
...Happy reading...
****
Jelita masih memikirkan pertemuannya dengan kakek-kakek tua yang entah mengapa ketika Jelita menatap wajahnya ia menjadi sedih, marah, dan bahagia menjadi satu. Jelita tak tahu dengan perasaannya saat ini bahkan dirinya sampai melamun memikirkan kakek tua yang wajahnya sangat familiar sekali untuknya tetapi Jelita tak tahu mereka bertemu dimana.
"Sayang, hei kok melamun?" tanya Rasyad menatap sang istri.
"M-mas, aku masih memikirkan kakek tadi. Kenapa rasanya hatiku campur aduk ya? perasaanku seperti ingin marah, sedih,menangis, benci. A-aku tidak tahu itu kenapa terjadi," ucap Jelita dengan lirih.
Rasyad terdiam ia melihat mata istrinya. Mungkin ini adalah ikatan batin antara kakek dan cucu, walaupun mereka tidak pernah bertemu Jelita masih bisa merasakan perasaan tersebut tetapi saat ini memang Jelita tidak pernah tahu foto kakeknya,hanya Rasyad yang mengetahuinya dari Raka agar ia bisa menjaga istrinya jika kakek Agam bermacam-macam.
"Itu mungkin hormon kehamilan kamu yang membuat perasaan kamu jadi seperti itu, Sayang. Tidak usah dipikirkan ya sekarang kamu siap-siap sebentar lagi kita akan ke rumah Raka," ucap Rasyad dengan tersenyum.
perasaan yang tadinya bersedih sekarang Jelita tampak bahagia karena dirinya akan bertemu dengan kakak tercintanya ketika selama 2 minggu tidak bertemu dengan kakaknya itu.
"Aku siap-siap dulu ya, Mas! T-tapi tidak usah mandi ya?!" ucap Jelita dengan manja yang membuat Rasyad terkekeh.
Sudah dua hari istrinya tidak mandi, Rasyad hanya bisa menggelengkan Kepalanya saat Jelita mengatakan takut dengan air. Ada-ada saja kelakuan ibu hamil satu ini, padahal Rasyad ingin dirinya yang mengidam agar bisa membalas dendamnya kepada Raka tetapi ya sudahlah mungkin hamil anak kedua nanti dirinya yang aksn mengidam.
__ADS_1
"Terserah kamu, Sayang! Yang penting kamu bahagia," ucap Rasyad dengan pasrah.
Dengan secepatnya kilat yang Jelita bisa, ia langsung berganti pakaian setelah mendapatkan izin tidak mandi dari suaminya, hal itu saja sudah sangat membuatnya bahagia. Hormonnya cepat sekali naik turun, itulah mengapa Rasyad sangat menjaga perasaan sang istri agar tidak bersedih.
*****
Wajah yang tadinya tampak bahagia karena bertemu dengan sang kakak. Kini, terlihat datar tanpa ekspresi saat sosok papa yang selama ini tidak pernah menemuinya saat ini memeluknya dengan sangat erat.
Jelita tak tahu harus bersikap seperti apa yang jelas saat ini tubuhnya mematung karena mendapatkan pelukan yang selama ini tidak pernah ia duga dalam hidupnya.
"Ini Papa, Nak! Maafkan Papa, Sayang! Papa adalah orang tua yang sangat pengecut, untuk bertemu dengan kamu saja Papa tidak berani," ucap Papa Frendy dengan suara yang bergetar.
Jelita hanya diam, ia menatap semua orang yang berada di ruangan ini. Ada mama Amanda dan adiknya Damian yang terlihat menatapnya dengan terharu, tetapi saat ini Jelita belum bisa mencerna dengan baik apa yang terjadi sekarang.
"K-kak apa ini semua rencana Kakak?" tanya Jelita dengan terbata. Dadanya sesak sekarang, seakan napasnya terhimpit di tenggorokan hingga dirinya tidak bisa bernapas dengan benar.
Raka menatap adiknya dengan tulus. "Kita, semua harus bahagia, Dek. Ini semua Kakak lakukan untuk kebahagiaan kamu. Kamu sangat ingin bertemu dengan kedua orang tua kita, kan? Dan sekarang mereka sudah berada di hadapanmu," ucap Raka dengan tegas.
"O-orang tua itu siapa?" tanya Jelita dengan mata berkaca-kaca dadanya semakin sesak sekarang antara senang dan marah bercampur menjadi satu hingga Jelita merasa tubuhnya gemetar.
__ADS_1
"Ini Nenek, Sayang. Ternyata cucuku sangat cantik sekali," ucap Nenek Brianna dengan tersenyum.
Jelita tidak bisa lagi berkata-kata, ia hampir ambruk di dalam pelukan papanya sendiri jika tidak papa Frendy yang menopang tubuhnya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Rasyad dengan cemas saat melihat bulir-bulir keringat muncul di dahi Jelita.
Jelita menelan ludahnya dengan kasar. "P-papa!" panggil Jelita dengan lirih.
"Iya, Sayang. Ini Papa, Nak!" ucap Papa Frendy dengan lirih.
Jelita dengan gemetar mencoba menyentuh wajah sang papa dengan perlahan, lalu ia menatap wajah mamanya secara bergantian.
"Kenapa kalian sangat tega kepadaku? Membuangku seperti sampah yang tak berguna, aku ingin di sayangi oleh kalian. Hanya itu yang aku minta tidak ada yang lain Pa, Ma. Aku hanya ingin pengakuan dari kalian. Aku juga tidak minta dilahirkan dari dunia ini jika kalian hanya ingin membuangku," ucap Jelita dengan tersenyum lirih, senyum yang menyimpan sejuta kesakitan di hatinya.
"Sayang! M-maafkan Papa dan mama. Kami akan menebus semua kesalahan kami," ucap mama Amanda dengan sendu.
Air mata Jelita jatuh membasahi pipinya, ia melepaskan pelukan papanya lalu berpindah ke arah suaminya.
"Mas aku pusing," gumam Jelita dengan lirih menatap wajah suaminya dengan wajah yang amat sendu dan sedikit pucat.
__ADS_1
"Kita duduk ya, Sayang!" ucap Rasyad dengan khawatir.
Jelita bersandar di dada bidang suaminya. Kejadian demi kejadian sangat mengguncang hatinya saat ini. "Katakan ini semua mimpi, Mas!"