Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 43~ (Depresi Berat)


__ADS_3

...Hei-hei aku kembali lagi setelah sehari libur kemarin. Siapa ya tuan muda? ...


...Jangan lupa like, vote, dan komentarnya ya....


...Happy reading...


*****


Lelaki yang menolong Jelita menatap sendu pada Jelita yang diam tanpa sekatah patah pun yang keluar dari bibir tipisnya pandangannya juga terlihat sangat kosong.


Lelaki tampan tersebut menghela napas dengan perlahan lalu memandang psikiater terbaik yang Rendy datangkan untuk menyembuhkan Jelita.


"Bagaimana keadaannya?" tanya lelaki yang biasa dipanggil tuan muda tersebut.


"Maaf Tuan Muda untuk sekarang saya belum berhasil membuat nona muda berbicara. Tetapi saya harap jangan ada lelaki asing yang mendekat ke arahnya, nona muda bisa histeris dan itu bisa membahayakan nyawanya karena nona muda bisa melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri," jelas psikiater tersebut dengan tegas.


"Maksudmu dia bisa saja bunuh diri begitu?" tanya Tuan Muda dengan memicingkan matanya.


"Benar Tuan Muda. Trauma yang dialaminya apalagi tekanan batin yang ia terima selama ini membuat nona muda mengalami depresi berat, memakan waktu cukup lama membuat nona muda kembali seperti semula. Saya lihat selama ini nona muda menahan sakit batinnya seorang diri dan sekarang nona muda tidak lagi bisa menahannya sampai mengguncang batinnya dengan hebat. Mungkik ini adalah puncak dari sebuah rasa sakitnya. Saya harap Tuan Muda menjaga nona muda dengan baik jangan ditinggal seorang diri tanpa pengawasan," jelas psikater wanita tersebut dengan tegas.


Tuan muda mengusap wajahnya dengan kasar. "Lakukan yang terbaik untuknya. Saya akan bayar berapa pun biayanya asal Jelita tidak kehilangan keceriaannya," ucap Tuan muda dengan serius.


"Baik Tuan Muda. Saya akan berusaha yang terbaik untuk mengobati nona muda, ini ada beberapa resep obat yang harus di konsumsi nona muda dan anda bisa menebusnya di apotek," ucap psikiater.


Tuan muda mengangguk dengan cepat. "Besok bawa suster terbaik yang akan menjaga Jelita. Saya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepadanya, dan kamu dokter, saya utus kamu untuk menjadi psikiater Jelita sampai gadis itu sembuh total," ucap Tuan muda dengan tegas.


"Baik Tuan Muda! Kalau begitu saya permisi," ucap psikiater tersebut menunduk dengan hormat kepada tuan muda yang sangat berpengaruh di dunia tersebut sekaligus pewaris terbesar dari perusahaan raksasa yang sudah tersebar hampir di seluruh negara.


"Rendy!" teriak tuan muda dengan keras.


Rendy datang dengan langkah lebarnya ia menunduk hormat kepada tuan mudanya yang terlihat marah sekaligus sendu. "Tebus obat Jelita di apotek terdekat, perketat penjagaan rumah ini saya tidak mau mereka mengetahui saya membawa Jelita ke sini apalagi tua bangka itu," ucap Tuan Muda dengan dingin.

__ADS_1


"Baik Tuan Muda. Ada lagi Tuan muda?" ucap Rendy dengan sopan.


"Bagaimana dengan lelaki bajingan itu? Apa dia sudah mendekam di penjara? Jika tidak mengingat hukum di negara ini aku sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri," ucap Tuan Muda dengan mengepal kedua tangannya.


"Seperti yang anda mau Tuan Muda bajingan itu sudah diringkus oleh polisi beserta teman-temannya. Tetapi ada kabar buruk dari tuan Dimas, Tuan Muda."


"Katakan!" ucap Tuan Muda dengan dingin.


"Tuan Dimas juga di penjara karena sudah melukai istri dari salah satu keluarga Mahendra, Tuan Muda. Informasi yang saya dapat tuan Dimas membalas dendam karena salah satu istri dari keluarga Mahendra merebut kekasih gay-nya, suami dari wanita yang tuan Dimas lukai," jelas Rendy.


Tuan muda terkekeh dengan sinis. "Dimas terlalu bodoh. Dia tidak pantas untuk menjaga Jelita, jika aku tahu akhirnya akan jadi seperti ini sudah dari dulu aku membawa Jelita bersamaku tak peduli tua bangka itu akan menentang keputusanku. Tetapi aku masih memikirkan keselamatan Jelita jika aku bertindak gegabah waktu itu," ucap Tuan muda dengan sinis. "Pergilah tebus obat itu dengan segera," ucap tuan muda dengan tegas.


"Baik Tuan Muda!" Rendy melangkah pergi setelah memberikan hormat kepada sang tuan mudanya.


Setelah kepergian Rendy. Tuan muda tersebut menghampiri Jelita yang masih diam dengan posisinya.


"Bicaralah! Jangan diam seperti ini," ucap Tuan Muda dengan sendu. Apalagi ia melihat banyaknya bekas cambukkan di tubuh Jelita yang sudah diobati pasti rasanya sangat ngilu sekali.


"Katakan mana yang sakit? Jangan kamu pendam seorang diri!" Tuan Muda terus mengajak berbicara Jelita.


Jelita tetap diam dengan pandangan kosongnya membuat sang tuan muda menghela napasnya dengan berat.


"Baiklah hari ini kamu boleh diam tetapi besok dan seterusnya kamu tidak boleh seperti ini. Katanya kamu mau bahagia bukan?" ucap Tuan Muda memancing Jelita dengan kata bahagia.


"Aku akan membuatmu bahagia sampai seluruh dunia iri dengan kebahagiaan yang kamu dapatkan. Kebahagiaan seperti apa yang kamu inginkan?"


Berhasil. Jelita sedikit menoleh ke arah lelaki tampan yang berada disebelahnya. "Keluarga yang utuh seperti yang lainnya," gumam Jelita dengan pelan. Lalu ia tersenyum dengan menggigit kukunya.


"Sekarang mama Amanda baik banget sama Jelita, mama peluk Jelita setiap hari. Papa Dero juga sudah gak benci Jelita lagi. Hehehe mereka sudah baik sama Jelita," ucap Jelita dengan tertawa lirih.


Tuan muda memejamkan kedua matanya. Ada ribuan jarum yang menusuk hati dan jantungnya secara bersamaan. Apa Jelita sedang berhalusinasi sekarang?

__ADS_1


"Apa kamu bahagia dengan pelukan mama?" tanya Tuan Muda berusaha menahan gejolak amarahnya.


Jelita mengangguk. "Jelita bahagia! Mama sayang Jelita lagi. T-tapi...." Senyum Jelita memudar digantikan dengan raut wajah sendunya.


"Tapi?" ucap Tuan Muda mengulang ucapan Jelita.


"Papa Frendy. Jelita benci dia, papa mau peluk Jelita tetapi Jelita gak mau," ucap Jelita dengan tatapan kosongnya. "Jelita cuma mau mama Amanda dan papa Dero. karena papa Frendy, Jelita kehilangan kasih sayang kak Dimas, mama, dan papa Dero. Dia jahat! Jelita benci papa! Jauhin papa Frendy dari Jelita! jelita gak mau di peluk sama papa!" teriak Jelita histeris.


Grep....


"Sstt....Papa Frendy gak akan peluk Jelita. Sekarang Jelita tenang ya," ucap tuan muda dengan suara seraknya berusaha menenangkan Jelita yang tampak histeris kembali.


"Jauhin dia! Jelita gak mau dipeluk papa Frendy! JELITA GAK MAU!"


"ZACK!" teriak Tuan Muda dengan keras.


"Iya Tuan Muda!" ucap Zack dengan berlari ke kamar Jelita.


"Suntikkan obat penenang pada Jelita! Saya tidak sanggup melihatnya seperti ini!" ucapnya dengan kilat amarah yang memgusai dirinya.


"Baik Tuan Muda!"


"JANGAN SAKITI JELITA LAGI!"


"Tenang, Sayang! Kamu gak akan kesakitan lagi," ucapnya dengan lirih.


Zack mendekat ke arah tuan mudanya dan Jelita. Lalu ia menyuntukkan obat penenang untuk Jelita.


Tuan muda menatap Jelita dengan sendu. "Kamu boleh keluar Zack! Handle pekerjaan saya di kantor saya akan menjaga Jelita," ucap tuan muda dengan tegas.


"Baik Tuan muda!"

__ADS_1


"Brengs*k! Kalian harus membayar semuanya! Bagaimana bisa kalian menyakiti mentalnya sampai seperti ini?"


"Kamu akan bahagia, Sayang!"


__ADS_2