Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 121 (Rasa Yang Tertinggal)


__ADS_3

...Happy reading...


****


Papa Dero menatap langit yang cerah dengan perasaan yang hampa. Wanita yang ia tunggu kedatangannya untuk kembali ke sisinya ternyata sama sekali tak mengharapkannya lagi.


"Maaf, Mas!" ucap Mama Amanda dengan lirih


Papa Dero menatap Mama Amanda dengan wajah yang sangat terluka. Ia hanya diam saja saat mantan istrinya berbicara kepadanya.


"A-aku banyak salah sama kamu Mas. Maafkan aku! A-aku..."


"Kamu bahagia hidup dengan Frendy?" tanya Papa Dero dengan datar.


Mama Amanda menelan ludahnya dengan kasar. Pertanyaan mantan suaminya sangat menjebaknya sekarang. "B-bahagia Mas!" jawab Mama Amanda.


"Baiklah. Aku sudah memaafkanmu sejak dulu, semoga kamu bahagia dengan keluargamu!" ucap Papa Dero berusaha ikhlas.


Papa Frendy melihat keduanya dari kejauhan. Dadanya terasa panas saat melihat istrinya mengobrol dengan mantan suaminya. Memang dulu apa yang ia lakukan salah merebut mama Amanda dari sisi papa Dero, tetapi papa Frendy sangat tulus mencintai mama Amanda.


Mama Amanda tersentak saat ada yang memeluknya dari samping. "Apa mengobrolnya sudah selesai? Sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Papa Frendy dengan tegas.

__ADS_1


Mama Amanda tersenyum. "Iya, Pa. Kita pulang sekarang," ucap Mama Amanda dengan pelan.


"Ayo. Saya dan istri saya pulang dulu Mas Dero," ucap Papa Frendy dengan tegas.


"Silahkan!" ucap Papa Dero dengan singkat.


Keduanya meninggalkan papa Dero seorang diri. Lelaki paruh baya itu menghela napasnya dengan berat saat melihat keduanya menjauh. "Semoga kamu bahagia dengan dia," gumam Papa Dero dengan pedih.


*****


Jelita tampak bahagia dengan berkumpulnya semua keluarganya tadi. Walaupun masih terasa canggung tetapi setidaknya mereka sudah memaafkan satu sama lain.


"Kenapa, Sayang?" tanya Rasyad dengan memijit lembut kaki sang istri.


"Mas punya kenalan ibu-ibu sebaya mama Amanda tidak? Tapi yang sudah janda," ucap Jelita dengan serius.


Rasyad tertawa. "Kenapa tanya seperti itu, Sayang?" tanya Rasyad yang merasa lucu dengan pertanyaan sang istri.


"Aku mau jodohin papa Dero biar tidak kesepian lagi. Kasihan papa terlihat sangat masih mencintai mama. Papa harus move on dari mama," ucap Jelita dengan lirih.


Rasyad tampak terdiam memikirkan ucapan sang istri. Benar juga apa yang dikatakan Jelita tentang papa Dero yang harus move dari mama Amanda. "Nanti kita cari calon istri yang cocok untuk papa ya," ucap Rasyad dengan tulus.

__ADS_1


Jelita mengangguk dengan semangat. Ia menikmati pijatan suaminya, kakinya mulai terasa sangat pegal jika berjalan terlalu lama. Rasyad tersenyum saat melihat sang istri yang sangat merasa nyaman dengan pijatannya. "Jangan banyak aktivitas yang terlalu berat, Sayang," ucap Rasyad dengan posesif.


"Iya, mas. Aku tidak mengerjakan sesuatu yang berat-berat kok, semua sudah dikerjakan oleh pembantu. Aku cuma melayani Mas dan Nazwa aja, kan?" ucap Jelita dengan tersenyum.


"Kamu itu orangnya tidak bisa diam. Ketika Mas di kantor atau di kampus pasti kamu melakukan aktivasi yang berat. Menyiram bunga, masak. Jangan pikir kalau Mas tidak mengetahui semuanya ya, Sayang!" ucap Rasyad dengan tegas.


"Itu tidak berat suamiku, Sayang!" ucap Jelita membela diri.


Rasyad menghela napasnya dengan perlahan. Ia berbaring di samping sang istri dan meletakkan kepala sang istri di lengannya. "Jangan bandel kenapa sih? Awas saja kalau Mas lihat kamu beraktivitas berat-berat tanpa sepengetahuan Mas!" ucap Rasyad dengan tegas.


"Iya Mas bawel! Lihat tuh Nak, ayah kamu bawel banget!" ucap Jelita dengan mengelus perutnya yang sudah terlihat buncit.


"Ini semua ayah lakukan demi kebaikan bunda dan kamu twins. Jadi, harap berada di pihak ayah ya!" ucap Rasyad ikut mengelus perut Jelita.


Jelita mengerucutkan bibirnya. "Ihh...Mas!" rengek Jelita dengan manja.


Rasyad terkekeh, ia mengecup bibir Jelita dengan bertubi-tubi. Lalu memeluk sang istri dan menyelimuti tubuhnya dan Jelita dengan selimut.


"Ini sudah malam. Istirahat, Sayang. Besok kita jemput Nazwa di rumah ayah," ucap Rasyad dengan lembut.


Jelita mengangguk, ia memejamkan matanya setelah mendapatkan posisi ternyamannya berada di pelukan sang suami apalagi elusan nyaman Rasyad pada perutnya yang membuat Jelita semakin terlelap.

__ADS_1


__ADS_2