
...Hei ramein part ini ya gengs dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya....
...Happy reading...
****
Raka menatap adiknya dengan sangat dalam. Kedua suster yang menjaga adiknya ia suruh keluar karena Raka ingin berbicara pada Jelita walau terkadang sang adik sama sekali tak meresponnya.
Raka berjongkok di depan Jelita yang duduk di kursi roda. Tatapan adiknya masih sama, kosong seperti tidak kehidupan yang berarti di sana.
"Lagi apa?" tanya Raka dengan perlahan. Namun sayang, Jelita masih tak bergeming sedikit pun.
"Gak mau cerita sama aku?" tanya Raka dengan sabar.
Psikiater yang menangani sang adik mengatakan jika Jelita harus sering diajak ngobrol agar mengalihkan dari dunia halusinasinya tentang kebahagiaan yang diciptakan pikirannya sendiri agar memudahkan membuat Jelita sembuh walau memakan waktu yang sedikit lama.
Jelita akan berteriak histeris ketika ia melihat lelaki asing, tetapi jika Raka yang mendekatinya Jelita tetap tenang karena hatinya merasa hangat dengan Raka. Ya mungkin ikatan darah di antara keduanya tidak bisa dibohongi sedikit pun walau Jelita belum mengetahui jika Raka adalah kakak kandungnya namun beda ibu.
"Aku penasaran apa yang sedang kamu lakukan. Apa aku tidak boleh bergabung?" ucap Raka sekali lagi dengan sabar.
Jelita merespon dengan menatap Raka dengan perlahan. "Lagi main sama Mama," jawab Jelita dengan tersenyum. Senyum yang mampu membuat hati Raka terluka.
__ADS_1
"Main apa sama Mama? Kakak boleh ikut?" tanya Raka dengan pelan. Raka memberanikan diri menyebutnya adalah seorang kakak di depan Jelita.
"K-kakak?" tanya Jelita dengan raut wajah bingung namun masih dengan tatapan kosong.
Raka tersenyum. "Jelita boleh panggil aku Kak Raka," ucap Raka dengan mengelus tangan adiknya yang semakin hari semakin terlihat kurus.
"Kak Raka. Hihihi Jelita punya kakak selain kak Dimas," ucap Jelita dengan tertawa tetapi raut wajahnya kembali terlihat sendu. "Kak Raka juga benci Jelita ya?" tanya Jelita dengan lirih, ia menggigit bibir bawahnya hingga air matanya menetes.
"Siapa bilang Kak Raka benci Jelita. Kak Raka sayang banget sama Jelita," ucap Raka dengan mata yang memerah.
Sial! Raka selalu lemah jika bersama dengan Jelita.
"T-tapi....tapi kak Dimas benci Jelita karena Jelita anak haram," ucap Jelita dengan pandangan kosongnya menatap ke arah Raka tetapi air matanya tetap menetes begitu saja menggambarkan betapa Jelita sangat terluka karena keadaan yang selalu tidak berpihak baik kepadanya.
"Jelita mau ketemu kak Dimas gak?" tanya Raka dengan perlahan.
Jelita mengangguk lalu setelahnya menggeleng. "Jelita takut! Jelita takut gak ketemu gak Dimas tetapi bertemu dengan... Aaaaa jelita takut! T-takut, dia jahat," ucap Jelita dengan gemetaran saat mengingat kejadian di mana Dave hendak memperkosanya.
Raka memeluk Jelita dengan erat agar Jelita kembali tenang dan benar saja Jelita membalas pelukannya dengan erat terasa sekali jika tubuh Jelita bergetar dengan sangat hebat sekarang. "Lelaki itu sudah tidak ada Jelita. Kakak sudah membuat dia tidak bisa bertemu dengan kamu. Jelita harus pamit sama kak Dimas sebelum Jelita pergi untuk mencari kebahagiaan katanya Jelita mau bahagia, kan?" ucap Raka dengan lembut.
"Jelita mau pergi ke mana? Apa kak Raka mau bawa Jelita ke surga? Kalau ke surga Jelita mau banget! Bawa Jelita sekarang kak! Ayo kita pergi ke surga, di sini banyak orang jahatnya!" ucap Jelita dengan tersenyum.
__ADS_1
Ingin sekali Raka berteriak sekarang untuk menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya atas ucapan sang adik yang ingin ke surga. Yang benar saja, Raka belum siap kehilangan Jelita.
"Jelita, Kakak janji sebelum kamu bahagia Kakak tidak akan menikah. Kakak ingin melihat senyum bahagia kamu dulu karena itu lebih berarti dari apapun untuk Kakak," gumam Raka dengan tekad yang kuat di dalam hatinya.
****
"Rendy kamu tolong dengar perkataan saya baik-baik," ucap Raka dengan tegas.
"Iya Tuan Muda," ucap Rendy mengangguk sopan saat mereka sudah berada di dalam mobil bersama dengan Jelita untuk bertemu dengan Dimas sebelum Raka dan Jelita pergi dari negara ini.
"Saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri dan kepada Jelita bahwa saya tidak akan menikah sebelum Jelita bahagia. Kamu harus ingat perkataan saya Rendy, kamu sebagai saksi ucapan saya di depan Jelita," ucap Raka dengan tegas tak ada keraguan di dalam dirinya.
Rendy membelalakkan matanya karena terkejut dengan ucapan sang tuan bahkan ia mengerem mobinya dengan mendadak.
Citt...
"Masih mau hidup atau mati di tanganku Rendy?" tanya Raka dengan tajam saat kepala Jelita hampir saja terbentur kursi kalau ia tidak melindungi adiknya yang tertidur setelah lelah dengan ketakutannya.
"M-maaf Tuan muda. Saya sangat terkejut dengan ucapan anda karena tuan besar sudah menjodohkan anda dengan anak rekan bisnisnya," ucap Rendy dengan gugup.
"Cih... Siapa mereka yang bisa mengatur kehidupan saya? Saya tidak peduli dengan semuanya, saya tidak akan menikah dengan wanita bermuka dua itu Rendy! Cam kan itu!" ucap Raka dengan tajam. "Jalan! Berhati-hatilah membawa mobil, jika Jelita terluka sedikit saja karena keteledoranmu maka nyawamu yang akan menjadi taruhannya," ancam Raka dengan dingin.
__ADS_1
Glek....
Rendy menelan ludahnya dengan kasar. Ia tahu bagaimana perangai tuan mudanya tersebut. Apa yang tuan mudanya ucapkan maka tidak ada bantahan sama sekali. "Tuan muda janjimu sangat menyeramkam sekali. Bagaimana jika ke depannya tuan muda bertemu dengan orang yang anda cintai. Apa kalian saling menyakiti untuk kebahagiaan nona muda. Saya harap nona muda segera bahagia agar tuan muda juga segera meraih kebahagiaan cukup kehidupan tuan di lakukan untuk bekerja selama ini."