Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 79~ (Sikap Dingin)


__ADS_3

...Happy reading...


****


Saat ini suasana di dalam mobil tampak terlihat sepi bahkan terasa sangat dingin ketika kedua pengantin baru tersebut berada di dalam satu mobil yang sama. Keduanya enggan berbicara bahkan Jelita sibuk melihat ke arah jendela dan enggan menatap ke arah Rasyad. Sedangkan Rasyad berulang kali pria itu melirik ke arah Jelita dan suasana yang seperti ini entah mengapa tiba-tiba Rasyad membencinya, ia menjadi teringat masa lalu di mana Jelita selalu manja ketika sedang bersama dengannya.


"Kita akan pulang ke rumah dan bertemu dengan Nazwa!" ucap Rasyad pada akhirnya, bibirnya terasa gatal untuk tidak berbicara pada Jelita dan akhirnya Rasyad menyerah.


"Ya!" jawab Jelita dengan dingin.


Kesal? Tentu saja Rasyad kesal bahkan tangan lelaki itu terkepal dengan kuat, ingin sekali mengumpat tetapi Rasyad memilih diam dan kembali terjadi keheningan di dalam mobil hingga mobil yang Rasyad kendarai berhenti di rumah orang tuanya di mana Nazwa ia titipkan bersama dengan Jasmine istri dari Kendra. Saat ini tante Queen, Angel, dan om Nicholas kembaran ayahnya sedang berada di rumah sakit menemani sang ayah untuk menjaga Gladis.


"Jelita!" panggil Rasyad dengan tatapan lurus ke depan dan tidak melihat ke arah Jelita sama sekali.


Rasyad memejamkan matanya dan setelah di rasa hatinya kembali tenang ia membuka mata. "Pernikahan ini atas keinginan ayah dan bunda. Jadi, jangan berharap lebih padaku!" ucap Rasyad dengan tajam.


"Aku hanya ingin berusaha mengabulkan keinginan bunda!" lanjut Rasyad dengan datar.


Jelita tersenyum sinis. "Aku tidak pernah berharap lebih dengan pernikahan ini. Dan aku hanya terpaksa menikah denganmu karena bunda. Jadi, jangan percaya diri jika aku menerima pernikahan ini karena kamu!" ucap Jelita dengan dingin.


Jelita keluar dari mobil dengan membanting pintu dengan keras membuat Rasyad sangat terkejut karena Jelita tak pernah sekasar ini. "Kamu sangat berubah, Jelita!" gumam Rasyad dan juga ikut menyusul Jelita yang sudah masuk ke dalam rumah.


Rasyad terdiam saat melihat Nazwa memeluk Jelita dengan erat. "Tante Jasmine. Ini bunda balu Wawa ya? Tante Jelita jadi bunda Wawa?" tanya Nazwa setelah memeluk Jelita. Karena sejak kemarin Jasmine dan yang lainnya sudah mengatakan jika Jelita lah yang akan menjadi bunda baru untuk Nazwa kepada Nazwa sendiri dan respon Nazwa sangat di luar dugaan ia sangat senang jika Jelita menjadi bundanya.


Jasmine hanya tersenyum saat Jelita memintanya agar gadis itu saja yang menjelaskan. "Halo Wawa! Ini Bunda Jelita yang sekarang akan menjadi Bundanya Wawa selamanya. Kita akan bermain bersama. Wawa senang tidak?" tanya Jelita dengan lembut.


"Holeeee...Wawa senang banget Bunda akhilnya Wawa punya bunda lagi. Bunda Wawa juga cantik sepelti bidadali," sahut Nazwa dengan suara cadelnya.


"Iya dong. Wawa harus bangga punya bunda cantik seperti tante Jelita," ucap Jelita dengan bercanda, ia mencubit pipi Nazwa dengan gemas.


Rasyad merasakan hatinya berdenyut sakit bahkan kakinya terasa berat untuk sekedar melangkah mendekati keduanya.


"Ayah!" teriak Nazwa saat melihat keberadaan sang ayah yang berada di depannya.


Jelita akhirnya menatap ke arah Rasyad dan pandangan keduanya saling bertemu satu sama lain. Rasyad mendekati mereka dengan langkah yang pelan.


"Kak terima kasih sudah menjaga Nazwa selama aku di rumah sakit," ucap Rasyad pada akhirnya.


"Sama-sama. Nazwa juga anak yang baik Kakak senang menjaganya. Sebaiknya kalian istirahat. Ini sudah malam," ucap Jasmine.


"Tante terima kasih," ucap Jelita dengan tulus dan membuat Rasyad merasa iri ketika Jelita bersikap hangat dengan orang lain.


"Untuk apa Jelita?" tanya Jasmine dengan bingung.


"Untuk semuanya. Terima kasih masih bersikap baik kepadaku!" ucap Jelita dengan tersenyum.

__ADS_1


"Tante tahu kamu gadis yang baik," sahut Jasmine. "Wawa Sayang sekarang kita istirahat ya. Biarkan bunda dan ayah istirahat," ucap Jasmine dengan mengajak Nazwa agar mau tidur bersamanya.


"E-enggak udah Tante! Wawa biar tidur bersamaku saja!" ucap Jelita dengan cepat.


"Tidak! Kalian pengantin baru masa tidur diganggu anak sih! Wawa ayo sama Tante biarkan ayah dan bunda tidur berdua," ucap Jasmine merayu Nazwa.


"Wawa mau tidul sama bunda dan ayah!" pinta Nazwa dengan lucunya.


"No! Wawa anak baik, ayah perlu mengobrol sama bunda. Ayah harus bercerita banyak tentang Wawa kepada bunda baru Wawa agar nanti bunda Jelita tahu semua kesukaan Wawa. Sekarang Wawa tidur sama Tante Jasmine ya?!" ujar Jasmine yang pada akhirnya membuat Nazwa mengangguk setuju.


"Selamat malam bunda, ayah!" ucap Nazwa yang memang sudah mengantuk.


"Selamat malam, Sayang!" jawab keduanya dengan kikuk.


Setelah kepergian Jasmine dan Nazwa ke kamarnya. Kini, keduanya terlihat diam dengan perasaan canggung yang mendominasi.


"Aku tidur di kamarku saja!" ucap Jelita pada akhirnya. Mana mungkin ia tidur di kamar Rasyad! Rasanya pasti seperti di neraka!


"Tidak! Kamu tidur di kamarku saja. Dan satu lagi karena kita sudah menikah biasakan bersikaplah sopan dengan suamimu. Panggil aku Mas!" ujar Rasyad dengan tegas.


"Cih selain egois juga tukang perintah!" gumam Jelita dengan datar.


"Kamu ngomong apa?" tanya Rasyad dengan tajam.


"Tidak ada! Aku tidak mau kita tidur satu ranjang yang sama!" ucap Jelita dengan datar.


"Yang terpenting aku tidak tidur denganmu!" ucap Jelita dengan tajam.


"Kau..."


"Apa? Mau menghinaku lagi? Hina saja! Aku tidak akan mudah kau hancurkan lagi!" ucap Jelita dengan dingin.


"Berani melawanku? Aku ini suamimu!" ucap Rasyad dengan geram.


"Hanya suami terpaksa!" bisik Jelita dengan sinis di telinga Rasyad saat ia mendekat ke arah Rasyad.


"Awas saja kau!" teriak Rasyad saat Jelita meninggalkannya begitu saja. Sedangkan Jelita tersenyum sinis melihat Rasyad yang seperti marah kepadanya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menginjak harga diriku lagi!" gumam Jelita dengan datar.


"Dan kita lihat siapa yang menderita nantinya!" lanjut Jelita di dalam hati.


****


Glek....

__ADS_1


Erina menelan ludahnya dengan kasar saat pelayan wanita memberikan lingerie transparan berwarna merah menyala untuk ia kenakan dari malam pertamanya dengan Raka.


"Apakah aku harus memakai pakaian aneh ini? Bahkan pakaian ini tidak menutup semua area sensitifku," gumam Erina dengan gelisah.


Keringat dingin keluar dari dahi Erina sekarang. Bahkan ia menggigit kukunya dengan gugup.


"Maaf Nyonya. Sebaiknya anda segera memakai lingerie ini sebelum tuan Raka marah besar karena terlalu lama menunggu anda berganti pakaian," ucap pelayan dengan sopan.


"Bi, apakah aku harus memakai ini? Lekuk tubuhku tercetak jelas dengan pakaian aneh ini," ucap Erina dengan takut.


"Harus Nyonya karena tuan muda Raka yang memintanya sendiri bahkan tuan muda yang menyiapkan semuanya," sahut pelayan tersebut tersenyum karena ia tahu bagaimana kegugupan istri dari tuannya tersebut.


Huuuuh...


Berulang kali Erina menghembuskan napasnya dan menyeka keringat yang keluar dari dahinya. "Baiklah aku akan memakainya, Bibi bisa keluar sekarang," ucap Erina pada akhirnya.


"Tidak Nyonya Muda. Saya harus memastikan anda benar-benar memakai lingerie ini baru saya bisa keluar," ucap pelayan yang tetap patuh dengan perintah Raka.


Blush...


Kedua pipi Erina memerah saat nanti pelayan melihatnya memakai lingerie yang mengundang hasrat suaminya.


"B-baiklah..."


Erina masuk ke dalam walk-in closet dengan enggan tetapi ia tidak mau Raka murka kepadanya karena bagaimana pun Raka sudah menjadi suaminya walau pernikahan mereka secara siri dilakukan. Ada rasa sedih di hati Erina karena Raka tidak menikahinya secara hukum juga. Apakah nanti ia akan dicampakkan? Kenapa sekarang timbul di hatinya sebuah rasa tidak rela jika Raka akan meninggalkannya?


Tak mau membuat Raka menunggunya terlalu lama Erina segera berganti pakaian dengan lingerie yang membuatnya sangat risih.


Tubuh Erina mematung saat ia membuka pintu ruang ganti sudah ada Raka yang berada di depannya. Tatapan Raka begitu nyalang ke arahnya membuat Erina menutup bagian dadanya yang terpampang dengan jelas.


"Kau membuat saya menunggu terlalu lama Erina!" ucap Raka dengan suara yang amat berat.


"M-maafkan ak..."


Cup....


Tubuh Erina mematung dengan sangat hebat kala Raka menciumnya tepat di bibirnya. Ini adalah ciuman pertamanya sehingga respon Erina terlalu berlebihan. Raka menyeringai saat melihat tubuh Erina mematung dengan hebat. Raka mel*mat bibir Erina dengan ganas, rasa manis bibir Erina membuat Raka enggang melepaskan ciuman mereka.


"Kamu milik saya Erina!" gumam Raka di dalam hati.


****


...Jeng-jeng......


...Tahan napas dulu karena malam pertamanya di tunda๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚...

__ADS_1


...Jangan lupa bom koment biar semangat....


__ADS_2