
...Hei aku kembali lagi nih. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
***
"Ayo kita nikah!" ajak Dimas dengan napas yang menderu menatap Arieska dengan jarak yang sangat dekat seperti ini membuat debaran cintanya untuk Arieska semakin kuat.
Dimas merebahkan tubuh Arieska di kasurnya. Ia kembali menindih tubuh Arieska dengan bertopang pada tangannya. "Diamnya kamu berarti iya," ucap Dimas dengan serius.
"Jangan mengambil keputusan seorang diri, Dim. Gue juga sudah punya calon suami," ucap Arieska dengan masih mempertahankan egonya untuk mengetahui keseriusan Dimas kepadanya.
Dimas menarik napasnya dengan dalam dan menghembuskannya dengan kuat. "Bohong! Mata kamu selalu bergerak ke atas jika kamu berbohong! Kamu mau aku hukum lebih dari ini hmm? Aku bisa berinvestasi ribuan calon anak kita ke rahim kamu sekarang," ancam Dimas membuat Arieska meneguk ludahnya dengan susah payah.
"A-aku gak bohong," ucap Arieska dengan terbata membuat Dimas yang berada di atasnya menyeringai.
"Oke berarti kamu setuju kalau aku berinvestasi sekarang!" ucap Dimas dengan tenang.
"Ahhkk...Dimassss!" teriak Arieska dengan suara yang merdu bagi Dimas saat ia mencium dan merem*s puncak gunung kembar milik Arieska.
Arieska memejamkan matanya kala bibir Dimas semakin turun ke bawah hingga miliknya kembali berkedut karena ulah bibir Dimas yang terasa basah di kulitnya.
"Aku serius mengajak kamu menikah Arieska. Bukannya itu yang kamu mau dari dulu? Lalu sekarang kenapa kamu berpura-pura menolak hmmm?" tanya Dimas dengan suara yang amat berat.
"A-aku... Akh...." pekik Arieska dengan tubuh melengkung seperti busur panah.
"Kamu juga menikmatinya, Sayang. Kamu tahu aku tersiksa harus menahannnya sejak lama, saat aku memikirkanmu junior milikku selalu bereaksi. Kamu gak tahu betapa tersiksanya aku harus melakukan terapi setahun lamanya agar milikku bisa berdiri. Psikiater yang aku datangi selalu mengatakan bayangkan orang yang anda cintai, lalu berbagai demi tahap aku lalui untuk melakukan terapi. Kamu tahu seseorang yang aku bayangkan itu siapa? Kamu Arieska! Dan aku selalu membayangkanmu. Tapi kenapa kamu seakan gak mengerti perjuanganku," jelas Dimas dengan sendu.
__ADS_1
Arieska menatap Dimas dengan dalam. Ia melihat kejujuran Dimas sekarang, tetapi untuk sekedar berucap saja bibirnya terasa keluh karena ia merasa terharu dengan perjuangan Dimas.
"D-dim..."
"Setahun lamanya akhirnya aku berhasil menyembuhkan milikku yang telah lama mati. Di saat itu terjadi aku semakin ingin mencarimu dan memperjuangkan cintamu yang sejak lama untukku tapi aku abaikan dengan begitu jahat. Lalu ketika kita sudah kembali bersama kamu seakan menolakku! Apa karena sekarang kamu cantik, kamu jadi begini? Kalau begitu jadilah Arieska yang dulu yang akan menjadi milik Dimas saja. Gadis yang selalu tulus bersama Dimas, walau dirinya terluka," gumam Dimas dengan lirih.
"Dim, A-aku..."
"Perbaiki pakaianmu dan segeralah pulang. Tidur dan istirahat ya. Sepertinya aku harus kembali bekerja," ucap Dimas tanpa membiarkan Arieska berbicara.
"Ini sudah malam kenapa kamu mau kerja," cicit Arieska dengan pelan.
Dimas tersenyum tipis. "Sudah biasa dan tidak ada seseorang pun yang melarangku," ucap Dimas tetap mempertahankan senyumannya.
"Kalau gue yang melarang. Lo tetap bekerja?" tanya Arieska dengan pelan. Ia tahu Dimas sedang kecewa kepadanya saat ini terlihat jelas dari mata Dimas sekarang.
Dimas mengangguk. "Karena lo calon istri orang, gue merasa tidak boleh bahagia ketika lo melarang gue bekerja karena mungkin ada seseorang yang lebih lo larang saat ini," jawab Dimas dengan miris. Ia kembali tidak memanggil Arieska dengan sebutan kamu.
Dimas merapikan pakaiannya terlebih dahulu sebelum keluar kamarnya. Ia menatap Arieska sekali lagi. "Undang gue kalau lo nikah," ucap Dimas dan setelah itu berlalu hendak keluar kamarnya.
"CUMA SEGITU PERJUANGAN LO KE GUE HAH? CEMEN BANGET!" teriak Arieska dengan kesal.
"Oke, jangan larang gue dekat dengan siapapun termasuk kak Raka. Gue akan minta Jelita buat dekatin gue sama kak Raka," ucap Arieska dengan keras.
Dimas membalikkan tubuhnya menatap tajam ke arah Arieska. "Sudah aku duga. Kamu tidak mempunyai tunangan dan untuk Raka, aku tidak akan main-main mencongkel bola matamu Sayang jika kamu sampai meliriknya selain aku," ucap Dimas dengan dingin.
"K-kamu menjebakku?" ucap Arieska dengan terbata saat Dimas kembali mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Kalau iya emang kenapa? Aku tidak akan mudah melepaskanmu begitu saja, Sayangku!"
"Menyebalkan!"
Dimas terkekeh menatap Arieska yang kesal karena perbuatannya. "Itulah aku walaupun begitu kamu tetap mencintaiku, kan?"
Dimas kembali merebahkan tubuhnya di samping Arieska. Ia memeluk Arieska dengan erat dan menjadikan lengannya bantal gadis itu.
"Aku sangat serius dengan ucapanku. Kita sudah dewasa, Sayang. Sudah sepantasnya kita menikah," ucap Dimas dengan serius.
Arieska memejamkan matanya menikmati elusan tangan Dimas di pipinya. "Tidak semudah itu, Dim. Mama dan papa sangat membencimu sekarang," ucap Arieska dengan lirih.
"Aku akan berjuang. Kita sama-sama berjuang," ucap Dimas dengan tegas.
"Aku lihat perjuanganmu meminta restu pada mereka," ucap Arieska dengan tersenyum.
"Apa itu artinya kamu menerimaku?" tanya Dimas dengan senang.
"Bukannya aku sudah menjadi milikmu sejak dulu? Kamu yang mengatakan itu sejak pertemuan kita waktu itu," ucap Arieska dengan kesal.
Dimas terbahak. "Ya kamu memang milikku, Sayang!"
Mereka terdiam sejenak dengan pemikiran mereka masing-masing hingga Arieska kembali membuka suara.
"Dim!"
"Hmmm..."
__ADS_1
"Apa kepalamu tidak sakit saat belut milikmu belum tidur sejak tadi?"
"Shittt...kalau begitu bantu aku menidurkannya!"