Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 109 (Menatapmu)


__ADS_3

...Happy reading...


*****


Rasyad menatap istrinya yang sedang tertidur pulas, ia tersenyum dengan mengelus rambut Jelita dengan lembut. Ia masih tak menyangka jika Jelita adalah miliknya sekarang, tetapi semua kejadian demi kejadian yang membuat sang istri menderita membuat Rasyad merasa gagal menjadi kakak dan suami untuk Jelita.


Kata maaf mungkin tak akan ada habisnya untuk Jelita saat ini tetapi kata maaf juga tak cukup untuk mengembalikan hati Jelita seperti dulu. Akan tetapi Rasyad akan terus berusaha membuat sang istri tersenyum dan mengembalikan kebahagiaan istrinya yang pernah hilang karenanya.


Jelita membuka matanya. Dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah sang suami yang sangat dekat dengannya, keduanya tersenyum kecil saat merasa lucu dengan apa yang mereka lakukan sekarang.


"Kenapa bangun hmm?" tanya Rasyad dengan lembut.


"Haus," jawab Jelita dengan nada yang sedikit manja yang membuat Rasyad terkekeh.


"Kamu haus, Sayang?" tanya Rasyad dengan tersenyum lalu ia mengambil gelas yang berisi air bening di nakas untuk istrinya yang memang sering merasa haus ketika tidur.


Jelita menerima gelas itu dan langsung meminumnya. Setelah merasa tidak haus lagi ia memberikan gelas tersebut kepada Rasyad.


Cup...


Rasyad mencium kening Jelita, beralih ke hidung mancung istrinya dan terakhir beralih ke bibir Jelita yang selalu membuatnya candu. Rasyad menggerakkan bibirnya dengan lembut, ia merasa bahagia karena mendapatkan balasan dari istrinya.


Napas keduanya terengah saat Rasyad melepaskan ciuman panas mereka, ia menatap Jelita dengan dalam dan entah siapa yang memulainya kini keduanya diliputi gairah, Rasyad dan Jelita saling bertukar saliva, saling mrnyentuh satu sama lain hingga gairah merekq semakin tak terbendung.


Baju-baju keduanya sudah tergeletak di atas lantai dengan tak berdaya, kini Rasyad sudah berada di atas tubuh sang istri mempersiapkan miliknya untuk segera masuk ke lembah basah yang membuatnya selalu merasa nikmat.


Sekali hentakan yang cukup kuat, akhirnya junior Rasyad sudah tertanam sempurna di goa lembab milik sang istri diiringi suara erangan dari keduanya yang merasa nikmat dengan penyatuan mereka.

__ADS_1


Bagaikan vampir penghisap darah Rasyad begitu banyak meninggalkan jejak keunguan di tubuh istrinya. Tak kalah dengan Rasyad, Jelita juga mulai aktif meraba dada bidang suaminya yang sedikit ditumbuhi Bulu-bulu halus, membuat sensasi rasa geli saat dada bidang Rasyad bertemu dengan dada kenyalnya.


"Ahhh...."


Rasyad melihat ke arah sang istri yang terus mendes*h di bawah kuasanya. Hujaman Rasyad pada milik Jelita semakin bertambah irama yang membuat Jelita tak kuasa untuk terus mengeluarkan suara kenikmatannya.


Tubuh Jelita bergetar dengan hebat saat ia mendapatkan pelepasan pertamanya. Tetapi tidak dengan Rasyad, lelaki itu masih merasa sangat bugar untuk terus menghujami istrinya.


Rasyad membiarkan Jelita bermain di dadanya. "Suka bermain di sini?" tanya Rasyad.


Jelita mengangguk malu, karena sejak dulu dada Rasyad adalah tempatnya untuk bersandar. Dan kini, dada ini masih menjadi tempat favoritnya walau membuatnya geli dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di dada Rasyad.


"Kamu tahu, Sayang? Sikap kamu yang seperti ini membuat Mas sangat gemas sekali. Suara rintihan kenikmatan kamu bagai melodi yang membuat malam kita semakin indah. Dan ini...."


"Ahhhh...." Jelita kembali mendas*h saat Rasyad kembali menyentakkan miliknya hingga rahimnya terasa penuh.


"Aamiin!" ucap keduanya tersenyum. Tak banyak bicara lagi keduanya menikmati malam yang begitu dipenuhi kenikmatan bersama hingga peluh tak lagi terasa bagi mereka yang ada hanya rasa kenikmatan yang membuat keduanya tak bisa berkata-kata, seakan mereka terbang ke atas awan bersama hingga pagi menyapa keduanya.


****


Di kediaman keluarga Erlangga. Amanda menatap sang mertua dengan tubuh yang gemetar, tak ada kata yang keluar dari penguasa tersebut tetapi tatapannya sudah menjelaskan tentang sebuah kemarahan yang sangat besar kepadanya.


"Amanda!" panggil Kakek Agam dengan dingin.


"I-iya, Pa!" jawab Mama Amanda dengan gemetar.


"Kamu tahu kesalahan kamu apa?" tanya Kakek Agam dengan rahang yang mengeras. Tongkat yang selalu di tangannya terdengar berbunyi dengan keras kala kakek Agam mengetuknya ke lantai marmer rumahnya.

__ADS_1


Mama Amanda terdiam, bibirnya keluh untuk bersuara.


"Kamu tahu juga kan apa penyebab Frendy bercerai dengan istri pertamanya? Karena dia telah membangkang dengan peraturan yang saya buat di rumah ini! Jadi, kamu ingin bernasib sama dengan istri pertama Frendy?" tanya Kakek Agam dengan dingin.


"T-tidak, Pa! J-jangan lakukan itu!" ucap Mama Amanda dengan memohon.


"A-ampun, Pa!"


Frendy melihat sang istri dengan sang papa dari kejauhan. Hatinya merasa kasihan dengan sang istri yang di pukul dengan keras oleh tongkat yang dipegangnya.


"Papa pengecut!" desis Damian dengan tajam. Setelah memberontak tak ingin pulang tetapi akhirnya Damian kalah, ia akan ikut permainan papa dan kakeknya sebelum ia membawa mamanya pergi.


"Apa maksudmu, Damian?" tanya Frendy dengan tajam.


Damian mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali Damian menghajar papanya sendiri yang selalu tak berdaya di bawah kuasa sikap keras kakeknya. "Jangan sampai Papa menyesal kehilangan Mama seperti Papa kehilangan tante Monica," ucap Damian dengan tajam.


"Damian masuk kamar!" ucap Frendy dengan dingin tetapi matanya melihat ke arah sang istri yang terus disiksa oleh papanya.


"Mama!" teriak Damian saat ia melihat tubuh mamanya melemas.


"Damian berhenti di situ! Atau kakek akan menghukummu sama seperti wanita pembangkang ini!" teriak Kakek Agam.


Tetapi Damian tak peduli. Ia melindungi mamanya yang terlihat tak berdaya, ini semua sudah keterlaluan dan Damian tak bisa membiarkan ini terus terjadi. "Kakek akan menyesal telah memperlakukan mama seperti ini. Aku dan kak Raka tidak akan membiarkan kakek terus mengontrol mama!"


"DAMIAN!"


"Kita pergi dari sini, Ma! Kita tidak butuh hidup bersama dengan mereka!"

__ADS_1


__ADS_2