat tubuh masing-masing hancur.
"Kita tanya saja sama Erina-nya langsung jangan berdebat seperti anak kecil yang memperebutkan mainan," ucap Gladis dengan ketus membuat keduanya terdiam.
__ADS_1
"Gimana Sayang? Kamu mau pulang ke rumah atau pulang ke rumah suami kamu?" tanya Gladis dengan lembut mengelus rambut Erina dengan perlahan.
"B-bunda sama Ayah sudah tahu kalau aku sama mas Raka sudah menikah?" tanya Erina terbata menatap ketiga orang yang berada di ruangannya setelah keluarga yang lainnya berpamitan pulang.
"Sudah. Suamimu yang gila itu yang memberitahukannya dengan tidak merasa bersalah sedikit pun," jawab Nathan dengan datar.
"Lebih baik saya mengakuinya langsung di depan ayah dan bunda dari pada saya tidak bertanggungjawab sama sekali," ujar Raka tak mau kalah.
"Sekarang jawab Erina. Kamu mau tinggal dimana? Kamu ingatkan sekarang jika kamu sudah menjadi seorang istri dan juga kamu telah mengandung anak saya. Saya tidak mau dianggap suami yang telah menelantarkan istrinya yang sedang hamil," kilah Raka yang memang tak mau berpisah dengan Erina. Katakanlah dia posesif sekarang.
"H-hamil? Mas Raka jangan bercanda!" ucap Erina dengan terkekeh. Padahal detak jantungnya sekarang menggila karena ucapan Raka barusan.
"Siapa yang sedang bercanda?" tanya Raka dengan kesal.
"Bun, aku hamil? Aku akan menjadi ibu?" tanya Erina dengan lirih dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu.
Gladis mengangguk dengan tersenyum. Ia juga sampai mengeluarkan air mata bahagianya karena sebentar lagi ia dan Nathan akan mempunyai cucu dari Erina.
Erina mengelus perutnya yang datar. Ia menangis tanpa suara sekarang yang membuat Raka mendekat dan ikut memegang perut Erina.
"T-tapi kita hanya menikah siri Mas. Anak ini pasti tidak akan diakui nega..."
"Sebentar lagi kita akan sah di mata hukum dan agama. Jadi kamu tidak ada alasan untuk pergi dari saya," ucap Raka menyela.
"Dasar posesif," gumam Gladis dengan lirih.
Raka yang mendengarnya langsung menatap Gladis dengan bingung. Posesif? Apa iya dirinya posesif kepada Erina? Yang jelas ia tak mau Erina pergi dari rumahnya.
Erina terdiam. Ia menatap Raka dengan dalam, hatinya merasa bahagia saat Raka akan men-sah-kan pernikahan mereka secara hukum. Erina masih tak percaya jika Raka akan melakukan itu kepadanya.
"Jadi kamu harus tetap tinggal bersama saya," ucap Raka dengan posesif.
"Erina belum menjawabnya Raka!" ucap Nathan dengan datar.
__ADS_1
"Saya yakin Erina tidak menolaknya Yah!" ucap Raka tak kalah dinginnya.
Kulkas dua pintu dan kulkas empat pintu itu saling menatap dengan tajam seakan keduanya tak mau kalah antara satu dan yang lainnya yang membuat Gladis menggelengkan kepalanya.
"Raka berhak atas Erina sekarang Mas. Kamu jangan egois, aku lihat di mata keduanya ada cinta yang sangat besar," ucap Gladis menengahi.
Cinta? Apa iya Raka mencintai Erina dengan sangat besar? Kenapa dirinya tidak menyadari perasaan cintanya untuk Erina?
"Aku mau pulang sama mas Raka," ucap Erina pada akhirnya yang membuat Raka tersenyum bahagia. Ia merasa menang dari mertuanya.
"Kita akan pulang bersama!" ucap Raka dengan tegas yang membuat Nathan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
****
Setelah berdebat dengan mertuanya. Kini Raka sedang tertidur bersama dengan Erina di satu brankar yang sempit, bahkan ia memeluk Erina dengan sangat erat yang membuat Erina tidak bisa berkutik sedikit pun.
"Ayolah Erin. Jangan banyak bergerak saya takut anak saya di dalam perut kamu terjepit karena kamu banyak gerak. Lagi pula saya sangat mengantuk karena semalaman tidak tertidur," ucap Raka dengan serak bahkan matanya masih tertutup saat berbicara.
"Mana mungkin anakku yang masih kecil di dalam sana bisa terjepit," protes Erina.
"Ralat! Anak kita! Kamu masih ingatkan kita berdua yang membuatnya hingga dia tumbuh di dalam perut kamu? Itu berarti bibit yang saya tanam di perut kamu adalah bibit premium," ucap Raka dengan begitu entengnya. Ia tak tahu sekarang jika Erina merasa malu dengan ucapannya.
"Sudah tenang jangan banyak bergerak," ucap Raka yang membawa kepala Erina ke dadanya.
Kenapa ia menjadi seperti ini? Raka sama sekali tidak bisa jauh dari Erina bahkan harum tubuh Erina sangat membuatnya candu. "Erin, apakah ada yang menjual rujak mangga muda?" tanya Raka kepada Erina.
"Tidak tahu. Emangnya kenapa Mas?" tanya Erina dengan bingung.
"Tiba-tiba saya ingin memakan rujak mangga muda. Air liur saya sampai keluar banyak karena membayangkannya," ucap Raka yang tidak bisa tertidur kembali.
"Rendy harus mencari rujak mangga muda untuk saya," ucap Raka dengan tidak sabaran.
"Mas ngidam?" tanya Erina dengan tercengang.
__ADS_1
"N-ngidam? S-saya? K-kok bisa?"