Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Sebuah Pengakuan dari Ibu


__ADS_3

Fahri meletakan ponsel di meja kerjanya. Ia tadi menghubungi Hamira, bertanya mengenai ibu. Hamira menjawab akhir-akhir ini ibu sering melamun. Nafsu makannya pun menurun. Tidak terasa sudah seminggu lebih Fahri tidak mengunjungi ibunya walau begitu ia selalu menghubungi Hamira untuk menanyakan bagaimana keadaan ibunya.


Selepas dari kantor, Fahri melajukan mobil Kijang Inovanya ke arah Siantan. Saat memasuki jalan Sultan Hamid Dua, tak jauh dari Jembatan Tol Landak, ia baru teringat tak membawa apa-apa untuk ibunya sebagai buah tangan.


Fahri menghentikan laju kendaraannya. Ia memutuskan untuk patah balik arah, mobilnya lalu berbelok ke kanan, berbelok lagi ke kiri masuk ke dalam jalan Ya' M. Sabran, lalu berbelok ke kanan masuk ke jalan Panglima Aim. Rem tekejot mobil Fahri saat memasuki ke dalam lahan parkir rumah makan Ayam Dadakan. Seekor kucing muncul tiba-tiba. Hampir saja kucing itu terlindas mobilnya. Untung dengan cepat ia menekan pedal rem mobilnya. Kucing itu kemudian melesat, hilang dari pandangannya.


***


"Assalamualaikum," Fahri mengucap salam sambil mengetuk pintu rumah. Pintu rumah itu terbuka, sambil seseorang yang membuka pintu itu, membalas salam Fahri dari dalam rumah.


"Walaikumsalam, Bang Fahri, masuk Bang."


"Ndak kuliah kamu."


"Ini nak berangkat Bang."


"Emak mana?"


"Mak Long di kamarnya Bang."


"Emak sudah makan?"


" Tadi sudah kamek buatkan sup sama perkedel kentang tapi tampaknya ndak disentuh sama Mak Long."


Fahri kemudian menemui ibunya di kamarnya.

__ADS_1


"Mak," Fahri berkata, memanggil Ibunya. Ibunya yang tadi berbaring menyamping, membelakangi dirinya, kemudian memutar tubuhnya, menatap ke arah Fahri. Wajah ibunya tampak sedih.


Fahri dapat melihat sup serta perkedel kentang, serta nasi, serta segelas air putih di atas nampan yang diletakan di atas nakas dekat tempat tidur ibunya, belum juga berkurang isinya.


Fahri mendekati ibunya lalu duduk di tepi tempat tidur sambil meletakan bungkusan berisi Paket Ayam Bumbu Kalimantan di samping nampan makanan ibunya. Walau ia sering selisih paham dengan ibunya akan tetapi ia sangat menyayangi ibunya.


"Mak makan ya, Fahri sudah bawakan Paket Ayam Bumbu Kalimantan kesukaan emak."


"Emak nak ngomong ke kamu."


"Habis makan ya Mak."


ibu mengeleng.


"Soal rumah ini."


"Ada apa dengan rumah ini Mak?"


"Mak telah membalik namanya yang semula nama bapak kau menjadi nama Mak."


"Setelah itu Mak mengusir Nizar dari rumah ini."


Deg! Martil seolah menghantam tepat di jantung Fahri saat mendengar perkataan terakhir yang meluncur dari dalam mulut ibunya. Sebuah kejujuran yang menyakitkan.


"Jadi waktu itu Bang Nizar ngekost karena bukan keinginanya akan tetapi karena Mak mengusirnya."

__ADS_1


Perasaan marah kini menguasai Fahri. Akan tetapi melihat kondisi ibunya yang tampak sedih, timbul juga rasa kasihan Fahri kepada ibunya. Bagaimana pun ibunya telah mengandung dirinya selama sembilan bulan dan melahirkannya ke dunia ini dengan susah payah, mengadu nasib dengan maut.


"Emak juga mengubah surat wasiat dari bapak kau lewat seorang pengacara. Sebenarnya usaha biro perjalanan jatuh ke tangan Nizar sedangkan usaha development jatuh ke tangan kau."


Kenyataan kedua ini benar-benar membuat remuk hati Fahri.


"Ke..napa Mak lakukan ini?" tanya Fahri dengan suara bergetar menahan amarah.


"Karena Mak tak suka dengan Ibu Nizar."


"Mak Supiah maksud Mak."


"Iya."


Ibu kemudian mengatakan kepada Fahri, ia ingin bertemu dengan Nizar dan juga Andari untuk meminta maaf atas perbuatan yang pernah dilakukannya.


Di tinggal dua menantu serta cucu dan anaknya, membuat Nurpiah akhir-akhir ini sering melamun karena rumah yang ditempatinya kini sepi. Memang Hamira ada menemaninya dirinya, akan tetapi posisi itu tidaklah bisa menggantikan posisi cucu, anak serta kedua menantunya. Entah kenapa rasa bersalah itu kemudian mengusik hati Nurpiah. Setelah lama merenung, sebuah pencerahan kemudian datang kepadanya, bahwa ia sebanarnya begitu kejam terutama kepada Andari dan juga Nizar. Kedua orang yang ia sakit hatinya akan tetapi selalu menaruh hormat kepadanya.


Nizar dan Andari mengangap ia adalah ibu yang selayaknya dihormati, padahal ia tidak pernah mengangap Nizar sebagai anaknya karena ia anak yang berasal dari Supiah, istri tua suaminya yang amat dibencinya serta Andari menantu yang dibencinya karena tak dapat memberi Fahri seorang anak.


CATATAN


Patah balik: Putar balik.


Rem tekejot: Rem mendadak.

__ADS_1


__ADS_2