
...Aku kembali lagi dengan novel ini jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....
... Happy reading...
****
Hubungan Dimas dan Arieska semakin hari semakin erat saja. Bahkan Dimas semakin bucin kepada gadis yang dulu sangat ia benci. Namun, restu dari kedua orang tua Arieska belum Dimas dapatkan.
Saat ini Dimas sangat merindukan Arieska karena sejak dua hari ia berada di luar kota untuk meninjau proyek yang sedang ia bangun bersama dengan Raka. Diam-diam Dimas masuk ke kamar Arieska lewat balkon kamar gadis itu, Dimas tersenyum lega ketika melihat orang yang selama dua hari ini ia rindukan sedang tertidur di kasur dengan membelakanginya.
Dimas merangkak menaiki tempat tidur Arieska dengan perlahan. "Sayang," bisik Dimas dengan pelan dan membelai pipi Arieska begitu lembut.
Arieska mengerjapkan matanya dengan perlahan. Matanya menangkap wajah tampan Dimas membuat Arieska tersenyum, nyawanya yang belum kumpul sempurna menganggap kehadiran Dimas hanyalah sebuah mimpi. "Tampan sekali," gumam Arieska dengan pelan.
Dimas terkekeh, perlahan ia menindih tubuh Arieska. "Calon suamimu emang tampan, Sayang!" bisik Dimas membuat Arieska membuka matanya dengan sempurna.
"Dim..."
"Hmmm....masih panggil nama juga?" tanya Dimas dengan menaikkan satu alisnya.
"Mas turun," ucap Arieska pada akhirnya. Karena sejak hubungan mereka membaik Dimas ingin Arieska memanggilnya dengan sebutan Mas.
"Gak kangen sama Mas?" tanya Dimas dengan membelai bibir seksi Arieska. "Mas kangen banget sama kamu," ucap Dimas dengan jujur.
"Kangen juga," jawab Arieska dengan tersenyum.
"Mas boleh minta vitamin sekarang?" tanya Dimas dengan serak.
Cup...
Belum sempat Arieska menjawab Dimas langsung mencium bibir Arieska dengan lembut perlahan ciuman itu semakin memanas saat Arieska mulai membalas ciumannya. Decapan kedua bibir dan lidah mereka yang terdengar di kamar Arieska sekarang.
__ADS_1
"Ahhhh...." desah Arieska saat Dimas menggigit kulit lehernya hingga meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Tangan Dimas juga tak tinggal diam, ia merem*s gunung kembar favoritnya dengan gemas. Arieska kembali dibuat kewalahan dengan aksi mesum Dimas sekarang tetapi justru itu yang membuat keduanya merasa nikmat.
Dimas membuang pembungkus kedua gunung kembar milik Arieska dengan tak sabaran. Lidahnya bermain di puncak gunung kembar tersebut dengan lihai yang membuat Arieska memejamkan matanya.
"Ahh...pelan-pelan, Mas!" pinta Arieska dengan meringis. Dimas tak menggubrisnya, ia tetap memainkan benda favoritnya dengan gemas.
"Massss...." teriak Arieska ketika gadis itu mendapatkan pelepasan pertamanya.
Deru napas Arieska terdengar sangat berat membuat Dimas tersenyum mesum. "Gunung kenyal ini sepertinya harus selalu dimainkan agar membesar," ucap Dimas dengan mesum.
"Itu maunya kamu!" ketus Arieska dengan wajah memerah karena malu saat Dimas menatapnya dengan penuh damba.
Cup...
Dimas mengecup kening Arieska setelah itu ia turun dari tubuh orang yang sangat ia cintai. Ia meringis pelan saat miliknya terasa ngilu sekali meminta pelepasan juga.
"Kenapa? Belut jumbo kamu minta keluar dari sarang? Makanya jangan suka mancing, Mas sendirikan yang tersiksa," ejek Arieska terkekeh.
"Mesum!" teriak Arieska membuat Dimas terkekeh.
Dimas memeluk Arieska dengan erat dan membenarkan letak piyama Arieska kembali. Arieska menghirup wangi tubuh Dimas dengan dalam, dua hari tidak bertemu dengan Dimas ternyata membuat dirinya tersiksa. Sesaat keduanya saling terdiam hingga akhirnya Arieska membuka suara.
"Besok mama dan papa akan ke Jakarta, Mas," ucap Arieska memberitahu Dimas dengan mengusap dada bidang Dimas dengan gerakan perlahan.
"Bagus dong. Mas akan meminta restu langsung ke mereka karena kan Mas belum sempat ke Korea," jawab Dimas dengan tenang.
"Mas gak takut ditolak mama dan papa?" tanya Arieska dengan takut.
"Tidak, Sayang. Ini adalah perjuangan Mas untuk mendapatkan restu dari mama dan pala kamu yang telah Mas kecewakan sebelumnya, jadi Mas tidak akan takut sekali pun nanti Mas ditolak, Mas akan tetap berjuang untuk menjadikan kamu istri Mas," ucap Dimas dengan tegas.
"Kalau ditolak Mas akan langsung memberikan mereka cucu yang lucu," ucap Dimas dengan jenaka.
__ADS_1
"Dasar bucin!" ejek Arieska
"Karena Mas cinta kamu," ucap Dimas dengan tersenyum.
"Sudah malam, Sayang. Ayo kita tidur!" ucap Dimas dengan lembut.
"Selamat berjuang Mas," gumam Arieska dengan tersenyum lalu ia memejamkan matanya dengan perlahan bersamaan dengan elusan tangan Dimas di punggungnya.
"Terima kasih, Sayang. Satu yang harus kamu tahu Mas sama sekali tidak takut ditolak oleh kedua orang tua kamu, anggap saja ini adalah perjuangan terberat Mas untuk mendapatkan kamu seutuhnya. Jelita pasti juga sangat bahagia jika kamu yang akan menjadi kakak iparnya dan tentu saja istri dari seorang Dimas Anggara!"
****
Jelita menatap adiknya yang tertidur di sampingnya. Damian benar-benar sangat manja kepadanya, ia berpikir jika selama ini adiknya tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua mereka walau Damian mendapatkan kemewahan di keluarga Erlangga.
"Kakek sangat gila akan harta jadi ketika kami berdua sudah dewasa otak kami sudah dipenuhi dengan bisnis turun menurun dari keluarga Erlangga. Kakek terus menumpuk hartanya, dia tidak tahu ada kebahagiaan yang lebih membuat kami bahagia dibandingkan bekerja yaitu kehangatan keluarga," ucap Raka masuk ke kamar adiknya dengan perlahan.
"Damian tidak pernah tertarik akan bisnis perusahaan dari keluarga kita. Lelaki tengil ini lebih tertarik dengan bisnis otomotif. Diam-diam Damian mendirikan bisnisnya sendiri yang ada di Indonesia berkat bantuan temannya dan sekarang bisnis otomotif itu dikelola oleh temannya," jelas Raka yang membuat Jelita tersenyum.
"Apapun yang membuat Mian nyaman aku akan mendukungnya Kak," ujar Jelita dengan mengelus kepala Damian dengan sayang.
"Mian butuh suport dari kita, Sayang." Raka melihat ke arah Jelita dan Damian bergantian, kedua adiknya butuh kekuatan untuk membuat mereka berpijak di bumi dengan kuat.
"Iya Kak. Aku akan berusaha menjadi kakak yang baik untuk Damian," jawab Jelita dengan lirih.
Raka tersenyum dan mengusap rambut Jelita sayang tak lupa ia mengecup puncak kepala Jelita berulang kali. "Tidurlah. Ini sudah malam, Mian akan marah jika pagi besok tidak melihat kamu di sampingnya. Dibalik sifat nakal dan dinginnya sebenarnya Damian sangat manja dan yang bisa memanjakan Damian hanya nenek tidak mama sekali pun karena mama sangat takut dengan kakek maupun papa," ucap Raka dengan tersenyum.
"Apa mama tidak mencari Jelita juga karena kakek dan papa?" tanya Jelita dengan tercekat.
"Suatu saat kamu pasti akan mengetahui semuanya. Sekarang pikirkan saja kebahagiaan kita," ucap Raka dengan tegas.
Raka berbicara tegas seperti itu karena tidak mau Jelita kepikiran tentang masalah keluarga mereka. "Kakek sangat kejam, Sayang. Dia tidak segan-segan menyiksa seseorang yang membantah perkataannya bahkan papa saja tunduk di bawah kekuasaannya. Entah mengapa aku berharap lelaki tua itu mati saja," gumam Raka di dalam hatinya.
__ADS_1
Raka masih terjaga saat kedua adiknya sudah tertidur. Raka berjalan ke arah sofa di kamar Jelita dan ia menidurkan dirinya di sana. Raka ikut memejamkan mata sebelum esok dirinya kembali bekerja dan menghadapi ketengilan adik bungsunya.