
...Happy reading...
*****
"Tidak usah ikut campur Brianna. Ini semua aku lakukan demi keluarga kita!" ucap Kakek Agam dengan tegas.
"Ini urusanku juga Agam. Jika kamu tidak bisa melunak maka aku juga akan pergi dari rumah ini!" ucap Nenek Brianna dengan tajam.
"Selangkah saja kamu keluar dari rumah ini maka tidak ada sepeser pun harta yang akan aku beri padamu Brianna walaupun kamu istriku!" ancam Kakek Agam dengan tajam agar sang istri kembali diam dan tak menentang semua keputusan yang sudah sangat dianggap baik olehnya.
Nenek Brianna tidak lagi mempedulikan ucapan suaminya, ia menatap Raka dengan sangat dalam. "Bawa Nenek bertemu dengan mama dan adik, Ka! Sekali pun Nenek harus ke Indonesia!" ucap Nenek Brianna yang membuat Raka dan Dimas tersenyum menyeringai akhirnya rencana mereka berhasil juga
"Dengan senang hati, Nek!" jawab Raka dengan tegas.
"Frendy!" panggil Nenek Brianna kepada Frendy yang sejak tadi hanya diam. Ia tidak ingin anaknya selalu menjadi boneka oleh suaminya, Frendy harus bahagia juga.
"Iya Ma," jawab Frendy dengan pelan. Saat ini ia ingin memberontak tetapi nyalinya masih ciut untuk menentang sang papa.
"Ikut Mama atau tetap di sini bersama dengan papamu. Dan tetap menjadi boneka kesayangan papamu?" tanya Nenek Brianna yang membuat Frendy terdiam.
"Raka tidak punya waktu untuk menunggu Papa berpikir. Di sana istri Raka sedang menunggu kepulangan Raka dengan segera apalagi saat ini istri Raka sedang hamil muda!" ucap Raka dengan tegas.
"Berani kamu keluar dari rumah ini Papa tidak akan memberikan semua kekayaan Papa ke kamu, Frendy! Seperti semua anak-anak kamu yang telah menentang keputusan Papa!" ucap Kakek Agam dengan tajam.
"Maaf, Pa. Kali ini saya tidak bisa berada di sini terus. Frendy juga berhak bahagia, selama ini saya menahan hati saya untuk tidak menentang Papa tetapi apa yang dikatakan mama benar. Saya juga berhak bahagia bersama istri dan anak saya, saya merindukan Amanda dan Jelita!" ucap Frendy dengan tegas.
__ADS_1
"Ayo kita pergi! Kita tidak punya waktu untuk berada di sini terlalu lama!" ucap Nenek Brianna dengan tegas.
"BERANI KALIAN KELUAR DARI RUMAH INI?" teriak Kakek Agam tetapi semuanya tak lagi peduli dengannya.
"Brianna, Frendy, Raka, kalian berani menentang saya hah? Saya pastikan kaliam tidak aksn bertahan lama diluaran sana! Saya pastikan kalian akan kembali ke rumah ini...."
"Arghhhh...kembali kalian!"
Kakek Agam memegang dadanya yang tiba-tiba saja nyeri. "Adnan!" teriak Kakek Agam memanggil orang kepercayaannya.
"Iya Tuan Besar," jawab Adnan dengan sopan.
"Awasi mereka!" ucap Kakek Agam dengan tegas.
"Tidak usah pedulikan saya! Cepat pergi dan awasi mereka!" sentak Kakek Agam dengan tajam.
"Baik Tuan Besar! Tapi sebelum saya pergi anda harus beristirahat di kamar terlebih dahulu!" ucap Adnan dengan sopan. Ia membantu kakek Agam untuk berjalan ke arah kamar sang tuqn besar.
*****
Damian menatap mamanya dengan iba. Saat ini Amanda sedang jatuh sakit tetapi sang mama tidak mau dibawa ke dokter sama sekali, tinggal di apartemen milik Damian yang ia beli dengan uang sendiri membuat Amanda merasa bahagia apalagi ia bisa akrab dengan anak bungsunya seperti sekarang.
Mereka bisa memasak bersama mengingatkan Amanda dengan Jelita sewaktu kecil dimana keduanya masih bersama dan menikmati hari-hari dengan bahagia sebelum hari sedih itu datang di keluarganya. Amanda mengaku menyesal telah menelantarkan kedua anaknya, jika bisa Amanda ingin menebus semua kesalahannya waktu dulu kepada kedua anaknya.
Ting...tong....
__ADS_1
"Mian buka pintu dulu ya Ma. Mungkin itu Rendy atau kak Raka yang datang," ucap Damian dengan tersenyum.
"Iya Mian," ucap Mama Amanda dengan tersenyum.
Damian berjalan ke arah pintu apartemen, ia tersenyum saat melihat kakaknya datang tetapi senyumannya menghilang saat melihat nenek dan papanya juga berada di hadapannya juga.
"Nanti Kakak jelaskan kebingungan kamu, Mian! Sekarang biarkan nenek dan papa masuk. Mereka ingin bertemu dengan mama," ucap Raka dengan tegas. Ia sangat paham saat Damian tak bicara pun Raka sudah mengerti jika Damian tidak suka melihat nenek dan papanya datang ke apartemennya.
"Tapi Kak..."
"Siapa yang datang Mian? Kenapa tidak kamu suruh masuk?" tanya Mama Amanda.
"Manda!"
Mama Amanda sangat mengenal suara itu. Ia langsung menatap seseorang yang sudah menjadi suaminya sangat lama.
"Mas Frendy!" ucap Mama Amanda dengan mata berkaca-kaca.
"Mama, kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Mama Amanda dengan bingung.
Frendy dan Nenek Brianna sama sekali tidak menjawab, Frendy memeluk istrinya dengan erat. "Kamu sakit, Manda? Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Aku terlalu pengecut untuk membelamu di depan Papa," ucap Papa Frendy dengan lirih.
Dimas menatap sang mama dari kejauhan. ia terkekeh sinis untuk menghalau air katanya yang hendak jatuh begitu saja. "Apa aku salah jika berharap mama kembali ke papa dan tidak bersama dengan lelaki itu? Kenapa rasanya sangat sesak sekali melihat kebersamaan mereka sedangkan papaku sakit seorang diri?"
Setelah berkata seperti itu Dimas berlalu pergi. Ia belum siap untuk bertemu dengan mamanya sendiri, ia seperti orang asing di hadapan mamanya dan keluarga Raka yang lainnya. Lebih baik ia menghubungi Arieska dari pada ikut gabung bersama keluarga Raka.
__ADS_1