Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 47~ (Bertemu Dimas)


__ADS_3

...Update siang ya gengs. Pagi rame banget jadi gak konsentrasi deh. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyaknya....


...Happy reading...


****


Rendy memarkirkan mobil milik tuan mudanya di parkiran kantor polisi. Ia membuka pintu mobilnya lalu ia keluar dan dengan cepat membukakan pintu mobil tuan muda dan nona mudanya.


Jelita memeluk Raka dengan erat saat Rendy menatapnya. Raka yang mengetahui ketakutan adiknya menatap Rendy dengan tajam.


"Menjauhlah Ren!" usir Raka dengan dingin membuat Rendy menganggukkan kepalanya dan membungkukkan badannya setelah itu ia langsung menjauh dari Raka dan Jelita, ia tidak mau nona mudanya berteriak histeris karena ketakutan melihatnya.


"Jelita gak mau di sini," gumam Jelita dengan takut saat melihat banyaknya polisi lelaki.


"Jangan takut, Sayang. Kakak akan menjaga kamu, lawan rasa takut kamu ya!" ucap Raka dengan lembut.


Jelita tak menjawab, ia terlihat semakin ketakutan bahkan wajahnya terlihat pucat pasih dengan tangan yang terasa sangat dingin. Raka yang tak tega melihat adiknya seperti itu kembali masuk ke dalam mobil untuk menenangkan sang adik.


"Jelita!" panggil Raka dengan perlahan.


"Gak mau! Jelita takut!" ucap Jelita dengan gemetar.


"Lawan rasa takut kamu ya, Sayang. Kakak di sini! Kita cuma mau bertemu kak Dimas, orang-orang di dalam gak jahat Sayang!" jelas Raka dengan lembut.

__ADS_1


"Takut!" teriak Jelita dengan menjabak rambutnya. Ia tidak bisa menghilangkan rasa takutnya yang semakin mendominasi hatinya saat ini.


"Hei, jangan jambak rambut kamu. Kakak gak akan maksa kamu masuk," ucap Raka pada akhirnya yang tak tega melihat wajah ketakutan Jelita.


Jelita sedikit tenang di dalam pelukan Raka. Raka hanya bisa menghela napasnya dengan berat dan mengelus punggung adiknya dengan perlahan. "Jelita gak kangen kak Dimas? Kak Dimas sudah menunggu di dalam," tanya Raka dengan lembut.


Jelita mendongakkan wajahnya menatap Raka dengan tatapan kosongnya. Matanya mengerjap seperti anak kecil yang membuat Raka tersenyum dan mengecup kening adiknya dengan lembut. Perlakuan Raka membuat hati Jelita sangat tenang padahal mereka baru beberapa hari bertemu tetapi terlihat seperti bertahun-tahun telah bersama.


"Kak Dimas ada di dalam?" tanya Jelita dengan polosnya.


Raka mengangguk. "Kita ketemu kak Dimas ya karena nanti kita gak akan ketemu kak Dimas lagi," ucap Raka dengan lembut menyelipkan rambut yang menutupi wajah cantik adiknya.


"Kita bakal ke surga ya Kak?" tanya Jelita dengan tersenyum.


"Iya Jelita mau pamitan sama kak Dimas tapi Kak Raka harus temani Jelita. Jelita takut," ucap Jelita dengan berbinar.


Raka tersenyum lega akhirnya ia bisa membujuk Jelita untuk masuk ke dalam.


****


Dimas menatap adiknya dengan sendu akhirnya ia bisa menatap sang adik setelah beberapa hari sudah tidak bertemu. Ingin rasanya Dimas menangis sekarang karena keadaan adiknya.


Dimas memberanikan diri memegang tangan Jelita. Jelita yang tadinya sedang menatap sekelilingnya dengan tatapan kosong akhirnya bereaksi dengan cepat. Ia melompat ke pangkuan Raka dengan takut saat Dimas menyentuh tangannya. Jelita menggigit kukunya karena sentuhan Dimas mengingatkan Jelita pada Dave saat menyentuhnya.

__ADS_1


"Jelita kotor! Jelita gadis kotor. D-dia...dia...." Jelita bergumam tidak jelas membuat Dimas menatap adiknya dengan sendu.


"Jelita ini Kak Dimas," ucap Dimas dengan suara seraknya agar tidak menangis di depan sang adik.


Sedangkan Raka hanya membuang mukanya karena tidak tahan dengan apa yang terjadi pada Jelita. Tangannya terkepal dengan sangat erat untuk menahan emosi yang hendak memuncak.


"Kak Dimas," gumam Jelita dengan lirih. Jelita mencoba menatap Dimas, ia tersenyum senang ketika wajah Dimas lah yang terlihat bukan wajah Dave yang membuat Jelita sangat takut.


"Kak Dimas," gumam Jelita sekali lagi dengan tersenyum bahkan matanya berkaca-kaca melihat wajah Dimas. "Kak Dimas gak benci Jelita lagi? Mama sama papa juga gak benci Jelita hehehe semuanya sudah baik ya sama Jelita," ucap Jelita dengan terkekeh.


Dimas menghapus air matanya dengan kasar. "Kak Dimas sayang Jelita. Kak Dimas gak benci Jelita," ucap Dimas dengan lirih. Ia berusaha tersenyum di depan adiknya.


"Jelita mau bahagia. Kak Raka mau bawa Jelita ke surga. Kak Dimas harus sehat tanpa Jelita ya," ucap Jelita dengan tersenyum.


Dimas menatap ke arah Raka. Pria itu hanya mengangguk pertanda jika Dimas harus merespon perkataan adik mereka yang melantur.


"Kak Dimas akan sehat kalau Jelita sembuh," ucap Dimas dengan lembut.


"Jelita gak sakit. Jelita mau ke surga karena Jelita mau bahagia," ucap Jelita dengan tatapan kosongnya.


"Sebelum Jelita pergi. Kak Dimas boleh peluk Jelita?" tanya Dimas dengan tergugu.


Jelita tak menjawab. Ia malah melihat ke arah Raka yang terlihat diam sejak tadi. Raka tersenyum pedih. "Peluk kak Dimas!" ucap Raka dengan lembut.

__ADS_1


Jelita mengangguk dengan ragu. "Ini pelukan terakhir ya Kak?"


__ADS_2