
...Aku kembali lagi nih. Malam jumat aku kasih yang hangat-hangat. Jangan lupa ramein yak. ...
...Happy reading...
****
Sudah seminggu Dimas tidak bisa menyentuh sang istri. Ia terlihat begitu frustasi disugukan oleh pemandangan yang membuat tubuhnya panas dingin dan inti tubuhnya berdenyut sakit akhirnya sekarang ia bisa menyentuh istrinya.
Dimas terlihat bersemangat sekali dalam bekerja untuk hari ini, ia sudah menghitung hari di mana Arieska akan bersih dan bisa ia sentuh membayangkan itu membuat Dimas tak sabar ingin segera pulang ke rumah untuk menemui sang istri yang berada di rumah. Arieska hanya bekerja lewat ponselnya saja, semua kosmetik yang ia pasarkan sudah ada yang bertanggungjawab.
"Ahhh... Rasanya aku ingin segera pulang ke rumah," gumam Dimas dengan tidak sabar padahal pekerjaan di kantornya masih sangat banyak.
Tokk...tokk...
"Siapa sih? Mengganggu saja," gumam Dimas dengan kesal padahal ia sedang membayangkan kemolekan tubuh sang istri. Ketukan pintu terus terdengar membuat Dimas mendengkus sebal.
"Masuk!" teriak Dimas dengan memainkan bolpoin yang ia pegang.
Setelah itu sekretaris Dimas masuk dengan sopan saat, Dimas sudah mengizinkannya masuk. "Maaf Pak. Di luar ada yang ingin bertemu dengan Bapak," ucap sekretaris Dimas dengan sopan.
"Siapa? Istri saya? Kenapa tidak kamu suruh masuk langsung!" ucap Dimas dengan penasaran.
"Bukan Pak. Seorang wanita, katanya ada sesuatu yang penting yang ingin beliau bicarakan kepada anda," jawab sang sekretaris yang membuat Dimas bertambah penasaran.
"Suruh beliau masuk!" ucap Dimas dengan tegas.
"Baik, Pak!"
Dimas mengangguk. Ia melihat ke arah pintu dengan rasa penasaran yang sangat menggunung. Siapa orang yang ingin bertemu dengannya?
"Siapa yang ingin bertemu denganku?" tanya Dimas pada dirinya sendiri.
"Dimas!"
Tubuh Dimas mematung saat melihat siapa yang datang menemuinya, tangannya terkepal dengan sangat erat saat melihat seseorang tersebut tersenyum kepadanya. Rasanya Dimas seperti di hantam batu besar saat kembali bertemu dengan seseorang yang telah menghancurkan dunianya.
"Apa kabar Sayang?"
*****
__ADS_1
Hari sudah malam tetapi Dimas tak kunjung pulang yang membuat Arieska khawatir karena teleponnya sama sekali tidak diangkat oleh Dimas. Hingga suara deru mesin model terdengar yang membuat Arieska tersenyum. Ia menyambut kepulangan sang suami dengan tubuh yang sangat fresh sekali bahkan ia sudah menunggu Dimas sejak dari karena malam ini ia akan menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Dimas.
"Mas!" panggil Arieska dengan lembut. Arieska bingung melihat wajah Dimas yang sangat lesu sekarang, terlihat sekali sang suami ada masalah yang membuat Dimas seperti ini.
Grep...
Dimas langsung memeluk Arieska dengan erat bahkan ia menjatuhkan tas kerjanya begitu saja di lantai. Dimas menghirup wangi rambut Arieska dengan dalam yang bisa membuat hatinya yang kalut sedikit tenang. "I miss you," gumam Dimas dengan lirih.
"I miss you too," jawab Arieska dengan lembut. "Ada apa Mas? Apa terjadi sesuatu?" tanya Arieska dengan menatap mata Dimas dengan dalam.
Dimas menghela napasnya dengan dalam. Ia kembali mengingat pertemuan dan pembicaraannya dengan wanita yang amat sangat ia benci sekarang.
"Kalau tidak mau cerita sekarang tidak apa-apa, Mas. Sekarang Mas mandi dulu ya biar aku siapkan air hangat untuk Mas mandi," ucap Arieska penuh perhatian yang membuat Dimas sedikit bisa tersenyum. Arieska adalah penghilang lelahnya, terbukti dengan perhatian kecil istrinya beban berat yang Dimas rasakan tadi sedikit demi sedikit menghilang.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Dimas dengan tersenyum.
"Mandi bareng yuk!" ucap Dimas mengerling nakal.
"Mas, aku sudah mandi!" teriak Arieska saat Dimas menggendong dirinya dan berjalan ke arah kamar mereka.
Dimas menurunkan Arieska di depan pintu kamar mandi. Ia menatap Arieska dengan dalam yang membuat Arieska merasa gugup.
"Sudah siap untuk menjadi milikku seutuhnya?" tanya Dimas dengan mengelus pipi cabi Arieska dengan lembut.
Glukkk...
Arieska menelan ludahnya dengan kasar. Pertanyaan suaminya membuat Arieska menelelan ludahnya dengan kasar. "S-siap," jawab Arieska dengan gugup.
Dimas menelan ludahnya dengan kasar saat melihat Arieska yang sekarang memakai kemeja putih miliknya sampai sebatas lutut. "Kamu sengaja mengundangku hmm?" tanya Dimas dengan menyeringai.
"A-aku..." belum sempat Arieska menjelaskan Dimas sudah mengecup bibir Arieska dengan mesra.
"Ehmmm..." Arieska bergumam tidak jelas saat Dimas dengan sangat rakusnya mencium bibirnya. Arieska juga membalas ciuman Dimas tak kalah panasnya, ia kewalahan membalas ciuman Dimas yang sangat menggebu hingga Arieska tidak sadar jika dirinya sudah berada di dalam kamar mandi bersama dengan Dimas.
"Ahhh...." Arieska mendesah lirih kalau Dimas mengecup kulit lehernya dengan mesra. Kecupan basah Dimas membuat Arieska bergerak gelisah ia ingin lebih hanya sekedar sebuah ciuman.
Dimas tersenyum saat ia sadar sang istri mulai terangsang dengan sentuhannya. Dimas yang sudah tidak sabar juga langsung melepas kemeja yang dipakai Arieska. Telapak tangannya langsung berada di gunung kembar milik istrinya dan merem*snya dengan gemas.
"Ahhh... M-mas..." Arieska menggigit bibir bawahnya saat sentuhan Dimas semakin terasa sensual untuknya. Dimas menghidupkan shower hingga air membasahi kedua tubuh mereka hingga Arieska semakin terlihat seksi di matanya.
__ADS_1
"Sudah siap?" tanya Dimas dengan suara yang memberat.
Arieska mengangguk dengan cepat. Saat tangan Dimas bermain di area sensitif yang membuat Arieska benar-benar tidak tahan lagi. Tubuhnya bergetar dengan hebat saat mendapatkan pelepasan pertamanya. Jika saja Dimas tak menopang tubuh istrinya mungkin saja Arieska sudah jatuh ke lantai sekarang. Mulut Arieska terbuka dengan deru napas yang sama sekali tak beraturan, pelepasan pertamanya sudah menguras tenaganya tetapi Arieska tak ingin kehilangan moment penyatuan mereka.
Dimas tersenyum menatap Arieska dengan dalam. Saat ini keduanya sudah sama-sama polos, Dimas memposisikan dirinya dengan baik. Hingga ia berusaha masuk ke inti Arieska yang sudah sangat basah.
"Sttt.. S-sakit Mas," gumam Arieska dengan lirih.
Posisi mereka yang berdiri dengan Arieska yang terhimpit di dinding membuat Dimas sedikit merasa kesulitan tetapi tak membuat Dimas patas semangat untuk menjadikan Arieska miliknya seutuhnya setelah penantian panjang dirinya.
Dimas mengeraskan rahangnya, ia menyentak miliknya sedikit kuat agar bisa memasuki Arieska.
"Arrgghhhh..."
"Ouh..."
Dimas memejamkan matanya. Rasa nikmat yang ia rasakan membuat kepalanya tidak lagi terasa pusing, akhirnya di bawah guyuran air shower malam ini ia bisa memiliki Arieska seutuhnya.
Air mata mengalir di sudut mata Arieska karena ia merasa miliknya seakan robek. "M-maaf. Pasti sakit banget ya, Sayang?" tanya Dimas dengan cemas.
"Apa kita tunda dulu saja?" tanya Dimas dengan cemas.
Arieska menggelengkan kepalanya. "Lanjutkan saja Mas. Aku milikmu malam ini," ucap Arieska dengan lembut yang membuat Dimas tersenyum bahagia.
"Aku bergerak dengan pelan ya?" ucap Dimas meminta izin.
Arieska mengangguk yang membuat Dimas kembali mendapatkan angin segar. Ia kembali menyertakan tubuhnya dengan pelan agar Arieska merasa rileks.
"Ahhh..."
Suara desah*n Arieska dan Dimas saling bersahutan mereka sudah terbakar gairah. Arieska yang tadinya merasakan sakit kini mulai menikmati gerakan suaminya yang berada di dalamnya. Guyuran air shower tak lagi membuat keduanya dingin.
Malam ini adalah malam yang sangat indah Dimas. Ia seperti mendapatkan air di gurun pasir yang sangat kering. Dan tubuh Arieska adalah candunya sekarang.
"Argghhhhh."
Dimas meledak di dalam diri Arieska bersamaan dengan wanita itu yang sudah terlihat lemas sekali. Bahkan tubuhnya sudah di penuhi tanda kepemilikan dari Dimas.
"Kamu benar-benar penghilang lelahku Arieska! Terima kasih untuk malam ini, Sayang."
__ADS_1