Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Rasa Cinta Itu Tidak Ada


__ADS_3

"Cantik sekali kamu," komentar Nurpiah menatap Arini yang menutupi kepalanya dengan menggunakan kerudung berwarna hijau apel.


"Fahri tengok istri mu cantik bukan?" Nurpiah bertanya kepada Fahri yang menatap sejenak ke arah Arini. Tak berkomentar ia malah meneruskan makan nasi goreng menu sarapanya pagi ini.


"Bang!" Andari yang duduk di sebelahnya menegurnya.


"Apa Dek?" tanya Fahri menatap ke arah Andari.


"Arini cantik kan?"


"Iya," hanya itu akhirnya yang keluar dari mulut Fahri mengenai penampilan Arini.


Setelah menikah dengan Fahri, Arini memutuskan untuk menutup kepalanya dengan kerudung. Bagaimana pun sekarang ia telah menjadi istri Fahri. Ia harus memperhatikan betul apa yang ia kenakan. Tidak seperti dulu asal sopan itu tidak jadi masalah.


"Abang pergi dulu Dek," Andari mencium punggung tangan Fahri yang kemudian nengecup keningnya.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Arini. Ia mencium punggung tangan Fahri. Ada rasa janggal yang Fahri rasakan saat ia mengecup kening Arini. Arini hanya dapat diam. Ia dapat rasakan bahwa kecupan yang diberikan Fahri bukanlah suatu rasa cinta tapi hanya sebuah kecupan biasa tanpa makna.


"Kamu yang sabar," Andari coba menghibur Arini yang berusaha untuk tersenyum"


"Tapi berat Bang jadi istri kedua," teringat lagi Arini dengan perkataan Asti.


"Arini, kamu melamun."


"Eh!"


"Sudah jangan dipikirkan, ayo kamu sekarang sarapan dulu."


***


Arini tak lagi bekerja sebagai kasir di Indomaret. Ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Ia sekarang fokus dengan usaha pembuatan kue pesanan.


"Katanya kamu ingin membuka usaha cafe?" Andari bertanya. Ia membantu Arini dalam menyelesaikan kue pesanan.


"Kamu masih ingat dengan keinginan ku."


"Bagaimana kalau hal ini kamu bicarakan dengan Bang Fahri."


"Apakah Bang Fahri akan setuju?"

__ADS_1


"Insya Allah, lagi pula apa yang kamu lakukan baik. Bisa juga kan bantu orang lain karena dengan membuka usaha cafe kamu juga membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain."


Nurpiah masuk ke dalam dapur.


"Kue ini pesanan juga?" Nurpiah bertanya sambil menunjuk ke arah bolu gulung yang diletakan di atas piring saji di hadapannya.


"Ndak kok Mak kalau kue bolu itu memang untuk di rumah."


Nurpiah kemudian mengiris kue bolu itu. Ia mengigit potongan bolu itu yang di dalamnya terdapat selai jeruk.


"Kue ini enak sekali pasti Arini yang membuatnya."


"Itu buatan ku dan juga Andari Mak."


"Iya, tapi kalau kamu ndak bantu pasti dia ndak bisa bikin," berkata begitu Nurpiah lalu pergi meninggalkan dapur.


"Kamu ndak apa-apa kan Ri?" tanya Arini cemas. Ia menatap ke arah Andari yang tadi wajahnya seketika berubah mendengar komentar Nurpiah.


Arini tidak memahami kenapa Nurpiah sepertinya tidak menyukai Andari.


" Ndak apa-apa kok, kita teruskan buat kuenya lagi pula black forest ini mau diambil jam tiga sore."


***


"Kenapa kamu berkata begitu?"


"Karena getaran itu tidak ada. Abang tahu sendirilah bagaimana seseorang yang memiliki cinta kepada orang lain pasti merasakan semacam getaran sedangkan aku terhadap Arini, aku tidak merasakan getaran itu."


Nizar menghembuskan nafasnya lalu berkata,


"Abang memang belum pernah mengalami apa yang kamu rasakan, berpoligami, apalagi sekarang kamu dituntut harus adil terhadap istri-istri mu. Abang hanya bisa menyarankan kamu jalani saja semua ini, yakinlah suatu saat nanti kamu pasti bisa menerima Arini sebagai istri mu."


"Sudah kamu jangan risau seperti itu."


***


"Assalamualaikum," Fahri mengucap salam.


'"Walaikumsalam," Arini yang menjawab salam tersebut.

__ADS_1


"Andari mana?"


"Kok pulang-pulang kamu langsung bertanya soal Andari," Nurpiah yang berkata. Wajahnya tidak terlalu suka dengan apa yang dilakukan oleh Fahri.


"Andari di dapur Bang."


Baru saja Arini berkata begitu, Andari keluar dari dapur membawa sepiring tempoyak yang dimasak dengan dicampur udang kupas lalu meletakan di atas meja makan.


"Abang sudah pulang rupanya. Air panasnya sudah ku siapkan Bang."


Fahri kemudian mandi. Selesai mandi ia makan malam beserta kedua istri dan ibunya.


"Bagaimana rasanya Bang?" tanya Andari meminta pendapat mengenai tempoyak yang ia masak tadi bersama Arini.


"Enak."


"Itu tempoyak Arini yang masak." Nurpiah berkata, ia tersenyum ke arah Arini.


"Aku dan Andari yang masak Bang," koreksi Arini.


"Abang nak tambah nasinya?" tanya Andari.


"Dek, tolong ambilkan Abang nasi lagi," Fahri menyerahkan piring ke Andari yang duduk di depannya.


"Kenapa tidak minta tolong Arini yang duduk di sebelah mu?"


Fahri tidak menangapi perkataan ibunya yang tampak jengkel.


"Ndak apa-apa kok Mak."


"Segini Bang."


Fahri menganguk sebagai jawaban.


Makan malam terus berlanjut tanpa adanya lagi percakapan di antara mereka.


CATATAN


Tempoyak: Buah durian yang difermentasikan. Rasanya asam juga sedikit asin karena saat difermentasi diberi garam. Fungsi garam agar mempercepat proses dari fermentasi itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2