
...Gimana dengan part ini? Semoga suka ya! Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!...
...Happy reading...
****
"BUNDA MASUK RUMAH SAKIT KARENA MEMIKIRKAN KAMU!" teriak Rasyad dengan keras dan itu berhasil membuat tubuh Jelita mematung dengan hebat.
Matanya berkaca-kaca karena mengingat sang bunda, ia sudah sangat merindukan Gladis terkadang batinnya memberontak untuk bertemu Gladis tetapi ia mencoba menahannya selama ini. Dan sekarang bundanya sakit karena memikirkan dirinya? Apa Jelita adalah anak yang tak tahu diri? Sudah di rawat sejak kecil tetapi tidak membalas budi apapun pada Gladis maupun Nathan.
Tangan Jelita terkepal erat, ia menaham tangisnya dengan susah payah hatinya sakit mengingat Gladis yang sangat baik kepadanya. Tak sadar, Rasyad sudah mendekat ke arah Jelita kembali.
"Pulang ya! Bunda sangat merindukanmu, sampai bunda sakit karena memikirkan kamu," pinta Rasyad dengan lembut.
"A-aku...."
"Please... Kakak tahu kamu sakit hati karena Kakak. Tetapi ini demi bunda, Jelita. Kasihan bunda dan ayah," ucap Rasyad dengan lirih.
Jelita menarik napasnya dengan memejamkan matanya. "Bunda dirawat di mana? Setelah selesai bekerja aku akan mengunjungi bunda," ucap Jelita pada akhirnya.
"Di rumah sakit pelita! Tidak bisakah kamu pulang hari ini?" tanya Rasyad dengan frustasi.
Jelita menggelengkan kepalanya. "Gak bisa, Kak! Hari ini pertama aku kerja! Jadi aku harus bekerja dengan benar agar kinerjaku diakui oleh manager cafe," ucap Jelita dengan tegas.
"Kamu bisa bekerja di perusahaan ayah sama seperti Erina. Kamu gak perlu bekerja di tempat seperti itu yang gajinya tidak sebesar itu. Sekarang kita pulang!" ucap Rasyad dengan datar, ia tidak suka Jelita bekerja di cafe yang gajinya tidak seberapa.
"Ini bukan masalah gaji! Kakak gak ngerti perasaan aku! Pergi lah, nanti aku akan mengunjungi bunda di rumah sakit," ucap Jelita dengan kesal. Ia merasa selalu diremehkan oleh Rasyad walau sebenarnya niat kakak angkatnya itu sangat baik bahkan terkesan overprotektif kepadanya.
"Kamu akan kembali ke rumah kan jika Kakak pergi sekarang?" tanya Rasyad dengan serius.
"Gak mungkin! Aku sudah bisa hidup sendiri dan tidak membebankan siapa pun. Aku permisi!" ucap Jelita dengan lirih. Ia berjalan dengan cepat meninggalkan Rasyad yang frustasi. Di dalam hati pria itu akan tetap membawa Jelita pulang ke rumah, tetapi tidak sekarang. Rasyad menatap Jelita dengan tajam sampai gadis itu masuk ke cafe tempat di mana Jelita bekerja. Rasyad menyeringai saat ia sudah tahu tempat kerja Jelita yang pemiliknya adalah rekan bisnisnya.
"Kamu gak akan bisa pergi dari Kakak, Jelita!" ucap Rasyad dengan tajam. Entahlah Rasyad sangat egois sekali jika menyangkut tentang Jelita.
Dan jika Jelita tahu jika dirinya akan menikah sebentar lagi dengan Lolita bagaimana perasaan gadis itu? Rasanya Rasyad tidak tega memberitahu kepada Jelita. Sebulan ini juga Rasyad disibukkan dengan mempersiapkan pernikahannya dengan Lolita karea ia tidak mau perasaannya kepada Jelita semakin berkembang. Walau pikirannya terus tertuju pada Jelita yang entah berapa di dimana dan pagi ini Rasyad merasa bahagia karena bisa menemukan keberadaan Jelita.
Rasyad melihat jam di pergelangan tangannya. Pagi ini ia akan menemui Lolita yang memang sudah pulang dari Paris sejak 2 minggu yang lalu akibat bujukan Rasyad. Entah mengapa gadis itu menjadi penurut walau Rasyad harus membayar penalti yang sangat besar karena kontrak Lolita belum berakhir.
****
"Apa yang lo lakukan sebulan ini?" tanya Dimas dengan curiga. Ia terus menatap tajam ke arah mata Arieska yang terlihat gugup.
"K-kerja," jawab Arieska dengan sepenuhnya tidak berbohong, ia terus bekerja mempelajari bahan skincare yang aman untuk kulit semua orang agar ia bisa menciptakam skincare hasil karyanya sendiri.
__ADS_1
"Bohong!" sentak Dimas dengan sarkas.
"Lo kenapa?" tanya Arieska dengan bingung karena tak biasanya Dimas bersikap seperti ini. Apa ini bentuk perhatian Dimas kepadanya? Dimas mulai perhatian kepadanya?
"Aaahh... Bukan apa-apa lo boleh pergi dari rumah gue!" ucap Dimas dengan dingin karena ia sadar tentang apa yang ia lakukan sekarang pada Arieska.
"Gue pikir lo mulai perhatian ke gue!" gumam Arieska dengan lirih. Ia terlalu berharap dengan Dimas hingga membuat hatinya kembali di hadapkan oleh kenyataan karena tak mungkin Dimas perhatian kepadanya sekali pun Arieska sekarat.
"Gue pulang ya!" ucap Arieska dengan pelan. Ia tak berani menatap ke arah Dimas kembali. Tubuhnya yang sangat lemas juga butuh istirahat sebentar. Hingga Arieska tak sadar dirinya hampir terjatuh dengan Dimas yang menolongnya secara cepat. Terlihat sekali wajah pria itu sangat khawatir ketika melihat Arieska meringis dengan pelan.
"Kalau sakit gak usah keluar rumah! Sok kuat!" cibir Dimas membantu Arieska masuk ke dalam rumahnya. Entah mengapa ia menjadi sangat tidak tega melihat keadaan Arieska sekarang.
Arieska tersenyum tipis melihat perhatian Dimas di balik sikap dingin dan ketusnya Dimas kepadanya.
"Lo belum makan?" tanya Dimas saat mendengar bunyi perut Arieska yang lumayan keras.
"S-sudah," jawab Arieska dengan terbata.
Dimas menyeringai sinis. Walaupun sudah terlalu lama mereka tidak dekat, Dimas masih dapat mengetahui jika Arieska berbohong kepadanya.
"Bi ambilkan makan untuk Arieska!" teriak Dimas dengan kencang agar bibi yang sedang berada di dapur mendengarnya.
"G-gak usah! G-gue sudah makan!" ucap Arieska dengan panik. Ia tidak mau program dietnya gagal jika harus sarapan pagi.
"Gue gak terima penolakan!" sentak Dimas dengan tajam.
"Kenapa lo sepanik itu?" tanya Dimas dengan tajam.
"Beneran gue sudah makan, Dim. Gak usah bawa makanan ke sini," ucap Arieska mencoba biasa saja.
"Bukan gue yang bawa tapi bibi!" jawab Dimas dengan santai.
"M-maksud gue bibi," jawab Arieska dengan kikuk.
"Bi, aku sudah makan. Gak usah bawa makanan ke sini!" teriak Arieska.
Bibi yang mendapat perintah dari Dimas menjadi bingung pasalnya ia sudah membawa sepiring nasi beserta lauknya ke Arieska dan Dimas berada.
"Bawa sini, Bi!" ucap Dimas tak terbantahkan.
"Baik, Tuan!" jawab Bibi dengan pelan.
Arieska menghela napasnya dengan kasar selalu saja ia kalah dari Dimas. "Makan!" ucap Dimas dengan tajam.
__ADS_1
"Gak!" jawab Arieska dengan cepat.
"Makan atau gue seret lo ke kolam renang!" ucap Dimas dengan tajam, karena Dimas tahu Arieska sama sekali tidak bisa berenang.
Dimas yang merasa kesal mengambil piring yang diberikan bibi dan memyendokkan nasi serta lauknya dan memberikannya ke arah Arieska. "Buka mulut lo!" ucap Dimas dengan dingin.
"Ck... Buka mulut lo cepat! Tangan gue sudah pegal!" sentak Dimas dengan tajam membuat Arieska yang tadinya ragu akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Dimas. Dimas menyeringai puas saat Arieska menerima suapannya.
"Sudah ya, Dim!" ucap Arieska dengan memohon.
"Dua pilihan. Makan atau gue tenggelamkan lo di kolam renang!"
Arieska hanya bisa pasrah dengan suapan Dimas. Nanti ketika ia pulang ke rumah, Arieska mencoba memuntahkan makanan yang ia makan sekarang.
****
Sore harinya, Jelita sudah pulang dari cafe. Ia mencoba memesan ojek online agar bisa sampai di rumah sakit menemui Gladis. Setelah ojek online datang Jelita langsung naik dan memakai helm-nya.
"Sesuai aplikasi ya, Pak!" ucap Jelita dengan sedikit keras.
"Iya, Mbak!" jawab sopir ojek online dengan ramah.
"Yang cepat ya, Pak! Sudah mau maghrib soalnya," ucap Jelita. Bapak teesebut hanya mengangguk dan menambah kecepatan motornya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama karena terjebak macet akhirnya Jelita sampai di rumah sakit Pelita di mana Gladis di rawat. Jelita langsung bertanya kepada suster di mana sang bunda dirawat setelah mengetahui ruangan Gladis, Jelita langsung menuju ruangan tersebut.
Jelita sudah menemukan ruangan di mana Gladis dirawat. Tetapi ia sangat ragu untuk mengetuk pintu tersebut hingga ia melihat Rasyad dan Lolita berada di dalam. Jelita memberanikan diri untuk membuka pintu itu sedikit. Ia tersenyum miris saat semua orang bahagia dengan kedatangan Lolita. Rasyad bohong! Semua orang bahagia tanpa kehadirannya, kepergiaannya mungkin adalah pilihan yang tepat.
"Bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian?" tanya Gladis dengan lirih. Ia tidak bisa membantu persiapan pernikahan anaknya karena dirinya saja masih terbaring di rumah sakit karena terus memikirkan Jelita.
Menikah? Jelita terus mendengar percakapan mereka dengan baik walau sebenarnya hatinya sangat sakit.
"Sudah 70%, Bunda. Bunda tenang saja ya tidak usah memikirkan yang lainnya. Serahkan semua pada Lolita," ucap Lolita dengan lembut.
"Makasih ya, Sayang. Kamu sudah mau merawat Bunda," ucap Gladis dengan lirih.
"Iya, Bunda. Sama-sama," jawab Lolita.
Jelita terkekeh lirih. Sepertinya ia tidak perlu masuk ke dalam karena ia tidak mau mengganggu kebahagiaan mereka. Dan juga keberadaannya sudah tidah di harapan di sana. Saat Jelita hendak pergi tubuhnya menabrak dada seseorang hingga pintu ruangan tersebut terbuka dengan lebar karena Jelita terdorong kebelakang membuat semua orang menatap ke arah pintu di mana Jelita dan Rasyid di sana dengan Rasyid yang menarik pinggang Jelita agar tidak terjatuh. Melihat itu tangan Rasyad terkepal dengan erat.
"Lepaskan tangan kamu dari pinggang Jelita!" ucap Rasyad dengan marah.
Bruk..
__ADS_1
"Awww..."
"Jelita!"