Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Tentang Masa Lalu Bagian Kedua


__ADS_3

"Ke Tugu Khatulistiwa yuk, liat titik kulminasi," ajak Arini kepada Andari waktu itu. Cuaca begitu panas bedengkang. Baju seragam abu-abu yang mereka pakai sampai lengket di badan karena keringat yang mengucur dari tubuh. Jam pulang sekolah baru berbunyi lima menit yang lalu.


"Jadi ndak ke tugunya?" tanya Fahri.


"Kita jalan kaki aja, kan dekat."


"Ngg...ngak jadi deh aku ikut kitak."


"Kenapa?"


"Baru ingat aku harus pulang cepat Hari ini bantu Emak masak. Ada arisan Keluarga di rumah," Arini beralasan dan itu memang benar. Ia baru ingat di rumahnya siang ini arisan keluarga. Syukurlah jadi ia mempunyai alasan tepat untuk tidak pergi ke Tugu Khatulistiwa bersama Andari dan Fahri.


"Sayang sekali."


"kamek duluan kalau begitu."


Arini hanya bisa menatap kepergian Fahri dan Andari dengan hati tak tentu rudu. Perasaan itu telah lama sebenarnya Arini rasakan saat Andari beberapa bulan lalu mengenalkannya kepada Fahri. Tapi coba ia redam. Ia tak ingin mengkhianti sahabatnya sendiri. Andari pernah bercerita kepada Arini bahwa ia suka dengan Fahri tapi ia tak berani mengungkapkanya di depan Fahri mengenai perasaanya ini. Lagi pula ia memiliki prinsip harus pihak laki-laki yang terlebih dahulu menyatakan cinta kepadanya.


"Kenapa harus begitu?" tanya Arini waktu itu karena ia heran dengan prinsip yang dianut Andari. Meraka saat ini di kantin sekolah


"Kayak nggak pantes aja seorang cewek nyatakan cintanya ke cowok. Kesanya kayak gimana gitu."


"Miang maksud mu?"


Andari menganguk.


"Ini jaman emansipasi seharusnya kamu ndak menganut prinsip aneh kayak gitu."


***


"Kamu kenapa Ri?" tanya Andari kepada Arini yang duduk di sebelahnya. Jam istirahat pertama mereka memutuskan untuk tetap di kelas karena Andari membawa sekotak Dunkin Donuts yang kemarin ia beli di Mega Mall.


Andari bertanya seperti itu karena ia melihat Arini seperti tampak melamun. Ia juga tidak menyentuh donat yang dibawa Andari. Tadi Andari bercerita kepada Arini betapa serunya kemarin sore ia dan Fahri setelah dari Tugu Khatulistiwa, nonton film di Cineplex 21 lalu mereka berdua makan di Cafe Oh La La di Mega Mall. Mereka juga mampir di Dunkin Donuts untuk membeli donut.


"Aku memang kenapa?"


"Kamu tampak melamun. Kamu sakit atau ada masalah?"


"Ya aku ada masalah karena mencintai Bang Fahri," batin Arini.


"Ri!"


"Badan ku penat karena kemarin harus bantu Emak menyiapkan ini itu karena di rumah kan arisan keluarga," kata Arini berbohong. Ia tersenyum kemudian agar Andari tidak khawatir akan dirinya."


"Kirain kamu sakit atau ada masalah apa."


"Lain kali kalau kitak ke Mega Mall aku ikut ya."


"Ok!"


***


"Kenapa kamu sedih?"


"Aku sedih karena aku senang Abang lulus SMU."


Waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa kini Fahri lulus dari SMU. Fahri meminta Andari menemaninya mengambil amplop kelulusan di sekolah.


"Ku kira kamu menangis karena kamu takut ndak bisa ketemu aku lagi setiap hari."


"Perasan" kata Andari berbohong. Padahal apa yang dikatakan Fahri itu memang benar. Ia takut tidak bisa bertemu setiap hari dengan Fahri.


Yang tidak diketahui Andari, hal yang sama sebenarnya juga dirasakan Arini yang berdiri di sampingnya. Andari tadi menghubungi Arini. Meminta sahabatnya itu untuk menemaninya ke sekolah. Arini yang tak kuasa untuk menolak mengiyakan keinginan Andari walau sebenarnya di hatinya ingin sekali menolak permintaan sahabatnya itu. Ia tak ingin bertemu dengan Fahri itu saja alasannya.


"Kamu melamun Ri?" tanya Andari.


"Jangan sering melamun ntar kesurupan," itu kata Fahri.


Untuk merayakan kelulusan, Fahri mengajak mereka untuk pergi ke Mega Mall. Mereka memutuskan santap siang di Pondok Ale- Ale yang terletak di lantai dua.


Tiba-tiba saja rasa cemburu menyergap diri Arini saat ia melihat Fahri dan Andari berbincang begitu akrab di depannya.


"Kamu kenapa Ri? Kok tampak gelisah seperti itu?" bertanya Andari kepada Arini yang tampak gelisah saat ini.


Belum sempat ia menjawab Nizar datang menyelamatkannya.


"Sori banget Abang datangnya telat. Tadi harus ke dosen pembibing dulu."


***


Akhir-akhir ini Fahri sering melamun di kelas. Sering ia ditegur dosen karena jika ditanya ia seperti orang yang kaget sendiri.


"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta di kelas ini," kata dosennya saat ia menanyai Fahri tapi ia malah diam tidak menjawab dan baru kembali ke alam nyata setelah temannya yang duduk tak jauh di sampingnya menepuk pundaknya.


Seisi kelas tertawa saat mendengar perkataan dosen tersebut. Fahri yang sebagai objek lelucon tampak bersemu merah wajahnya kini.


***


Fahri mengaduk es jeruk dengan sedotan plastik. Pandangannya tidak fokus. Arini menatapnya prihatin. Mereka saat ini berada di kantin kampus untuk makan siang. Arini merasa beruntung ia bisa satu kampus dengan Fahri walau begitu ia tak dapat menjangkau perasaan Fahri agar menyukai dirinya. Hati Fahri sudah tertambat di diri Andari.


Waktu lagi-lagi berlalu begitu cepat. Andari dan Arini lulus SMU kemudian. Arini memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di UPB. Ia mengambil jurusan Argoteknologi di Fakultas Pertanian.


"Mudah-mudahan kamu ndak pingsan pas bercocok tanam. Kamu kan dijemur panas pas upacara bendera aja pingsan," Fahri berkata seperti itu dengan geli hati.


"Pasti repot sekali nantinya teman-teman kamu mengotong kamu pas lagi pingsan," timpal Nizar tak kalah geli ati ia dengan adiknya.


"Ketimbang Bang Nizar MTK."


"Apa itu MTK?"


"Mahasiswa tadak lakka-lakka alias ndak lulus-lulus kuliahnya," Arini berkata dengan logat Melayu Sambas yang kental. Kedua orangtuanya memang berasal dari Sambas


Kini giliran Arini yang geli hati begitu pula dengan Fahri. Wajah Nizar tampak memerah karena malu.


***


Kaget Fahri saat seseorang menepuk pundaknya lagi. Ia menghentikan gerakannya mengaduk es jeruk dengan sedotan plastik.


",Ngelamun Dek?" Nizar bertanya sambil pesan Indomie soto campur telur plus sawi kepada penjaga kantin.


"Eh Bang, kenapa ke kampus?"


"Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan mengenai ijazah."


Nizar sekarang telah lulus kuliah dan seminggu yang lalu diwisuda.


"Lagi pula kangen suasana kampus,"Nizar berkata sambil mengucapkan terima kasih kepada penjaga kantin yang mengantarkan pesananya. Langsung saja ia mengambil botol kecap manis,menuangkan secukupnya di atas mienya, lalu dilanjutkan mengambil botol saus sambal, menuangkan secukupnya di atas mienya.


"Kenapa kamu melamun tadi?" tanya Nizar lagi sambil mengaduk mienya agar tercampur rata bumbu, kecap manis, dan saus sambalnya.


"Kangen Andari mungkin," itu Arini yang menjawab setelah sekian lama tidak berkata. Fahri akhirnya mengakui sendiri perasaan sukanya terhadap Arini dan Nizar. Ia mengatakan itu seminggu yang lalu di Pondok Ale-Ale. Saat itu giliran Nizar mentraktir mereka setelah selesai dari acara wisuda.


Fahri waktu itu tampak melamun. Nizar yang khawatir akan kondisinya lalu bertanya. Fahri kemudian mengakui perasaan sukanya terhadap Andari.


"Pernah menghubungi Andari?"


"Pernah."


"Lalu apakah kamu mengakui ke Andari tentang perasaan mu ini."

__ADS_1


"Tidak pernah malah aku pernah menghubungi pondok pesantren tempat Andari nyantri. Andari malah berkata kalau bukan muhrim dilarang telpon ke pondok takutnya nanti disangka aku pacarnya Andari dan Andari bisa kena masalah karena ini. Andari mengatakannya seperti itu."


"Setahu Abang memang begitu peraturan di pondok pesantren kalau bukan muhrim dilarang untuk menelpon."


"Kenapa kamu ndak buka hati mu untuk orang lain saja."


"Ndak mudah Bang."


"Padahal adalah loh yang mengharapkan diri mu."


Arini yang duduk di sebelahnya spontan menginjak kuat kakinya, membuat Nizar tersedak mie yang dikunyahnya.


"Hati-hati Bang kalau makan," Fahri menyerahkan es jeruk yang belum diminumnya kepada Nizar.


Dua tahun lalu di dalam bus kota. Arini kaget saat Nizar ikut masuk ke dalam bus kota dan duduk di sampingnya.


"Abang kenapa naik bus, kan kost Abang dekat kampus."


"Abang nak ke Siantan gak. Ada perlu dengan Fahri."


Fahri hari ini tidak ke kampus karena tidak ada mata kuliah.


"Jadi tetap ndak mau jujur nih."


"Maksud Abang apa?"


"Kamu ndak perlu pura-pura di depan Abang. Abang sudah tahu perasaan mu dengan Fahri."


"Abang cakap apa aku ndak paham."


Nizar tersenyum.


"Perasaan mu yang sebenarnya dengan adik Abang itu."


Arini terdiam sekarang, berusaha menahan tetes air mata jatuh dari kedua matanya.


"Jangan nangis nanti disangka Abang ngapain kamu lagi, lagi pula Abang ngomong gini nggak ada maksud apa-apa."


"Dari mana Abang tahu perasaan ku dengan Bang Fahri?" tanya Arini menghapus air matanya.


"Dari mata mu yang selalu diam-diam menatap ke arah Fahri dengan penuh minat."


Selama ini tanpa Arini sadari, Nizar selalu memperhatikannya menatap diam-diam ke arah Fahri kalau mereka sedang berada di kantin kampus.


"Bang!"


"Apa?"


"Jangan bilang Bang Fahri. Aku ndak mau dia sakit hati karena kita sama tahu Bang Fahri masih mengharapkan Andari."


***


Waktu bergulir lagi hingga tidak terasa Arini lulus dari kuliahnya. Fahri sendiri telah lulus kuliah dua tahun lalu. Ia lalu meneruskan usaha development warisan dari ayahnya.


Arini sendiri memutuskan untuk bekerja di sebuah cafe yang terletak di daerah Kota Baru. Memasak dan berkebun adalah hobinya yang tak terpisah. Modal jadi sandungan baginya untuk membuka usaha cafe dengan konsep taman bunga. Saat ini cukup baginya menjadi pelayan cafe. Mudah-mudahan kedepan meningkat menjadi pemilik cafe.


"Mbak saya pesan milk shake coklat satu" Andari menyebutkan pesananya sambil membaca buku menu di hadapannya . Kaget ia saat mendongak dan melihat pelayan cafe yang berdiri di hadapannya.


"Arini!"


"Andari!"


***


"Saya pesan pecal ayam satu, tambah tempe tiga, minumannya es jeruk kecil," Andari menyebut pesanannya kepada salah penjaga warung tenda.


"Kamu pesan apa?"


"Ndak tambah lauk."


"Ndak cukup itu saja."


Mereka kemudian duduk di sebuah kursi saling berhadapan. Tak jauh dari mereka tampak kendaraan yang berlalu lalang di jalan Sultan Hamid Dua dan juga di atas Jembatan Tol Landak yang membentang di atas Sungai Landak. Jembatan ini memang terhubung langsung dengan jalan Sultan Hamid Dua. Disebut jembatan tol karena dulu pada awal pembangunanya sekitar awal tahun delapan puluhan hingga memasuki awal tahun sembilan puluhan setiap kendaraan yang naik ke atas jembatan diwajibkan untuk membayar lima ratus rupiah. Sekarang hal itu tidak berlaku lagi. Mungkin jika diberlakukan sistem pembayaran seperti naik tol maka jalanan disekitar Jembatan Tol Landak akan menjadi macet sementara badan jalan sendiri semakin hari semakin menyempit akibat volume kendaraan yang bertambah.


"Kamu kuat juga makannya,"komentar Arini saat mendengar apa saja yang dipesan oleh Andari untuk menu makan malamnya.


Sepulang kerja di cafe Arini biasa dijemput Bang Riswan. Abang nomor duanya ini tinggal di Parit Lengkong beserta istri dan satu orang anak laki-laki. Bang Riswan bekerja di sebuah bengkel dekat cafe tempat ia bekerja.


Arini sendiri tinggal di jalan Selat Panjang. Jika hendak ke Parit Lengkong pasti harus melewati jalan Selat Panjang, jadi bisa sekalian Bang Riswan mengantarnya pulang. Tapi karena hari ini Andari mengantarnya pulang maka tadi ia menghubungi Bang Riswan agar tidak usah menjemputnya ke cafe.


Merasa lapar Andari kemudian membelokan Honda Scoopy yang ia kendarai ke warung tenda dekat Jembatan Tol Landak. Warung tenda dekat Jembatan Tol Landak merupakan salah satu tempat makan favorit Andari. Ia juga menanyakan ke Arini apakah ia lapar atau tidak dan Arini menjawab ia juga lapar. Jadi Andari tak perlu membungkus makananya untuk dibawa pulang.


"Bile awak balek?" tanya Arini bersamaan dengan itu pesanan mereka datang. Mereka mengucap terima kasih kepada penjaga warung makan yang mengantarkan menu pesanan mereka.


"Semalam sekitar jam delapan pagi." Andari mencecal potongan ayam goreng ke dalam sambal kacang.


"Kenapa ndak bilang kalau nak balek ke Pontianak?" Arini bertanya sambil memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.


"Besok sebenarnya aku nak ke rumah mu, eh malah hari ini kebetulan kita ketemu di cafe tempat kamu bekerja."


Melalui e-mail Arini pernah bercerita kepada Andari bahwa ia telah bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe di daerah Kota Baru. Salah satu seniornya di kampus, Bang Jul namanya, mengatakan bahwa cafe yang baru dikelola adiknya membutuhkan beberapa pegawai. Arini tertarik akan tawaran dari Bang Jul lalu ia mengajukan dirinya. Ia kemudian diterima menjadi pelayan di cafe tersebut.


"Semalam sore aku bertemu dengan Bang Fahri di Alun-Alun Kapuas."


"Bang Fahri mengungkapkan rasa sukanya terhadap diri ku dan meminta aku untuk menjadi pacarnya."


Lanjutan dari kata Andari yang terakhir ini membuat Arini tersedak akan nasi yang baru ia kunyah. Cepat ia menyambar teh botolnya. Nyaris ia menghabiskan isi teh botolnya.


"Kamu kenapa?"


"Ng...nggak kaget aja dengarnya, lalu kamu menerimanya?" tanya Arini dengan hati yang begitu cemas mendengar jawaban Andari selanjutnya.


"Aku menolaknya."


"Kenapa kamu menolaknya?"


"Karena dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran."


Andari memang banyak berubah sekarang. Dari segi pakian lebih tertutup. Berbeda dengan Andari yang dulu yang tak kisah dengan pakiannya sedikit tertutup atau tidak yang penting sopan. Mungkin ini pengaruh selama ia kuliah dan menimba ilmu agama di pondok pesantren di Jogja.


"Lalu bagaimana reaksi Bang Fahri?"


"Bang Fahri malah meminta kepada ku untuk menikah dengannya dan aku menerimanya." Perkataan Andari yang ini bagai martil yang memukul hati Arini hingga pecah berkeping tak dapat lagi disatukan.


"Kamu kenapa?" Andari bertanya karena ia melihat perubahan di wajah Arini saat ini.


"Aku kaget dan juga senang mendengar berita ini, itu saja," Arini mengambil botol tehnya, menghabiskan sisa tehnya, berusaha untuk menutupi kegugupan juga kesedihannya.


***


Seminggu kemudian Fahri dan Andari melangsungkan pernikahan di rumah adat Melayu. Fahri dan Andari tampak lawar berbalut busana pernikahan khas Melayu.


Arini yang menatap mereka duduk di pelaminan dari kursi tamu, coba untuk meredam perasaanya yang saat ini tak tentu rudu. Senang, sedih, kecewa jadi satu.


Sebulan kemudian Arini memutuskan untuk berhenti bekerja di cafe. Ia lalu hilang tanpa jejak, membuat Andari keheranan dengan hilangnya Arini yang tiba-tiba. Kemanakah sahabatnya itu pergi?"


"Sebenarnya ada yang hendak Abang katakan mengenai Arini," Nizar berkata setelah sepekan Arini menghilang tanpa jejak. Mereka saat ini seperti biasa sedang kumpul di rumah Fahri karena ini hari minggu.


"Arini pergi bisa jadi karena perasaanya selama ini terhadap Fahri.

__ADS_1


"Maksudnya Bang?"


"Sebenarnya Abang dilarang untuk mengatakan ini, tapi dari pada akhirnya seperti ini lebih baik Abang katakan saja bahwa Arini ada rasa suka terhadap Fahri."


"Dari mana Abang tahu kalau Arini ada rasa suka dengan Bang Fahri?"


"Karena saat kita masih kuliah dulu, Arini selalu diam-diam memperhatikan Fahri jika kita kebetulan berada di kantin kampus. Arini juga tidak menyadari kalau Abang selalu memperhatikan tingkahnya itu. Abang kemudian bertanya kepada Arini tentang perasaanya selama ini ke Fahri dan ia kemudian mengakui ada rasa suka terhadap Fahri.


***


"Seharusnya awak ndak perlu lari seperti ini," kata Zukri menatap ke arah Arini. Walau terpaut dua tahun lebih tua dari Arini, wajah Zukri seolah menggambarkan ia seorang laki-laki yang berada di pertengahan umur empat puluh tahun. Mungkin faktor kerja keras yang dijalaninya, membuatnya lebih tua dari umur yang sebenarnya.


"Aku... entahlah Usu, aku ingin perasaan cinta ini bagaimana juga harus hilang karena Usu tahu kan seharusnya aku tak boleh memiliki perasaan ini. Bang Fahri mencintai Andari dan mereka sekarang sudah resmi menjadi suami istri."


Zukri mendayung pelan sampan yang mereka naiki. Mereka saat ini berada di Danau Sebedang. Meski jauh dari Kota Sambas, danau ini begitu indah. Di kelilingi bukit-bukit. Di sisi kanan danau ini terdapat hutan lindung yang disebut dengan Gunung Majau.


"Apa yang harus aku lakukan Usu?"


"Aku sudah mengatakan di awal kau jangan lari dari masalah ini."


"Jadi Usu berpendapat sebaiknya aku di Pontianak saja."


"Begitulah menurut ku "


"Aku tak bisa Usu."


"Kau akan tersiksa nantinya dengan perasaan mu itu, kalau berpendapat bahwa masalah ini hanya bisa kau hadapi dengan cara menghindarinya."


"Bagaimana kalau kau membicarakan hal ini kepada Andari."


"Apa maksud Usu? Mengatakan bahwa aku memiliki rasa suka terhadap Bang Fahri bisa-bisa Andari membenci ku."


"Aku tahu itu. Jadi begini dulu waktu Usu kau nih kerja di Miri, Usu kau nih punya perasaan suka dengan seorang perempuan, ya macam kau lah kasusnya. Perempuan itu akhirnya memilih laki-laki yang merupakan kawan rapat Usu kau nih. Usu kau nih tak pernah jujur kepada perempuan itu bahwa Usu ada rasa suka dengannya sedangkan kawan rapat Usu nih lebih terbuka orangnya dan tak malu untuk mengakui bahwa ia memiliki rasa suka


dengan perempuan itu."


"Lalu apa yang Usu lakukan?"


"Lari dari masalah macam kau sekarang. Usu memilih untuk balek ke Sambas."


"Nenek kau malah berkata begini, akui saja perasaan mu pada perempuan yang kau sukai itu lalu lupakan perasaan itu. Berat awalnya seiring waktu berjalan Insya Allah perasaan itu hilang dengan sendirinya. Kau juga harus yakin suatu saat pasti ada seseorang yang akan mengisi kekosongan hati mu."


"Ragu awalnya Usu kau nih akan saran nenek kau tuh, tapi Usu kau nih akhirnya memutuskan untuk kembali ke Miri dan melakukan apa yang nenek kau katakan. Sempat marah kawan Usu kau nih dan perempuan itu yang kini telah jadi suami istri. Akan tetapi Usu katakan lagi akan melupakan perasaan suka dengan istrinya."


"Awalnya Usu memang berat melupakan rasa cinta terhadap perempuan itu. Akan tetapi benar kata Nenek kau itu seiring waktu berjalan Usu kau nih dapat melupakan rasa cinta tersebut."


"Tapi Usu aku tetap saja ragu."


"Kenapa ragu?"


"Aku takut jika aku melakukan seperti yang Usu lakukan Andari akan membenci ku."


"Kau kan belum mencobanya. Kau tahu kisah Bujang Nandi dan Dare Nandung yang makannya terletak tak jauh dari sini "


"Ape kene mengene masalah ku dengan kisah tersebut.


"Ada sedikit persamaan, sama-sama sudah buruk sangka dengan pikiran sendiri. Bujang Nandi dan Dare Nandung tewas karena salah satu pengawal istana mengira mereka akan melakukan pernikahan sedarah. Seharusnya pengawal istana itu menelaah dulu perkataan mereka , jangan langsung melaporkan masalah itu ke raja yang merupakan ayah mereka.


***


Terdengar nada pesan dari dalam ponsel Andari. Ia membuka sms tersebut yang berasal dari nomor yang tidak dikenali.


Assalamualaikum Ri, ini aku Arini. bisa kt ketemuan? Ada yg mau ku bcrkan.


Cepat Andari membalas sms tersebut.


Bisa kpn?


Beberapa detik kemudian sms balasan masuk ke dalam ponsel Andari.


Sore ini bisa?


Andari membalas lagi sms tersebut.


Insya Allah bisa. Di mana? Jam brp?


Jawaban dari ponsel datang lagi ke ponselnya beberapa detik kemudian.


Alun2 Kapuas, sekitar jam tiga sore.


***


"Ada yang mau ku katakan kepada mu," Arini memulai bercakapan. Mereka saat ini duduk di salah satu bangku di Taman Alun-Alun Kapuas. Tak jauh di depan mereka terbentang Sungai Kapuas. Air sungai tampak berkilau tertimpa cahaya matahari yang mulai bergeser ke arah barat.


Kemarin sore dengan menggunakan bus Arini pulang ke Pontianak. Langsung saja besok paginya ia sms Andari untuk bertemu di sini.


"Ini tentang perasaan ku dengan Bang Fahri."


"Aku sudah tahu semuanya."


"Dari mana kamu bisa tahu?" Arini bertanya kemudian ia teringat akan Nizar karena hanya Nizar yang tahu perasaan Arini terhadap Fahri.


"Apakah Bang Nizar yang mengatakannya?"


"Iya," singkat Andari menjawab.


"Maafkan aku, aku ndak bermaksud......."


"Kamu ndak perlu minta maaf. Bang Nizar juga mengatakan, ia terpaksa mengatakan ini. Kau begitu saja menghilang tanpa jejak. Bang Nizar menduga pasti ada hubunganya dengan perasaan mu dengan Bang Fahri."


"Aku akan melupakannya, maksud ku kau harus percaya kepada ku, aku tak akan membiarkan rasa suka ku terhadap Bang Fahri kini terus tumbuh, aku akan meninggalkan kota ini jika kau tak percaya aku."


"Kau tak perlu meninggalkan kota ini lagi, aku percaya kepada mu," Andari tersenyum, menatap ke arah Arini.


"Karena kau sahabat ku dan aku percaya seorang sahabat tak akan melukai sahabatnya sendiri," lanjut Andari lagi.


Satu tahun kemudian, Arini membaca di salah satu Koran lokal bahwa Indomaret yang baru buka bebera bulan di Pontianak sedang membuka lowongan pekerjaan. Salah satunya menjadi kasir. Ia kemudian coba untuk mendaftar. Ia kemudian diterima dan ditempatkan di Indomaret di jalan Gusti Situt Mahmud. Jalan ini letaknya tidak jauh dari jalan Selap Panjang tempat ia tinggal.


CATATAN


Kitak: kalian.


Kamek: Kita atau saya.


Tak tentu rudu: Tidak jelas.


Miang: Gatal.


Cineplek 21: Sekarang berubah nama menjadi XXI.


Perasan: Ge-r (Gede rumongso ne-sok merasa).


Es jeruk kecil: Es jeruk nipis.


Bile awak balek: Kapan kamu pulang.


Semalam: Kemarin.


Mencecal: Mencelupkan.

__ADS_1


Tak kisah: Tak peduli.


Ape kene mengene/Apa kena mengena: Apa hubunganya.


__ADS_2