
...Hei aku kembali lagi nih. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
****
Wajah datar adiknya sejak semalam membuat Raka bingung. Ia belum menanyakan apa penyebab adiknya jadi seperti ini kepada Rendy. Dengan bertanya-tanya Raka menatap adiknya yang terlihat diam sejak tadi, padahal kemarin adiknya terlihat bahagia karena hari ini mereka terbang ke Jakarta tetapi sejak semalam dan sampai di dalam pesawat pun Jelita tetap bungkam dengan wajah datar dan dinginnya.
Raka menghela napasnya dengan perlahan. Ia memeluk Jelita dari samping membuat Jelita tersentak dan menatap kakaknya. "Kenapa Kak?" tanya Jelita membuat Raka berdecak kesal.
"Seharusnya Kakak yang tanya sama kamu. Kamu kenapa? Kenapa sejak semalam kamu lebih pendiam lagi, muka kamu datar dan terlihat dingin?" tanya Raka dengan bingung.
"Apa yang terjadi di pantai?" selidik Raka menatap Jelita dengan serius.
Jelita menghembuskan napasnya dengan kasar. "Aku ketemu kak Rasyad," jawab Jelita dengan datar.
"APA? Terus apa yang kalian bicarakan?" tanya Raka dengan terkejut. Tangannya terkepal mengingat Rasyad, salah satu dari orang yang telah membuat adiknya depresi. Jika Jelita kembali terpuruk karena pertemuannya dengan Rasyad, maka Raka tidak akan melepaskan lelaki brengsek itu.
"Dia bilang tubuhku sudah sering di sewa oleh lelaki. Itu artinya di mata kak Rasyad aku adalah seorang jal*ng, kan Kak? Kenapa pikirannya sangat picik sekali? Aku tidak serendah itu walau tubuhku pernah disentuh oleh lelaki hingga membuatku depresi. A-aku..."
__ADS_1
"Stop! Jangan bahas lelaki bajingan itu. Kakak pastikan dia akan menyesal telah menghinamu seperti itu!" ucap Raka dengan menahan amarahnya. Jika tidak sedang berada di dalam pesawat Raka sudah menghancurkan isi ruangan ini, amarahnya benar-benar memuncak sekarang.
"Aku hanya kecewa saja Kak. Belasan tahun aku tinggal bersamanya, tetapi dia tidak benar-benar mengenal aku luar dalam hingga dia menuduhku seperti itu. Apa penyebab kak Rasyad bisa bicara seperti itu? Ucapannya benar-benar membuat hatiku sakit," jelas Jelita mengapa sejak semalam ia terlihat diam.
"Kamu masih mencintai lelaki itu?" tanya Raka dengan penuh selidik.
Jelita menatap kakaknya dengan serius. "Dulu iya, sekarang tidak! Aku telah menghapus rasa untuknya, aku pikir rasa ini akan bertahan karena sejak dulu kak Rasyad selalu bersamaku dan melupakan kesedihanku dengan kepergiaan mama dan kebencian kak Dimas. Tetapi sejak kejadian di pantai waktu itu aku telah menghapus perasaan aku untuknya. Anggap saja aku tidak pernah kenal dengannya karena dia juga tidak benar-benar mengenalku, aku bukan perempuan rendah seperti apa yang kak Rasyad tuduhkan kepadaku," ucap Jelita dengan tegas.
Raka menatap adiknya tetap di manik mata Jelita, ia mencari kebohongan di sana namun tidak ada. Jelita terlihat benar-benar serius dengan ucapannya membuat Raka tersenyum. "Pilihan yang sangat tepat. Rasyad tidak pantas dicintai gadis cantik seperti kamu. Lelaki itu tidak punya pendirian sedikit pun. Kakak sangat tidak setuju jika kamu masih mengharapkan cinta darinya," ucap Raka dengan tegas.
Jelita tersenyum dan menatap ke arah jendela, matanya terpejam mengingat Rasyad yang dulu. Walaupun dingin tetapi Rasyad tetap hangat kepadanya, namun pertemuan mereka kemarin setelah tiga tahun tidak bertemu membuat Jelita sangat kecewa. "Aku sangat kecewa denganmu, kak. Aku benci kamu!" gumam Jelita di dalam hatinya. Kabut kemarahan saat terlihat jelas di mata Jelita untuk Rasyad sekarang.
****
Mereka sudah sampai di Jakarta sejak dua jam yang lalu dan sekarang mereka sudah berada di rumah milik Jelita yang Raka belikan khusus untuk adik kesayangannya.
"Cari penyebab Rasyad bisa berbicara kasar kepada adik saya!" ucap Raka dengan dingin.
"Baik Tuan Muda!" jawab Rendy dengan sopan.
__ADS_1
"Cih dasar lelaki bajingan! Saya pastikan kamu akan sangat menyesal karena memperlakukan adik saya seperti itu. Ucapan tajammu kepada Jelita akan menjadi bomerang untukmu hingga kau menyesal begitu dalam telah menuduh adikku gadis rendahan!" ucap Raka dengan dingin dan tangannya terkepal hingga urat tangannya terlihat jelas.
"Saya akan pastikan juga jika lelaki itu akan lebih menyesal dan menangis darah Tuan Muda setelah mengetahui nona muda tidak seperti apa yang dia pikirkan," ucap Rendy dengan tegas.
Raka menganggukan kepalanya. "Kapan Damian akan ke Jakarta?" tanya Raka dengan serius mengalihkan pembicaraannya tentang Rasyad yang membuat darahnya mendidih.
"Dalam waktu dekat Tuan Muda. Tuan Muda Damian sudah tidak tidak sabar ingin bertemu dengan nona muda," jawab Rendy dengan sopan.
"Pastikan anak tengil itu tidak membuat keributan dan memancing amarah tua bangka itu. Saya sudah pusing mengurus anak tengil itu sejak dulu," gumam Raka dengan datar.
"Baik Tuan Muda."
"Satu lagi. kedatangan Damian yang ingin bertemu dengan Jelita jangan sampai diketahui oleh keluarga besar Erlangga. Saya tidak mau ketenangan Jelita selama ini kembali terusik," ucap Raka dengan tajam.
"Saya dapat pastikan tuan besar Agam dan tuan besar Frendy tidak mengetahui maksud kedatangan tuan muda Damian ke Jakarta, Tuan Muda!" jawab Rendy dengan tegas.
"Bagus! Sekarang keluarlah dari ruangan saya!" ucap Raka dengan tegas.
"Baik Tuan Muda. Saya permisi!"
__ADS_1
"Teruslah berpikir bodoh Rasyad! Tetapi nanti aku pastikan otakmu benar-benar tidak dapat berfungsi lagi!"