Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 35~ (Menemui Jelita)


__ADS_3

...Hay aku kembali lagi dengan part yang semakin membuat kalian sesak napas. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang sebanyak-banyaknya ya!...


...Happy reading...


****


Sudah seminggu ini Jelita terpaksa menginap di rumah Nathan dan Gladis karena Rasyad yang terus berkata se-enaknya tanpa memikirkan perasaannya yang terluka terlebih Lolita yang selalu memperlihatkan keromantisannya dengan Rasyad. Jelita harus memendam rasa cemburunya hingga terkadang Jelita sudah tidak tahan, ia ingin marah kepada dirinya sendiri karena masih mencintainya Rasyad dengan dalam saat lelaki itu sebentar lagi akan menikah.


Jelita memandang baju persatuan keluarga untuk acara pernikahan Rasyad dengan Lolita dengan miris. Tadi saat Jelita sedang menyuapi Gladis, Lolita datang dengan memberikan baju ini, terlihat juga jika Lolita memandangnya dengan tidak suka.


Tokk..tokkk...


"Masuk!" ucap Jelita dengan sedikit keras.


"Hai!" sapa Lolita dengan tersenyum dipaksakan membuat Jelita menatap Lolita tak percaya karena Lolita masuk ke kamarnya. Selama Lolita menjadi kekasih Rasyad belum pernah sekali pun Lolita masuk ke kamarnya bahkan bicara berdua dengannya karena memang mereka tidak terlalu akrab bahkan Lolita selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai model. Namun, Jelita merasa tidak suka dengan pekerjaan Lolita karena setiap pemotretan pasti Lolita memakai pakaian terbuka yang akan diminati oleh khalayak banyak apalagi Lolita pernah bekerja di Paris pasti pakaiannya lebih terbuka.


"Ooo Kak Lolita, silahkan duduk!" ucap Jelita dengan canggung.


"Terima kasih," ucap Lolita dengan anggunnnya. Lolita duduk di sofa berhadapan dengan Jelita. Terlihat sekali keduanya sangat canggung karena keduanya tidak terlalu akrab.


"A-ada apa ya, Kak? Tumben sekali Kakak menemuiku di kamar," ucap Jelita berusaha sesantai mungkin.


"Tidak ada. Aku hanya ingin menyapa adik iparku saja. Oo iya bagaimana gaunnya apa kamu suka?" tanya Lolita.


"S-suka, Kak. Gaunnya sangat cantik," ucap Jelita dengan tersenyum tipis menyembunyikan perasaan terlukanya.

__ADS_1


"Jelas karena itu gaun rancangan desainer terkenal. Aku dan mas Rasyad sengaja mempersiapkan gaun terbaik untuk para keluarga teemasuk kamu," ucap Lolita dengan nada angkuhnya. Terbiasa dengan kemewahan dan hidup di dunia model membuat Lolita menjadi seperti itu. Lolita sengaja seperti itu karena ingin memberitahu Jelita jika Rasyad adalah miliknya. lolita ingin egois ketika memiliki Rasyad karena hanya Rasyad yang masih mau menerimanya dengan pekerjaan yang terkadang membuat pria itu kesal.


Jelita hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan Lolita. Ia tidak mau salah bicara di depan Lolita karena bagaimana pun Lolita adalah calon kakak iparnya.


"Jelita!" panggil Lolita dengan nada datar.


"Iya, Kak!" jawab Jelita dengan masih memperlihatkan senyuman manisnya.


"Aku cuma mau bilang sesuatu. Jauhi mas Rasyad! Kamu dan mas Rasyad adalah saudara angkat dan kami sebentar lagi akan menikah, aku tidak suka dengan kedekatan kalian! Kamu selalu mencuri perhatian mas Rasyad sejak dulu, jika kamu sama seperti Erina, aku tidak masalah tapi kamu dan mas Rasyad bukan saudara kandung, bisa saja ada rasa di hati kalian karena selalu bertemu di rumah dan kampus. Bahkan mas Rasyad terlalu posesif sama kamu dibandingkan aku kekasihnya. Sebagai sesama perempuan pasti kamu paham perasaanku. Aku minta sekali lagi setelah kami menikah jangan pernah berdekatan dengan mas Rasyad! Kamu itu hanya anak pungut di keluarga ini seharusnya kamu paham posisi kamu di rumah ini. Dan satu lagi aku sedang mengandung anak mas Rasyad, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan anakku ketika kamu selalu mencari perhatian dengan mas Rasyad," ucap Lolita dengan dingin.


"K-kakak hamil?" tanya Jelita dengan terbata, Jelita sangat syok mendengar fakta itu bahkan matanya sudah berkaca-kaca karena hubungan Rasyad dan Lolita sudah sejauh itu. Mengingat sentuhan Rasyad padanya membuat Jelita merasa ia adalah gadis murahan dan hanya menjadi pelampiasan pria itu.


Lolita mengangguk. "Iya di sini sudah tumbuh anak mas Rasyad. Kami sering melakukannya makanya mas Rasyad mau menikahiku secepatnya! Makanya aku minta tolong sama kamu jauhi Rasyad, aku tidak mau kebahagiaan kami terganggu karena kamu," ucap Lolita dengan datar tetapi terbit senyuman tipis saat ia mengelus perutnya yang masih terlihat datar.


Jelita tersenyum miris. " Kakak tenang saja setelah kalian menikah aku akan pergi dari rumah ini. Aku mana mungkin merusak rumah tangga kalian apalagi Kakak sedang hamil sekarang," ucap Jelita dengan napas yang sesak. Ribuan jarum sedang menusuk hatinya saat ini, tangannya terkepal dengan saat erat melihat senyuman kebahagiaan Lolita saat menatapnya ada kepuasan di matanya setelah menyampaikan sesuatu yang membuat Jelita syok setelah mendengarnya.


Setelah keluarnya Lolita dengan pintu yang kembali sudah tertutup rapat. Tubuh Jelita luruh di lantai air matanya mengalir membasahi pipinya, ia menghapusnya dengan kasar lalu terkekeh dengan lirih.


"Aku bisa gila!" ucap Jelita dengan terkekeh, lalu Jelita kembali tertawa, menertawakan kehidupannya yang sungguh miris dan kembali menangis setelahnya. Kenapa kebahagiaan sangat susah ia raih? Kenyataan jika Lolita hamil anak Rasyad sangat mengguncang hatinya. Dan Jelita yang hancur seperti ini membuat Dave lebih bisa menghancurkan Jelita. Hanya menunggu waktu yang tepat maka bom itu akan meledak.


******


Dimas membuka pintu balkonnya, perasaannya gelisah memikirkan Jelita yang masih berada di rumah orang tua angkatnya. Sebenarnya Dimas bahagia ada yang menyayangi adiknya dengan tulus karena selama ini dirinya tidak pernah memberikan kasih sayang untuk adiknya. Sebulan lebih Jelita tinggal di rumah ini kembali membuat rasa sayang itu perlahan muncul walau Dimas enggan mengakuinya.


Dimas meneguk minumannya. Rasa panas pada tenggorokan membuat Dimas sedikit merasa tenang, apalagi setelah mengkonsumsi pil yang membuat ia melayang. "Aku ingin membunuh orang yang telah menghancurkan kebahagiaan kita, Jelita. perempuan jal*ng itu, ingin sekali aku mencekiknya hingga dia kehabisan napas. Dia memang orang yang melahirkan kita tapi perempuan itu yang telah merusak kebahagiaan kita sejak lama. Sebelum aku menghabisinya, aku ingin menghabisi istri Elang dulu, tinggal menunggu waktu saja maka Elang dan istrinya akan menderita setelah itu aku akan membunuh jal*ng itu dan simpanannya yang sekarang sudah menjadi suaminya tak pedulu jika lelaki itu adalah papa kandungmu, Jelita! Karena papa kandungmu juga yang membuat papa kandungku menderita! Aku tidak rela keluarga mereka bahagia di atas penderitaan kita!" ucap Dimas dengan sinis.

__ADS_1


Dimas sudah menyelidiki Amanda dan juga Frendy. Bahkan keduanya terlihat bahagia memiliki dua orang anak. Satu anak Frendy dengan mantan istrinya dan satu anaknya lagi adalah anak Amanda dan Frendy ketika mereka sudah menikah meninggalkan dan melupakan Jelita yang merupakan anak kandung mereka juga, sungguh kejam dua manusia biad*b itu. Hal ini lah yang membuat Dimas sedikit luluh dengan Jelita karena mereka sama-sama menderita.


"Sekarang aku membiarkan kalian bahagia tetapi setelah ini dan semua rencanaku sudah berjalan dengan lancar untuk membunuh Mentari maka giliran kalian yang akan merenggang nyawa bersama," ucap Dimas tersenyum devil.


Uwekk...uwekkk...


Dimas mengeryit bingung saat mendengar suara orang muntah dari kamar Arieska dengan kesadaran yang mulai sedikit terpengaruh oleh alkohol dan barang haram yang ia minum. Dimas langsung meloncat ke balkon kamar Arieska setelah menjatuhkan minuman dan obat itu ke lantai. Ia merasa khawatir dengan suara itu yang semakin terdengar jelas di telinganya. Dan betapa terkejutnya Dimas saat melihat Arieska memuntahkan isi perutnya.


"Lo gila!" teriak Dimas dengan murka. Dimas sudah curiga jika Arieska melakukan diet ekstrim dan kecurigaannya itu benar ketika melihat dengan matanya sendiri Arieska mencoba memuntahkan semua isi perutnya.


"L-lo kenapa bisa ke kamar gue?" tanya Aeieska dengan terbata. Arieska tak mau Dimas melihat semuanya. "Keluar dari kamar gue sekarang!" ucap Arieska dengan cepat!


"KELUAR, DIM!" teriak Arieska dengan keras. Ia mencoba mendorong Dimas dengan kuat walau tenaganya sudah sangat lemas.


"Lo gila! Kenapa lo melakukan ini, hah?" tanya Dimas dengan tajam. Ia sama sekali tak bergeming saat Arieska mengusirnya.


"MENURUT LO SIAPA YANG MEMBUAT GUE MELAKUKAN INI, HAH? HAHAHA GUE SUDAH CAPEK, DIM! GUE JUGA MAU SEPERTI GADIS SE-USIA GUE! LANGSING, CANTIK, DAN BANYAK TEMAN BAHKAN BISA DISUKAI PRIA YANG JUGA KITA SUKAI! GUE BENCI DIRI GUE YANG TIDAK SEMPURNA SEPERTI INI! SEKARANG LO KELUAR! LO SUDAH MENGETAHUI SEMUANYA, KAN?"


Dimas hanya diam. Ia mendekat ke arah Arieska. Terlihat sekali wajah gadis itu sangat pucat. Dimas menghapus air mata Arieska dengan ibu jarinya, entah setan apa yang merasaki Dimas saat ini hingga membuat Dimas berperilaku lembut kepada Dimas.


"Pipi lo panas banget!" ucap Dimas dengan lirih. Dimas kembali mengecek dahi Arieska, tangan gadis itu, dan lehernya. "Lo demam!" cerca Dimas dengan panik.


Mata Arieska menatap Dimas dengan dalam. "Hahaha...sepertinya malam ini gue mimpi karena Dimas perhatian ke gue!" ucap Arieska dengan terkekeh.


"Jangan bercanda! Dimana kotak P3K?" tanya Dimas dengan datar.

__ADS_1


"Gue mohon temani gue malam ini ya! Gue takut ini adalah malam terakhir gue bisa melihat lo," pinta Arieska dengan lirih sebelum tubuh gadis itu melemas dan terjatuh.


"Astaga Arieska!"


__ADS_2