Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 122 (Bukan Salahku!)


__ADS_3

...Hei-hei aku kembali lagi nih. Jangan lupa ramein part ini ya....


...Happy reading...


****


Arieska memuntahkan seluruh makanannya yang baru saja ia makan. Kehamilannya benar-benar menguras tenaganya saat ini, wajahnya juga terlihat pucat sekali yang membuat Dimas sangat khawatir dengan sang istri bahkan Dimas tak tega meninggalkan Arieska untuk bekerja.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Dimas dengan cemas, ia mengurut tengkuk istrinya dengan perlahan.


"Pusing Mas. Hiks...." adu Arieska dengan menangis.


Dimas semakin cemas melihat ketidakberdayaan sang istri. Tanpa rasa jijik sedikit pun Dimas membersihkan muntahan istrinya yang mengenai dagu istrinya.


"Kita ke rumah sakit ya," ucap Dimas dengan lembut.


Arieska menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Ia tidak mau pergi ke dokter sama sekali tetapi perutnya seperti berputar-putar apalagi saat Arieska melihat nasi, baunya saja sudah membuat Arieska mual apalagi sampai memakannya.


"Jangan! Aku tidak apa-apa, Mas. Hanya pusing, mual, dan lemas saja. Nanti aku minum vitamin yang dikasih dokter waktu itu," ucap Arieska dengan lemas.


Tanpa kata Dimas menggendong Arieska ala bridal style, ia sudah tidak tega melihat wajah pucat sang istri. Dimas menidurkan Arieska di kasur mereka dengan perlahan, ia mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya ke dahi istrinya serta perut istrinya. Arieska mencium wangi minyak kayu putih yang di oleskan di dekat hidungnya, rasa pusingnya sedikit berkurang sekarang.


Dimas mengelus perut sang istri dengan lembut. "Anak Papa jangan buat Mama sakit seperti ini ya! Papa tidak tega melihat Mama seperti ini," ucap Dimas di perut sang istri yang membuat Arieska terkekeh lirih.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Mas bisa kok pergi ke kantor sekarang," ucap Arieska dengan lembut.


"Mas tidak mau meninggalkan kamu sendiri, Sayang. pekerjaan Mas bisa dikerjakan di rumah, kantor biar sekretaris Mas yang handle," ucap Dimas dengan tegas.


"Tapi Mas, aku benar tidak apa-apa kok," ucap Arieska dengan lembut.


"Tidak usah membatah, Sayang! Mas tidak akan berkonsentrasi jika meninggalkan kamu di rumah sendirian walaupun ada pembantu di rumah kita," ucap Dimas dengan tegas dan tidak bisa terbantahkan oleh Arieska.


"Ya sudah terserah Mas saja," ucap Arieska mengalah.


Dimas tersenyum, ia mengecup kening Arieska dengan lembut. "Kamu mau apa hmmm? Biar Mas belikan, perut kamu kosong, Sayang!" ucap Dimas dengan perhatian.


"Aku tidak mau apa-apa, Mas. Mau istirahat saja ditemani Mas," jawab Arieska dengan pelan.

__ADS_1


"Ya sudah sini!" ucap Dimas dengan lembut. Dimas bersandar di kepala ranjang dan dengan perlahan Arieska bersandar di dada bidang suaminya, Dimas seperti memangku anak kecil sekarang tetapi suasana yang seperti ini yang membuat keduanya merasa nyaman. Hingga Arieska tidur dengan nyaman saat Dimas mengelus perutnya.


"Perjuangan kamu sangat besar, Sayang. Kamu istri yang hebat dan aku beruntung memiliki kamu," ucap Dimas dengan lembut.


****


Brukk...


Jelita terkejut saat belanjaan yang ia beli terjatuh saat ada orang yang menabraknya. Jelita semakin terkejut saat melihat wajah seseorang yang menabraknya.


"Kita perlu bicara!" ucap Kakek Agam dengan dingin.


"Maaf, Kakek siapa ya? Saya lagi buru-buru sebelum suami saya tahu kalau saya berbelanja sendirian," ucap Jelita dengan jujur.


"Kakek Agam!" jawab Kakek Agam dengan tegas yang membuat Jelita mematung.


"K-kakek Agam?" ucap Jelita dengan terbata.


Kakek Agam tertawa sinis. "Kenapa terkejut mendengar nama saya? Sekarang masuk ke mobil dan ikut saya," ucap Kakek Agam dengan tegas.


Jelita menggeleng. "T-tidak! Aku tidak mau ikut Kakek! Kakek jahat!" ucap Jelita dengan takut.


"Jangan sakiti papa dan mama, Kek!" ucap Jelita dengan memohon.


"Baik, aku akan ikut Kakek sekarang," ujar Jelita pada akhirnya karena ia tahu sang kakek tidak pernah main-main dengan ucapannya.


"Masuk!" ucap Kakek Agam dengan sinis saat melihat ketidakberdayaan Jelita saat ini.


Akhirnya Jelita masuk ke dalam mobil kakek Agam dengan perasaan was-was.Tatapan kakek Agam membuat Jelita takut. Perjalanan sangat terasa lama untuknya saat ini hingga mobil kakek Agam berhenti di tumah mewah milik kakek Agam yang ia beli.


"Turun!" ucap Kakek Agam dengan tegas.


Tanpa kata Jelita turun dari mobil, ia sangat takut sekarang saat tangannya ditarik oleh kakek Agam masuk ke dalam rumah.


"Kamu tahu apa maksud saya membawa kamu ke sini?" tanya Kakek Agam dengan dingin.


"T-tidak tahu Kek," jawab Jelita dengan pelan.

__ADS_1


"Jangan panggil saya kakek! Karena saya tidak sudi mempunyai cucu pembawa sial seperti kamu!" ucap Kakek Agam dengan tajam.


"Aku bukan cucu pembawa sial! Itu semua bukan kesalahan aku penyebab utama semuanya adalah Kakek!" ucap Jelita dwngan mata berkaca-kaca.


"Itu semua salah kamu!" teriak Kakek Agam dengan emosi.


"Bukan! Itu semua salah Kakek!" teriak Jelita dengan berani.


Kakek Agam menarik dagu Jelita dengan kasar. "Saya tidak akan mengganggu hidup kamu kalau kamu berhasil membuat istri, anak dan menantu saya kembali ke rumah," ucap Kakek Agam dengan sinis.


"Tidak akan pernah!" jawab Jelita dengan tajam.


"Kamu ingin melihat semua orang yang kamu sayang menderita hmm? Dan itu semua karena kamu yang membantah ucapan saya," ucap Kakek Agam dengan sinis.


Matanya memandang ke arah mata Jelita, ada rasa kasihan saat melihat mata Jelita. Mata Jelita seperti matanya yang membuat kakek Agam hampir luluh.


"Kek, ini Jelita cucu Kakek. Jangan benci Jelita ya! Kita bisa kumpul bersama dan saling memaafkan," ucap Jelita dengan lirih


Kakek Agam yang tersadar langsung mendorong Jelita dengan kuat.


Bruk...


"Arghhh...."


"Saya tidak sudi sampai kapan pun kamu bukan cucu saya!"


"K-kakek tolong. Arggghhh..." ucap Jelita memegang perutnya.


Kakek Agam yang hendak meninggalkan Jelita menjadi terdiam saat melihat Jelita kesakitan memegang perutnya.


"S-sakit, Kek! A-anakku..." ucap Jelita dengan pucat saat melihat darah yang mengalir dari pahanya.


"Argghh....t-tolong selamat anakku, Kek! Hiks...hiks...anakku," ucap Jelita dengan pucat dan dahinya bercucuran keringat karena rasa sakit yang ia rasakan sekarang.


"J-jelita," ucap Kakek Agam dengan cemas tangannya gemetar saat darah terus mengalir semakin deras.


"A-aku tidak mau kehilangan anakku, Kek! Tolong selamatkan anak-anakku. Akkkhh....."

__ADS_1


Jelita tak lagi berdaya. Kesadarannya menghilang sekarang, samar-samar ia mendengar kakek Agam meminta tolong.


"ADNAN, TOLONG BAWA CUCUKU KE RUMAH SAKIT!"


__ADS_2