
...Hey aku kembali lagi dengan cerita ini. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....
... ...
...Happy reading...
****
Dimas menatap Arieska yang pingsan karena demam yang ia rasakan dan juga mungkin karena lemas pada tubuhnya yang menguras tenaganya dengan pandangan yang sulit diartikan. Kedua orang tua Arieska sedang berada di luar kota, dan Arieska di rumah sendiri karena pembantu yang bekerja di rumah kedua orang tua Arieska memang tidak pernah menginap di rumah ini. Mereka akan datang pagi dan pulang malam hari sekitar jam 8 malam jika pekerjaan mereka sudah selesai atau bisa lebih cepat. Hanya ada satpam yang menjaga rumah ini dan tentu saja tidak tahu menahu tentang Arieska yang sakit.
"Seharusnya lo gak seperti ini hanya karena gue!" ucap Dimas dengan datar. Ia tetap mengompres dahi Arieska hingga panas tubuh Arieska sedikit menurun.
"Lo itu bodoh! Tolol!" cerca Dimas dengan kesal. "Gue sudah sering menyakiti lo tetapi mengapa lo masih bertahan di samping gue?" ucap Dimas dengan tegas.
Gemeletuk gigi Arieska karena kedinginan membuat Dimas semakin khawatir tak mungkin ia membawa Arieska ke rumah sakit karena keadaannya juga sedang kacau, ia takut dokter akan mengetahui keadaannya hanya melihat matanya saja karena saat ini Dimas sedang terpengaruh alkohol dan narkoba walau Dimas masih bisa mempertahankan kewarasannya.
"D-dingin," gumam Arieska dengan lirih.
Dimas dengan sigap mengambil tangan Arieska dan ia genggam dengan erat, menggosok-gosokkannya dengan tangannya agar Arieska mendapatkan kehangatan darinya.
"Lo sudah sadar?" tanya Dimas dengan lirih menatap Arieska yang masih memejamkan mata. Gadis itu mulai meracau kedinginan membuat Dimas semakin tak tahu harus melakukan apa.
Drtt...drttt...
Ponsel Dimas berbunyi, ia menyeringai melihat siapa yang meneleponnya malam ini. Dengan perlahan ia sedikit menjauh dari Arieska agar bisa berbicara dengan leluasa.
"Bagaimana? Saya tidak mau gagal lagi!" ucap Dimas setelah menerima telepon tersebut.
"Kali ini saya yakin kita tidak akan gagal bos. Saya masih mengawasi perempuan itu kemungkinan perempuan itu masih dijaga ketat oleh suaminya karena sepertinya pria itu mulai mencintai istrinya tetapi setelah saya dan yang lainnya mendapatkan cela, saya langsung membawa perempuan itu ke hadapan bos sesuai perintah!" ucap seseorang diseberang telepon.
"Bagus! Tetap awasi mereka terutama perempuan jal*ng itu. Pastikan kalian membawa dia ke hadapan saya dengan keadaan hidup-hidup karena tangan saya yang langsung akan membunuhnya! Dan jangan sampai suami serta keluarganya curiga!" ucap Dimas dengan tajam.
__ADS_1
"Baik bos. Ada informasi satu lagi bos," ucap si penelepon dengan tegas.
"Apa? Jika tidak penting saya akan menghajar kalian semua!" ujar Dimas dengan tajam.
"Papa bos dalam keadaan kritis sekarang dan beliau ingin bertemu dengan bos," ucap sang penelepon membuat Dimas terdiam.
"Bos? Apa bos baik-baik saja?"
Dimas tersentak dan menormalkan raut wajahnya yang tadi berubah menjadi sendu. "Setelah urusan dengan perempuan itu selesai saya akan menemui tua bangka itu!" jawab Dimas dengan datar.
"Baik Bos!"
Dimas langsung mematikan teleponnya. Ia mengingat wajah papa yang sudah lama tidak ia temui. Hubungan mereka terlihat sangat renggang ketika Dero menyibukkan diri dengan pekerjaannya saat bercerai dengan Amanda dan sekarang Dimas harus bertemu dengan Dero. Setengah hatinya berkata tidak, dan setengah hatinya berkata iya. Bagaimanapun hati Dimas menolak tetap saja ia juga merindukan papanya walau sejak kecil Dimas sudah jarang bertemu dengan papanya akibat kesibukkan papanya tetapi Dero tetap memberikan kasih sayangnya dulu. Namun, sejak kejadian itu Dimas kehilangan semua kasih sayang itu.
Dimas mematung saat ingin kembali ke kamar Arieska ternyata gadis itu sudah berada di belakangnya menatapnya dengan tatapan sendu yang membuat Dimas tidak tega.
"Sejak kapan lo di situ?' tanya Dimas dengan datar berusaha santai di hadapan Arieska.
"Mungkin sejak lo menerima telepon," jawab Arieska dengan pelan.
"Gue pikir semua tadi adalah mimpi," gumam Arieska dengan jujur. Arieska mendekat ke arah Dimas dan duduk di samping Dimas walau sebenarnya ia masih sangat merasa pusing dan lemas.
"Menurut lo?" tanya Dimas dengan tajam.
Arieska menggelengkan kepalanya. "Semuanya nyata saat gue melihat lo di kamar gue sampai sekarang," jawab Arieska dengan jujur. "Kali ini apa yang lo lakukan lagi?" tanya Arieska menatap Dimas dengan dalam.
"Sepertinya lo sudah mengerti rencana gue kalau lo mendengarnya tadi! Dan kali ini lo dilarang ikut campur rencana gue!" ucap Dimas dengan tajam.
"Gue gak akan ikut campur lagi kalau lo malam ini bolehin gue tidur di pangkuan lo," ucap Arieska dengan tersenyum.
"Gak! Lo berat!" ucap Dimas dengan datar.
__ADS_1
"Cuma paha lo yang jadi bantal buat kepala gue! Badan gue gak, Dim! Boleh ya!" ucap Arieska dengan mata sendunya.
Dimas hanya terdiam saat Arieska mulai merebahkan tubuhnya dengan pahanya jadi bantalan kepala gadis itu. Rasa hanya dari kepala Arieska menembus sampai paha Dimas. Arieska masih demam sepertinya karena tubuh Arieska masih terasa hangat.
Dimas mengambil remot AC dan mematikan AC di kamar Arieska yang ternyata masih hidup sejak tadi. Dimas mengambil selimut kecil yang dijangkau oleh tangannya dan menyelimuti tubuh Arieska yang tertidur dengan berbantalan pahanya.
"Gue harap waktu bisa berhenti berputar sekarang. Gue mau menikmati waktu bersama lo saat ini, gue takut gak bisa melihat lo lagi saat besok gue membuka mata," ucap Arieska dengan jujur.
"Lo itu kan jelangkung! Selalu datang ke rumah gue tanpa diundang!" sentak Dimas dengan ketus.
Arieska terkekeh lirih karena mendengar ucapan Dimas yang terdengar sangat lucu baginya. Sejujurnya ia sedang menutupi kesakitannya saat perut dan kepalanya seakan mau meledak karena rasa sakitnya menyerangnya secara bertubi-tubi dari Dimas.
"Kalau ini adalah hari terakhir gue di dunia lo mau gak menuruti satu permintaan gue?" tanya Arieska dengan lirih.
"Ogah!" ucap Dimas dengan datar.
"Jujur amat lo, Dim!" ucap Arieska dengan mengerucutkan bibirnya. "Padahalkan itu permintaan terakhir gue," lanjut Arieska dengan lirih.
"Tidur! Atau gue banting lo ke lantai!" ucap Dimas dengan tajam. Entah mengapa ia tidak suka dengan ucapan Arieska kepadanya seakan-akan gadis itu akan meninggal saja.
"Gue kan gendut lo mana kuat!" ejek Arieska membuat Dimas mendengkus.
"Bisa karena lo sedang sekarang!" ucap Dimas dengan ketus.
Arieska hanya tersenyum. "Jika hari ini adalah hari terakhir gue, gue mau lo mencium gue di bibir," ucap Arieska dengan dalam.
"Gila lo!"
"Anggap saja sebagai kenanga-kenangan dari gue!" ucap Arieska dengan santai. "Dim!" panggil Arieska dengan pelan.
"Hmmmm..." Dimas hanya berdehem saja karena sekarang pikirannya sedang berkecamuk.
__ADS_1
Arieska mencoba bangun dari tidurnya ia menarik tengkuk Dimas hingga kedua bibir mereka menyatu. Dimas melotot tetapi lama kelamaan ia menikmati ciuman Arieska hingga Dimas membalas ciuman Arieska. Kedua mata mereka terpejam menikmati ciuman panjang yang mereka lakukan.
"Gue mencintai lo, Dim. Sampai kapan pun gue akan cinta sama lo karena lo adalah lelaki yang pertama mau berteman dan melindungi gue saat dulu," batin Arieska dengan tersenyum.