
...Happy reading...
*****
Dua minggu kemudian...
Raka sudah memboyong nenek, papa, mama, dan adiknya kembali ke Indonesia. Kini, mereka sudah berada di rumah Raka yang dulu di tempati Damian, rumah yang ber-atas namakan milik Jelita itu menjadi tempat tinggal adik kesayangannya sedangkan Jelita sudah mempunyai rumah bersama dengan Rasyad.
Erina belum tahu jika suaminya akan pulang hari ini. Selama dua minggu Erina menahan rasa rindunya bahkan sampai ia mager melakukan apapun selain bermain ponsel guna untuk melihat pesan atau telepon suaminya.
Nathan membukakan pintu untuk menantunya saat Raka sampai ke rumahnya tepat jam 10 malam.
"Maaf Yah, sudah mengganggu istirahat Ayah," ucap Raka dengan sopan tetapi wajahnya tetap terlihat dingin walau Raka merasa lelah setelah 16 jam lebih melakukan penerbangan hingga sampai ke Indonesia pun Raka harus mengantarkan keluarganya terlebih dahulu barulah ia kembali ke rumah mertuanya.
"Tidak apa-apa. Temui langsung istrimu, dia terlihat murung saat kamu tidak ada bersamanya," ucap Nathan memaklumi apa yang sedang Raka lakukan untuk keluarganya.
"Baik,Yah," ucap Raka dengan singkat.
Tanpa Raka bicara pun Nathan sangat mengetahui jika Raka lebih merindukan Erina. Terlihat lingkaran mata Raka yang menghitam, mungkin Raka sama sekali tidak bisa tidur apalagi mual yang Raka alami. Obatnya hanya Erina sedangkan mereka sedang berjauhan dua minggu ini, sepertinya pasangan suami istri itu sama-sama tersiksa ketika berjauhan.
Raka langsung berlari ke arah kamar Erina. Ia membuka pintu kamar Erina dengan perlahan, ia tersenyum saat melihat Erina yang sedang tertidur membelakanginya. Raka berjalan perlahan mendekati Erina, ia merangkak menaiki kasur dengan perlahan. Suami Erina itu langsung tersenyum ketika melihat wajah sang istri yang terlelap. Raka menyentuh pipi cabi Erina dengan perlahan.
"Rasanya sangat menyesakkan ketika saya jauh dari kamu," ucap Raka dengan lirih.
Erina yang merasa ada orang di sampingnya langsung membuka matanya, saat tadi ia sangat merindukan Raka dan berharap suaminya itu segera pulang hingga dirinya ketiduran ketika sudah lelah memandang wajah tampan suaminya yang berada di galeri ponselnya.
"Huhu... Dalam mimpi pun mas Raka ada di sini. Mas Raka kapan pulang? Aku sudah sangat merindukanmu, Mas!" ucap Erina yang masih merasa ia sedang mimpi sekarang karena ada wajah Raka di hadapannya.
__ADS_1
Erina membelai rahang tegas suaminya yang membuat Raka memejamkan matanya saat jari lentik istrinya tepat di matanya. "Saya juga merindukanmu, Erin!" ucap Raka dengan suara beratnya.
"Mas Raka. Aku mimpi lagi ya?" tanya Erina dengan mata sayunya.
"Tidak, Sayang. Saya sudah di sini. Kamu bebas menyentuh saya," ucap Raka dengan tersenyum.
Raka mengukung tubuh Erina di bawah kuasanya yang membuat Erina benar-benar tersadar jika suaminya sudah pulang dan sekarang ada dihadapannya. "Hiks...aku kangen Mas Raka!" ucap Erina memeluk Raka dengan erat.
"Saya juga!" jawab Raka dengan tersenyum. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja, Raka mengecup kening Erina dengan lama. Menyalurkan rasa rindunya yang seakan bisa meledak kapan saya.
"Kamu baik-baik saja, kan? Bagaimana anak kita di dalam sana dia tidak menyusahkanmu, kan?" tanya Raka dengan menatap mata Erina begitu dalam.
"Tidak. Dia hanya sangat merindukan daddy-nya," jawab Erina dengan tersenyum.
"Ooo ya? Kalau begitu Daddy boleh menjenguk kamu di dalam sana tidak? Sudah dua minggu nih Daddy tidak mendapatkan jatah dari mommy kamu," ucap Raka dengan geli.
"Boleh ya!" pinta Raka dengan memelas membuat Erina tersenyum geli dan menganggukkan kepalanya.
****
Pagi harinya...
Jelita sedang menikmati suasana pagi yang sangat sejuk di taman. Rasyad mengajaknya Jalan-jalan berdua, tetapi sangat membuat Jelita bahagia apalagi saat ini Rasyad menggendongnya.
Mata Jelita menangkap seseorang yang menjual gula kapas yang membuat Jelita menelan air liurnya. "Mas beli gula kapas itu!" tunjuk Jelita dengan manja.
Rasyad melihat arah yang ditunjuk suaminya. "Kamu mau itu?" tanya Rasyad dengan lembut.
__ADS_1
"Iya, Mas. Cepat beli!" rengek Jelita yang membuat Rasyad tersenyum.
"Kamu duduk di sini dulu, Sayang. Mas beli gula kapas yang kamu mau," ucap Rasyad yang mendudukkan Jelita di kursi taman dengan perlahan.
"Jangan lama ya Mas!"
"Iya, Sayang!"
Setelah kepergian Rasyad membeli gula kapas yang ia mau Jelita menatap sekelilingnya, ia tersenyum saat melihat lumayan banyak orang yang berjalan di taman ini.
"Aduh."
Jelita tersentak saat ada seseorang yang hampir jatuh di hadapannya. "Kakek tidak apa-apa?" tanya Jelita dengan cemas karena melihat kakek-kakek tua yang hampir jatuh di hadapannya.
Kedua mata mereka saling bertemu, dan keduanya saling terdiam. "Tidak!" jawab Kakek tersebut dengan dingin lalu berlalu pergi begitu saja tanpa berterima kasih kepada Jelita yang membuat Jelita bingung.
"Sayang kenapa jongkok di situ?" tanya Rasyad dengan posesif.
"T-tadi ada kakek-kakek yang hampir jatuh di hadapanku Mas. Aku tolongin tapi kakek itu malah bersikap dingin ke aku. Kakek itu kenapa ya, Mas? Tapi wajahnya kok seperti familiar ya Mas?" ucap Jelita dengan heran.
Tubuh Rasyad mematung mendengar penjelasan Jelita. Matanya mengedar mencari keberadaan kakek yang maksud oleh sang istri.
"Kakek Agam? Dia sudah ada di Indonesia? Sejak kapan?" ucap Rasyad di dalam hati saat melihat kakek Agam yang memang berada di sana dan sedang menatap ke arah Jelita.
"Mas!"
"I-iya, Sayang. Kita pulang ya. Makan gula kapasnya di rumah saja," ucap Rasyad dengan cepat sebelum kakek Agam berbuat yang tidak-tidak kepada sang istri.
__ADS_1
"Loh kenapa Mas?" tanya Jelita dengan bingung.
"Udara di sini semakin panas, Sayang. Ayo kita pulang," ucap Rasyad dengan cepat. Karena ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Jelita setelah pertemuan tidak sengaja Jelita dengan kakeknya.