
Mobil Kijang Inova milik Fahri berhenti di pinggir jalan Sultan Hamid Dua. Di jalan ini banyak penjual buah langsat. Lima kilo sepuluh ribu begitu sebuah tulisan di salah satu lapak penjualan buah langsat. Tulisan itu ditulis di atas potongan kardus menggunakan spidol permanen lalu digantung menggunakan tali rafiah di sebuah paku yang ditancapkan di para-para kayu lapak buah tersebut.
"Agaknya buah langsat sudah turun harganya," Andari berkata. Ia duduk di samping Fahri.
"Kalau nak buah langsat kenapa tak bilang Abang biar Kak Azizah kau bawakan dari Punggur," Nizar berkata dari kursi belakang.
"Ini untuk emak Bang, kalau menunggu Kak Azizah dari Punggur kelamaan."
Nurpiah memang suka sekali buah langsat, untuk itulah Fahri hendak membawakan buah langsat untuk ibunya di rumah.
"Biar aku yang beli Bang," Andari membuka pintu mobil lalu turun dari dalam mobil.
__ADS_1
Andari kemudian meminta kepada penjual buah langsat agar ia dapat memilih buah langsat sendiri. Penjual buah langsat itu kita keberatan.
Setelah selesai dengan urusan buah langsat, mobil Kijang Inova yang mereka naiki membelah jalan Sultan Hamid Dua menuju Siantan.
Ibu begitu senang saat dilihatnya Fahri datang bersama Nizar dan juga Andari. Ia sempat bertanya tentang keberadaan Azizah dan juga Arini serta Nasira dan juga Faiz.
Nizar kemudian menjelaskan kepada ibu tirinya tersebut, Azizah pergi ke Punggur bersama dengan Faiz. Kebetulan sekolah libur hari ini. Sedangkan Fahri menjelaskan bahwa Arini tidak bisa ikut karena harus menjaga Nasira yang sedikit demam badanya. Ia juga menyampaikan permintaan maaf Arini kepada ibu karena waktu itu pernah membentak ibu.
Di tengah lantai ruang keluarga diletakan buah langsat yang tadi bawa oleh mereka. Buah langsat itu dimasukan ke dalam ragak buah terbuat dari anyaman eceng gondok. Selain buah langsat ada sepiring selai bingke dan juga pengkang serta satu cerek teh Melti dan satu toples kecil gula batu. Ruang keluarga yang letaknya dekat tangga menuju yang dulunya kamar Fahri dan Andari ini, memang tidak disediakan kursi serta meja. Hanya ada karpet tebal dihamparkan di tengah lantai keramik yang saat ini diduduki oleh mereka.
"Tak payah Mak cakap macam tuh, saya tidak merasa sedikit pun sakit hati dengan Mak, malah saya minta maaf kalau ada sikap Saya selama ini kurang berkenan di hati emak.
__ADS_1
"Andari juga Mak, sama seperti Bang Nizar, maafkan Andari karena hingga kini Allah belum menitipkan amanahnya berupa anak kepada Andari, bisa jadi Andari ada silap dengan Mak."
Ibu tersenyum.
"Emak tak akan menuntut anak dari mu. kalau pun suatu hari kau dititipkan anak oleh Allah, itu adalah anugrah sekaligus amanah yang harus dijaga, jika tidak, Mak sudah merasa bahagia memiliki cucu dari Azizah dan Nizar serta Fahri dan juga Arini."
CATATAN
Selai bingke: di Sumatera dan Malaysia kue ini disebut dengan kue sri muka atau kue sri kaya.
Pengkang: mirip lemper tapi kue ini berbentuk segi tiga dan dibakar. Pengkang dimakan dengan sambal kepah (kerang).
__ADS_1