Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 95~ (Tertunda)


__ADS_3

...Part panjang nih. Pelan-pelan bacanya biar semakin dapat feelnya. Jangan lupa ramein yak....


...Happy reading...


****


Dimas dan Arieska memasuki kamar mereka setelah acara sudah selesai. Keduanya kebingungan mencari keberadaan Rasyad dan Jelita setelah pemotretan mereka selesai dua pengantin tersebut menghilang, untung saja ada Rasyid memberitahukan kepada keduanya jika kedua pengantin tersebut sudah masuk kamar terlebih dahulu. Dimas yang merasa ada yang tidak beres dengan Rasyad dan Jelita langsung bertanya kepada Rasyid. Alhasil bisikan dari Rasyid membuat Dimas menggelengkan kepalanya, merasa pusing dengan sikap jahil dari Kendra dan juga sebenarnya ia juga ingin masuk kamar terlebih dahulu untuk menuntaskan sesuatu yang sudah lama tertunda dan ini saatnya Dimas menuntaskan hasratnya tersebut.


"A-aku mandi dulu Mas!" ucap Arieska dengan canggung saat Dimas menatapnya dengan dalam. Mereka sering tidur bersama dalam satu kasur dan hanya melakukan adegan semi dewasa tanpa melakukan adegan inti tetapi entah mengapa Arieska merasa malam ini sangatlah berbeda, ia lebih merasa gugup, canggung, dan aneh dalam satu kamar bersama dengan Dimas yang sudah menjadi suaminya.


Dimas mendekat ke arah Arieska yang membuat gadis itu sedikit mundur karena refleks atas kegugupan yang melanda dirinya. "Kamu kenapa malah menjauh?" tanya Dimas dengan bingung.


"A-aku ke kamar mandi dulu Mas. Gerah!" ucap Arieska dengan berlari memasuki kamar mandi tetapi saat Arieska ingin menutup pintu kamar mandi tersebut Dimas menahannya membuat Arieska menelan ludahnya dengan gugup.


"Mau menghindar hmm?" tanya Dimas dengan menyeringai membuat Arieska gelisah tidak tahu harus menjawab apa.


Jelas tenaga Arieska kalah dengan Dimas, dan akhirnya pintu kamar mandi terbuka fengam sempurna walau tadi Arieska mencoba menahannya agar Dimas tak bisa masuk tetapi tenaganya kalah besar dari Dimas alhasil sekarang Dimas bisa masuk ke kamar mandi bahkan lelaki itu dengan muda menutup dan mengunci pintu kamar mandi agar Arieska tak berlari keluar.


"K-kenapa dikunci Mas?" tanya Arieska dengam gugup bahkan sangking gugupnya sampai-sampai tangannya mengeluarkan keringat dingin.


Dimas tak langsung menjawab. Matanya mengedar keseluruh kamar mandi, lalu ia menyeringai ketika matanya berhenti di satu titik yaitu shower yang di batasi dengan pintu kaca.


"Kamu sengaja mengundang Mas masuk ke sini, kan? Kamu sangat pintar sekali Sayang. Kita bisa mengawali kegiatan panas kita di bawah guyuran air shower yang dingin. Ide kamu memang sangat berlian sekali," ucap Dimas dengan tenang membuat Arieska semakin tak karuan.


Arieska melihat arah pandang Dimas di mana shower itu berada. Ia menelan ludahnya dengan kasar saat bayangan adegan panas mereka begitu saja berputar di otaknya. "E-enggak...a-ku tidak semesum itu!" elak Arieska yang memang mencoba menghindar dari Dimas untuk menghilangkan kegugupannya. Tetapi ia sama sekali tidak bisa menghindar bahkan ia malah terjebak di dalam kamar mandi dengan Dimas.


Untung saja gaun terakhir yang dipakai Arieska tidak terlalu panjang sampai menjuntai ke lantai sehingga memudahkan Dimas untuk mendorong Arieska masuk ke dalam pintu kaca di mana shower tempat untuk fantasi liar Dimas akan segera terlaksana.


"M-mas kenapa maju terus?" tanya Arieska yang mulai terhimpit dengan tubuh kekar suaminya, ia tidak lagi bisa lari kemana-mana saat Dimas berhasil membawanya masuk ke dalam.


Dimas tak menjawab, ia menghidupkan shower tersebut hingga air dingin mulai mengguyur tubuhnya dan juga Arieska.


"Mas gaun aku basah!" protes Arieska dengan kesal tetapi Dimas sama sekali tak mendengarkan ucapan istrinya itu. Ia malah sibuk memandang wajah Arieska yang sangat cantik sekali, bahkan tangannya mulai terangkat untuk membelai pipi Arieska mengabaikan air yang mulai membasahi keduanya.


Dimas memiringkan wajahnya agar bisa mudahkan mencium bibir Arieska yang sudah sangat menggodanya sejak tadi.


Cup....

__ADS_1


Dimas menyeringai senang saat ia berhasil membungkam bibir Arieska dengan bibirnya. Bahkan ia mendesak Arieska untuk saling membelit lidah bersama. Akhirnya Arieska membalas ciuman Dimas, ia mencoba menyeimbangi ciuman panas Dimas.


"Ahhhh...." Arieska mendesah dengan lirih yang membuat Dimas semakin terbakar gairah.


Dengan kasar Dimas membuka resleting gaun yang dipakai Arieska. Terlihat sekali ia sudah tidak sabaran dengan makanan pembuka yang sudah Arieska siapkan untuknya.


"Massss!" teriak Arieska dengan merintih keenakan saat bibir Dimas berpindah bermain di dua gundukan yang menjadi tempat favorit Dimas.


Setelah berhasil membuka seluruh gaun yang Arieska pakai Dimas membuangnya begitu saja di lantai. Bahkan penutup kedua gunung kembar itu juga sudah tergeletak di lantai dengan tak berdaya. Tubuh Arieska panas dingin saat bibir Dimas terus turun ke bawah hingga sampai ke pusar miliknya. Tangan nakal Dimas tak tinggal diam, tangan Dimas membelai selangk*ng*n Arieska dengan perlahan yang membuat Arieska mendesah tak karuan.


"Ouhh..." kaki Arieska bergerak dengan gelisah saat Dimas memainkan tangannya di sana. Tubuhnya bergetar dengan hebat saat tangan Dimas bermain di sana dengan lincah.


"Sayang kenapa milik kamu ada darahnya?" tanya Dimas dengan bingung. Kepalanya yang pusing karena juniornya meminta pelepasan kini bertambah pusing saat melihat darah yang keluar dari milik Arieska.


Arieska yang sudah terbakar gairah melihat ke arah bawah dimana Dimas masih berjongkok di sana. Ia melihat benda segitiga yang ia pakai sudah terlepas dan ada bercak darah yang tidak banyak di sana. Lalu ia mengingat tanggal hari ini dan setelah itu ia menatap Dimas dengan merasa bersalah.


"M-maaf Mas sepertinya kegiatan kita harus tertunda untuk seminggu ke depan karena tamu bulananku sudah datang," ucap Arieska dengan sendu karena melihat tatapan Dimas yang sangat berbeda saat ini.


Dimas mendadak blank. Ia terlihat bengong menatap ke arah Arieska dan setelah mampu mencerna ucapan istrinya barulah Dimas terlihat sedikit kecewa.


"Harus tertunda lagi," gumam Dimas dengan lesu yang membuat Arieska bertambah bersalah.


Dimas hanya diam karena saat ini kepalanya amat teramat pusing. Bukan jijik dengan darah istrinya hanya saja ia kecewa sedikit karena tamu bulanan istrinya datang di waktu yang tidak tepat bahkan saat miliknya sudah tegang dengan sangat sempurna.


Sial!!!


****


Erina menatap kerlap kerlipnya bintang malam ini. Ia berulang kali menghela napasnya dengan berat, dulu ia tidak pernah iri dengan perhatian bundanya kepada Jelita. Namun, sekarang entah mengapa rasa iri, cemburu, dan sakit hati ketika bundanya lebih memperhatikan Jelita muncul begitu saja di hatinya. Erina merasa semua orang lebih memperhatikan Jelita. Bunda, ayah, kakak, keluarganya, bahkan suaminya sendiri sangat memperhatikan Jelita. Erina merasa telah kehilangan perhatian dan kasih sayang keluarganya.


Jelita dan kakaknya sudah bahagia. Untuk apa dirinya meneruskan pernikahannya dengan Raka? Ia tidak ingin perhatian keluarganya semakin menghilang ketika nanti Erina tidak tinggal bersama dengan kedua orangnya. Walaupun Erina yang menyerahkan diri kepada Raka tetapi tetap saja Erina merasa hidupnya tak lagi berwarna. Saat ini kebimbangan melanda hatinya, di satu sisi ia tidak mau semakin kehilangan perhatian keluarganya dan di sisi lain ia tidak ingin berpisah dengan Raka karena Erina sangat mencintai Raka terlepas dari sikap arogan suaminya terhadap dirinya.


"Aku harus apa?" gumam Erina dengan lirih. Ketika kegelisahan selalu melanda hatinya, Erina pasti selalu memainkan jarinya. Semua itu tak lepas dari pandangan Raka ketika menyusul istrinya ke balkon kamar mereka.


Ya keduanya tak ikut menginap di hotel karena tak ingin ketahuan oleh keluarga besar Erina jika keduanya sudah menikah secara sirih.


"Ekhemm..." Raka berdehem membuat Erina terkejut. Ia hampir terjungkal jika Raka tak sigap menolongnya.

__ADS_1


"Ceroboh!" cibir Raka yang membuat Erina terdiam.


Ia menunduk dengan dalam saat Raka menatapnya dengan tajam. Raka terus memperhatikan gerakan jari Erina yang terlihat gelisah, sepertinya gadis itu ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.


"Ada yang ingin kamu katakan kepada saya?" tanya Raka dengan selidik.


"E-enggak ada Mas!" jawab Erina dengan gugup karena sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu kepada Raka sesuai dengan apa yang Raka katakan tadi.


"Jangan bohong! Terlihat jelas sekali jika tangan dan matamu bergerak dengan gelisah," ucap Raka dengan dingin seakan tahu kebiasaan istrinya ketika sedang memikirkan sesuatu.


Erina terdiam. Ia memberanikan diri untuk menatap manik mata suaminya dengan lekat. "A-apa..."


"Apa?" ucap Raka tak sabaran.


"A-apa sebaiknya pernikahan kita tidak usah dilanjutkan Mas?" tanya Erina dengan terbata.


Raka menatap tajam ke arah Erina. Ia menarik dagu Erina agar kembali menatapnya. "Alasannya?" tanya Raka dengan dingin. Rasa tidak suka, marah bercampur menjadi satu di hatinya saat ini.


"K-karena kak Rasyad dan Jelita sudah bahagia. A-aku tidak harus menjadi istri Mas Raka lagi," jawab Erina dengan terbata.


"KATAKAN YANG JELAS!" teriak Raka dengan marah di depan wajah Erina hingga gadis itu meringis karena cengkeraman tangan Raka di dagunya semakin kencang.


"Dengar Erina. Saya tidak akan melepaskanmu begitu saja! Kamu yang mengatarkan dirimu sendiri kepada saya," ucap Raka dengan sinis.


Erina berkaca-kaca. Ia memberanikan diri membalas tatapan tajam suaminya. "MEMANG AKU YANG MENYERAHKAN DIRIKU KEPADA MAS RAKA. TETAPI SEMAKIN KE SINI SEMUA ORANG LEBIH PERHATIAN KEPADA JELITA, TIDAK ADA YANG MENGERTI BAGAIMANA PERASAANKU SAAT INI. BUNDA, AYAH, MAS RAKA DAN SEMUANYA LEBIH MEMPERHATIKAN JELITA. AKU TIDAK TAHU KENAPA RASA IRI, CEMBURU, DAN SAKIT HATI MELIHAT KALIAN MEMBERIKAN PERHATIAN KEPADA JELITA ITU MUNCUL BEGITU SAJA. YANG JELAS DI SINI SANGAT SESAK MAS, AKU TIDAK INGIN KEHILANGAN PERHATIAN KELUARGAKU! LEBIH BAIK AKU BERPISAH DENGANMU WALAU AKU SANGAT MENCINTAIMU!" teriak Erina dengan menggebu.


Entah keberanian dari mana Erina meneriaki Raka sekarang. Raka menatap Erina dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Hikss...aku gak tahu kenapa perasaan ini muncul begitu saja. Aku merasa sangat iri dengan Jelita. Semua perhatian Jelita dapatkan dari orang-orang, sedangkan aku seperti diabaikan begitu saja. Apa aku harus menjadi jelita agar semua orang perhatian kepadaku?"


Bibir Raka keluh. Tubuhnya mematung saat mendengar pengkuan cinta dari Erina kepadanya. Bahkan hatinya ikut merasakan sakit atas keluh kesah Erina saat ini.


"Jawab aku Mas! Kenapa kalian sangat memperhatikan Jelita? Apa istimewanya gadis itu? Hingga Jelita mencuri semua perhatian orang-orang dan mengabaikan aku!" ucap Erina dengan sendu.


"S-saya..."


Erina terkekeh pelan. Matanya berkunang-kunang setelah mengeluarkan isi hatinya selama ini, ia juga merasa kepalanya sangat pusing sekali hingga ia merasa tubuhnya ringan dan...

__ADS_1


Brukkkk...


"Erina!"


__ADS_2