Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Jodoh untuk Prasetyo


__ADS_3

Malam ini cerah. Langit begitu indah karena dihiasi taburan bintang. Berbanding terbalik dengan suasan hati Prasetyo saat ini. Kepalanya betul-betul pusing jika mengingat kejadian tadi siang.


"Perjodohan ini tidak dapat dilanjutkan," ibunya tadi berkata, membuat Andari dan orangtuanya kaget. Bagaimana tidak waktu itu Andari menghubungi mereka bahwa ia dilamar seorang laki-laki. Betapa bahagianya mereka. Setidaknya Andari akhirnya memiliki seseorang yang akan bertanggung jawab akan dirinya dan juga imam yang akan membingnya kelak.


"Ibu bercandakan?" Ayah Andari berkata dengan nada bertanya.


"Jangan main-main Bu kami dari jauh datang kemari bukan untuk dipermaikan seperti ini," timpal Ibu Andari yang tampak mulai marah, tapi berusaha untuk meredam kemarahannya itu.


"Saya tidak bercanda, saya serius."


"Bu, bukan kah kita telah sepakat...." Ayah Prasetyo tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena istrinya dengan cepat memotongnya.


"Ibu berubah pikiran Pak."


"Kenapa?"


"Kita belum mengenal Andari dengan baik."


"Tapi menurut bapak Andari anaknya baik."


"Jangan tertipu dengan penampilan luarnya Pak."


"Maksud ibu apa berkata seperti itu? Anak kami bukan anak baik-baik begitu." Ibu Andari berkata dengan nada suara mulai meninggi. Ia mulai tak dapat menahan kemarahannya. Ia betul-betul tidak terima Andari dikatakan seperti itu.


"Nah, sampeyan paham sekarang."


"Bu dengar ya, kami kemari datang dari jauh bukan untuk dihina seperti ini," Ayah Andari menimpali dengan suara tak kalah dengan istrinya.


***


Prasetyo kaget saat seseorang memegang pundaknya dan meremasnya dengan pelan.


"Kamu yang sabar yo le," Ayahnya berkata membuatnya berpaling. Ayahnya masuk ke dalam kamarnya tanpa ia sadari.


"Tapi kenapa Pak, ibu harus percaya perkataan Ayu. Tidak semua orang sama seperti Mas Hendar. Aku sudah cukup lama mengenal Andari. Kelakukan Andari di luar pondok pun tetap terjaga."


"Bapak tahu itu. Bapak tadi sudah bicara ke ibu mu tapi ibu mu tetep dengan pendiriannya."


Berbeda dengan ibunya, bagi ayahnya kasus Mas Hendar adalah suatu pembelajaran agar kedepannya lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Akan tetapi ayahnya tak lantas bersikap seperti ibunya. Selalu curiga dengan seseorang yang belum dikenal baik tanpa alasan yang jelas.


***


Pantai Parangtritis esok harinya.


Andari duduk di atas hamparan pasir. Di sebelahnya duduk Prasetyo. Wajahnya tampak kusut, sementara tak jauh di depan mereka tampak debur ombak dan matahari yang mulai condong ke barat. Ombak pantai Parangtritis hari ini tidak terlalu tinggi. Beberapa remaja tampak asyik bermain mobil RTV di pinggir pantai, berlomba siapa yang lebih cepat sampai ke ujung garis pantai. Beberapa andong penuh muatan turis lokal maupun mancanegara juga tampak melintas tak jauh di depan mereka. Ada juga beberapa anak seusia SD sedang bermain di tepi pantai sambil diawasi beberapa orang dewasa yang tampaknya orangtua dari beberapa anak tersebut.


"Aku memaklumi jika setelah apa yang ku ceritakan mengenai ibu ku membuat mu kecewa. Seharusnya ibu ku tidak bersikap seperti itu."


Prasetyo tadi baru saja menceritakan mengenai percakapan Ayu dengan ibunya beberapa hari lalu serta tentang sosok Mas Hendar kepada Andari, yang akhirnya mempengaruhi ibunya dan menyebabkan batalnya pernikahan mereka.


"Andi!" seorang laki-laki berumur kira-kira tiga puluh tahun berteriak, lalu menarik seorang anak laki-laki berumur kira-kira sepuluh tahun, yang terlalu asyik bermain air di tepi pantai. Sekilas sepertinya anak itu nyaris melanggar batas aman yang telah ditetapkan oleh tim SAR. Di Pantai Parangtritis memang ada sebuah papan peringatan yang dicacakan di pinggir pantai mengenai batas aman bermain di tepi pantai.


Laki-laki itu yang kemungkinan bapak dari anak tersebut menyuruh anaknya itu pulang. Anak itu tampak tidak mau disuruh pulang oleh bapaknya. Tampaknya anak itu masih ingin bermain di tepi pantai. Sambil beleter bapak dari anak itu kemudian menyeret anaknya itu dari tepi pantai. Wajah anak itu tampak ditekuk sekarang.


"Aku hanya tidak habis pikir, kenapa Ayu sampai memfitnah ku sampai sebegitunya, apa salah ku sebenarnya."

__ADS_1


Andari mulai mencoret pola tak tentu rudu di atas pasir pantai dengan menggunakan sedotan bekas teh botol Sosoronya. Tadi pagi dengan menggunakan taksi ia mengantar orangtuanya ke bandara Adisucipto. Orangtuanya pulang ke Pontianak dengan harga diri yang terluka. Ibunya sebelum masuk ke bandara untuk check in, menasehatinya agar hati-hati dan teliti dalam mencari pasangan hidup agar kejadian yang tak mengenakan ini tidak perlu terulang kembali.


"Karena dari SMU hingga sekarang Ayu masih mencintai ku. Sedangkan aku sama sekali tidak memiliki rasa cinta terhadap dirinya. Ia masih mengharapkan aku menerima cintanya dan akan selalu cemburu jika aku dekat dengan wanita lain."


Prasetyo kemudian bercerita kepada Andari, waktu SMU ia pernah dekat dengan seorang gadis bernama Yundari. Yundari adalah adik kelasnya. Akan tetapi hubunganya dengan Yundari tidak berjalan mulus karena Ayu.


Ayu selalu meneror Yundari. Dari menguncinya di gudang sekolah hingga mengatai-ngatai Yundari di facebook. Yundari kemudian mengadukan hal ini kepadaku. Ia juga mengakhiri hubungan cintanya dengan ku. Yundari kemudian memilih pindah ke Jambi. Kebetulan Ayah Yundari berasal dari sana. Aku lalu hilang kontak dengan Yundari karena sepertinya ia mengganti akun facebook maupun email nya. Nomor ponselnya juga tidak dapat dihubungi.


***


Satu tahun kemudian setelah seminggu sebelumnya Andari dan Prasetyo diwisuda di gedung JEC, Andari kemudian berkemas-berkemas untuk pulang ke Pontianak. Ia sebenarnya ingin tinggal satu tahun lagi di pondok pesantren akan tetapi orangtuanya tidak mengijinkannya. Bagi orangtuanya pendidikan selama lima tahun di pondok pesantren itu sudah bisa dikatakan cukup.


"Jangan lupakan apa-apa yang telah diajarkan di pondok pesantren," itu nasehat Bu Nyai saat Andari menemuinya di rumahnya untuk pamit sebelum ia pergi ke bandara.


"Dan salam untuk kedua orangtua mu di Pontianak," lanjut Bu Nyai lagi


Andari kemudian minta diantar Indri ke bandara Adisucipto. Beruntungnya Indri karena orangtuanya mengijinkannya untuk tinggal di pondok pesantren satu tahun lagi.


Setibanya di bandara ponsel Andari mengeluarkan nada panggil. Ia kemudian melihat di layar ponselnya. Tertera nama Prasetyo di sana. Ia lalu menjawab panggilan tersebut. Andari kemudian mengatakan ia saat ini sudah berada di bandara. Beberapa menit kemudian saat ia hendak masuk ke dalam bandara untuk check in, ia melihat sosok Prasetyo berlari ke arahnya.


"Kalau Allah menentukan bahwa kita berjodoh kita pasti akan bertemu kembali bagaimana pun caranya tapi jika tidak, aku doa kan Mas dapat jodoh yang lebih baik dari diriku." Itu adalah kata-kata terakhir dari Andari sebelum akhirnya masuk ke dalam bandara untuk pulang ke Pontianak."


***


"Sama seperti Yundari, aku juga hilang kontak dengan Andari. Nomor ponselnya tidak dapat dihubungi. Begitu pula dengan email dan facebook nya. Andari sepertinya mengganti alamat email serta facebook nya."


"Aku kemudian memiliki keinginan untuk pergi ke Pontianak guna mencari Andari. Aku kemudian mengutarakan keinginan ku tersebut ke orangtua ku. Sesuai dugaan ku, Ibu ku menentang keras keinginan ku ini. Kami bertengkar. Ibu ku tiba-tiba saja jatuh pingsan. Ibu ku kemudian dilarikan ke rumah sakit tapi nyawanya tak tertolong. Pembeluh otak di kepala ibu ku pecah. Ibu ku memang memiliki riwayat darah tinggi dan itu yang menyebabkan kematian pada ibu ku." Prasetyo terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca sekarang."


"Mas," Riska tanpa sadar meremas kelima jari tangan Prasetyo untuk menenangkan calon suaminya ini. Ia betul-betul khawatir sekarang dengan Prasetyo.


"Maaf," Riska melepas gengamannya pada jari Prasetyo.


"Kalau sampai di Pontianak pergilah ke alamat ini." Bapak menyerahkan secarik


kertas berisikan sebuah alamat rumah kepada ku. Saat itu aku mulai berkemas-berkemas karena besoknya aku akan berangkat ke Pontianak menggunakan penerbangan pertama."


"Dulu waktu kuliah di UGM bapak punya teman akrab namanya Ali Mutahar. Ia asli Pontianak. Nanti setiba kamu di Pontianak bapak akan menghubunginya."


"Le, hanya satu pesan bapak, cinta memang harus diperjuangkan tapi kalau nantinya bukan jodoh jangan dipaksakan karena nantinya itu akan menyiksa dirimu sendiri. Lebih baik buka hati mu untuk menerima cinta yang lain," lanjut ayah lagi sebelum akhirnya meninggalkan ku sendirian di kamar.


"Setibanya di Pontianak aku menuju alamat rumah yang diberikan oleh bapak. Untuk sementara aku tinggal di rumah teman bapak."


"Esoknya tanpa sengaja aku menemukan sebuah undangan yang dibuang ke dalam tong sampah saat aku menyapu halaman rumah Pak Ali. Aku mengambil undangan tersebut. Di dalam undangan itu memuat foto Andari sedang duduk di sebuah kursi. Di samping Andari berdiri seorang laki-laki. Mereka mengenakan gaun pengantin muslim dengan corak Melayu.


"Sepertinya kamu kaget melihat undangan itu," kata Pak Ali.


"Karena gadis ini alasan saya ke Pontianak Pak."


Pak Ali menghembuskan nafasnya


"Berarti gadis itu bukan jodoh mu. Acara resepsi pernikahan mereka dilangsungkan seminggu yang lalu. Mempelai pria itu namanya Fahri. Bapaknya teman bapak waktu SMU."


'Setelah itu aku berusaha melupakan Andari dan seperti kata bapak aku harus membuka hati ku untuk orang lain karena ternyata Andari bukan jodoh ku."


"Setelah tinggal kurang lebih seminggu di rumah Pak Ali, aku memutuskan untuk hidup mandiri. Aku memutuskan untuk membeli rumah sederhana di jalan Alianyang. Aku juga memutuskan untuk membuka cabang baru restoran ku di Pontianak. Restoran ku di Jogja dipegang oleh bapak."

__ADS_1


"Dan kemudian aku bertemu dengan kamu akhirnya. Insya Allah kamu adalah jodoh terbaik yang disiapkan Allah untuk ku."


"Insya Allah Mas juga adalah jodoh terbaik yang dipersiapkan Allah untuk ku."


Mereka tersenyum. Riska kemudian teringat pertemuan pertamanya dengan Prasetyo. Ia terkadang sehabis pulang kerja memutuskan untuk makan malam di restoran milik Prasetyo . Kantor perusahan kontruksi tempat ia bekerja sebagai staff sdmistrasi memang tidak jauh letaknya dari restoran milik Prasetyo. Berjarak kurang lebih seratus meter. Awalnya ia mendapat rekomendasi teman-teman sekantor yang pernah makan di restoran ini bahwa menu makanan di restoran ini cukup enak. Riska kemudian mencoba untuk makan di restoran ini. Ia agak sedikit kecewa karena restoran ini tidak memasukkan mie sebagai daftar menu. Ia adalah pencinta mie sejati. Tapi menurutnya nasi ayam bumbu Bali di restoran ini cukup enak. Begitu pula dengan nasi kepiting soka saus Padang jadi menu favorit keduanya. Sebab kedua menu itu pula ia masih setia mengunjungi restoran ini.


"Kamu ya yang waktu itu protes kepada pelayan kenapa restoran ini tak memasukkan mie sebagai daftar menu," kata Prasetyo dan itu adalah pertemuan pertamanya dengan Prasetyo. Perkataan Prasetyo membuat ia malu. Ia memang sempat protes ke pelayan restoran waktu itu mengenai mie yang tak dimasukan ke dalam daftar menu restoran. Waktu itu mungkin pengaruh dari ia sedang datang bulan dan betapa menumpuknya pekerjaan di kantor. Membuatnya stress dan kalimat protes yang hanya ingin diucapkan dalam hati malah keluar begitu saja dari dalam mulutnya tanpa bisa dicegahnya.


"Kamu tunggu sekejap di sini," Riska mengernyit. Prasetyo masuk ke dalam dapur restoran. Beberapa menit kemudian laki-laki itu keluar membawa nampan. Di atas nampan itu ada mee serta es sirap bandung khas Malaysia.


"Semoga kamu suka. Ini aku yang buat."


"Tapi aku tak pesan menu ini."


"Coba saja dulu, kalau tidak enak jangan dimakan."


Ia kemudian mencicipi mee dan es sirap bandung khas Malaysia buatan Prasetyo.


"Enak," Ia berkata dan memang mee serta es sirap bandung khas Malaysia buatan Prasetyo sama persis dengan yang ia makan waktu ia mengunjungi Kuala Lumpur beberapa tahun lalu untuk berlibur.


"Dulunya pasti mengambil jurusan Tata Boga pas kuliah jadi bisa masak seenak ini."


Prasetyo tersenyum.


"Aku dulu pas kuliah mengambil jurusan Ekonomi."


"Serius."


"Aku serius."


"Tidak sangka anak Ekonomi bisa masak seenak ini."


"Masak itu bisa dikatakan sebuah seni. Kalau rajin berlatih Insya Allah siapa pun bisa masak."


Ia jadi kemudian sering mengunjungi restoran yang dikelola Prasetyo dan Prasetyo selalu memberi kejutan kepadanya berupa olahan mie. Lain waktu Prasetyo membuat mie celor khas Palembang untuk dirinya dan lain waktu Prasetyo pernah membuatkan mie ramen pedas untuknya.


Perasaan aneh kemudian ia rasakan muncul di dalam dirinya. Rasa yang terkadang membuat seseorang sulit tidur dan juga hilang selera terhadap makanan. Bersyukur ia tidak sampai mengalami kedua hal itu karena ia masih mampu mengendalikan perasaan itu. Hanya saja jantungnya selalu berdetak di luar kendali jika berdekatan dengan Prasetyo.


Ia tidak terlalu berharap Prasetyo memiliki rasa yang sama dengannya. Akan tetapi dugaanya meleset saat suatu hari Prasetyo kembali membuatkan mie ramen pedas untuknya. Di dasar mie tersusun kalimat will you marry me dengan potongan rumput laut kering. Ia yakin butuh kerja keras bagi Prasetyo untuk menyusun dan membuat kalimat tersebut. Ia pun tanpa ragu mengucapkan 'iya' untuk permintaan Prasetyo tersebut.


***


Riska dan Prasetyo kemudian menikah seminggu kemudian di gedung RRI Pontianak. Keduanya tampak serasi dengan balutan baju pengantin muslim dengan corak Dayak berwarna putih dengan les berwarna ungu.


"Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawwadah, dan warromah, "kata Fahri saat bersalaman dengan Prasetyo di atas pelaminan. Ia mendekati Prasetyo dan membisikan sesuatu ke Prasetyo.


"Dan terima kasih karena selama di Jogja kamu telah menjaga istri ku dengan baik," Prasetyo tersenyum begitu pula dengan Riska dan juga Andari yang mendengar bisikan Fahri. Tampaknya Andari telah menceritakan semuanya kepada Fahri mengenai Prasetyo. Arini sendiri tidak dapat hadir ke acara resepsi pernikahan Riska dan Prasetyo. Ia sering megeluh akhir-akhir ini mengenai pinggangnya yang selalu sakit jika banyak berdiri maupun duduk. Lagi pula dokter mengatakan ia harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu capek demi keselamatan anak dikandungnya.


CATATAN


Sampeyan: Kamu. Di dalam Bahasa Jawa penyebutan kamu ada tiga tingkatan kowe merupakan tingkatan kasar atau ngoko. Sampeyan tingkatan setengah kasar atau ngoko alus dan yang terakhir Panjenengan tingkatan paling halus atau krama inggil. kowe biasanya digunakan anak-anak atau remaja untuk memanggil sesamanya atau orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Sampeyan biasanya digunakan orang yang lebih tua untuk memanggil ke sesamanya. Panjenengan biasanya digunakan untuk memanggil kepada para sesepuh atau orang yang lebih dituakan seperti kepada kakek dan nenek.


Dicacakan: Ditancapkan.


Dileter: Diomel.

__ADS_1


Mee bandung: Mee dibaca mie serta bandung berarti campuran atau pasangan dalam Bahasa Melayu. Mee bandung tampilanya mirip mie yang disiram kuah rendang. Mie ini kaya akan rempah.


Sirap es bandung: Minuman ini berupa sirup mawar dicampur susu.Terkadang dicampur dengan air soda serta satu scoop es kirim vanilla sebagai topping nya.


__ADS_2